Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 103


" Udah selesai kangen-kangenan nya?" Suara Rafka membuat keduanya menoleh kearah nya.


" Kakak ipar!" Seru Winda. " Kami sudah lama tidak bertemu, jadi wajar saja jika kami saling merindukan!" Ujar nya lagi.


" Iya-iya, aku nyerah deh jika sudah berurusan sama kamu Adik ipar." Rafka tersenyum. Ia kemudian menatap kearah Dedi yang kini duduk disamping nya. " Kamu punya hubungan apa dengan nya?" Tanya nya dengan sedikit berbisik.


" Hubungan? Maksudmu?" Dedi mengerutkan dahinya menatap kearah samping. Dimana ada Rafka disana.


" Bukankah kalian memiliki hubungan? Jika tidak, bagaimana bisa kalian datang kemari secara bersamaan." Tukas Rafka.


" Kamu jangan salah faham. Aku dan dia tidak.."


" Kak Dedi! Makasih udah ajak Winda kesini, Winda senang sekali karena bisa bertemu dengan Kak Nisa." Ucap Winda. Tanpa sengaja ia memotong pembicaraan Rafka dengan Dedi. Sehingga membuat Dedi melupakan pembicaraan nya dengan Rafka, dan kini ia malah tersenyum kearah Winda.


" Sama-sama Winda, aku sudah menepati janjiku untuk membuat mu senang hari ini, bukankah begitu." Balas Dedi.


" Iya Kak, sekali lagi makasih ya Kak." Ucap Winda.


" Asal kamu senang, apa saja akan di lakukan Dedi untuk mu." Sambar Rafka yang duduk bersebelahan dengan Dedi.


" Kakak ipar! Apaan sih, memang nya Winda siapa nya Kak Dedi? Sehingga Kak Dedi harus memikirkan perasaan Winda?" Tanya Winda. Kini ia menatap kearah Rafka dan tak lama kemudian mengalihkan pandangan nya kearah Dedi dengan perasaan malu-malu.


" Tentu saja aku akan memikirkan perasaanmu. Bukankah kamu adik nya Annisa, jadi aku juga menganggap mu sebagai adik ku. Maka dari itu sebagai seorang Kakak, aku harus bisa menjagamu." Timpal Dedi.


 


Deg


Entah mengapa hati Winda tiba-tiba sesak saat mendengar jika Dedi hanya menganggap nya sebagai seorang adik. Hatinya juga menjadi tak menentu saat ini.


Kenapa perasaan ku tiba-tiba menjadi seperti ini? Hatiku seolah tak bisa menerima saat Kak Dedi mengatakan ia hanya menganggap ku sebagai adik nya?


Winda berusaha membuang jauh-jauh perasaan yang saat ini begitu saja muncul di dalam hati nya.


Ah, sudahlah.. lebih baik sekarang aku menikmati kebersamaan ku bersama kakak. Daripada memikirkan sesuatu yang nggak jelas.


Pikirnya.


 


" Hei Kakak ipar! Hadiah apa yang kalian belikan untukku?" Winda mulai menuntut kepada kakak ipar nya Rafka. " Kalian tidak lupa membelikan sesuatu untukku kan?" Tanya nya lagi seraya menatap kearah kakak nya Annisa.


" Tentu saja tidak. Kami telah membelikan mu sesuatu yang pasti kamu suka." Sahut Rafka.


" Benarkah?" Wajah Winda terlihat begitu antusias saat ini. Membayangkan hadiah apa spesial apa yang akan di terima nya dari kedua pasangan tersebut.


" Ya.." Jawab Rafka.


" Ehm, untukku juga ada kan Raf?" Sambar Dedi yang berada di samping nya.


" Kamu siapa? Apakah kamu adikku? Bukankan?" Rafka menatap sinis kearah Dedi. " Aku hanya membelikan sesuatu untuk adikku." Tambah nya lagi.


" Tega kamu Raf, jadi selama ini kamu tidak menganggap ku sebagai sosok yang teramat penting didalam hidup mu?" Dedi mengubah ekspresi wajah nya menjadi sendu saat ini. Sehingga membuat Annisa, Winda dan juga Rafka yang berada di sebelah nya tak tahan untuk menahan tawanya.


" Puffft! Hahahahah!" Rafka tergelak. " Kebanyak muka terlihat jelek jika seperti itu!" Seru nya seraya menunjuk wajah Dedi.


" Cie..cie.. kalian berdua terlihat begitu serasi. Sungguh membuatku cemburu." Ledek Annisa yang kemudian cekikikan melihat tingkah laku keduanya.


Kini merekapun saling melepas canda tawa bersama. Sehingga membuat suasana saat itu penuh dengan ke gembiraan.


 


 


***


Malam itu sekitar pukul 19:00 Wib.


Fery pulang dengan membawa seikat mawar merah di tangan nya. Disana di teras rumah nya, terlihat sesosok wanita cantik dan juga seksi tengah duduk di sebuah kursi yang terbuat dari kayu jati asli. Gadis itu bernama Maura Latisha kekasih Fery, anak dari salah satu klien Fery yang berpengaruh besar didalam perusahaan nya.


Melihat kepulangan Fery, membuat Maura kemudian bangkit dari duduk nya. Ia berdiri dengan sangat anggun menyambut kedatangan kekasih yang sedari tadi ia tunggu.


 


" Sayang.. kamu baru pulang?" Tanya Maura dengan suara lembut. Ia kemudian berjalan menghampiri Fery yang saat ini juga sedang menuju kearah nya lalu memeluknya. " Aku kangen kamu." Ucap Maura manja.


