Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 78


Waktu sudah menunjukkan pukul 12:30. Suasana diluar terlihat mendung hari ini. Annisa masih terbaring diatas tempat tidurnya. Ia merasa nyaman disana sehingga tak rela jika harus beranjak.


Sesudah membersihkan tubuhnya. Rafka kini keluar dari dalam kamar mandi. Ia melihat diatas tempat tidur Annisa masih membaluti tubuh nya dengan selimut. Ia lalu berjalan mendekati ranjang dengan handuk yang masih melilit di pinggang nya. Sehingga kini otot-otot kekar miliknya terpampang nyata disana.


" Sayang, " Panggil nya.


"Apa aku nggak salah dengar, barusan Abang memanggil ku sayang


Annisa tak menjawab. Seolah tak percaya ia berpura-pura tak mendengar jika Rafka sedang memanggilnya. Posisi Annisa saat ini tidur menyamping dan Rafka ada dibelakang nya.


Rafka kemudian menjatuhkan tubuhnya keatas ranjang. Dengan handuk yang masih melilit dipinggang nya sehingga kini otot-oto kekar Rafka menyentuh punggung Annisa karena kini Rafka mulai mendekati dirinya.


" Sayang," Ucapnya lagi dengan sangat lembut. Lalu ia mulai memeluk Annisa dari belakang dan menyusupkan tangan nya didalam selimut menyentuh area dada Annisa. Sontak saja Annisa bangkit dari tidurnya. ia lalu duduk dengan menarik selimut untuk menutupi tubuh nya.


"A-abang sudah selesai mandi?" Ucapnya sedikit gugup.


"Yang benar saja, baru saja kami melakukan nya kan. Jika Abang tidak bisa menjaga tangan nya mungkin saja nanti Abang ingin lagi kan.


Rafka tersenyum melihat ekspresi Annisa yang terlihat gugup saat ini.


"Aku udah selesai mandi. Kamu sendiri nggak mandi? Waktunya dzuhur sudah masuk loh." Ujar nya seraya bangkit dari tidur nya dan duduk disamping Annisa. Saat ini otot-otot Rafka terpampang jelas didepan Annisa sehingga membuatnya tersipu malu saat melihat nya. Annisa menunduk malu ia lalu memalingkan wajah nya menatap kearah lain.


"Ya tuhan.. kenapa Abang tidak memakai pakaian nya. Aku kan grogi jadinya.


"Kamu kenapa Nis?" Rafka melihat perubahan wajah Annisa yang semakin memerah saat melihat tubuhnya yang bertelanjang dada.


"Haha, aku tau saat ini kamu memalingkan wajah mu karena tak tahan melihat ku seperti ini kan.


Rafka tertawa keras didalam hati. Namun ia tetap bersikap santai didepan Annisa.


"Oh, Nisa, ingin segera mandi Bang." Ucap nya


Kini ia bangkit dari ranjang dengan tetap menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Annisa ingin pergi dari sana. Namun ketika


melihat selimut yang dipegang nya menyeret di lantai. Ia mengurungkan niat nya dan berdiri di tempatnya.


"Bang, bisakah Nisa minta tolong?" Ucap nya dengan hati-hati. Ia berharap saat ini Rafka tak keberatan dengan permintaan nya.


"Minta tolong apa? katakan lah," Ujar Rafka yang masih duduk diatas ranjang.


"Tolong ambilkan jubah mandi Nisa," Ucapnya seraya memainkan jarinya.


Rafka tersenyum. Kini ia bangkit dari ranjang dan berjalan kearah Annisa.


"Kenapa aku harus mengambilkan jubah mandi untukmu. Bukankah kamar mandi tidak jauh dari tempat mu berdiri." Ujar nya seraya menatap wajah Annisa.


"Nisa sedang tidak memakai baju. Lagipula nggak mungkin kan jika Nisa harus bawa-bawa selimut hingga ke kamar mandi," Ujar Annisa.


"Kalau kamu tidak ingin membawa nya. Lepaskan saja," Rafka tersenyum licik.


"Apa! melepaskan selimut dari tubuhku, yang benar saja!


Annisa mengerutkan dahinya.


"Abang nggak mau nolong Nisa?" Terlihat kekesalan dari raut wajah nya sehingga membuat Rafka tersenyum di tempat nya.


