
Rafka duduk di kursi nya. Matanya tak lekang menatapi Annisa yang kini sedang menyiapkan makanan. Meskipun terlihat sibuk namun Annisa tau jika sedari tadi Rafka terus menatapnya. Perasaan nya begitu gugup, namun ia berusaha serileks mungkin agar tak menunjukkan nya dihadapan Rafka.
" Bang, Nisa ambilin nasi nya ya."
Annisa kini telah memegang piring Rafka.
" Nggak usah Nis, aku bisa sendiri."
Rafka menolak dengan sopan yang dibalas senyuman lembut dari istrinya.
" Bang, ini sudah kewajiban Nisa melayani Abang. Jadi Abang jangan terlalu sungkan ya," Ujarnya.
" Bukan begitu Nisa, sejujurnya aku merasa tak enak hati denganmu karena terus memperlakukan ku dengan baik seperti ini!" Seru nya. Wajah Rafka juga terlihat sangat serius.
" Sudahlah Bang, Nisa hanya ingin menjalankan kewajiban Nisa layaknya seorang istri. " Ujarnya sembari terus menjalankan tugas nya. Lalu setelah itu ia menaruh kembali piring yang sudah ia isi dengan makanan diatas meja didepan Rafka.
" Tapi Nis, aku sungguh tidak bisa menerima perlakuan baik mu seperti ini."
Kini Rafka mulai mengerutkan dahi nya.
" Abang, Tolong! biarkan Nisa melakukan kewajiban Nisa sebagai seorang istri untuk melayani Abang. Sungguh Nisa akan sangat merasa berdosa bila Nisa mengabaikan Abang sebagai suami Nisa." Ujarnya, "Soal perasaan. Meskipun Abang tidak mencintai Nisa itu tidak jadi masalah." Tegasnya.
Rafka terdiam.
Kini ia tak bisa mengatakan apapun saat melihat kesungguham Annisa. Rafka takut jika ia tetap bersikukuh melanjutkan keinginan nya agar Annisa tak berlaku baik kepada nya. Itu malah akan semakin menyakiti hati Annisa.
"Ya tuhan, sungguh aku tidak tega melihatnya seperti ini.
" Nisa, maaf kan aku karena belum bisa menjadi suami yang baik untuk mu." Lirih nya.
" Tidak apa-apa Bang, Nisa ikhlas melakukan semua ini dan juga Nisa yakin jika suatu saat nanti Allah akan membukakan pintu hati Abang untuk bisa menerima serta mencintai Nisa seutuhnya." Ujar nya lembut.
Kini Rafka kembali terpaku saat mendengar ucapan Annisa.
" Bang, ayo di makan. Ntar keburu dingin lagi loh makanan nya"
Suara Annisa menyadarkan Rafka. Lalu
ia pun duduk di samping Rafka dan mulai mengambil nasi beserta lauk nya.
***
Subuh menjelang.
Suara adzan sayup-sayup terdengar diluar sana. Annisa terjaga dan duduk menstabilkan tubuhnya. Setelah merasa cukup, perlahan Annisa bangkit dari duduk nya berjalan kearah kamar mandi.
Setelah usai. Ia lalu kembali untuk menjalani kewajiban nya kepada sang khalik.
Beberapa menit kemudian. Annisa telah selesai menjalani kewajiban nya sebagai seorang muslim. Lalu seperti biasanya Annisa
kembali berkutat di dapur untuk menyiapkan makanan sederhana untuk disantap nya pagi itu.
Tap tap tap
Suara langkah kaki seseorang terdengar jelas. Terlihat Rafka sedang berjalan menuju kearah meja makan. Meja makan dan dapur terhubung satu sama lain. Maka dari itu jika ada seseorang masuk kesana maka akan dengan jelas dilihat meskipun sedang memasak.
" Kamu masak apa? Wangi nya harum sekali"
Rafka kini sudah duduk di kursinya.
" Cuma nasi goreng Bang " Balas Annisa lembut.
" Cuma nasi goreng tapi wangi nya se-harum ini? Hmm, sungguh luar biasa." Puji Rafka.
Sebenarnya. Ia masih mengingat percakapan tadi malam sehingga kini ia berusaha lembut kepada Annisa. Mengingat ketulusan hatinya yang telah sudi kiranya menjalankan kewajiban nya meski Rafka tak mencintainya.