Fery kemudian membalas pelukan Maura dengan hangat. Setelah itu, perlahan ia melepaskan tangan Maura dari tubuhnya.


" Ini untukmu." Fery menyerahkan seikat bunga yang ada ditangan nya.


" Kenapa kamu bisa membeli bunga? Bukankah kamu tidak tau jika aku akan mengunjugimu kesini?" Tanya Maura. Ia merasa janggal, kenap tiba-tiba saja Fery bisa membawa pulang seikat mawar bersama nya. Padahal ia sama sekali tidak memberitahukan Fery tentang kedatangan nya.


" Tadi di jalan, entah kenapa aku ingin sekali membeli bunga. Yaudah aku beli deh, eh ternyata pas aku pulang aku melihat mu disini. Berarti firasatku sudah mengetahui jika kau akan datang kesini. Maka dari itu, ia menyuruhku untuk membelikan ini untukmu."Jelas Fery. Ia lalu kembali mengulurkan bunga yang ada ditangan nya untuk Maura.


" Benarkah? Jika memang benar, sungguh aku terharu sekali.." Ucap Maura seraya mengambil seikat mawar tersebut.


" Tentu saja, itu semua karena aku mencintaimu." Ujar Fery.


" Bunga nya harum sekali, aku sungguh menyukainya. Makasih ya sayang.." Maua tak hentinya mencium harum nya mawar tersebut. Sekarang sepertinya ia sudah percaya begitu mendengar penjelasan Fery. Bahkan hatinya kian berbunga-bunga, merasa Fery saat ini begitu mencintainya.


" Sama-sama sayang.. yasudah, sekarang yuk kita masuk kedalam. Aku capek banget nih, ntar pijitin yah." Ucap Fery. Ia lalu membawa gadis tersebut masuk kedalam rumah nya dengan menggandeng tangan nya.


 


 


Sementara itu di  pulau XX.


Fikar mulai mengemasi barang-barang nya, karena malam ini adalah malam terakhir ia menginap di Villa tersebut. Itu semua di karenakan tugas nya sebagai tour guide telah selesai, karena saat ini Rafka dan Annisa telah terbang kembali ke kotanya.. Setelah selesai mengemasi semua barang-barang bawaan nya. Fikar kemudian keluar dari kamar nya dan berjalan menuju kearah dapur.


Disana di meja makan. Begitu banyak hidangan yang sudah ditata rapi oleh pelayan Villa. Namun, sayang nya malam ini ia akan makan malam sendirian. Tanpa Maya, Rafka dan juga Annisa. Hmm, ya sudahlah.. meskipun tanpa mereka ia juga harus memakan makanan tersebut untuk mengganjal perut nya yang sudah lapar. Fikar kemudian mulai menyedok nasi nya menggunakan centong nasi yang ada disana. Setelah itu, Fikar kemudian mulai mengisi piring nya dengan beberapa lauk-pauk yang ada.


Setelah semuanya dirasa cukup. Fikar kemudian mulai mengambil nasi dengan sebuah sendok, lalu mengarahkan nya kedalam mulutnya. Namun, entah mengapa tiba-tiba saja sendok yang di pegang nya itu malah jatuh ke lantai tanpa sempat mendarat di mulutnya. Tentu saja, makanan yang berada diatas sendok itu terburai ke lantai. Nasi-nasi mulai berserakan kesana-kemari. Begitupula lauk yang ikut bersamanya juga mengotori lantai tersebut.


 Melihat suasana yang begitu sepi. Membuat Fikar kemudian menarik beberapa lembar tissu, lalu menunduk kebawah. Ia berniat membersihkan makanan yang berserakan disana. Namun, saat ia tengah asik membersihkan kotoran yang ada disana. Tangan nya seketika terhenti saat ia melihat sebuah botol putih yang berukuran kecil tergeletak tak jauh dari sendoknya.


Ia kemudian kembali membersihkan kotoran nya. Setelah itu ia juga tak lupa meraih botol putih berukuran kecil tersebut bersamaan dengan sendoknya. Kini ia menaruh botol tersebut disamping nya, dan melanjutkan kembali makan malam nya.


Hingga tak lama berselang, Fikar yang kini sudah selesai menyantap makanan nya kemudian bangkit dari duduk nya dan berjalan meninggalkan ruang makan tanpa lupa membawa botol putih itu bersamanya.


 


Disana, diatas ranjang. Fikar kemudia kembali mengambil botol putih tersebut yang ia letakkan didalan saku suiter miliknya. Karena cuaca malam ini begitu dingin, karena baru saja turun hujan. Membuat Fikar harus mengenakan suiter untuk agar dapat melidungi tubuhnya dari hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.


Kini, botol tersebut sudah kembali berada di tangan nya. Ia kemudian menatap lekat-lekat kearah botol itu hingga tak lama kemudian Fikar membukanya dan mencium baunya.


" Tidak ada bau apa-apa." Lirihnya sembari mengerutkan dahinya. Ia lalu kembali menatap kearah botol tersebut. Entah mengapa kini fikiran nya mulai tertuju kearah Annisa yang tiba-tiba saja jatuh pingsan saat sedang berada dibawah air terjun selanga. Dan entahh mengapa, ia juga memikirkan tentang Maya yang menurutt nya mempunyai gelagat mencurigakan pagi itu diruang makan.


" Apa ini cuma kebetulan ya? Atau mungkin ini semua memang sudah direncanakan?" Lirih Fikar.


 


Sesaat kemudian ia bangkit dari tidur nya dan berjalan keluar dari kamar nya dengan sangat tergesa-gesa.


 


BERSAMBUNG


Hi guys . . jangan lupa Like, Vote dan juga komentarnya ya. Terima kasih..^_^