"Bukan begitu, aku mau kok tolongin kamu. Asalkan,," Rafka semakin mendekati Annisa.


"Asalkan apa?" Tanya Annisa. Perasaan nya mulai tak enak ia merasa sesuatu akan terjadi saat ini.


"Kamu cium aku," Bisik Rafka.


Deg.


"Apa! dia ingin aku mencium nya. Yang benar saja! Tapi jika aku tidak melakukan nya, nggak mungkin kan aku harus bawa-bawa selimut ini ke kamar mandi.


Annisa terlihat bingung. Meskipun kini ia dan Rafka telah melakukan hal yang lebih dari itu. Namun itu semua Rafka yang mulai, ia hanya menerimanya saja. Jujur saja ia tak pernah mencium lelaki sebelumnya.


"Kenapa, apa kamu tidak mau. Ya sudah kalau gitu aku tidak akan mengambilkan nya untukmu." Ujar Rafka. Kini ia membalikkan badan nya melangkahkan kakinya kembali kearah ranjang.


"Bang! Nisa ma-mau," Lirih nya pelan.


"Haha, aku tau kamu pasti setuju. Sekarang aku ingin melihat bagaimana ekspresi mu saat menciumku.


Rafka tersenyum puas. Didalam hati ia tertawa keras karena akhirnya ia bisa membuat Annisa mencium nya.


Ia lalu berdiri dengan melipat kedua tangan di dadanya. Dengan tampang tak bersalah ia berdiri didepan Annisa.


Annisa terlihat bingung. Ia takut sekaligus malu saat ini. Jika dulu ia pernah mengecup kening Rafka sekali, tapi waktu itu Rafka sedang tertidur pulas. Sedangkan kini Rafka sadar dan berdiri tegak dihadapan nya.


"Aaaa.. bagaimana ini, apa aku urungkan saja niatku dan berlari kesana


Annisa bingung. Sedangkan Rafka telah bersiap menerima sebuah kecupan dari nya. Namun saat Annisa telah memantapkan hatinya. Ia lalu menjatuhkan selimut nya dan berlari tanpa busana kearah kamar mandi.


"Puffft!!"


Rafka tergelak di tempat nya. Melihat tingkah lucu yang di tunjukkan Annisa. Ia tak menyangka jika Annisa lebih memilih berlari tanpa busana daripada harus mencium nya.


"Ya tuhan.. kenapa istriku begitu menggemaskan," Ucapnya seraya tersenyum. Ia kemudian menggaruk kepalanya seraya kembali ke tempat tidurnya.


Sementara itu didalam kamar mandi.


"Untung saja akhirnya aku bisa masuk kesini. Tapi jika mengingat bagaimana akhirnya aku bisa masuk kesini, sungguh memalukan..


Annisa menghela nafas. Ia lalu berjalan menuju kearah shower dan melakukan rutinitas mandinya.


Tak lama kemudian. Setelah selesai mandi, kini Annisa kembali masuk kedalam kamar. Disana terlihat Rafka yang tengah menyandarkan tubuh nya diatas ranjang sembari menonton salah satu acara yang ada di televisi. Ia sudah berpakaian lengkap sekarang.


"Bang, Nisa udah ambil wudhu. Abang pergilah berwudhu kita shalat berjama'ah ya." Ujar Annisa yang kini sudah berdiri disamping ranjang.


"Hmm, baiklah."


Rafka segera mematikan televisi nya. Ia lalu bangkit dari tempat tidur dan melangkah memasuki kamar mandi. Setelah selesai mengambil air wudhu. Rafka kembali masuk kedalam kamar dan disana terlihat Annisa yang sudah siap memakai mukena nya. Lalu Rafka mengambil sarung nya didalam lemari dan memakai nya.


"Kamu sudah siap?"


Rafka menoleh kearah Annisa.


"Sudah Bang,"


Annisa sudah bersiap.


"Baiklah, kita mulai ya." Ucap Rafka.


Ia kemudian bersiap menjadi imam dan mempimpin shalat nya.


Beberapa menit kemudian.


"Assalamu'alaikum warahmatullahiwabarakatuh,"


Rafka mengucapkan salam disusul Annisa berikutnya. Lalu ia berdoa dan setelah menutup do'a nya ia membalikkan tubuh nya menghadap Annisa. Annisa pun kemudian meraih tangan nya dan mencium nya.


BERSAMBUNG