
Di restoran.
Pesanan makan datang. Sementara Maya masih duduk termangu membayangkan kejadian tadi di rumah sakit. Dimana saat Rafka mengelus perut Annisa dengan sangat lembut. Dada nya serasa sesak, kala membayangkan masa lalu yang begitu terlewati begitu saja.
Andai saja, andai saja aku bisa bersabar sedikit, pasti sekarang tidak akan seperti ini.
Rintih Maya dalam hati.
Jujur saja, hingga saat ini Maya belum bisa melepaskan Rafka, merelakannya bahagia dengan Annisa. Baginya, wanita yang cocok berada disamping Rafka hanyalah dirinya. Hanya dia saja.
Reno mengerutkan dahinya. Menatap kearah Maya yang seperti orang gelisah. Wajahnya terlihat muram, dengan sorot mata yang terkadang melirik ke kanan dan ke kiri.
“May, kau tidak apa-apa kan?” Reno menepuk bahu Maya dengan tangan kanannya.
“Ren! Kau benar mencintaiku kan?” dengan cepat Maya menoleh, menatap Reno dengan harapan.
Reno kembali mengerutkan dahinya saat mendengar pertanyaan Maya. Lalu kemudian dengan pasti Reno menjawab.
“Ya, tentu saja.”
“Kalau begitu, bantu aku untuk bisa bersatu dengan Rafka.” Sebuah kalimat bodoh yang tercetus begitu saja.
Bagaikan di hantam anak panah yang menusuk hingga menembus ke jantungnya membuat wajah Reno merah. Amarah nya kini menaiki otaknya, menguasai pikirannya. Bagaimana bisa, gadis ini yang saat ini berada di sampingnya masih bisa mengatakan hal itu kepadanya.
Meminta bantuan darinya, menyatukannya dengan mantan kekasih yang jelas-jelas sudah beristri. Bahkan sekarang sedang berbahagia menanti si buah hati yang sedang di kandung.
“Otakmu benar-benar korslet ya May!” Reno mendelikkan matanya.
“Ren, aku tak tahan melihat kebahagiaan mereka. Bahkan tadi, kau lihat sendiri kan bagaimana lembutnya Rafka mengelus perut Annisa. Hal itu seharusnya dia lakukan untukku, bukan untuk Annisa!” lagi, Maya bertingkah gila
di sana.
“Annisa istrinya, dan sekarang dia sedang mengandung anaknya Rafka. Jadi wajar saja Rafka mereka berbahagia,
dan Rafka memperlakukannya dengan sangat lembut!” tekan Reno.
“Tapi Ren, bukan Annisa yang seharusnya ada disana, tapi aku.” Kembali Maya bertingkah gila.
“Jika kasih sayang yang kau inginkan aku bisa memberikannya padamu May! Apa yang kau mau, Insya Allah aku
akan mengabulkannya. Bersikap lembut, penuh perhatian, semuanya sudah aku lakukan untukmu. Tapi apa pernah kau melihat hal itu? Bahkan sekarang kau memintaku untuk menyatukanmu dengan Rafka. Berani sekali kau May!” sentak Reno.
Untung saja Reno memesan ruangan khusus disana. Yang mana, hanya mereka berdua saja yang ada diruangan itu. Tak ada orang lain, melihat ataupun mendengar percakapan mereka.
“Ingat May, kebaikanku padamu hanya karena aku amat-sangat mencintaimu. Tak ingin, gadis yang aku cintai
terpuruk dan jatuh begitu saja. Aku mengambilmu saat kau jatuh dan berada di titik terendah hidupmu, tapi apakah kau pernah mengingat itu?” tanya Reno.
“Jadi sekarang kau mengungkitnya?”
“Dasar gadis bodoh! Itu namanya bukan mengungkit, tapi aku mengingatkanmu akan hal itu. Berharap dengan seperti itu, kau lebih bisa menerimaku dan sedikit menghargaiku.” Sentil Reno di jidat Maya. Membuat gadis itu mengerang kesakitan.
“Aww!” Maya meringis. Sentilan Reno terasa pedih di jidatnya. “Kau!” menatap Reno dengan penuh amarah.
“Apa? Mau marah? Kau tidak punya hak untuk marah di hadapanku.” Tegas Reno. “Makanan sudah sampai dari tadi, makanlah. Jika tidak, nanti dingin sudah tidak enak lagi.” Intonasi suara Reno mulai merendah, bahkan kini Reno menyuguhkan makanan yang sudah tersaji disana.
Maya merungut kesal.
“Aku tidak akan memakan apapun yang ada disini.” Bantah Maya.
