Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 101


FLASH BACK ON


Di samping toko, perdebatan terjadi antara Fery dan Winda. Fery yang bersikeras agar Winda mau menerima bunga yang di bawa oleh nya justru di tolak keras oleh Winda. Karena Winda tak ingin mempunyai urusan apapun dengan pria berengsek yang ada di depan nya. Winda yang menolak pemberian nya mentah-mentah, membuat Fery justru semakin mendekatkan diri kearah Winda.


" Fery! Sebenarnya apa maumu!" Suara Winda mulai meninggi.


 


" Mau ku adalah kamu menerima bunga ku dan juga menjadi kekasihku." Ucap Fery dengan nada tegas.


" Apa kamu sudah gila! Berapa kali sudah ku bilang! Aku tidak akan pernah menerima cinta dari seorang pria berengsek sepertimu!" Seru Winda.


Wajahnya juga terlihat sangat kesal sekarang. Karena Fery tak kunjung berhenti mengejar dirinya. " Minggir! Kau menghalangi jalan ku! Karena aku ingin segera masuk kedalam!" Ujarnya seraya menepis bahu Fery agar tak menghalangi jalan nya.


Namun, Fery tak melepaskan nya begitu saja. Ia lalu kembali menarik tangan Winda agar gadis itu tetap berada disana.


" Aku tidak akan membiarkan kamu pergi. Sebelum kau menjawab ya.." Fery semakin memperkuat pegangan tangan nya.


 


Di tengah perdebatan mereka. Tiba-tiba saja dari arah belakang seorang pria yang baru di kenal Winda datang menghampiri mereka. Pria itu lalu memegangi bahu Fery dan menyapa nya.


 


" Hei bro.. Apa pantas memperlakukan seorang gadis seperti ini?" Tanya Dedi dengan santai. Membuat Fery kemudian menoleh kearah Dedi dengan tatapan tajam.


" Apa urusan mu? Dia adalah gadis ku!" Sahut Fery dengan nada sinis.


" Hahahaha...." Dedi kemudian tertawa saat mendengar pernyataan yang di ucapkan Fery barusan. Ia lalu melirik kearah Winda yang berdiri didepan nya. Terlihat gadis tersebut kemudian menggelengkan kepalanya pelan, seolah mengisyaratkan jika dia bukanlah gadis milik Fery. Dari raut wajahnya, Winda seolah mengisyaratkan jika ia ingin Dedi membantunya. Tentu saja Dedi dapat membacanya, bukankah Dedi sangat lihai dalam membaca ekspresi dari wajah seseorang? Terutama wanita, jadi bukanlah hal yang sulit baginya membaca situasi saat Winda menatap kearah nya.


" Ehm, sepertinya ada sesuatu hal yang harus kita bicarakan bro." Dedi mulai memasang wajah serius saat ini. " Bisakah kamu melepas dulu tangan gadis cantik ini." Ujar nya kemudian seraya melirik kearah tangan Winda yang masih di genggam erat oleh Fery.


" Apa hak mu mengatur ku! Lagi pula dia gadisku, jadi terserah aku bagaimana ingin memperlakukan nya." Fery mengerutkan dahinya menatap tak senang kearah Dedi. Kehadiran Dedi saat ini sungguh sngat menganggu bagi dirinya.


" Apa kamu yakin? Dan juga, apa kamu tidak malu mengakui itu?." Kata Dedi. Dia kemudian berdiri di samping Winda dan merangkul bahunya seraya menatap lembut kearahnya. " Dia kekasihku dan juga akulah pria yang sangat di cintai nya. Jadi aku harap jangan pernah kamu mengaku jika dia gadismu." Ujarnya kemudian. Senyum manis yang khas darinya juga tak luput ia pancarkan. Dedi juga mulai merangkul bahu Winda agar bisa meyakinkan jika hubungan mereka begitu terlihat dekat di hadapan Fery.


Deg


Entah mengapa tiba-tiba saja jantung Winda berpacu dengan sangat cepat saat mendengar ucapan Dedi. Di tambah lagi saat ini Dedi berdiri disamping nya dengan merangkul bahunya.


 


" Apa!" Seru Fery. " Aku sama sekali tidak percaya!" Tambah nya.


" Yang di katakan Kak Dedi benar! A..aku mencintainya!" Timpal Winda kemudian. Meskipun saat ini ia benar-bnear merasa gugup. Namun, Winda juga berusaha meyakinkan Fery agar percaya dengan hubungan palsu tersebut.


