
Persiapan pernikahan sudah rampung sekitar delapan puluh persen. Gaun pengantin telah siap, tinggal menunggu kedua mempelai memakainya. Maya, terlihat berdiri di balkon yang ada didalam kamar nya. Menatap kearah luar, dengan memangku dagunya.
Entah apa yang sedang ia pikirkan, yang pasti saat ini Maya terlihat sedang melamun disana. Tatapan nya terlihat kosong lurus kedepan. Layaknya seseorang yang sedang putus asa. Mungkin itu semua karena hidupnya, yang kini terperangkap bagaikan burung yang berada di sangkar emas.
Sudah dua bulan lebih bulan Maya tinggal didalam rumah mewah Reno. Segala sesuatu yang di inginkan nya ada disana. Dari sepatu mahal, tas mahal, pakaian mahal, hingga semua barang-barang branded di berikan Reno padanya.
Pelayan yang melayani nya pun tak kurang. Ada sekitar enam orang pelayan yang di utuskan untuk membantu segala kebutuhan Maya disana. Namun, itu semua tidaklah berarti. Karena orang yang sangat di inginkannya tidak bisa ia dapat.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Namun Maya, sama sekali tak menghiraukannya.
Ceklek!
Pintu pun terbuka. Lalu kini terlihat seorang pelayan muda yang bernama Ina melangkah masuk kedalam kamar sembari membawakan gaun pengantin yang telah siap. Sepanjang jalan tadi, Ina tersenyum saat membawa gaun
pengantin itu kesana.
Hmm, pasti Nona Maya akan terlihat sangat cantik menggunakan gaun pengantin ini nanti.
Gumam Ina.
Setibanya di dalam kamar. Ina melihat tak ada Maya disana. Di kerlingkan nya matanya ke sekitar ruangan, mencari-cari keberadaan Maya.
Mungkin, Nona Maya sedang di kamar mandi ya.
Ina lalu berjalan menyusuri kamar, menuju kearah pintu kamar mandi yang ada disana. Setibanya disana, atau lebih tepat nya di depan pintu kamar mandi. Ina mencoba memanggil nya.
“Permisi, Nona Maya. Apakah Anda di dalam?” tanya Ina. Namun sayang nya tak ada jawaban dari sana.
Ina tak menyerah, ia kini lantas kembali menyuarakan suaranya memanggil Maya disana.
“Nona Maya, apakah Anda di dalam!” serunya dengan suara yang sedikit keras.
Lagi-lagi tak ada jawaban.
Nggak ada yang jawab. Apakah Nona Maya tidak ada di dalam ya?
Bertanya pada diri sendiri.
Merasa tak ada pergerakan apapun dari dalam. Membuat Ina kini memberanikan dirinya untuk membuka pintu kamar mandi.
Ceklek!
Pintu kamar mandi pun terbuka, lalu Ina memasukkan setengah badannya kedalam sana dan memperhatikan ke seluruh ruang.
Nggak ada, Nona Maya nggak ada di dalam.
Gumam nya.
Ina pun kini keluar dari sana dan menutup kembali pintu kamar mandi itu. Lalu kini ia terlihat mengerutkan dahinya, dan memikirkan kemana Maya pergi.
Nona Maya pergi kemana ya? Kok tadi aku sama sekali nggak lihat jika Nona Maya sedang keluar.
Gumam Ina lagi.
Saat Ina mulai beranjak dari sana, tiba-tiba saja tanpa sengaja matanya melirik kearh balkon yang pintunya terbuka lebar disana.
Eh! Itu dia Nona Maya.
Raut bahagia kini terpancar di wajah nya. Tatkala mendapati Nona nya yang sedang berdiri disana. Kini dengan cepat, Ina pun bergegas menghampiri Maya di balkon.
“Nona!” seru Ina begitu tiba disana.
Maya tak bergeming, tatapannya masih lurus kedepan. Lalu Ina kembali memanggil nama nya.
“Nona Maya!” serunya lagi, namun Maya masih tak bergeming.
Hingga kini akhirnya Ina meraih tangan Maya dan memanggilnya.
“Nona! Sedang apa Anda berdiri disini!” seru Ina. Tangan nya kini juga sudah menggapai lengan Maya dan sedikit menarik nya.
Mendapat perlakuan seperti itu. Ina pun menundukkan pandangan nya.
