Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 55


"Nisa.!!" Panggil seseorang dari arah depan sembari melambaikan tangan kearah nya.


Annisa kemudian menoleh kearah tersebut, lalu ia tersenyum.


"Kak Dedi


Gumam nya.


"Alhamdulillah . ." Ucap Annisa saat melihat sosok yang sedang memanggilnya adalah Dedi.


"Ada apa kak? Kok Alhamdulillah." Tanya Winda merasa heran.


"Alhamdulillah karena kita akan segera mendapatkan tempat untuk makan siang disini sekarang." Jawab Annisa sembari tersenyum. Sedangkan Winda masih merasa bingung dengan apa yang dikatakan kakak nya.


Dedi melangkah mendekati Annisa dan kini ia pun sudah sampai dan berdiri tepat dihadapan nya.


"Hai, ternyata ini benaran kamu Nisa." Ucap Dedi seolah tak percaya saat memastikan sosok yang dilihat nya dari kejauhan tadi memang benar Annisa.


"Iya kak, emang nya kak Dedi tadi berharap bukan Nisa ya?" Ucap Annisa dengan sedikit gurauan.


"Justru itu Nis, aku sempat tidak yakin tadi saat melihat mu dari sana. Soalnya kamu itu kan nggak pernah datang kesini sebelumnya."Timpal Dedi.


"Siapa bilang belum pernah kesini? Nisa udah pernah kok makan disini. Maka dari itu hari ini Nisa bisa sampai kesini." Ujar Annisa dengan berlagak sedikit sombong.


"Gaya mu kak . . kak . . Nggak tahan Winda jadinya pengen cepat-cepat pipis, hehehe." Goda Winda sembari tertawa kecil.


Annisa kemudian menundukkan sedikit kepalanya sembari menoleh kearah Winda


Sedangkan Dedi menatap kearah Winda yang kini ikut nimbrung dalam percakapan nya dengan Annisa.


"Nis, ini siapa? Kenalin dong." Seru Dedi seraya menatap kearah Winda yang kini berdiri tepat di sebelah Annisa.


"Oh iya, Winda kenalin ini kak Dedi teman kakak semenjak Sma dulu sekaligus sahabat nya Abang." Ucap Annisa memperkenalkan adiknya dengan Dedi.


Winda tersenyum seraya mengulurkan tangan yang langsung di sambut oleh Dedi.


"Winda."


"Dedi."


Ucap keduanya secara bersamaan.


"Cantik seperti kamu ya Nis." Goda Dedi.


"Udah deh kak, nggak usah mulai. Winda itu nggak suka di gombal loh orangnya." Sahut Annisa seraya melirik kearah adik nya.


Winda pun tersenyum malu saat menyadari bahwa saat ini Annisa dan juga Dedi sedang menatap kearah nya.


"Kakak.!! Bisa diam nggak sih, Winda lapar nih." Ucap Winda dengan wajah yang mulai memerah.


"Kak Dedi dengar sendiri kan. Winda sudah lapar, apakah kakak tidak mempersilahkan kami untuk segera duduk dan memesan makanan?" Seru Annisa seraya tersenyum kearah Dedi. Sedangkan Winda mulai terlihat kesal karena sedari tadi Annisa selalu membawa namanya.


"Oh iya, aku hampir lupa." Ucap Dedi seraya memperhatikan sekeliling restoran berharap masih ada meja yang kosong namun sayang nya tak ada satupun yang tersisa.


"Berhubung disini mejanya penuh semua. Gimana kalau kalian ikut denganku." Dedi.


"Ikut kemana? Kakak nggak akan nyulik kami kan." Gurau Annisa seraya mengernyitkan dahinya kearah Dedi.


"Siapa juga yang mau nyulik emak-emak kayak kamu. Nggak bakalan laku juga kalau dijual, hehehe." Ujar Dedi sembari tertawa lebar seolah tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan nya.


"Maksud ku emak nya bidadari, hehehe


Gumam Dedi.


"Kak Dedi . . Ngomong gitu lagi Nisa pulang nih." Protes Nisa


"Hehehe, enggak deh, cuma bercanda." Ujar Dedi.


"Sini ikuti aku." Ujar Dedi lagi.


"Emang nya kita mau kemana sih?" Tanya Annisa kembali.


"Sudah, ikut saja. Nanti kamu juga bakal tau sendiri kok." Timpal Dedi.


"Waah . . Kak Dedi ini tempat nya bagus sekali." Ucap Annisa yang merasa kagum dengan tempat tersebut.