 


Bagai anak panah yang menhujam di dalam dada. Fery merasakan sesak yang teramat dalam di hatinya. Jujur ini kali pertama nya dia merasakan perasaan yang seperti itu. Meskipun awalnya dia hanya terobsesi untuk mendapatkan Winda. Namun, entah mengapa perasaan sesak itu tiba-tiba saja menyerang hatinya.


 


Perlahan. Fery pegangan tangan Fery kian merenggang. yang justru di gunakan Winda untuk segera lepas darinya. Setelah berhasil lepas. Winda pun menggapai tangan Dedi dan menariknya untuk ikut bersamanya.


 


 


 


 


Beberapa saat kemudian di dalam toko.


" Syukurlah Kakak datang, kalau tidak entah berapa lama lagi Winda harus melayani Fery disana." Ucap Winda. Kini ia juga bernafas lega saat mereka sudah berada di dalam toko.


" Kalian ada masalah apa? Sepertinya cukup rumit?" Tanya Dedi berusaha mencari tau sebenarnya apa yang terjadi dengan Winda dan juga pria yang sepertinya ia kenala sebagai sepupu dari Maya.


" Cerita nya panjang Kak.." Winda melenguhkan nafas nya.


" Oya, serumit itukah?" Tanya Dedi lagi.


" Sebenarnya nggak rumit sih, cuma Fery nya aja yang bikin rumit." Keluh Winda. " Oya, Kakak duduk dulu ya!" Winda mempersilahkan Dedi untuk duduk di sebuah kursi yang berada tak jauh dari samping nya.


" Oke," Ucap Dedi. Ia lalu berjalan kearah meja tersebut dan duduk di kursinya. Sedangkan Winda mengambilkan kue yang ada di toko nya dan juga membuatkan dua gelas Coffe latte untuk nya dan juga Dedi.


Tak lama berselang, setelah selesai membuat Coffe latte. Winda kini berjalan menuju kearah meja yang di duduki Dedi dengan membawakan nampan yang berisi minuman yang dibuat nya sendiri dan juga kue dari toko itu. Senyum manis ia pancarkan saat ia semakin dekat menuju kearah Dedi.


" Maaf, sudah membuat Kak Dedi menunggu lama." Ujar Winda.


Ia kemudian menyajikan minuman dan juga kue yang di bawa nya.


" Silahkan kak.." Ucap Winda.


" Ya, terima kasih.." Balas Dedi. " Oya, mengenai yang tadi aku minta maaf ya karena sudah ngaku-ngaku menjadi pria yang kamu cintai." Tambahnya lagi.


" Iya Kak, nggak apa-apa. Justru itu yang membantu Winda agar bisa segera lepas dari Fery. Syukur-syukur jika kedepan nya dia tidak berusaha dekat lagi seperti itu sama Winda." Ujar Winda.


" Haha, ya." Dedi tertawa kecil. " Oya, kamu berhutang satu penjelasan loh sama aku tentang bagaimana Fery mengejarmu seperti itu." Ujar Dedi. Ia lalu menyeruput sebagian Coffe latte yang di buatkan Winda. Setelah itu ia kembali meletakkan gelas nya diatas meja.


Setelah itu percakapan mereka pun berlanjut. Dimana Winda mulai menceritakan awal kisah nya bersama Fery. Dedi terlihat duduk dan menyimak segala sesuatu yang di ceritakan Winda kepadanya. Sesekali ia juga terlihat tersenyum sembari menatap kearah gadis tersebut. Kini Coffe latte yang ada di gelas nya telah di habiskan olehnya. Disusul cerita Winda yang juga telah usai.


" Begitulah ceritanya Kak.."


" Berarti dia sungguh mencintaimu Win, kalau tidak untuk apa dia repot-repot seperti ini untuk terus mengejarmu." Dedi memberikan pandangan nya.


" Tapi Winda udah terlanjur ilfeel sama dia Kak. Belum lagi Winda nerima cinta dia, eh Winda malah lihat dia ciuman sama wanita lain di lampu merah pula. Gila kan tuh anak." Ujar Winda. " Ah, sudahlah. Winda nggak mau bahas masalah tentang dia lagi deh Kak. Kesal Winda.." Tambah Winda yang mulai memasang wajah cemberut di hadapan Dedi. Sungguh raut wajah nya yang seperti ini membuat Dedi merasa jika Winda begitu menggemaskan.


Sehingga membuat Dedi tersenyum menatap kearah nya.


 


BERSAMBUNG


Hi guys . . jangan lupa Like dan juga komentar nya ya. Beri saran kepada Ra agar novel ini semakin menarik untuk di baca. Happy readyng..