Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 70


Cahaya bulan purnama terlihat terang benderang di luaran sana. Gemerlap nya bintang di langit menambah kan keindahan langit malam itu. Rafka sudah selesai bersiap dengan setelan kemeja nya. Kini ia duduk diatas ranjang sembari memperhatikan Annisa yang sedang sibuk mengenakan hijabnya.


Berulang kali ia tampak tersenyum kearah Annisa yang saat ini sedang duduk di depan cermin. Sehingga membuat Annisa tersipu malu. Karena ternyata ia menyadari tatapan Rafka melalui pantulan cermin di depan nya. Sehingga kini Annisa tampak gugup memasang hijab nya.


Lima menit kemudian. Annisa selesai mengenakan hijab nya. Kini ia pun melangkah menuju kearah ranjang mendekati Rafka disana.


"Nisa sudah siap Bang." Ujar nya seraya tertunduk malu.


"Hmm, mari kita jalan." Ajak Rafka seraya mengulurkan tangan nya.


Dengan jantung yang berdetak tak karuan. Annisa kemudian mengulurkan tangan nya ketangan Rafka. Sehingga kini mereka berdua berjalan dengan saling menggenggam tangan.


Diluar..


Tampak Pak Sofyan sedang berjaga sembari menikmati secangkir kopi buatan Bik Yam sang pengurus rumah.


Ketika melihat Tuan nya keluar dengan Nyonya nya. Ia kemudian berdiri sembari tersenyum hangat kearah keduanya.


"Selamat malam Den dan juga Nona." Sapa nya sopan.


"Malam juga Pak Sofyan." Sahut Rafka. Ia juga tersenyum bersama Annisa di samping nya.


"Tumben Den Rafka dan Nona Annisa tampak rapi sekali malam ini." Ucap Pak Sofyan saat pertama kali melihat kedua majikan nya terlihat begitu rapi malam ini. Seperti anak muda yang ingin berkencan saja. Begitu pikirnya, Ya.. wajar saja sih Pak Sofyan berpikir seperti itu. Karena selama ini Pak Sofyan tak pernah melihat keduanya keluar malam seperti ini. Apalagi secara bersamaan seperti ini.


Sungguh ini pertama kalinya ia melihat keduanya tampak begitu mesra.


"Kami ingin jalan-jalan keluar sebentar Pak, cari udara segar." Sahut Rafka. Sementara Annisa hanya tersenyum di samping nya.


"Oh, monggo Den silahkan. Saya akan membuka pagarnya." Ucap Pak Sofyan sopan. Ia pun kemudian beralih kearah menuju kearah pagar dan kemudian membukanya. Sementara itu, Rafka dan juga Annisa melangkah menuju kearah mobil dan menaiki nya.


"Makasih ya Pak!" Seru Rafka sembari menyetir mobilnya keluar dari halaman rumah nya.


Melihat mobil Tuan nya yang sudah pergi meninggalkan halaman rumah. Dengan segera Pak Sofyan kembali menutup pagar nya. Lalu ia pun kembali melanjutkan menikmati kopi nya yang sempat tertunda.


Sementara itu didalam mobil.


Rafka mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali ia juga melirik kearah Annisa yang saat ini duduk disamping nya. Awalnya Annisa ingin duduk di jok belakang seperti biasanya. Namun Rafka tidak mengizinkan nya, ia memaksa Annisa untuk duduk di kursi samping nya. Karena menurutnya sudah seharusnya seperti itu.


"Mulai sekarang aku tidak ingin lagi melihat mu duduk di jok belakang. Duduklah di kursi depan bersamaku. Karena memang sudah seharusnya seperti itu, karena kamu adalah istriku." Ucap Rafka yang kembali mengulang kata Istri. Sehingga membuat Annisa tak dapat menolaknya.


Kini akhirnya Annisa menuruti keinginan Rafka untuk duduk di jok depan menemani nya disana.


"Nisa.. Kamu terlihat begitu cantik malam ini." Ucap Rafka yang membuat Annisa seketika tertegun saat mendengarnya.


"Aaaa... kenapa Abang berucap seperti itu. Membuatku semakin gugup saja.


