
Bukan tentang seberapa jauh dan tingginya ilmu yang kita tuntut. Namun bagaiman adab dan sikap kita terhadap sesama. Tinggi ilmu tidak menjamin seseorang mempunyai adab. Namun tinggi nya adab bisa menunjukkan jika seseorang itu berilmu. Setidaknya bisa menutupi kurang nya ilmu yang ada pada diri kita dan juga dengan adab pula kita bisa saling mengasihi dengan sesama.
Setelah selesai menjalani salat berjama'ah. Lagi-lagi Rafka bersikap dingin terhadap Annisa. Wajahnya juga masih menunjukkan tampang kesal kepada Annisa. Sehingga membuat Annisa bingung karena nya.
"Abang kenapa? Kok dari tadi Nisa perhatiin wajah Abang kesal gtu. Ada apa?" Tanya Annisa. Saat ini ia sungguh penasaran terhadap sikap Rafka yang tiba-tiba saja berubah dingin terhadapnya.
"Bang, kok nggak jawab?" Annisa kembali bertanya. Karena Rafka saat ini masih tidak menjawab dirinya.
Setelah selesai mengganti pakaian yang di pakainya dengan pakaian santai. Kini Rafka berjalan kearah ranjang dan menjatuhkan dirinya disana.
"Bang!"
"Datang kemari," Ucap Rafka.
Saat ini Annisa sedang berdiri didepan lemari. Maka saat Rafka menyuruh nya datang menghampiri Rafka. Dengan senang hati ia menuruti perintah suaminya.
"Ada apa Bang?" Annisa kembali bertanya.
"Perhatikan wajah ku, apa aku terlihat tampan?" Tanya Rafka sedikit konyol.
"Hah, kenapa Abang tiba-tiba saja menanyakan hal ini terhadapku, apa dia waras hahaha.
Annisa tersenyum saat mendengar ucapan Rafka. Sebenarnya didalam hati ia sudah tertawa besar, namun ia tak ingin menunjukkan kepada Rafka.
"Kenapa kamu tersenyum?" Rafka mengerutkan dahinya.
"Oh, tidak-tidak. Nisa merasa lucu saja saat mendengar Abang yang tiba-tiba saja menanyakan hal ini kepada Nisa." Ujar nya, "Oya, apa Abang tau. Hari ini Abang sudah dua kali menanyakan ketampanan Abang kepada Nisa." Tambah nya seraya tersenyum. Ia juga mengangkat kedua alis nya sambil menatap Rafka.
"Apa menurut mu ini lucu?" Rafka semakin terlihat tak senang saat mendengar ucapan Annisa. Apalagi ditambah senyuman Annisa yang seolah-olah tengah mengejek dirinya.
"Eh, eng-enggak Bang. Nisa cuma heran saja, ada apa sebenarnya dengan Abang. Kenapa hari ini seolah meragukan ketampanan diri sendiri seperti itu." Ujar Annisa. Namun seketika ia kembali menutup mulutnya saat menyadari apa yang telah diucapkan nya barusan.
"Ya tuhan..
Apa yang aku ucapkan tadi. Apakah Abang akan semakin marah kepadaku.
Mendengar ucapan Annisa membuat Rafka reflek menarik tangan nya. Sehingga kini Annisa jatuh kedalam pelukan nya.
Deg
Jantung Annisa berdebar kencang. Meskipun mereka sudah melakukan nya, namun tak bisa di pungkiri jika setiap kali berdekatan dengan Rafka, maka jantung nya akan berpacu dengan begitu cepat.
"Perhatikan wajah ku. Apa aku terlihat tampan bagimu?" Tanya Rafka seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Annisa.
"Kenapa dia semakin mendekatkan wajah nya seperti itu. Aaaa... aku kan jadi malu.
Seketika wajah Annisa tampak memerah. Sehingga membuat nya berusaha kembali memalingkan wajah. Ia berusaha menutupi dirinya yang tengah malu karena menatap Rafka. Namun sayang nya Rafka meraih dagunya sehingga kini mau tidak mau Annisa harus kembali menatap nya.
"Kenapa, kenapa kamu memalingkan wajah mu Nisa? Apakah aku sebegitu jeleknya sehingga menatap pun kamu tidak ingin?" Tanya nya seraya kembali mendekatkan wajah nya.
