
" Hati-hati ya May, salam untuk Mama mu.." Fikar mengantarkan Maya hingga ke teras depan. Kebetulan taksi yang di pesan Maya secara online telah tiba disana.
" Ya, aku pergi dulu ya. Terima kasih karena sudah mau menemani ku selama berada disini." Ucap Maya sembari tersenyum.
" Itu sudah jadi kewajiban ku. Menemani teman lama ku, ya.. hitung-hitung reuni lah!" Balas Fikar.
" Hmm, ya. Ya sudah, aku pergi dulu ya! Jaga Rafka dan Nisa baik-baik!"
" Pasti!"
Maya kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Vila itu. Disana didepan pintu gerbang Taksi yang di pesannya telah menunggu kedatangan nya. Maya kemudian langsung masuk kedalam taksi, dan tak lama kemudian taksi tersebut meninggalkan Vila.
Disana didepa teras. Fikar masih menatap kepergian Maya. Setelah taksi yang ditumpangi Maya menghilang dari pandangan nya. Fikar lalu bergegas kembali masuk kedalam menuju ke ruang tengah. Dimana disana masih ada Rafka dan juga Annisa yang masih setia menikmati tontonan nya. Mereka pun kemudian membicarakan rencana tentang kepergian hari ini.
Waktu telah menunjukkan pukul 10:30. Fikar sudah selesai bersiap dan menunggu di ruang tengah. Sudah sekitar sepuluh menit Fikar menunggu, hingga akhirnya tampaklah Rafka dan Annisa datang menghampirinya.
" Maaf, karena sudah membuat mu terlalu lama menunggu."
Rafka berjalan menghampiri Fikar bersama dengan Nisa.
" Sudah tugas saya menunggu Tuan dan Nona." Sahutnya.
" Hmm," Balas Rafka.
" Kalau begitu, mari kita jalan!" Ajak Fikar.
Dengan mempersilahkan Annisa dan Rafka untuk jalan terlebih dahulu. Fikar kini mengikuti keduanya dari belakang. Hingga akhirnya tibalah mereka didepan teras. Terlihat, Rafka dan Annisa langsung berjalan kearah mobil yang sudah terparkir di depan garasi. Ya.. Fikar sebelum nya sudah membersihkan mobil tersebut dan juga memanaskan mesinnya. Jadi saat ini mereka bisa langsung jalan tanpa perlu lagi pemanasan.
Rafka dan Annisa kini sudah berada didalam mobil. Disusul Fikar yang sudah siap sedia di kemudi setir nya. Ia lalu menatap kearah spion depan, melihat kebelakang, memastikan jika tamu kehormatan nya sudah siap sedia untuknya menjalankan laju kendaraan nya.
" Bagaimana Tuan? Sudah siap?"
Tanya nya seraya menatap dari kaca spion.
" Ya, jalanlah!"
Perintah Rafka.
Setelah mendapatkan aba-aba dari tamu kehormatan. Fikar lalu melajukan laju kendaraan nya dengan kecepatan sedang. Meninggalkan Vila dan juga pedesaan. Kini pemandangan alam kembali terpancar disetiap jalan yang mereka lewati. Membuat Annisa sama sekali tak membuang kesempatan itu untuk menyaksikan keindahan yang ada. Hingga akhirnya tak lama kemudian tibalah mereka di tempat yang di tuju. Yaitu "Air terjun Seulanga"
Hari ini mereka memilih untuk menghabiskan waktunya disana. Di wisata alam "Air terjun Seulanga" yang jaraknya tak berapa jauh dari pemukiman warga. Nama air terjun itu sebenarnya adalah nama desa yang saat ini mereka singgahi yaitu "Desa Seulanga". Karena jarak yang tak terlalu jauh dari desa dan juga letak air terjun yang masih berada didalam wilayah desa Seulanga membuat air terjun itu dijuluki dengan nama " Seulanga" atau lebih tepatnya adalah "Air terjun Seulanga".
Setelah memarkirkan mobilnya disalah satu sudut hutan. Fikar lalu mengajak Rafka serta Annisa untuk menulusuri jalan setapak yang ada disana. Perjalanan nya tak terlalu jauh, hanya lima menit untuk tiba disana. Hingga akhirnya hawa sejuk yang berasal dari air terjun menghampiri mereka. Ya.. kini mereka telah tiba dimana letak posisi air terjun itu berada.
" Wah.. indahnya.."
" Kamu suka?"
Tanya Rafka seraya menatap kearahnya.
" Suka sekali!" Serunya.
