Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 56


"Ehm," Ucap Rafka sembari menatap tajam kearah Annisa.


Annisa pun menoleh kearah Rafka. Namun tiba-tiba saja Maya juga muncul disana.


"Maya,


Ternyata Abang tidak bisa memenuhi janji nya sendiri untuk menjauhi Maya.


Gumam Annisa.


"Sedang apa dia disini. Bukankah sudah kukatakan kepadanya kalau saat ini aku sedang tak ingin bertemu dengan nya.


Gumam Rafka.


Kehadiran Maya disana sungguh tak diinginkan oleh Rafka. Meski awalnya ia sudah menolak. Namun Maya bersikukuh untuk tetap datang ke restoran agar bisa bertemu dengan Rafka. Saat Maya ingin mengunjungi Rafka diruang kerjanya. Tanpa sengaja ia melihat Rafka berjalan menuju kearah ruangan khusus yang biasa ia pakai untuk menghabiskan makan siang nya.


"Mas Rafka. Mau kemana dia? Kalau dilihat-lihat sih sepertinya ia menuju kearah ruangan vip nya.


Gumam Maya.


Lalu dengan riang nya ia langsung mengikuti Rafka dari belakang. Betapa senang nya dia saat membayangkan makan siang nya yang akan ia habiskan berdua saja dengan Rafka, karena saat ini ia tak melihat Dedi bersama Rafka.


Namun saat tiba disana. Seketika mimpinya sirna saat mendapati diruangan khusus milik Rafka, ternyata ada Annisa dan juga Dedi serta sesosok wanita asing yang sama sekali tak ia kenali. Maya sangat kesal dibuatnya, namun ia tetap berusaha serileks mungkin dalam menyapa semua orang yang ada disana sembari menunjukkan senyum termanis nya.


"Hai semua!!" Sapa Maya seraya melambaikan tangan nya.


"Hai May," Sahut Dedi.


Sedangkan dari sudut dinding, Winda sudah celingukan kearah Rafka dan tak sabar ingin menyapa kakak ipar nya tersebut.


"Hai kakak ipar." Ucap Winda kemudian sembari melempar senyum termanisnya.


Rafka menoleh kesudut kursi dan melihat sosok yang menyapa nya tersebut.


"Kamu," Lirih Rafka sembari mengerutkan dahinya.


"Ini Winda adik Nisa Bang." Timpal Annisa seraya memegang bahu Winda dan tersenyum.


" Oh, ternyata gadis itu adik nya Nisa. Heh, lihat saja aku akan membuat Nisa malu dihadapan adiknya sendiri.


Gumam Maya.


Sementara itu.


Rafka tidak begitu mengenali Winda. Karena pertemuan mereka yang begitu singkat di gedung pernikahan. Apalagi sehari setelah menikah mereka langsung pindah rumah.


Meskipun begitu, setelah tau bahwa itu adalah Winda adik iparnya. Dengan segera Rafka bersikap seramah mungkin dengannya.


"Hai Winda, apa kabar." Sapa Rafka kemudian sembari melebarkan senyum nya.


"Alhamdulillah baik kak. Kakak sendiri bagaimana." Sahut Winda.


"Yah, seperti yang kamu lihat sendiri. Aku sehat, apalagi kakak mu Annisa mengurus ku dengan sangat baik." Ucap Rafka sembari menatap kearah Annisa.


Annisa menyadari tatapan Rafka kepadanya. Lalu ia membalasnya dengan senyum kecut.


Sedangkan Rafka dengan tak tau malunya kini mulai nyempil di samping Annisa sehingga dengan terpaksa Annisa harus menggeser duduk nya agar tak terlalu dekat dengan Rafka.


"Loh, kok geser sih, kamu enggak suka ya terlalu dekat denganku." Ucap Rafka saat melihat Annisa yang segera menggeser duduk darinya.


"Ih kakak! Kok masih malu-malu gitu sih. Kan kalian sudah menikah, nggak apa-apa dong jika kakak ipar ingin duduk dekat-dekat sama kakak." Sambar Winda saat melihat kakaknya menggeser duduk kearah nya.


"Winda . ." Annisa membelalakkan mata nya kearah Winda.


"Sayang . . nggak usah malu gitu dong. Bukankah apa yang diucapkan Winda itu benar. Kita sudah menikah, jadi kamu jangan malu-malu seperti ini." Timpal Rafka. Ia sengaja memanggil Annisa dengan sebutan "Sayang" Saat itu, agar terkesan akrab dengannya. Namun entah mengapa Rafka justru sangat menyukai saat memanggil Annisa dengan sebutan "Sayang".


"Deg,


Mendengar kata "Sayang" Dari mulut Rafka. Entah mengapa membuat Annisa refleks menatap kearah Rafka. Namun sesaat kemudian ia kembali menundukkan pandangan nya karena merasa malu dengan dirinya sendiri.


"Jujur saat ini aku tidak tau harus merasa senang atau bersedih. Tapi yang jelas saat aku mendengar kata "Sayang" yang keluar dari mulut Abang, hatiku merasa malu dengan sendirinya.


Gumam Annisa.


Disamping meja, Maya yang masih berdiri mengerutkan dahinya saat melihat kedekatan Rafka dan juga Annisa. Apalagi tadi Rafka memanggil Annisa dengan sebutan "Sayang" Sehingga membuat kekesalan Maya terlihat jelas dari raut wajahnya.


