
" Mas, dari semalam aku terus memikirkan mu," ucap maya seraya menatap lembut ke arah rafka yang tengah duduk santai dengan menyenderkan tubuh nya.
" memikirkan apa?" tanya rafka yang masih sibuk memainkan ponsel nya.
" mas, aku memikirkan hubungan kita," ucap maya yang mulai menatap serius.
rafka meletakkan ponsel nya saat mendengar kalimat yang di ucapkan maya. kini wajah nya pun mulai serius menatap ke arah maya.
" maksud mu?" rafka mulai memicingkan mata nya menatap lurus kepada sosok yang duduk di depan nya.
" maksud ku adalah, aku mau kamu menikahi ku mas." ucap maya dengan suara agak berat.
apa mendelikkan mata nya ketika mendengar apa yang baru saja di ucap kan maya. ia sedikit terkejut dengan keberanian wanita yang saat ini ada di depan nya.
" apa.!! hah," rafka memalingkan wajah nya ke arah kaca yang langsung tampak ke jalanan raya di luar restoran nya.
" kenapa mas? apa kamu keberatan?" tanya maya saat melihat reaksi rafka yang tampak kurang senang saat mendengar perkataan dari nya.
rafka kembali menoleh ka arah maya dan menatap nya dengan serius.
" kamu tanya apa aku keberatan?" ucap nya dingin
" terus, apa mas setuju?" tanya maya penuh harap.
rafka kembali menyenderkan tubuh nya ke arah sudut sofa. ia menggelengkan kepala nya seraya tersenyum sinis menatap ke arah maya yang membuat nya mulai cemas.
" kemarin kamu baru meminta maaf padaku dan sekarang kamu berani meminta ku menikahi mu." ucap rafka dingin
maya menundukkan kepala nya merancang merancang sebuah jawaban yang mungkin bisa di terima rafka agar segera bisa menikahi nya.
" mas aku mencintai mu dan kamu juga mencintai ku kan." maya berharap kata - kata nya ini bisa di pertimbangkan oleh rafka. mengingat hubungan yang mereka jalani selama hampir dua tahun ini.
rafka kembali menggelengkan kepala nya dan sesaat menoleh ke arah dinding kaca dan kemudian berbalik lagi menoleh ke arah nya.
" kamu bilang cinta, terus sewaktu kamu mengkhianati ku di belakang ku apakah kamu masih ingat kalau kamu mencintaiku." ucap rafka pelan namun tegas dengan raut wajah dingin.
" aku khilaf mas " jawab maya seraya menitikkan air mata. mungkin ini senjata yang ampuh bagi nya untuk mendapatkan belas kasihan dari kekasih yang telah di pacari nya hampir dua tahun itu.
" khilaf, hah." ucap rafka dengan memalingkan wajah nya.
" mas, bukankah kamu sudah memaafkan ku." ucap maya menatap sayu, ia tak tau lagi mau mengatakan apa.
" aku memaafkan mu, tapi aku belum bisa melupakan pengkhianatan yang kamu lakukan kepadaku, dan sekarang kamu meminta ku untuk menikahi mu." ucap rafka
" lagi pula apa yang kamu pikirkan tentang hubungan kita?" ucap nya sinis menatap ke arah maya.
maya menggenggam erat tangan nya, saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut rafka.
apa maksud mu mas, bukankah kamu sudah memaafkan serta menerima ku kembali mas. maya kamu harus tetap tenang dan bicara lah dengan baik agar ia mau menikahi mu.
gumam maya.
" kita adalah sepasang kekasih yang saling mencintai mas, aku mencintai mu dan kamu mencintai ku maka bukankah sudah seharusnya kita menikah mas ," jawab maya tegas dengan penuh kepercayaan diri. ia tau kalau sampai saat ini rafka masih sangat mencintai nya.
rafka tersenyum sinis saat mendengar ucapan maya yang penuh percaya diri, ia malah semakin kesal saat mendengar jawaban dari maya yang seolah - olah memanfaatkan cinta yang masih ada pada diri nya.
saat percakapan mulai menegang tiba - tiba beberapa para pelayan restoran masuk membawakan menu makan siang yang di pesan tadi.
rafka terdiam dan tak menjawab pertanyaan maya kepada nya. kini ia duduk dengan tegak seraya menyilangkan kaki nya.
setelah selesai menghidangkan makanan serta minuman di atas meja, para pelayan menundukkan kepala nya dan kemudian pergi berlalu meninggalkan tempat itu.
suasana hening sesaat setelah para pelayan meninggalkan ruangan. rafka tak bersuara namun kini ia mulai meminum minuman nya. sedangkan maya masih ingin membahas tentang hubungan mereka selanjut nya.
" mas," ucap maya memberanikan diri untuk kembali memulai percakapan dengan rafka.
" makan lah may, aku tidak ingin membahas apapun sekarang kalau kamu masih ingin membahas nya maka aku akan keluar dari sini dan kamu makan lah sendiri." ketus rafka yang kini mulai menyantap makanan nya tanpa menatap ke arah maya.
maya mengerutkan dahi nya saat mendengar ucapan rafka yang ketus kepada nya. namun ia tak berani menolak karena tak ingin rafka pergi meninggalkan nya sendiri disana.
***
sore itu annisa duduk di atas sofa di depan tv yang menyala sambil memangku laptop nya memeriksa hasil kinerja para pegawai nya melalui email yang di kirimkan fatimah. ia tampak serius walaupun sesekali memasukkan keripik ubi ke dalam mulut nya.
alhamdulillah, akhir - akhir ini toko - toko kue ku berkembang dengan baik. hmm, kalau begini terus insya allah aku bisa membuka cabang di kota lain nya nih.
gumam annisa seraya memakan keripik nya.
hari sudah menunjukkan pukul empat lewat tiga puluh menit. annisa yang sudah memeriksa laporan dari toko nya itu kemudian menutup laptop ny dan bangkit dari duduk nya melangkah berjalan ke arh dapur berniat memasakkan sesuatu untuk suami nya.
belum lagi annisa sampai ke dapur nya tiba - tiba bel rumah berbunyi.
" tin tong - tin tong "
anisa berhenti saat mendengar suara bel yang berbunyi. ia kemudian membalikkan badan nya melangkah menuju ke arah bel yang berbunyi yaitu pintu masuk.
saat annisa sudah sampai disana.
ia pun kemudian membukakan pintu rumah nya.
" kreeak "
pintu rumah terbuka annisa terpaku saat melihat ada sosok cantik dan putih yang sudah berdiri di depan nya. ia terkejut yang kemudian tersenyum lembut menatap ke arah sosok itu dan kemudian langsung meraih tangan nya untuk di salim.
" assalamu' alaikum " sapa bunda seraya tersenyum lembut.
" wa' alaikum salam bun." jawab annisa setelah menyalim tangan nya bunda.
" masuk bunda," ajak nya agar bunda masuk kedalam rumah.
bunda pun kemudian melangkah masuk kedalam rumah dan annisa menuntun sang mertua untuk duduk di ruang tamu rumah mereka.
setelah sampai, annisa kemudian mempersilahkan sang mertua untu duduk di sofa yang ada di ruang tamu nya itu.
" bunda, silahkan duduk, bunda pasti capek kan habis jalan dari rumah hingga sampe kesini." ucap annisa tersenyum lembut.
bunda tersenyum saat mendengar perkataan menantunya yang begitu perhatian serta bersikap sangat lembut kepada nya.
" bunda nggak capek kok nis," ucap sang mertua lembut.
Bersambung
ig @fakhiral2013