" Hmm, baguslah." Rafka menggandeng tangan Annisa menuju kearah bebatuan besar yang ada. " Hari ini kita akan menghabiskan waktu disini." Ujarnya kemudian.
Annisa mengangguk dengan senang. Matanya terus saja melirik kesana-kemari menikmati pemandangan yang ada. Hingga akhirnya tanpa terasa kini mereka sudah tiba di bebatuan besar yang terletak tak jauh dari jatuhnya air terjun hingga memercikkan sedikit airnya kearah disana. Ia berjalan kesana di bimbing oleh Rafka agar tak tersandung kakinya. Karena saat itu Annisa memilih fokus memandangi alam terbuka. Untung saja mereka sudah membawa baju ganti dari rumah. Mengingat jika setibanya mereka disana, mereka tak ingin membuang kesempatan dengan bermain ria disana.
Fikar memilih duduk dibawah pohon rindang yang tak jauh dari letaknya air terjun. Ia memilih menyendiri disana agar Raafka dan Annisa bisa dengan bebas menikmati suasana bulan madu mereka. Kapan lagi kan, ini adalah kesempatan yang langka. Jadi Fikar cukup tau diri dan tak ingin menggangu momen romantis mereka.
" Fikar!" Teriak Annisa memanggila namanya. Ia yang hampir tertidur pulas di bawah sejuknya pepohonan rindang akhirnya kembali membukakan mata dan berjalan menghampiri kedua sejoli yang tengah di mabuk cinta.
" Ada apa Nona?" Tanya nya begitu tiba disana.
" Tolong ambil gambar kami ya." Annisa mengulurkan tangan menyerahkan ponsel yang di pegang nya kepada Fikar.
" Hmm, baiklah."
Tanpa sungkan Fikar mengambil ponsel milik Annisa dan mencari posisi yang pas baginya untuk mengambil gambar mereka.
Annisa berdiri disamping Rafka mendekatkan tubuhnya di dada bidang Rafka. Sementara Rafka melingkarkan tangan nya di pinggang Annisa sehingga membuat posisi mereka terlihat begitu mesra saat itu. Terlihat sekali rona kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya. Membuat Fikar tersenyum dan ikut larut kedalam keromantisan yang ada. Andai saja suatu saat ia bisa membawa Ainun kemari bersamanya, pasti rona itu juga akan terpancar dari wajah keduanya. Pasti itu akan ia lakukan jika saatnya mereka telah resmi bersama.
Ceklak-ceklik
Beberapa gambar telah diambil. Dari posisi dengan duduk bersama diatas batu besar, bermain ria didalam air, berdiri dibawah air terjun. Bahkan beberapa pose lainnya sehingga kini sudah ada beberpa puluh foto memenuhi ponsel milik Annisa. Hari itu, Fikar mengubah profesinya dari seorang Tourguide menjadi seorang Fotographer handal dadakan. Hahah..!! yang pasti hari itu Fikar menjadi saksi indahnya jalinan cinta yang ada antar Rafka dan Annisa.
" Nisa.. aku mencintaimu.." Rafka kembali mengutarakan isi hatinya disana. Dibawah Air terju Seulanga ia kembali mengucapkan janjinya dengan memegangi kedua tangan Annisa " Perihal apapun kedepan nya masalah yang akan kita hadapi, aku berjanji akan selalu setia kepadamu.." Ikrar nya yang dibalakan angguka oleh Annisa.
Fikar masih berdiri disana, tak berapa jauh dari mereka. Sehingga ia dapat mendengar dengan jelas setiap janji yang diucapkan Rafka. Tak hanya dia tentunya, Air terjun Seulanga juga menjadi saksi bisu ikrarnya janji Rafka kepada Annisa.
Perlahan Rafka kini berlutut dihadapan Annisa. Ia lalu menatap lekat-lekat kearah gadisnya, lalu mendaratkan ciuman nya dikedua tangan Annisa dengan sangat lembut. Setelah itu ia kembali berdiri dan berniat memeluk Annisa. Namun, apa yang terjadi? Tiba-tiba saja Annisa terhuyung dan ambruk kebelakang. Untung saja Rafka dengan sigap menangkap tubuh Annisa, sehingga menyelamatkan nya dari benturan. Karena disana terdapat bebatuan yang bisa saja melukai kepala Annisa jika ia ambruk disana.
BERSAMBUNG
Assalamu'alaikum.. jangan lupa Like, Vote dan juga komentar yang membangun untuk karya saya. Terima kasih.