
Iri dan cemburu adalah sifat yang perbedaan nya tipis sekali. Iri jika kita menginginkan sesuatu objek yang dimiliki oleh orang lain. Sedangkan cemburu, kita sudah memiliki objek tersebut. Tapi tak ingin jika apa yang kita miliki itu dimiliki oleh orang lain.
Annisa dan Rafka telah tiba didepan pintu kamar nya. Rafka lalu membukakan pintu nya dan masuk kedalam bersamaan dengan Annisa.
Didalam kamar, Annisa terus berjalan kearah ranjang dan kemudian duduk disana. Sedangkan Rafka ia langsung berjalan menuju kearah kamar mandi. Setelah selesai kini ia pun menghampiri Annisa yang masih duduk diatas ranjang.
" Sayang . . kamu nggak ke kamar mandi?" Tanya Rafka seraya duduk di samping Annisa.
" Enggak nanti saja, " Sahut nya. Annisa kini menatap kearah Rafka.
" Bang, tadi kenapa sih Abang ngomong gitu didepan Maya sama Fikar?" Tanya Annisa
" Ngomong gitu, maksud nya apa?" Rafka kembali bertanya. Dengan mengerutkan dahinya ia menatap kearah Annisa.
" Ituloh . ." Annisa tak melanjutkan kata-kata nya.
" Itu apa sih? " Rafka semakin penasaran. Ia sudah tak lagi mengingat apa yang sudah diucapkan nya.
"Apa! Abang sudah tidak ingat lagi kata-kata yang baru saja diucapkan nya. Apa aku harus kembali mengingatkan nya.
Annisa bimbang, lalu setelah kembali memikirkan ia akhirnya memutuskan untuk kembali mengingatkan nya.
" I-itu loh Bang, soal melanjutkan kembali bu-bulan madu kita di-dikamar, " Ucap nya dengan sedikit gugup dan ragu.
Mendengar ucapan Nisa membuat Rafka tergelak ditempat nya. Ia merasa lucu dengan raut wajah Annisa yang tampak gugup saat mengucapkan kalimat nya. Ditambah lagi ia sedikit terbata-bata saat itu.
"Tuh kan . . mestinya tadi aku nggak usah lagi mengingatkan nya
Annisa merasa malu, ia lalu memalingkan wajah dari Rafka. Tak ingin jika suaminya sampai melihat wajah merah nya, sehingga membuat nya akan semakin di tertawakan oleh Rafka.
" Loh, kok langsung berpaling gitu sih? Apa kamu takut jika aku melihat wajah merah mu." Ujar Rafka.
Ia lalu meraih dagu Annisa dan kembali memalingkan wajah gadis itu dihadapan nya. Memaksanya untuk kembali menatap nya. Namun Annisa berusaha mengelak hingga akhirnya Rafka mendaratkan ciuman nya dan ******* habis bibir nya.
Sedangkan Annisa yang mendapatkan serangan tiba-tiba itu seketika melotot menatap Rafka.
" Haha, "
Rafka kembali tergelak sehingga membuat Annisa merosot mundur kebelakang.
" Kenapa kamu mundur? " Tanya nya seraya menatap Annisa. Lalu tanpa ingin menunggu jawaban Annisa ia lalu menarik nya hingga jatuh kedalam pelukan nya.
" Apa yang aku katakan di hadapan Maya dan Fikar itu benar. Saat ini aku ingin kembali melanjutkan percintaan kita diatas ranjang," Bisik nya.
Deg,
Jantung Annisa semakin berdebar kencang saat mendengar bisikan seperti itu dari Rafka.
"Bukankah tadi kami sudah melakukan nya. Terus kenapa Abang ingin lagi, apa yang tadi belum cukup baginya. Aaaaaa..
Annisa tertegun ditempat nya. Ia sama sekali tak membalas bisikan Rafka. Malah kini ia berusaha melepaskan diri darinya.
" Kenapa kamu diam? Apa kamu tak ingin melakukan nya lagi denganku. Ingat aku suami mu dan kamu istriku. Jadi sudah seharusnya kamu menuruti permintaan ku, apalagi itu urusan ranjang. " Ucap nya dengan senyum serta tatapan licik kearah Annisa.