Gumam nya.


"Terima kasih atas pujian nya Bang," Ujarnya.


Kini ia tampak semakin menundukkan pandangan nya setelah mendengar pujian itu.


Jiwa nya serasa melayang, karena ini kali pertama Rafka memuji dirinya.


"Nis, wajahmu kok tiba-tiba memerah gitu sih! Kamu tersipu?" Tanya Rafka.


Meskipun ia fokus menyetir mobil nya. Namun gerak-gerik Annisa tak luput dari pandangan nya.


"Hah, mana ada. Mungkin itu cuma perasaan Abang saja." Kilah Annisa.


Yang benar saja, meskipun itu benar. Tidak mungkin juga kan Annisa mengakui nya di depan Rafka. Namun saat ini wajah Annisa semakin memerah saja.


"Ya tuhan.. kenapa ia terlihat begitu menggemaskan sih..


Gumam nya.


Menyadari jika saat ini Annisa begitu malu terhadapnya. ia kini tak melanjutkan kata-katanya. Namun ia memilih menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Aaa... kenapa mobil nya berhenti sih!


Batin Annisa.


Setelah memarkirkan mobilnya agar tak terganggu oleh pengendara lainnya. Kini Rafka mendekati Annisa yang masih berpaling darinya.


"Nisa.." Panggil Rafka lembut. Namun Annisa sama sekali tak menoleh kearah nya. Hanya jawaban " Ya.." yang terdengar dari mulut manis nya.


Sedangkan kini Rafka semakin mendekat kearah istrinya itu.


"Nisa, maafkan aku jika membuat mu merasa tak nyaman dengan ucapanku. Sekarang menoleh lah kearah ku." Ujar nya lembut.


"Aaa... malu sekali. Tapi sepertinya Abang merasa bersalah denganku. Jika aku tak menoleh, pasti Abang akan semakin merasa sangat bersalah terhadapku.


Gumam Annisa.


Merasa tak tega dengan Rafka. Kini Annisa pun memalingkan wajah nya kearah Rafka. Karena posisi Rafka yang terlalu dekat dengan Annisa. Sehingga kini membuat wajah mereka saling bersitatap satu sama lain dengan jarak yang sangat dekat.


"Nisa.. Apa kamu memaafkan ku?" Tanya Rafka dengan nada bergetar.


"Ya.." Jawab Annisa gugup.


Karena jarak wajah mereka yang begitu dekat. Kini Rafka dapat merasakan hembusan nafas Annisa yang tampak memburu karena kegugupan nya. Sehingga membuat Rafka yang merasakan nya tampak menelan ludah nya. Lalu tiba-tiba saja sebuah kecupan lembut ia darat kan di bibir Annisa.


Deg..


Seketika jantung Rafka berdebar kencang. Ia juga merasakan jika saat ini aliran darah nya mengalir lebih cepat. Melihat Annisa yang memejamkan matanya membuat Rafka juga merasakan jika saat ini Annisa merasakan hal yang sama dengan nya.


Rafka kemudian mempererat dekapan nya. Sehingga kini Annisa hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan Rafka terhadapnya.


Dua menit kemudian.


"Nis, mulai sekarang. Meskipun kamu merasa malu. Jangan pernah lagi berpaling dariku." Ucap Rafka lembut.


Namun Annisa hanya diam. Ia membalas ucapan Rafka dengan anggukan pelan darinya. Meskipun merasa sangat malu, apalagi dengan kejadian barusan. Namun kini tak lagi memalingkan wajah. Melainkan menatap lurus kedepan.


"Aaa.. kenapa jadi begini sih. .


Gumam Annisa.


"Sepertinya aku mulai jatuh cinta kepadanya.


Gumam Rafka.


Cinta..


Sangat sulit untuk di tebak.


Meskipun awalnya tidak menginginkan nya. Namun tanpa disadari, malah kini semakin merindukan nya.


Itulah cinta, yang seperti teka-teki dalam kehidupan ini.


Itulah yang saat ini tengah dirasakan oleh Rafka. Meskipun awalnya ia tak menginginkan nya. Namum sekarang ia semakin membutuhkan nya.