
Sejenak Annisa terdiam di tempat nya. Ia kini memutar otak agar mendapatkan ide serta alasan yang tepat untuk segera pergi dari sana.
"Tapi Bang, Nisa juga ingin pipis serta mencuci tangan dan juga kaki disana." Ucap Annisa saat mendapatkan alasan yang menurutnya sangat tepat untuk segera pergi.
"Hmm, ya sudah. Pergilah," Ujar Rafka.
Tanpa pikir panjang Annisa pun segera pergi dari sana. Dengan cepat kini ia sudah masuk kedalam kamar mandi.
"Alhamdulillah..
Untung saja aku bisa pergi dari sana. Yang benar saja aku harus mengganti pakaian ku di depan nya. Pasti itu sangat memalukan sekali
Gumam Annisa.
Setelah selesai dari dalam kamar mandi. Annisa yang sudah mengganti setelan gamis nya dengan pakaian hangat tidur nya, kemudian masuk lagi kedalam kamar.
Dilihatnya kearah ranjang, disana Rafka terlihat tengah sibuk memainkan ponsel nya. Entah apa yang dia lakukan, apakah ia memainkan Game disana. Atau mungkin sedang berbalas pesan Watshaap dengan Maya, hanya tuhan lah yang tau. Yang pasti saat ini Rafka sangat serius menatap ke layar ponselnya.
Dengan sedikit ragu Annisa kemudian melangkahkan kakinya mendekat kearah ranjang. Namun ia tiba-tiba saja melewati nya dan berjalan kearah cermin dan berdiri disana. Kini Annisa mencoba merapikan hijab nya sebelum mulai tidur diatas ranjang yang sama dengan Rafka.
Meskipun Rafka terlihat sibuk dengan ponselnya. Ternyata sedari tadi ia juga memperhatikan gerak-gerik Annisa. Hingga saat ini Annisa berdiri di depan cermin pun tak luput dari perhatian nya.
"Kenapa kamu membetulkan hijabmu?" Tanya Rafka seraya menatap kearah Annisa yang saat ini sedang menatap dirinya sendiri di depan cermin.
"Oh ini, agar nyaman dan tidak terlepas jika Nisa tidur nantinya." Sahut Annisa lembut.
"Apa kamu bilang? Kamu ingin tidur dengan hijab mu begitu?" Tanya Rafka.
"Iya.." Jawab Annisa singkat.
"Kenapa begitu? Bukankah aku sudah pernah melihat wujud aslimu sebelum berhijab? Jadi untuk apa menutup nya sekarang?" Tanya Rafka panjang lebar.
"Bukan begitu Bang, Nisa hanya.."
Belum sempat Annisa menghabiskan kalimat nya. Kini Rafka sudah datang menghampiri nya dan memegang tangan nya.
"Tidak perlu sungkan kepadaku. Bukalah, karena aku suamimu ingin melihat mu sekarang." Ucap Rafka seraya berbisik dengan lembut di telinga Annisa.
"Deg
Jantung Annisa berdegup kencang saat mendengar bisikan Rafka di telinga nya. Dalam sejarah pernikahan mereka. Ini pertama kalinya Rafka berbicara selembut ini kepadanya.
"Tapi Bang Nisa.."
"Sssttt.." Lagi-lagi Rafka memotong kalimat yang ingin diucapkan Annisa dengan menempelkan jari telunjuknya di dasar bibir Annisa. Lalu secara perlahan ia membuka hijab yang Annisa kenakan hingga kini tampaklah rambut panjang Annisa yang di kucir olehnya.
Jantung Annisa kini berdegup dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Tangan nya mulai berkeringat serta gemetar saat Rafka menyentuh ikat rambutnya dan melepasnya.
Kini rambut Annisa telah terurai dengan begitu indah nya. Melihat itu sungguh membuat jantung Rafka kian berdegup kencang saat ini.
"Ya Allah..
Aku hampir saja mengingkari atas apa yang Engkau berikan untukku. Ternyata selama ini Engkau telah memberikan seorang bidadari untuk melengkapi hidupku. Tapi aku malah mengabaikan nya selama ini.
Gumam Rafka sembari terus menatap Annisa dengan lembut.
Ia tak hentinya bersyukur dengan apa yang didapatkan nya selama ini. Meskipun sebelumnya ia pernah dan sempat mengingkari nya.
"Nisa.. Kamu cantik sekali." Ucap Rafka dengan nada sedikit berbisik.