"Kak Dedi kok senyum-senyum sendiri sih," Ucap Winda yang ternyata memperhatikan perubahan wajah Dedi saat menatap Maya.


"Apa kak Dedi suka sama kak Maya ya?


Gumam Winda.


Dedi sedikit terkejut saat mendengar ucapan Winda. Namun ia berusaha menutupinya dengan bersikap sesantai mungkin.


"Eh Winda, aku senyum karena lagi ngebayangin kapan ya aku bisa seperti Rafka dan juga Nisa." Ucap Dedi seraya menatap kearah Rafka dan juga Annisa.


"Makanya cepetan nikah, jangan jomblo terus." Sambar Rafka seraya memegang tangan Annisa yang saat ini ia letakkan diatas meja.


"Deg,


Jantung Annisa kembali berdetak kencang saat itu. Aliran darah nya terasa mengalir sangat deras, namun ia tetap berusaha bersikap serileks mungkin disana tanpa menggerakkan tangannya sedikitpun.


"Haha, iya-iya." Sahut Dedi sembari tertawa kecil.


Lalu ia kembali mendongakkan kepalanya menatap Maya yang masih betah dengan kaki nya berdiri disamping meja.


"May, kamu kok berdiri terus sih! Apa nggak cape? Sini duduk disamping ku." Ucapnya seraya menggeser pantatnya ke pojokan agar Maya bisa duduk disana.


"Oh, iya." Ujar Maya yang kemudian duduk berdampingan dengan Dedi.


Kini Maya dan Annisa bertatapan langsung. Sehingga saat ini Maya dengan jelas melihat Rafka yang masih memegangi tangan Annisa dengan mesra diatas meja.


"Ekhm, ternyata kalian berdua mesra sekali ya. Sehingga, meskipun di atas meja kalian masih berpegangan tangan." Ucap Maya seraya melirik kearah Rafka.


Rafka terkejut mendengar perkataan Maya. Ia kemudian melihat kearah tangan nya dan benar saja. Ternyata kini ia dengan lembut nya memegang tangan Annisa disana.


"Hah, kenapa aku bisa nggak sadar gini sih! Ini juga, kenapa perasaan ku begitu nyaman saat aku menyentuh tangan nya.


Gumam Rafka.


Meskipun sudah menyadari hal itu. Namun kini Rafka seolah enggan melepaskan tangan nya. Bahkan saat ini ia mulai menggenggam lembut tangan Annisa.


Dibalik meja. Maya mulai mengepalkan tangannya. Kekesalan nya semakin memuncak saat melihat Rafka yang semakin mempererat genggaman tangan nya. Sedangkan dari pojok samping Maya, Dedi yang sedari memperhatikan nya mulai mencoba mengalihkan topik.


"May, kamu mau pesan apa? Nggak mungkin kan kita makan kamunya enggak." Ucap Dedi.


"Bukankah disini begitu banyak makanan. Haruskah aku memesan yang lain." Sahut Maya sembari menunjuk kearah makanan yang terhidang diatas meja.


"Bukan begitu. Hanya saja aku takut jika ini semua bukan seleramu. Lagi pula semua makanan yang ada disini aku pesan untuk menjamu Annisa bersama adiknya Winda." Timpal Dedi yang semakin menambah kekesalan Maya terhadap Annisa.


"Kak Dedi, biarkan saja Maya memilih salah satu makanan yang ada disini. Nisa dan Winda nggak keberatan kok." Seru Annisa.


"Nggak usah Nis, Dedi benar. Makanan yang ada disini semuanya bukan seleraku." Sahut Maya yang tak ingin menerima belas kasihan dari Annisa.


Pelayan kemudian datang setelah sebelumnya Dedi memencet tombol khusus disana. Lalu pelayan itu mendekat dan menyodorkan buku menu yang dibawanya.


"Mas kamu nggak memesan sesuatu untuk makan siang mu?" Ucap Maya saat melihat Rafka yang terlihat sama sekali tak menyentuh buku menu yang ada disana.


"Pelayan ku sudah tau apa yang aku inginkan. Jadi aku tidak perlu memesan nya lagi." Sahut Rafka santai.


"Oh . . Mba, kalau begitu saya samain aja sama Mas Rafka ya." Ucap Maya pada pelayan tersebut.


"Baik nona." Sahut sang pelayan.


Pelayan itu kemudian mengundurkan diri dari sana disusul pelayan lainnya yang datang dengan membawa makanan yang diinginkan Rafka. Makanan tersebut memang dibuat khusus untuk Rafka saat jam makan siang nya tiba.


Pelayan lainnya kemudian menghidangkan makanan Rafka diatas meja. Lalu pergi setelah selesai menjalankan tugas nya.


"Mas, itu punyamu?" Tanya Maya mengerutkan dahinya saat melihat makanan yang baru saja datang.


"Ya." Jawab Rafka singkat.


"Jadi, ntar aku makan nya sendiri gitu?" Tanya Maya lagi.


"Terserah kamu, jika kamu tidak suka makan sendiri maka bungkus dan bawalah pulang." Sahut Rafka santai.


Sementara itu Dedi, Annisa dan juga Winda melanjutkan makan siang mereka. Sedangkan Rafka kini juga mulai menyantap makanan nya.


BERSAMBUNG