Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 100


FLASH BACK OFF


8 Bulan yang lalu.


" Winda . . Aku mencintaimu.."


Di depan umum Fery berlutut di hadapan Winda dengan setangkai mawar putih di tangan nya. Suara nya juga terdengar begitu lembut saat ia mengutarakan isi hatinya. Sontak saja pandangan mata para pengunjung yang ada di toko kue itu tertuju kearah mereka. Yang membuat Winda merasa sangat risih dengan situasi saat itu.


" Fery! kamu gila ya!" Suara Winda terdengar pelan. Ia juga menyipitkan kedua bola matanya seraya menatap kearah Fery.


" Winda . . Bersediakah kau menjadi kekasihku?" Ucap Fery lagi tanpa ingin mendengar perkataan Winda.


 


" Terima! Terima! Terima!" Sorak para pengujung yang ada disana. Kini mereka mulai memadati lokasi pernyataan cinta Fery.


 


Ya tuhan . . Kenapa dia melakukan tindakan konyol seperti ini di tempat umum. Tidakkah ia merasa malu?


Winda mulai merasa kesal dengan sikap Fery.


" Winda . . aku sangat mencintaimu." Wajah Fery kian memelas.


" Terima! Terima! Terima!" Para pengunjung kembali meneriaki agar Winda menerima pernyataan cinta dari Fery.


Sungguh, situasi ini membuat Winda berada dalam dilema. Bagaimana tidak, disatu sisi dia sama sekali tidak tertarik dengan Fery. Namun, disisi lain ia juga tak bisa menolak pernyataan cinta Fery begitu saja di muka umum karena itu pasti akan berdampak buruk terhadapnya. Tak ingin di cap sebagai gadis yang tidak berperasaan. Winda lantas memutuskan mengambil setangkai mawar putih yang ada di tangan Fery.


" Beri aku waktu! Aku akan coba memikirkan nya." Ucapnya seraya berlalu masuk keruang kerja nya.


" Aku akan menunggu jawaban mu! Ku harap kau tidak akan mengecewakan ku!" Teriak Fery. Ia lalu tersenyum seraya berdiri dari tempat nya, dan setelah itu Fery pun melangkah keluar dari toko kue tersebut dengan perasaan gembira. Sementara, para pengunjung mulai membubarkan diri dan kembali duduk di tempat masing-masing. Setelah melihat tontonan gratis tersebut telah usai.


 


Di dala ruangan.


Winda duduk di kursi putar nya seraya memijit kepala dengan kedua tangan nya. Dilirik kearah mawar putih yang ia letakkan diatas meja kerjanya. Tepat disamping foto miliknya.


" Ya tuhan . . ini pertama kalinya seorang pria menyatakan cinta kepadaku. Di khalayak ramai pula." Desahnya sembari terus menatap kearah bunga tersebut.


Winda sama sekali tak menyangka jika Fery akan menyatakan cinta kepadanya. Karena selama ini mereka tidak terlalu dekat. Memang beberapa bulan terakhir Fery sudah menjadi pelanggan tetap toko nya. Namun, itu hanya sebatas Fery memesan kue dan Wida melayani nya. Tak pernah sekalipun mereka duduk dan berbicara bersama. Hingga hari ini tiba Fery dengan lantang menyatakan cinta kepadanya.


" Sungguh, ini membuat kepalaku menjadi sakit." Gumam nya.


 


Malam harinya. Sekitar pukul 19:00 Wib.


Setelah membereskan segala sesuatu nya. Winda kini beranjak dari ruangan nya. Toko kue milik kakak nya yang ia kelola ia percayakan kepada karyawan nya yang bernama Fatimah untuk nanti menutup nya. Winda kini melangkah menuju kearah parkiran. Dimana ia memarkirkan sepeda motor miliknya. Kini setibanya disana ia lantas segera menaiki sepeda motor nya dan meninggalkan tempat itu. Berjalan melewati jalanan kota untuk tiba dirumah nya.


Malam itu rembulan bersinar terang menyinari bumi. Para muda-mudi terlihat kesana-kemari dengan membawa pasangan mereka masing-masing. Kebetulan malam itu adalah malam minggu, sehingga membuat jalanan kota padat akan pengendara. Disebuah persimpangan jalan tepat nya di lampu merah. Winda menghentikan sepeda motor nya tepat disamping sebuah mobil mewah yang berwarna hitam. Mereka sama-sama mengantri disana menunggu lampu merah berganti menjadi hijau agar bisa meneruskan perjalan ke tempat tujuan masing-masing.


Entah mengapa tiba-tiba saja pandangan mata Winda tertuju kearah mobil disamping nya. Saat ia mendengar suara seorang wanita merengek manja memanggil kekasihnya. Sedangkan disana terlihat juga sesosok pria yang sama sekali tak asing baginya sedang mengelus lembut rambut sang wanita yang duduk disamping nya. Pria itu tak lain adalah Fery yang baru saja menyatakan cinta tadi sore kepadanya.


