
Setelah sekian lama menikah. Akhirnya malam ini Annisa dan Rafka resmi menautkan cinta mereka satu sama lain. Jarak yang dulunya terbentang luas, kini telah sirna oleh rasa cinta. Malam ini Annisa telah resmi melepaskan mahkota yang sangat berharga baginya. Sedangkan Rafka terlihat begitu puas karena telah berhasil menyempurnakan pernikahan mereka.
Terlihat disudut pelupuk mata Annisa. Air mata mengalir dengan sendirinya, tapi ia tak bersuara. Ia merasa kan sakit yang teramat perih di bagian bawah pusarnya. Namun ia tahan, karena baginya rasa sakit yang saat ini ia rasakan tak sebanding dengan rasa bahagia yang kini ia raih.
" Maafkan aku ya Nis, karena malam ini aku aku kembali harus sedikit menyakitimu, " Lirih Rafka seraya menyapu lembut air mata Annisa yang mengalir dari pelupuk matanya.
"Enggak apa-apa kok Bang. Nisa ikhlas menjalaninya dengan Abang, lagipula ini sudah kewajiban Nisa sebagai seorang istri." Ujarnya.
"Aku sangat mencintaimu Nisa,"
Rafka kemudian memeluk erat tubuh Annisa dan kini karena rasa lelah yang menghampiri mereka pun terlelap bersama.
Waktu menjelang subuh. Rafka terbangun lebih dulu. Ditatap nya wajah Annisa yang begitu polos apalagi jika sedang tertidur pulas. Sungguh menggemaskan batinnya.
Ia kemudian melirik keseluruh area tubuh Annisa. Ada beberapa bekas merah disana. Ya, itu hasil perbuatan nya tadi malam. Kini ia tampak tersenyum kala mengingat apa yang telah terjadi tadi malam.
Didekatkan nya wajah nya kearah Annisa lalu ia mencium kening nya. Lembut, lembut sekali. Lalu ia mencoba untuk membangunkan nya mengingat waktu subuh akan segera tiba.
"Nisa," Panggil nya. "Nisa,," Terus memanggil hingga akhirnya ada respon dari Annisa.
"Hmm,,"
Annisa mulai membuka mata.
"Yuk bangun, bentar lagi waktunya subuh." Ucap Rafka.
"Hmm,," Sahut Annisa
Ia lalu berusaha bangkit dari tidur nya namun perasaan tak nyaman muncul dari bagian bawah nya.
"Auww!" Ringis nya.
"Kamu kenapa Nis? masih sakit?"
Rafka kembali mendekati Annisa. Wajah nya terlihat cemas saat ini.
"Bagian itu Nisa perih Bang," ujarnya dengan wajah menahan sakit.
"Oya, mana, sini aku periksa."
Annisa mendelikkan matanya menatap Rafka.
"Yang benar saja, masa Abang mau periksa bagian itu. Bukan nya periksa malahan nanti bakalan, aaa....
Annisa menjerit didalam hati. Kini ia berusaha menutupi dirinya karena tak ingin Rafka memeriksa nya.
"Kenapa matanya tiba-tiba saja melotot kearahku seperti itu. Wajah nya juga memerah seketika, apa saat ini dia tersipu malu karena ucapan ku. Nisa.. kamu sungguh sangat menggemaskan.
Melihat ekspresi wajah Annisa yang berubah seketika. Membuat Rafka semakin ingin mendekatinya. Kini Rafka mulai meraih selimut yang menutupi tubuh Annisa dan berniat untuk segera menariknya. Namun belum sempat Rafka melancarkan aksinya, adzan subuh telah berkumandang.
"Udah adzan Bang," Lirih Annisa.
"Iya, aku tau. Yuk mandi,"
Rafka mengulurkan tangan nya kearah Annisa.
"Ma-mandi,?"
Annisa terlihat gugup.
"Ya, mandi. Apakah kamu berniat shalat tanpa menyucikan tubuh mu terlebih dahulu?" Ucap Rafka sehingga membuat Annisa semakin tersipu dengan kalimat nya.
"Nisa akan mandi, tapi Abang duluan saja biarkan Nisa belakangan." Ujar Annisa dengan wajah gugup.
"Hmm, tapi sekarang aku ingin kita mandi bersama." Rafka tersenyum nakal.
"Apa!"
Annisa terkejut. Wajah nya terlihat semakin gugup tak karuan.
"Kenapa? apakah kamu masih malu dengan ku?" Rafka menatap wajah Annisa lekat-lekat.
"Nisa.."
"Ah, sudahlah. Sekarang kamu ikut dengan ku." Tanpa ingin mendengar apapun yang ingin diucapkan Annisa. Rafka kemudian menarik tubuh Annisa dan menggendong nya. Lalu dengan segera ia melangkahkan kaki menuju kearah kamar mandi dan masuk kedalam nya.