" Yaudah, sini Nisa ambilin cobain ya "
Annisa lalu menuangkan nasi diatas piring Rafka. Tak lupa juga telur ceplok ikut ia tambahkan beserta belahan tomat dan emping belinjo di pinggiran piring nya. Lalu setelah itu ia menyerahkan nya kepada Rafka.
" Sama-sama Bang, silahkan dicoba." Balas Annisa.
Kini Rafka pun mulai meraih sendok untuk mengambil makanan nya. Namun saat nasi sudah sampai diujung mulutnya tiba-tiba saja bel pintu berbunyi menandakan seorang tamu telah datang.
" Seperti nya ada tamu Bang " Lirih Annisa.
" Ya, kira-kira siapa ya pagi-pagi begini?" Raut wajah Rafka terlihat bingung.
" Entahlah, yang pasti itu adalah tamu pertama kita saat ini." Ujarnya
" Ya, kamu benar." Rafka kembali melanjutkan makan nya.
" Ya sudah, kalau gitu Nisa kedepan dulu ya bukain pintu" Ucap nya. Ia lalu bangkit dari duduk nya.
Ia lalu bergegas berjalan perlahan menyusuri ruang yang ada di rumah nya. Hingga pada saat nya Annisa pun tiba di depan pintu dan membuka pintu rumah nya.
" Assalamu'alaikum Nisa "
Terlihat seorang pria memberikan salam dengan senyum manis di bibirnya.
" Wa'alaikum salam " Annisa membalas salam.
" Loh, kak Dedi!! " Serunya.
Annisa merasa terkejut saat melihat kehadiran Dedi pagi itu.
" Hai Nisa, apa kabar?" Tanpa sungkan ia melambaikan tangannya.
" Alhamdulillah baik kak, kakak sendiri bagaimana? " Tanya nya kembali.
" Yah seperti yang kamu lihat," Dedi sedikit memiring kan kepala nya. "Oya Rafka ada Nis? " Tanya Dedi.
"Oh, Abang ya? Ada-ada didalam. Sebentar ya," Annisa membalikkan badan nya. Ia berniat bergegas memanggil kan suaminya.
" Nisa, biarkan aku masuk ya." Dedi berharap.
" Oh, boleh Kak silahkan. Abang ada di ruang makan sedang sarapan." Ucap annisa seraya mempersilahkan Dedi untuk masuk kedalam rumah nya.
Dedi akhir nya masuk kedalam rumah tersebut. Ia berjalan perlahan dengan sendiri nya menyusuri setiap ruangan yang ada. Hingga akhir nya tibalah dia diruang makan mewah rumah tersebut tanpa tersesat.
"Kelihatan nya kak Dedi hafal sekali dengan rumah ini. Apa dia juga sering kemari ya
" Hai Raf!" Sapa Dedi begitu tiba di ruangan tersebut. Sehingga membuat Rafka menoleh ke arahnya.
" Eh, kamu Ded, kirain siapa tadi," Balas Rafka seraya terus mengunyah makanan nya.
Dedi kini berjalan mendekati meja. Aroma nasi goreng khas Annisa begitu tercium harum olehnya. Sehingga membuat nya penasaran untuk mendekat serta berniat untuk sedikit mencicipi nya.
" Wah! kelihatan nya enak nih. Siapa yang masak?" Tanya nya. Kini Dedi pun telah menarik kursinya dan duduk dihadapan Rafka.
" Kak Dedi sudah sarapan?" Tanya Annisa begitu tiba dikursi nya.
" Belum Nis." Jawab Dedi tanpa malu.
" Ya sudah, kalau gitu Kak Dedi ikut sarapan sama kita ya." Annisa tersenyum.
" Boleh Nis, kebetulan sekali aku belum sarapan." Ujar Dedi.
" Tunggu sebentar ya Kak, Nisa ambil piring dulu."
Annisa kemudian berjalan kearah dapur dan mengambil sebuah piring berikut gelas dan juga sendok. Setelah itu ia pun kembali ke ruang makan.
Melihat keakraban diantara keduanya. Membuat Rafka sedikit janggal. Karena setau Rafka, Annisa dan Dedi belum pernah kenal sebelumnya. Karena pada saat hari pernikahan nya Dedi tidak bisa hadir karena sedang pengurus cabang restoran mereka yang ada di kota M.
BERSAMBUNG