"Cup"
Rafka mendaratkan ciuman nya. Sehingga membuat Annisa tak bisa melanjutkan kembali kata-katanya.
"Coba lihat kembali, apa aku masih terlihat jelek dimata mu.?" Rafka menatap mata Annisa lekat-lekat.
"Ya tuhan..
Haruskah aku mengakui nya jika dia pria tertampan yang pernah ku temui. Aaaaa... ini sungguh gila!
Annisa kemudian menarik nafas nya dalam-dalam. Lalu setelah mengumpulkan keberanian yang cukup, ia mendorong tubuh Rafka hingga terjerembab kearah sandaran ranjang. Sedangkan Annisa bergegas berdiri dan menjauh dari Rafka.
"Abang mau tau jawaban Nisa?" Tanya Annisa. Kini ia sudah berdiri didepan pintu kamar, "Abang adalah pria ter-jelek yang pernah Nisa temui. Haha," Annisa berteriak mengejek. Ia merasa dirinya sudah menang karena kini sekarang ia sudah berdiri didepan pintu kamar. Sehingga membuat nya mempunyai kesempatan lebih besar untuk segera kabur dari sana. Namun saat Annisa memegang gagang pintu dan berusaha membuka nya. Alangkah terkejut nya dia karena ternyata pintu kamar telah terkunci.
"Apa! terkunci! siapa yang sudah menguncinya dan juga sejak kapan pintunya terkunci! Aaaa.. habislah aku
Raut wajah Annisa seketika berubah menjadi pucat. Maksud hati ingin membuat jengkel suaminya sendiri, namun kini ia malah terjebak didalam nya.
"Haha, sekarang kamu mau lari kemana?" Tanya Rafka seraya bangkit dari ranjang. Lalu dengan perlahan ia mendekati Annisa. "Sekarang kamu tidak bisa lagi kemana-mana, karena aku sudah mengunci pintunya." Seringai Rafka. Kini ia sudah berdiri di hadapan Annisa, membungkukan tubuhnya dan menatap wajah Annisa yang menunduk malu.
"Maaf Bang," Suara Annisa terdengar pelan.
"Sudah terlambat!"
Ia lalu mengayunkan tangan nya dan mengangkat tubuh Annisa lalu menggendong nya.
"Sekarang kamu harus menerima hukuman mu!" Ucap nya seraya membawa tubuh Annisa ke ranjang dan menjatuhkan nya disana.
"Apa maksudnya dengan hukuman. Apa jangan-jangan Abang ingin..
"Bang, Nisa mohon maafkan Nisa. Nisa janji nggak akan melakukan nya lagi." Ucap Annisa.
"Sudah terlambat!" Seru Rafka.
Kini ia mulai mendekap tubuh Annisa dan mengecup bibirnya. Sungguh aneh tapi nyata, awalnya Rafka cemburu terhadap Fikar karena merasa Annisa terlalu perhatian kepadanya. Namun sekarang saat melihat ekspresi Annisa yang baginya begitu menggemaskan. Ia tak tahan jika tidak menyentuh nya, sehingga kini rasa cemburu yang ada dihati nya terobati dengan sikap Annisa sekarang ini.
"Nisa, apa kau tau jika saat ini aku begitu mencintaimu. Bagiku kamu hanya milikku, maka dari itu hatiku tak tenang jika kamu menunjukkan sedikit perhatian mu kepada pria lain.
Rafka kemudian mulai menyusupkan tangan nya kedalam pakaian yang di kenakan Annisa. Awalnya Annisa menolak, namun lama kelamaan ia juga tidak dapat membendung diri-sendiri untuk tidak menikmati nya.
Seolah mendapatkan angin segar. Rafka lalu dengan sigap memperlancar gerakan nya. Jemari tangan nya sudah meraja entah kemana, sehingga membuat sang pemilik badan terlihat geli karena nya.
Jujur, saat ini Rafka tak sanggup lagi membendung dirinya. Perasaan itu sudah merajai otak nya, sehingga kini ia kembali menjalankan kewajiban nya sebagai seorang suami. Ya, sekarang mereka kembali melakukan nya, melakukan apa yang seharusnya suami-istri lakukan. Meskipun awalnya Rafka marah karena kecemburuan yang merajai otak nya. Namun saat ini ia terlihat sangat lembut kepada Annisa. Sehingga membuat Annisa nyaman di posisinya.
BERSAMBUNG