
Rafka terdiam. Ia masih mencerna setiap perkataan Dokter tentang obat yang diminum Annisa. Kening nya kini mulai mengerut memikirkan tentang obat pencegah kehamilan itu.
Mungkinkah Annisa melakukan itu. Ia sengaja meminum obat pencegah kehamilan karena tak ingin mempunyai anak dariku?
Rafka mulai gundah.
Apa sesungguhnya dia sangat membenciku? Sehingga ia tak sudi mengandung seorang anak dariku?
Fikiran nya mulai kacau saat membayangkan tentang obat pencegah kehamilan itu. Ia sama sekali masih tak menyangka jika Annisa tega melakukan nya.
" Jika ini diteruskan. Mungkin kedepan nya Nona Annisa akan sulit memiliki Bayi. Karena obat yang di konsumsi oleh Nona, dosis nya sangat tinggi. Sehingga hal itu bisa berpengaruh besar terhadap kesuburan nya." Ujar Dokter Siera.
Rafka mulai memegangi kepalanya yang ia rasa sudah mulai berat.
" Bagaimana kondisi nya sekarang? Apa saat ini obat itu telah banyak mempengaruhi kesuburan nya?" Tanya Rafka. Matanya terlihat begitu serius menatap kearah Dokter Siera.
" Untuk saat ini obat itu belum berpengaruh banyak untuk kondisi kesuburan rahim nya. Namun, jika kembali di konsumsi dalam jangka waktu dekat. Mungkin akan berpengaruh buruk terhadap kondisi rahim Nona Annisa." Pungkas Dokter Siera.
Rafka kembali terdiam. Lalu secara perlahan ia mengangguk, menandakan bahwasanya ia mengerti dengan maksud dari perkataan Dokter Siera.
" Baiklah Dok, untuk kedepan nya saya akan lebih memperhatikan dan juga menjaga istri saya." Ujar nya.
Setelah percakapan nya dengan Dokter Siera. Rafka kini kembali kedalam kamar, dimana Annisa saat ini masih terbaring lemah disana. Ia masih juga tak sadarkan diri. Namun, menurut informasi yang di sampaikan Dokter Siera. Kondisi Annisa sudah tidak apa-apa, dan dalam waktu dekat ia akan kembai sadar dan juga sudah di pebolehkan pulang.
Di tempat duduk nya.
Rafka menatap Annisa yang terbaring lemah diatas ranjang. Melihat wajah istrinya yang begitu polos membuat Rafka kembali tak yakin jika Annisa bisa melakukan hal itu. Apalagi kata Dokter, obat pencegah kehamilan yang dikonsumsi oleh Annisa mengandung dosis yang sangat tinggi. Yang akan sangat membahayakan jika ia mengonsumsi nya dalam waktu jangka panjang. Bagaimana mungkin ia akan membahayakan dirinya sendiri dengan obat itu. Atau mungkin ia sama sekali tak tau dengan efek samping dari obat yang diminumnya? Sehingga dengan sembarangan ia meminum nya? Ah.. Entahlah, pikiran Rafka kembali kacau saat ia kembali mengingat tentang obat itu.
Kini ia memilih duduk di sebuah kursi di samping ranjang istrinya semnbari menopang kepalanya dengan kedua telapak tangan nya.
Dua jam kemudian.
Perlahan Annisa membuka mata. Dengan pandangan yang masih terbilang buram. Annisa melihat Rafka terlelap disebuah kursi tepat disamping nya. Wajah nya terlihat lelah, sehingga membuatnya merasa iba saat menatap nya. Beberapa saat kemudian. Annisa sadar jika saat ini ia sedang berada di tempat berbeda. Dilihat nya ke sekeliling ruangan, semua terasa asing baginya.
Dimana ini? Tempat apa ini? Bukankah tadi kami sedang berada di bawah air terjun?
Gumam Annisa.
Ia lalu kembali memperhatikan keseluruh ruangan.
Apa ini rumah sakit? Ah, tidak! Sepertinya ini lebih tepat disebut sebuah klinik.
Pikirnya lagi. Annisa lalu berusaha kembali mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Sehingga bisa membuatnya tertidur disana..
Namun, ditengah kebingungan yang tengah melanda fikiran Annisa. Rafka yang awalnya terlelap kemudian terjaga. Ia melihat Annisa sudah sadar dari pingsan nya, dan kini tengah duduk dengan posisi menghadap kearahnya.