“Ma-maafkan Sa-Saya Nona. Tadi itu sewaktu Saya panggil, No-Nona sama sekali tak bergeming. Hingga akhirnya Saya memutuskan untuk menarik sedikit lengan Nona.” Jelas Ina. Tangan nya kini gemetar ketakutan melihat reaksi Maya yang tiba-tiba bicara kasar kepadanya.
Nona kenapa? Bukankah sebelumnya dia sama sekali tidak pernah seperti ini.
“Jangan banyak alasan! Lain kali jika aku tidak menjawab mu, maka kau cukup diam disana!” suara Maya masih terdengar begitu keras.
Ternyata, menjadi tahanan rumah bisa membuat emosi seseorang menjadi tidak terkontrol seperti ini.
Ina mundur beberapa langkah, menjauh dari Maya.
“Kedepannya Sa-Saya sungguh tidak akan pernah berani lagi seperti ini Nona!” seru Ina yang masih menundukkan pandangan nya.
“Ada apa Ina?” tanya seseorang dari belakang. Yang tiba-tiba saja datang menghampiri mereka.
Ina semakin gugup, dan juga semakin takut. Bahkan kini wajah nya mulai berubah pucat saat melihat seseorang yang menimpali perdebatan mereka adalah Reno, Tuan nya.
“Ina, kenapa wajah mu jadi berubah pucat pasi seperti ini?” tanya Reno lagi.
“Tu-Tuan, Sa-Saya….”
Belum selesai Ina menyampaikan ucapan nya. Maya kini sudah memotong nya.
“Ajarkan pelayanmu ini sopan santun! Bisa-bisanya dia menyentuhku dengan tangan kotornya itu!” seru Maya. Tatapan matanya juga terlihat sinis kearah Ina. Seolah menaruh dendam kesumat terhadapnya.
“Ma-maaf, Nona. Sa-Saya, sungguh tidak bermaksud.” Ucap Ina lagi.
Reno menggelengkan kepalnya, melihat sikap Maya yang sangat kasar terhadap pembantunya. Ya, walau bagaimanapun. Reno sendiri belum pernah memarahi para pembantunya, hingga seperti itu.
“May,” lirih Reno. Perlahan ia juga berjalan mendekati Maya yang berdiri diujung sana sembari menyilakan kedua tangan nya di dada nya.
Maya tak menggubris, malah kini ia memalingkan wajah nya dari Reno. Sementara Reno yang sudah tiba disana, kini terlihat berdiri di samping nya. Lalu kemudian ia kembali menoleh kearah Ina, dan memberi isyarat agar gadis itu segera pergi meninggalkan mereka.
Melihat kode dari Tuan nya. Ina si gadis polos, langsung menaruh gaun yang berada di tangan nya keatas ranjang. Setelah itu, ia pun pergi berlalu meninggalkan kamar itu.
“May, aku tau kau marah karena merasa tidak nyaman berada disini. Tapi, sikapmu barusan, itu sangatlah tidak pantas.” Ucap Reno lembut.
“Kenapa? Kau marah karena aku membentak pelayan mu?” tanya Maya seraya terus fokus memandang kearah depan.
“Bukan seperti itu.” Ujar Reno.
“Terus apa? Seharusnya, jika kau tak suka dengan sikap ku ini. Maka kau tak harus menikahi ku kan.” Sinis Maya.
Reno tertawa.
“Sikap mu ini sangat berbeda dari Maya yang dulu aku kenal. Sekarang kau sungguh sangat sombong dan juga angkuh!” cetus Reno. “Aku sungguh tidak menyangka, jika patah hati ternyata bisa membuat karakter seseorang berubah seperti ini.” Ujar Reno.
“Bukan urusanmu!” ketus Maya.
Reno pun tersenyum.
“Tentu saja ini menjadi urusanku. Karena kau adalah wanitaku. Jadi aku akan berusaha meluruskan kembali sifat mu yang sedang belok ke lain arah.” Kata Reno.
Namun, Maya sama sekali tak menghiraukan kalimat nya. Malah kini, gadis itu terlihat membalikkan badan dan melangkah pergi dari sana.
“Jangan lupa, coba pakai gaun pengantinmu. Jika saja itu tidak pas, maka aku akan menyuruh desainer itu membetulkannya, agar pas di badanmu!” seru Reno seraya mengerlingkan pandangan nya kearah Maya.
TBC.
Mampir ke karya Ra yang lainnya ya^^
1. Pengantin yang tak Dirindukan (2)
2. Ceo playboy jatuh Cinta
3. Ternyata ini Cinta.
Happy reading! Terimakasih^^