Setelah selesai menikmati sarapan yang disediakan oleh para pelayan. Kini Rafka dan Annisa kembali naik kelantai atas menuju kekamar nya. Setibanya disana, Annisa berjalan menuju kearah ranjang dan merebahkan tubuhnya disana.
"Kamu kenapa tiduran lagi? apa kamu nggak mau keliling ke sekitar Vila?" Tanya Rafka yang kini ikut duduk di atas ranjang.
"Kayak nya Nisa mau dirumah aja dulu Bang. Soalnya pinggang Nisa masih sakit sama bagian yang ini masih nyeri dan perih." Ucap nya seraya menggigit bibir bawah nya.
Annisa tak menyadari jika saat ini gejolak hasrat yang ada didalam diri Rafka tiba-tiba saja bangkit ketika ia melihat Annisa yang tadi sempat menggigit kecil bibir bagian bawah nya sendiri.
"Bang, Abang kenapa kok diam?" Tanya nya. Karena sedari tadi Rafka hanya memandangi dirinya tanpa menggubris perkataan nya.
"Ya tuhan.. kenapa dia terlihat seksi sekali saat menggigit bibir nya sendiri. Aku hampir dibuat kehilangan kendali olehnya.
Gumam Rafka.
"Bang," Panggil Annisa kembali sehingga membuyarkan lamunan Rafka.
"Oh, iya. Ada apa Nis?" Tanya nya.
"Abang keliling-keliling saja sendiri ya," Ujar nya.
"Enggak deh, " Sahut Rafka.
"Loh, kenapa?" Tanya Annisa.
"Aku mau jagain kamu disini, kamu kan sakit karena aku." Ujar Rafka.
"Tapi Bang,"
"Nggak ada tapi-tapian. Kamu nurut aja ya," Ujar Rafka.
Kini ia mulai mendekati Annisa dan membaringkan tubuh nya disana.
"Kenapa Abang jadi rebahan disamping ku? aku takut jika Abang akan, aaa...
Annisa sedikit menggeser tubuh nya menjauh dari Rafka. Sehingga membuat Rafka mengerutkan dahinya.
"Nisa, kenapa kamu menjauh dariku? apa kamu nggak suka jika dekat dengan ku?" Tanya Rafka.
"Bukan seperti itu Bang, Nisa hanya ingin memberikan sedikit ruang untuk Abang agar bisa leluasa tidur nya." Ujar nya.
Ia tak tau mau memberikan alasan apalagi. Karena ia takut Rafka akan tersinggung nantinya jika ia mengatakan yang sebenarnya.
"Nisa,"
Rafka kembali merapat kearah Annisa.
"Saat ini aku sangat ingin dekat denganmu," Bisiknya. Lalu kini ia mulai mendekap mesra tubuh Annisa.
Deg..
"Ya tuhan, benar kan firasat ku. Abang pasti ingin lagi, aaa.. bagaimana ini. Pinggang ku masih nyeri..
Gumam Annisa.
"Nisa, aku mencintaimu." Bisik Rafka.
Kini ia mulai meraih dagu Annisa dan perlahan mengecup lembut bibirnya. Annisa hanya bisa pasrah menerima perlakuan Rafka terhadapnya. Hingga beberapa menit kemudian Rafka melepas ciuman nya.
"Ya tuhan.. kenapa aku jadi nggak bisa mengontrol diriku sendiri saat berdekatan dengan Annisa. Rasanya saat ini aku ingin sekali mengulang kejadian tadi malam.
Rafka menatap tajam kearah Annisa. Ia membelai lembut wajah istrinya itu lalu berbisik.
"Nisa, Abang ingin lagi. Kamu mau ya," bisik nya.
"Tapi Bang, Nisa masih merasakan perih dibagian bawah sana." Ucap nya. Ia berharap jika Rafka bisa mengurungkan niatnya. Namun sayang nya tidak.
"Aku janji akan melakukan nya selembut mungkin dan membuat mu nyaman dengan itu." Ujar Rafka.
"Tapi Bang.."
Belum habis Annisa menyelesaikan kata-kata nya. Kini Rafka sudah kembali mendaratkan ciuman nya disana. Sehingga membungkam mulut Annisa. Bukan cuma itu, selain menikmati bibir Annisa, tangan Rafka juga mulai menyelinap kedalam pakaian yang di kenakan Annisa sehingga membuat Annisa menggeliat karena nya.
Pagi itu mereka akhirnya kembali melakukan nya. Melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Rafka juga memenuhi janjinya untuk memperlakukan Annisa dengan sangat lembut sehingga pagi ini meskipun sedikit perih Annisa mulai bisa menikmatinya.