"Ya Allah..
Sungguh aku tak sanggup menahan diri jika terus dihadapkan dengan keadaan seperti ini dengan nya.
Gumam Annisa.
Kini ia berusaha kembali mencari ide untuk bisa segera menghentikan situasi ini dengan Rafka. Karena ia tidak ingin semakin larut dalam perasaan nya.
"Bang, Nisa ngantuk mau tidur." Ucap Annisa saat mendapatkan ide yang menurut nya begitu klasik.
"Ngantuk?" Rafka mengerutkan dahinya.
Ia seolah tak rela jika saat ini Annisa meninggalkan nya untuk segera tidur.
"Ya, Nisa ngantuk sekali Bang." Ujar Annisa lagi dengan sedikit gugup.
Rafka diam tanpa menjawab. Melihat tak ada reaksi apapun dari Rafka. Annisa dengan segera berusaha pergi dari sana. Namun sayang nya langkah nya terhenti saat Rafka menarik tangan nya dengan cepat. Sehingga kini Annisa jatuh dalam pelukan nya.
Annisa berusaha bangkit. Ia berusaha melepas dekapan Rafka dari tubuhnya. Namun sepertinya itu sia-sia, karena kini Rafka secara reflek mendaratkan ciuman di bibir Annisa.
"Deg
Aliran darah Rafka serasa mengalir begitu cepat. Disertai debaran jantung yang seiring berirama dengan aliran darahnya. Sedangkan Annisa tampak tertegun dengan perlakuan Rafka. Kini untuk pertama kali baginya, bibir nya disentuh oleh seorang pria yang tak lain adalah Rafka suaminya. Ia berusaha berontak, namun tenaga nya kalah kuat dari Rafka. Sehingga dengan terpaksa ataupun suka rela ia menerima perlakuan Rafka terhadap nya.
Dengan nafas yang tersengal-sengal, kini ia mulai mengatur pernafasan nya saat rafka melepas nya.
"Nisa, maafkan aku." Ucap Rafka kembali berbisik dengan lembut di telinganya.
Annisa tak menjawab. Saat ini ia masih tak percaya dengan sikap Rafka yang mendadak begitu lembut kepadanya.
"Aku ingin malam ini. Kita memulai hubungan pernikahan ini layaknya pasangan suami istri lainnya." Ucap Rafka yang membuat Annisa semakin tak percaya dengan situasi saat ini.
Rafka kemudian menggendong tubuh Annisa dan membawanya kearah ranjang. Lalu dengan lembut ia meletakkan Annisa disana.
Di tatap nya wajah Annisa secara seksama. Lalu ia kembali membisikkan sesuatu di telinga Annisa.
"Nisa, apakah kamu bersedia menghabiskan malam ini dengan ku?" Ucap nya.
Namun tak ada jawaban dari Annisa. Lidah nya seakan kelu saat ini sehingga ia tak mampu menjawab setiap pertanyaan yang di berikan Rafka kepadanya.
Melihat Annisa yang tak menjawab. Bahkan ia juga tak menolak, membuat Rafka menyimpulkan sendiri jika saat ini Annisa menerima nya. Lalu secara perlahan, ia pun mulai mengusap lembut rambut Annisa dan kini menatapnya lekat-lekat.
"Nis, maafkan aku jika selama ini aku telah banyak menyakiti mu." Ucap Rafka lembut.
Kini ia pun kembali mendaratkan ciuman nya ke bibir Annisa dan memperlakukan nya dengan sangat lembut.
Mendapatkan perlakuan yang begitu lembut dari Rafka. Membuat Annisa mengucurkan keringat dingin dari tubuhnya. Ia seolah belum siap dengan ini semua, dan berpikir ini hanyalah mimpi. Hingga akhirnya tanpa terasa kesadaran nya pun mulai hilang dengan sendirinya.
Perlahan Annisa menutup mata. Awalnya Rafka sempat mengira jika saat ini Annisa mulai menikmati setiap apa yang ia lakukan. Hingga akhirnya ia pun tersadar jika sekarang Annisa sudah kehilangan kesadaran nya yaitu "Pingsan".
Ya.. Annisa pingsan untuk yang kedua kalinya. Saat Rafka mulai menyentuhnya.
"Ya Allah..
Polos sekali istriku. Hingga setiap kali aku menyentuhnya ia selalu kehilangan kesadaran nya.
Gumam Rafka.