“Lakukan saja jika kau berani. Dan nanti, jika kau jatuh sakit. Rawatlah Ibumu dan juga dirimu sendiri.” Ancam Reno.
“Kejam? Ya, Itu karena kau sendiri yang minta.” Balas Reno santai. Pria itupun kini menyantap makanannya tanpa memperdulikan Maya lagi.
Malam harinya.
Di kediaman Reno.
Maya berdiri di balkon kamarnya, menatap kearah langit yang bertaburan bintang. Langit malam yang indah, namun tidak dengan hatinya. Mengingat masa lalu, dulu saat masih bersama dengan Rafka. Setiap malam minggu, Rafka selalu mengajaknya makan malam diatas atap restoran miliknya.
Kala itu, tempat itu setiap malam minggunya selalu di kosongkan hanya untuk dirinya. Berdua dengan Rafka, menikmati makanan dan juga keindahan malam disana. Lagi-lagi, Maya begitu merindukan momen itu. Momen yang begitu romantic, menikmati pemandangan kota S dari atas, serta gemerlapnya binta-bintang dilangit. Yang terlihat jauh lebih indah saat dilihat dari sana.
“Mas, aku merindukanmu, hiks.” Sebuah cairan bening terlihat jatuh membasahi pipi. Maya tak dapat menahan tangisnya. Perlahan air mata itu tumpah disana. Kenangan manis bersama Rafka dulu membuatnya semakin tak bisa melupakan pria itu.
Sementara itu di ujung sana. Reno sudah berdiri sedari tadi, memperhatikan Maya. Air mata Maya, kalimat yang baru saja di ucapkan Maya. Reno tau, itu semua untuk Rafka. Hatinya sakit, kecewa, karena sampai hari ini Maya
belum bisa melupakannya.
“Mungkinkah aku salah memaksakan ini semua?” lirih Reno. “Apakah aku terlalu egois?” beberapa pertanyaan itu berkutat di pikirannya.
Ah, Reno tak tau harus berpikir seperti apa. Yang pasti, saat ini hatinya begitu sakit saat melihat Maya menangis, belum bisa move on dari Rafka.
Keesokan harinya di kediaman Rafka.
Sekitar pukul 05:30. Setelah menjalankan shalat subuh, Annisa keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Entah mengapa, hari ini Annisa ingin sekali memasak sesuatu untuk Rafka. Nasi Krawu salah satu makanan khas daerah nya.
Kebetulan Bik Yam baru belanja banyak kemarin. Sehingga didalam kulkas dua pintu yang terlihat seperti lemari itu terdapat begitu banyak bahan makanan.
“Hmm, kebetulan banget nih.” Lirih Annisa saat membuka kulkas nya.
Garis senyum terlihat mengembang di sudut bibirnya. Di ambilnya beberapa bahan makanan yang di butuhkan, lalu Annisa membawanya, meletakkannya diatas meja yang ada disana. Lalu setelah itu, Annisa mencuci beras dan memasaknya menggunakan Rice Cooker yang ada disana.
“Nona.” Sapa Bik Yam.
Membuat Annisa menoleh kearah belakang.
“Eh, Bik Yam.” Sahut Annisa lembut.
“Nona masak nasi?” tanya Bik Yam.
“Iya.” Jawab Annisa santai.
“Aduh Non, jangan. Inikan kerjaan saya.” Bik Yam merasa bersalah.
“Enggak apa-apa Bik, Nisa lagi ingin masak hari pagi ini.”
“Tapi Non, Non Annisa kan sedang hamil muda. Dokter juga bilang, katanya Nona harus banyak-banyak istirahat karena kondisi tubuh Nona yang masih lemah.”
“Cuma masak, nggak akan lelah Bik. Lagipula kan ada Bik Yam dan juga Ranum disini, bisa bantu Nisa masak agar lebih cepat selesainya.” Ucap Annisa lembut. “Bibik nggak keberatan kan bantu Nisa? Pagi ini Nisa lagi ingin
Nasi Krawu loh.”
“Nasi Krawu? Hmm, Nona ngidam ya?” goda Bik Yam.
“Hah, mana ada. Nisa hanya lagi ingin menghidangkan menu itu saja pagi ini.” Kilah Annisa.
“Sama aja, itu ngidam namanya Non.” Bik Yam tersenyum, membuat Annisa malu.
“Bibik, jangan ngobrol terus. Mau bantuin Nisa nggak nih?”
“Tentu, siap komandan.” Wanita paruh baya itu menegak hormat di hadapan Annisa. Membuat gadis itu tertawa melihatnya.