" Nisa.!" Serunya, membuyarkan seluruh lamunan Annisa yang tengah mengingat kejadian sebelumnya.
kini ia menoleh kearah Rafka.
" Abang!"
" Syukurlah jika kamu sudah sadar.." Ujar Rafka.
" Nisa kenapa Bang? Kenapa kita bisa ada disini?" Tanya nya dengan wajah yang terlihat cemas.
" Tadi kamu pingsan, jadi aku dan Fikar membawamu kesini." Ujar Rafka. " Nisa, bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?" Tanya Rafka kemudian.
" Apa kamu masih membenciku?" Rafka menatap mata Annisa dalam-dalam.
Membenci?
Annisa mengerutkan dahinya.
" Membenci? Kenapa Abang bisa bertanya seperti itu?" Kini ia balik bertanya. Didala hatinya, ia merasa bingung dengan pertanyaan Rafka.
" Jawab saja pertanyaanku.!" Seru Rafka. Namun, kali ini nada suaranya terdengar sedikit ketus.
" Bagaimana bisa Nisa membenci Abang, bukankah Abang suami Nisa. Sangat berdosa bagi seorang istri bila ia membenci suaminya sendiri bukan?." Jawab nya tanpa ragu. Suaranya juga terdengar sangat tulus.
Ya tuhan..
Benarkah gadis polos yang ada dihadapan ku ini benar-benar telah meminum obat itu dengan disengaja. Mengapa, setiap aku menatapnya hatiku seolah ragu untuk itu. Ragu jika ia benar-benar melakukan nya dengan sengaja. Melihat keluguan serta ketulusan nya, itu sangat-sangat tidak mungkin sepertinya. Bagaimana bisa gadis yang begitu lembut dan Sholeha sepertinya tega membunuh bibit yang bahkan belum berkembang dirahim nya. Rasanya itu sungguh tidak mungkin.
Rafka terdiam sejenak menatap Annisa. Fikiran nya tengah menerka-nerka atas apa yang baru saja terjadi.
Tapi, jika bukan dia siapa lagi? Bukankah Dokter Siera mengatakan jika obat itu diminum dengan sengaja olehnya. Lagi pula bagaimana mungkin ia tidak tau dengan itu. Ah, Nisa, fikiran ku benar-benar kacau olehmu.
" Bang, Abang kenapa?"
" Tidak, tidak kenapa-napa. "
" Tapi, raut wajah Abang menunjukkan jika sesuatu telah terjadi."
" Sudah ku bilang tidak ada apa-apa ya itu berarti tidak ada apa-apa!." Nada suara Rafka mulai terdengar meninggi. " Karena sekarang kamu telah sadar, mari kita kembali Vila! " Tambahnya lagi.
Deg
Hati Annisa terasa begitu perih saat mendengar nada suara Rafka yang terdengar tinggi kepadanya. Ia tak pernah menyangka, jika rasa ingin tahunya itu bisa membuat emosi suami nya memuncak. Sebenarnya apa yang terjadi, apa yang membuat Rafkaa bisa sangat marah seperti itu.
" Bang.." Sapa Annisa. Suaranya juga masih terdengar lembut.
Ya tuhan, kenapa aku bisa berkata seperti itu tadi. Mungkinkah ia akan semakin membenciku, sehingga itu akan membuatnya kembali meminum obat itu?
Fikiran Rafka semakin kalut.
" Ah! Nisa, maafkan aku. Aku tidak bermaksud berkata seperti itu tadi kepadamu." Ujarnya dengan suara yang terbilang cukup pelan. " Karena kamu sudah sadar, mari kita segera kembali ke Vila sekarang." Ucapnya kemudian.
Annisa mengangguk setuju. Ia juga tak ingin lagi mempermasalahkan apa yang telah terjadi. Mungkin saat ini Rafka sedang banyak fikiran. Sehingga membuat emosinya naik turun seperti ini. Kini mereka pun akhirnya meninggalkan klinik itu dan kembali ke Vila.
BERSAMBUNG
Assalamu'alaikum..
Hi guys..
Jangan lupa Vote dan Like nya ya. Karena hanya dengan cara itu bisa memotivasi Ra untuk segera mengupdate episode selanjutnya.
Terima kasih^^
Selamat membaca.