"Iya kak. Winda juga baru pertama kali ini masuk kedalam restoran yang mewah seperti ini." Timpal Winda yang juga merasa sangat kagum dengan tempat itu.


"Kalian suka kan?" Tanya Dedi.


"Suka sekali kak.!!" Jawab keduanya secara bersamaan.


Tak lama kemudian.


Pelayan resto datang dengan membawa buku menu di pangkuan nya.


"Permisi Mbak," Ucap sang pelayan seraya sedikit menundukkan kepalanya sopan.


"Silahkan dipilih menunya." Ucap nya lagi.


"Kamu mau pesan apa Nis?" Tanya Dedi.


"Apa aja deh, yang penting enak dan juga gratis. Hehehe." Ujar Annisa sembari tertawa.


"Kakak, apaan sih. Nggak malu apa!" Sela Winda sembari menyenggol bahu Annisa.


"Ngapain mesti malu Dek, kita kan sekali-kali datang kesini. Ya kan kak Dedi," Ucap Annisa seraya melirik kearah Dedi yang saat ini duduk di depan nya.


"Iya-iya. Pokok nya hari ini kalian bisa makan semua yang kalian suka gratis!!" Seru Dedi sembari menaikkan-turunkan kedua alis nya.


"Yeay!! Asik. ." Annisa tertawa riang.


Sedangkan Winda hanya tersenyum sembari melirik kearah Dedi. Entah mengapa semenjak pertemuan tadi, pandangan Winda selalu tertuju kearah Dedi. Namun saat Dedi melirik kearah nya. Winda dengan segera menunduk atau memalingkan wajah seolah tidak terjadi apa-apa.


***


Makanan sudah tersedia. Setelah selesai melakukan pekerjaan nya. Para pelayan segera undur diri dan kembali melanjutkan tugas masing-masing. Wajah Annisa dan juga Winda tampak terkesima melihat penyajian dan juga seluruh makanan yang ada disana.


Menu yang ada disana semua terdiri dari berbagai macam negara. Ada Bebek peking, Dimsum (China) Ramen, Sushi (Jepang,) Somtam (Thailand,) Ada juga Rendang Padang, Semur Jengkol, Sayur Patarana di tambah nasi putih pelengkap makan siang mereka.


"Wah . . banyak sekali. Ada jengkol juga kesukaan Winda." Ucap Winda sumringah saat melihat makanan kesukaan nya yaitu Jengkol.


"Win, ntar habis ini jangan lupa langsung sikat gigi biar nggak bau." Seru Annisa yang kini duduk di samping Winda.


"Iya kak . ." Sahut Winda.


"Hmm, ternyata Winda suka jengkol juga ya. Berarti kita samaan dong." Timpal Dedi.


"Oh ya kak, jadi ada temen nya nih. Soalnya Winda kalau makan jengkol selalu sendiri. Kalau kak Nisa paling nyicip sebiji doang." Sambar Winda.


"Wah, berarti Nisa udah ada kemajuan ya. Soalnya dulu sewaktu Sma dia sama sekali nggak mau nyentuh jengkol. Bahkan dia selalu menjauh dariku jika saat itu sedang makan ini." Ucap Dedi seraya menunjuk kearah makanan favoritnya yang ternyata sama dengan Winda.


"Nisa nggak tahan sama baunya kak. Itu aja Nisa mau nyicip karena dipaksa sama Winda." Ucap Annisa.


"Aaa . . sudahlah, kok jadi bahas ini sih. Nisa laper nih, Winda kamu juga lapar kan. Yuk kita mulai makan nya." Ucap Annisa lagi.


Ia sudah tak ingin berlama-lama lagi untuk menyantap hidangan yang kini tersedia dihadapan nya. Apalagi disana ada sushi, makanan yang amat-sangat di sukai nya.


"Ya sudah, mari kita mulai. Winda, kamu jangan sungkan ya." Ujar Dedi sembari melirik kearah Winda yang dibalas senyum olehnya.


Merekapun kemudian mulai menyantap hidangan yang tersedia. Tampak sekali Annisa begitu menikmati sushi nya, begitupun dengan Winda dan juga Dedi yang sangat menikmati Jengkol nya.


Saat mereka tengah asik menikmati makanan masing-masing. Tiba-tiba saja Rafka datang dan kini berdiri didepan meja mereka.


"Berani sekali mereka makan bersama tanpa sepengetahuan ku.


Gumam Rafka.


"Ehm," Ucap Rafka sembari menatap kearah Annisa.


Annisa pun kemudian menoleh kearah Rafka dan tiba-tiba saja Maya datang menghampiri mereka.


BERSAMBUNG