
annisa duduk seraya menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya.
hati nya sangat sakit ketika mendengar pengakuan yang keluar dari mulut rafka suami nya. ia tak menyangka bahwa pernikahan mereka di anggap oleh rafka hanya untuk pembalasan sakit hati nya kepada maya karena pengkhianatan nya.
rafka kini berjalan mendekati annisa. ia mengerutkan dahi nya saat melihat annisa yang menutupi wajah nya dengan kedua telapak tangan nya.
" nisa," ucap rafka yang kini sudah berdiri di hadapan annisa
annisa tak menjawab. ia lantas berdiri menghapus air mata yang membasahi wajah nya dan kemudian pergi menuju ke arah mobil rafka.
" kenapa dia? seperti nya dia menangis, apa aku sudah berbicara terlalu kelewatan tadi sehingga membuat nya sedih seperti itu.
gumam rafka.
feri masih ada disana. ia kembali mendekati rafka yang menatap bingung atas kepergian annisa.
" selamat ya, karena kau telah berhasil menyakiti hati dua orang wanita." ucap feri seraya pergi dari tempat itu.
rafka terdiam sesaat setelah mendengar kalimat yang di ucapkan feri.
" menyakiti? apa annisa sakit hati dengan perkataan ku tadi, ya tuhan.. kalau memang ia annisa tersakiti karena ucapan ku, sungguh aku sama sekali tidak berniat menyakiti hati nya. aku hanya ingin feri tau kenapa aku bisa menikahi annisa dan meninggalkan maya adik sepupu nya.
gumam rafka.
ia kini segera bergegas pergi meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju ke arah mobil nya dan disana ternyata annisa sudah menunggu diri nya dengan mata sembab.
" nisa," sapa nya saat melihat annisa yang sudah berdiri di samping mobil nya.
annisa hanya berdiri dan diam tanpa seolah tak mendengar panggilan rafka untuk nya.
" nisa, apa kamu habis nangis?" tanya rafka yang semakin mendekati istri nya itu.
" nggak bang," bantah nisa seraya memalingkan wajah nya.
" tapi aku melihat mata mu sembab, ayo jujurlah apa kamu merasa tersakiti dengan perkataan ku tadi." ucap rafka seraya menundukkan wajah nya menatap tajam ke arah annisa.
" tidak, untuk apa nisa tersakiti, kan memang dari awal hubungan kita tidak dilandasi cinta jadi untuk apa kita merasa tersakiti satu sama lain," ucap annisa lembut namun masih memalingkan muka dan dada nya juga terasa begitu sesak saat harus mengatakan kalimat itu, ia serasa ingin menumpahkan segala kekecewaan nya kepada suami nya hari itu namun ia tahan.
deg..
jantung rafka berdetak cepat saat mendengar kata tidak ada cinta dari annisa.
kenapa hatiku merasa sedikit sakit saat mendengar kata itu, bukankah itu semua benar, kami tidak saling kenal sebelum nya aku tidak mencintai nya dan dia juga tak mencintaiku, tapi kenapa aku merasa kecewa saat mendengar kalimat yang di ucapkan nya tadi kepadaku.
" aku minta maaf padamu, jika perkataan ku tadi telah menyakiti hati mu." ucap rafka kembali.
" tidak perlu bang, abang tidak salah, abang hanya mengatakan yang sebenar nya jadi untuk apa abang meminta maaf pada nisa," ujar annisa dengan lembut.
" tapi nis,"
" sudahlah, bunda mungkin sudah menunggu kita dirumah, sebaik nya kita pulang sekarang." ujar annisa
rafka pun tak melanjutkan lagi kalimat nya. ia kemudian membuka kunci mobil nya dan membukakan pintu depan untuk annisa.
" maaf sebelum nya bang, nisa duduk di belakang saja." ujar annisa yang menolak secara lembut
" kenapa? " rafka mengerutkan dahi nya
" karena kita tidak terlalu dekat satu sama lain," jawab annisa lembut namun cukup membuat hati rafka sakit.
deg...
guma rafka.
ia kemudian kembali menutup pintu mobil yang di buka nya tadi dan bergegas pergi ke arah pintu kemudi nya saat melihat annisa yang sudah masuk dan duduk di kursi belakang.
rafka menatap wajah annisa dari kaca spion depan milik nya. ia melihat annisa masih memalingkan wajah nya ke arah kaca mobil.
***
sepanjang perjalanan mereka hanya diam duduk di tempat masing - masing.
rafka fokus menyetir mobil dan annisa juga fokus melihat jalan ibu kota tak ada percakapan apapun saat itu hingga akhir nya
mereka mereka pun tiba di halaman rumah milik rafka.
setelah rafka selesai memarkirkan mobil nya. annisa kemudian segera turun dan bergegas berjalan melangkah masuk kedalam rumah tanpa menunggu sang suami yang masih ada di dalam mobil.
annisa yang telah memasuki rumah kemudian segera pergi menuju ke arah dapur, ia ingat bahwa ada bunda di rumah dan ia juga belum memasak apapun pagi ini. annisa yang berniat memasak untuk sang bunda merasa terkejut saat melewati meja makan. ia melihat beberapa hidangan sudah tersusun rapi di atas meja dan juga melihat sang mertua yang sedang menyusun peralatan makan di atas meja.
" bunda," sapa annisa seraya melangkah mendekati sang mertua.
" hai nisa, kalian sudah pulang?" ucap sang bunda saat melihat annisa yang melangkah mendekati nya.
" sudah bunda," jawab annisa
" bunda masak banyak sekali, nisa jadi nggak enak nih, seharusnya kan nisa yang masakin bunda," ucap annisa lembut. ia merasa tak enak hati saat melihat mertua nya yang sudah menyajikan beberapa hidangan untuk mereka.
" nggak apa - apa sayang, bunda malah senang sekali bisa masak seperti ini untuk kalian. lagi pula kamu juga pasti capek sehabis olahraga." tutur bunda seraya mengusap lembut wajah annisa.
" loh nis, mata mu kenapa sembab? kamu nangis?" tanya bunda saat menyadari mata annisa yang sembab.
" oh, ini tadi nisa kelilipan sewaktu olahraga tapi udah nggak apa - apa kok bun, oya nisa ke kamar mandi dulu ya mau cuci muka supaya debu yang masuk tadi di mata nisa bisa hilang semua." ucap nya seraya berpaling dan pergi menuju ke kamar mandi yang tak jauh dari sana.
bunda menatap kepergian annisa dengan mengerutkan dahi nya dan merasa annisa sedikit aneh pagi ini.
" assalamu'alaikum bunda," rafka memberikan salam saat memasuki ruang makan.
" wa'alaikum salam" jawab bunda.
" wah.!! keliatan nya enak - enak nih," ucap rafka saat menatapi meja makan yang di penuhi makanan masakan bunda.
" rafka," panggil bunda
" iya bun." rafka menoleh
" kenapa annisa sedikit aneh pagi ini?" tanya nya kepada sang anak.
" aneh? maksud nya," rafka seolah tak mengerti
" tadi bunda lihat mata nya sembab, kalian tidak bertengkar kan." ucap sang bunda seraya menatap tajam ke arah anak nya.
" nisa ngomong gitu?" ucap rafka tanpa menjawab pertanyaan bunda
" enggak sih," ucap bunda
" terus dia bilang apa?" tanya nya kepada bunda
" dia bilang mata nya kelilipan debu saat olahraga tadi," ucap bunda mengatakan apa yang di ucapkan annisa saat di tanya oleh nya.
bersambung