"Abang benar, aku istrinya jadi sudah kewajiban ku melayani nya diatas ranjang jika ia menginginkan nya kan.
" Bukan begitu Bang, Nisa hanya ingin segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum nya. Baru setelah itu Nisa . ." Ucap nya, namun Annisa kembali memutuskan kalimat nya karena merasa malu jika terus melanjutkan nya.
" Baru setelah itu apa? Apa kamu mau bilang jika setelah itu kamu baru akan bersedia kembali bercinta denganku," Ucapnya. " Kalau begitu, baiklah. Aku akan melepaskan mu untuk pergi ke kamar mandi." Tambah nya lagi.
Rafka lalu melepaskan tubuh Annisa dari pelukan nya. Sehingga kini tanpa menunggu lama Annisa pun segera berlari pergi kearah kamar mandi dan masuk kedalam nya.
" Hufft . . hufft . . hufft . ." Terdengar suara nafas Annisa yang tersengal-sengal. Meskipun jarak antar ranjang dan kamar mandi tidak terlalu jauh. Namun karena kepanikan nya itu membuat nafasnya ngos-ngosan begitu tiba didalam kamar mandi.
Tok tok tok
Suara ketukan terdengar dari balik pintu sehingga membuat nya terkejut.
"Apa Abang sebegitu tidak sabaran nya sehingga memutuskan untuk menyusul ku kemari?
Annisa bertanya-tanya didalam hati. Kepanikan mulai melanda hatinya.
Jika saja itu benar habislah dia saat ini, jiwa nya saja belom kembali tenang, atas keinginan Rafka saat ini.
Tok tok tok
Kembali terdengar suara dari balik pintu. Sehingga mau tak mau ia harus segera membuka nya. Lalu dengan sedikit ragu, Annisa akhirnya membuka kembali pintu kamar mandi tersebut.
Ceklek,
Suara pintu terbuka.
" Ada apa Bang? Nisa belum siap." Ucap nya sesaat setelah membukakan pintunya. Kini ia melihat Rafka sudah berdiri dihadapan nya seraya memegang suatu bungkusan.
" Aku hanya ingin menyerahkan ini kepadamu. Pakailah jika kamu sebelum kamu masuk kedalam kamar," Ucapnya. Ia lalu membalikkan tubuh nya dan berjalan kearah ranjang setelah menyerahkan bungkusan itu kepada Annisa.
Annisa lalu kembali menutup pintu kamar mandi. Setelah itu ia langsung memeriksa apa isi bungkusan tas tersebut. Betapa terkejut nya ia saat melihat apa yang ada ditangan nya hingga membuat jantung nya kembali berdegup kencang.
" Apa ini! Apa Abang nggak salah menyuruhku memakai pakaian ini sekarang!" Serunya dengan nada suara pelan.
Kini di tangan nya ia memegang sebuah gaun yang menurut nya terlalu terbuka jika sampai ia mengenakan nya.
" Ya tuhan . . cobaan apalagi ini. Haruskah aku mengenakan nya malam ini, pakaian ini sama sekali tidak cocok untukku," Lirih nya.
Ia lalu menaruh baju itu diatas sebuah meja kecil yang dibuat khusus disana, yang telah diukir dengan indah. Biasanya meja itu digunakan untuk menaruh Hanphone yang sengaja dibawa masuk kedalam kamar mandi jika ada panggilan yang mendesak.
Beberapa menit kemudian.
Annisa kini sudah mengenakan pakaian yang di rekomendasikan Rafka kepadanya. Dengan rasa tak percaya diri ia berdiri didepan cermin menatap dirinya sendiri.
" Ya tuhan . . malu sekali rasanya jika harus berpakaian seperti ini meskipun itu dihadapan Abang. Tapi Abang menyuruh ku mengenakan nya. Haruskah aku keluar seperti ini, tapi rasanya malu sekali." Lirih nya.
Setelah berpikir cukup lama. Akhirnya Annisa memutuskan untuk tetap mengenakan nya.
Ia lalu berjalan menuju kearah pintu, namun saat matanya tak sengaja melirik kearah gantungan baju. Ia melihat ada jubah mandi disana. Sehingga membuatnya mendapatkan ide cemerlang dengan memakai nya diluar pakaian yang telah ia kenakan.
BERSAMBUNG