" Ada apa sayang.. Sabar lah, sebentar lagi kita akan segera tiba. Disana kau bebas memperlakukan ku sesuka hatimu." Ucap Fery. Suaranya juga terdengar begitu jelas hingga ke telinga Winda.


 


 


Dilihat nya kedua pasangan tersebut tanpa sungkan beradu bibir disana. Meskipun hanya sesaat, tapi bukankah itu ditempat umum, dan juga kaca mobil nya terbuka. Sehingga bisa saja orang lain melihat adegan panas mereka seperti yang sedang dilakukan Winda sekarang.


Cih! Bisa-bisanya mereka melakukan hal seperti itu disaat seperti ini


Gumam Winda.


Ia lalu seketika memalingkan muka dan memilih melihat kearah lampu merah yang kini sudah berganti menjadi hijau. Winda lalu mengendarai sepeda motor nya meninggalkan tempat itu. Di sepanjang perjalanan menuju kerumah nya. Winda tak hentinya mengingat tentang adegan panas yang baru saja dilihat nya. Bukan karena cemburu. Namun ia merasa sangat kesal terhadap Fery yang seolah mempermainkan perasaan nya. Bukankah baru saja ia menyatakan cinta kepadanya. Tapi sekarang pria itu malah bermesraan dengan wanita lain di lampu merah pula.


Winda menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis fikir dengan kejadian yang baru saja dialaminya.


 


Setibanya dirumah.


Winda memarkirkan motornya di halaman depan. Setelah itu ia kemudian masuk kedalam rumah dengan wajah masam. Itu tak seperti dia yang biasanya, yang selalu tersenyum saat tiba dirumah. Meskipun ia merasa lelah.


" Assalamu'alaikum." Ucapnya memberi salam.


" Wa'alaikum salam.. Baru pulang dek?" Sahut Annisa seraya menghampiri Winda yang masih membuka sepatunya diteras depan. " Loh, kok wajah mu masam begitu? Kamu lagi kesel ya?" Tanya nya kemudian.


 


" Kesel kak! Winda kesel sama cowok playboy yang sering mampir di toko kita!" Serunya dengan wajah yang semakin masam.


" Loh, kok bisa?" Annisa mengerutkan dahinya. Sedangkan Winda yang sudah selesai melepaskan sepatu nya itu kemudian berjalan manaruh nya di Rak sepatu yang tak jauh dari sana. Lalu kembali lagi duduk disamping Kakak nya.


Winda kemudian menarik nafas nya dalam-dalam. Setelah itu ia kemudian melanjutkan kembali ceritanya. Cerita yang ia alami selama satu hari ini. Ia menceritakan secara detail kisahnya yang malah membuat Annisa tertawa terbahak-bahak mendengar kesialan adiknya. Bagaimana tidak, baru saja ada seorang pria yang menyatakan cinta kepadanya, eh.. belum lagi Winda memikirkan untuk menerima nya. Pria tersebut sudah ketahuan duluan belang nya.


 


" Hahaha.. Nasib mu Dek.." Annisa tak hentinya tertawa. Sedangkan Winda kian merungut kesal menahan amarah nya. " Kamu itu seharusnya bersyukur, Allah terlebih dulu nunjukin sifat aslinya dia sebelum kamu benar-benar jatuh cinta sama dia." Ujar Annisa.


" Siapa juga yang mau jatuh cinta sama laki-laki berengsek seperti itu!" Umpat Winda seraya memajukan bibirnya ke depan. Sedangkan alisnya kian merapat menandakan amarahnya semakin meningkat saat ia kembali mengingat tentang Fery.


" Huss.. Anak gadis nggak boleh ngomong seperti itu." Ucap Annisa


." Winda kesal Kak!" Serunya lagi.


" Hmm, ya sudah. Sekarang kamu dulu kedalam, mandi yang bersih terus kamu langsung salat ya, agar emosi kamu mereda." Annisa mengelus lembut bahu adik nya.


" Baik Kak, oya Ibu sama Bapak kemana? Tumben sepi." Tanya Winda.


" Oh, itu. Ibu sama Bapak lagi menghadiri pesta kerabat di gedung SS. Mungkin bentar lagi juga pulang." Kata Annisa.


" Ooo.. Ya sudah kalau gitu Winda masuk dulu ya."


Winda kemudian beranjak dari duduk nya. Ia kemudian masuk kedalam rumah disusul Annisa di belakang nya.


 


Semenjak kejadian itu Winda mulai ilfeel dengan kehadiran Fery. Bahkan ia juga tak segan berbicara ketus dengan pria tersebut. Mengingat kelakuan Fery yang menurut nya suka sekali mempermainkan perasaan wanita. Dan beruntung nya Winda belum sempat membuka hati untu Fery.