Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 63


Akhirnya hati nurani berhasil mengalahkan pikiran Rafka. Gengsi yang ada di dalam dirinya serta sedikit keangkuhan yang ia ciptakan dahulu seakan sirna saat ini. Ia memeluk tubuh Annisa begitu erat, layak nya sepasang kekasih yang sudah lama tak bertemu. Entah mengapa saat ini ia seolah enggan melepaskan pelukan itu.


Namun itu berbanding terbalik dengan Annisa. Meskipun saat ini ia merasa damai berada didalam pelukan suaminya. Namun ia masih belum bisa menerima akan sikap Rafka yang tiba-tiba saja berubah hangat seperti ini kepadanya.


Kejadian kemarin dan juga pagi ini masih tertanam jelas dalam ingatan nya. Bagaimana sikap dingin Rafka yang dengan angkuh nya menolak setiap apa yang di lakukan oleh Annisa.


Meskipun tadinya ia sempat begitu khawatir terhadap Rafka. Karena awal nya ia mengira jika saat ini Rafka pulang lebih awal karena ia sedang sakit. Namun nyata nya semua berbanding terbalik. Karena Rafka sekarang ternyata baik-baik saja.


Kini Annisa mulai meronta dalam pelukan Rafka. Ia berusaha melepas erat nya kedua tangan Rafka yang saat ini sedang mendekap nya. Namun sayang nya Rafka semakin mempererat dekapan nya. Ia seolah tak rela jika saat ini harus melepaskan gadis nya itu.


"Lepas Bang!" Ucapnya lembut.


Namun Rafka tak mengindahkan nya.


Di coba sekali lagi oleh Annisa dengan nada lembut.


"Bang lepasin Nisa." Ucapnya lagi namun Rafka sama sekali tak perduli.


Hingga akhirnya.


"Bang lepas!" Ucap Annisa sembari berusaha keras agar bisa terlepas dari dekapan Rafka. Sehingga kini tubuh Rafka mulai terdorong oleh nya ke belakang.


Sejenak Rafka terdiam sembari menatap sayu kearah Nisa. Lalu dengan perlahan ia kembali melangkah mendekat kearah Nisa.


"Nis, kenapa kamu mendorong ku? Apakah kamu menolak ku?" Tanya Rafka sembari menatap mata Annisa lekat-lekat.


"Maaf Bang, Nisa nggak bermaksud seperti itu. Nisa hanya berfikir apakah Abang waras saat ini?" Ucap Annisa seraya mengerutkan dahinya menatap kearah Rafka.


"Apa katamu? Apakah kamu menganggap aku gila saat ini?" Tanya Rafka sembari terus menatap mata Annisa dengan serius. Namun kini kekesalan mulai tampak dari raut wajah nya.


"Bukan begitu maksud Nisa. Nisa hanya berpikir ini seperti bukan diri Abang." Ucap Annisa.


"Baru tadi malam Abang menolak secara kasar sewaktu Nisa ingin melayani Abang seperti biasa nya di meja makan. Bahkan paginya, jangan kan menyapa. Menoleh pun Abang tak sudi kepada Nisa, dan sekarang Abang malah dengan enteng nya meluk Nisa seperti ini." Ucap Annisa lagi sembari mengingatkan kembali kejadian yang berlalu.


"Kamu istriku, jadi wajar saja jika aku memeluk mu saat ini." Ucap Rafka dingin.


"Deg


Jantung Annisa berdetak kencang saat mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Rafka. Lalu tanpa sadar ataupun karena sudah tak sanggup menahan ia pun kini mendekat kearah Rafka.


"Apa yang Abang bilang tadi? Istri? Haha, Nisa nggak salah dengar kan Bang? hari ini Abang bilang istri ke Nisa. Terus kemarin-kemarin Abang kemana? Jangankan memberi "Hak" dianggap pun tak pernah oleh Abang." Ucap Annisa.


Tanpa sadar kini ia telah menumpahkan segalanya. Segala kekecewaan nya, kekesalan nya yang kini sudah menumpuk di hatinya. Namun sejenak ia sadar dengan apa yang baru saja di ucapkan nya.


Ya Allah.. Apa yang baru saja aku ucapkan. Seharusnya aku tidak boleh berbicara seperti itu kepada Abang. Tapi hatiku juga hampir tak mampu untuk menahan semua ini. Aaaaa.. Nisa, apapun alasan nya seharusnya kamu harus bisa menahan ini semua.


Gumam Annisa.


Sedangkan kini Rafka terdiam. Ia mulai menatap kearah Annisa dengan tatapan dingin mematikan. Melihat perubahan wajah Rafka yang sangat kontras dari sebelumnya. Membuat Annisa kini memilih mundur beberapa langkah kebelakang. Namun semakin Annisa mundur, Rafka pun semakin mendekat kearah nya. Hingga akhirnya ia mengucapkan kalimat yang cukup membuat Annisa semakin tertekan.


"Malam ini aku kamu tidur di kamar ku." Ucap Rafka sembari memperdalam tatapan dingin nya.


Seketika Annisa tertegun saat mendengar nya. Yang benar saja, mereka harus tidur bersama. Meskipun Annisa menginginkan nya namun ia juga tak ingin melakukan itu tanpa adanya rasa cinta. Jika ia memiliki rasa cinta kepada suaminya, namun bagaimana dengan Rafka. Bukankah selama ini yang Annisa tau Rafka masih mencintai mantan kekasih nya Maya.


Kini Annisa tak bisa berkata apa-apa. Mulut nya seolah terkatup dengan sendirinya, bahkan ia seolah tak mampu untuk menggerakkan nya.


Sementara Rafka, setelah mengeluarkan kalimat itu. Ia kini berbalik arah menuju anak tangga dan berjalan kearah kamar nya.


Sepeninggal nya Rafka, kini tubuh Annisa ambruk di atas sofa dengan sendiri nya. Merasa tak berdaya dengan apa yang baru saja di dengar nya.


"Ya Allah.. haruskah seperti ini jalan cerita hidupku. Aku memang menginginkan bisa satu kamar dengan Abang. Tapi bukan seperti ini, bukan dengan cara seperti ini.


Gumam Annisa.


Tanpa terasa air mata perlahan jatuh membasahi pipinya.


Sementara itu.


Rafka masuk kedalam kamar nya. Coklat yang ia pegang sedari tadi kemudian dilempar nya keatas ranjang.


"Aaaarrrgghhh!!"


Erang nya kesal.


"Kenapa aku bisa berkata seperti itu tadi. Aku bahkan lupa jika saat ini aku ingin meminta maaf kepadanya. Ya tuhan.. Apakah aku kembali menyakiti hatinya? Tidak-tidak, itu semua dia yang minta. Jika saja dia tidak mengucapkan kalimat itu, maka aku pun tak akan mengatakan hal seperti itu." Ucapnya


Kini ia pun kembali mengambil pakaian kerja nya. Karena kini ia ingin segera kembali ke restoran nya untuk menenangkan diri disana.


Tak lama berselang Rafka kembali muncul dengan setelan rapi nya. Ia menatap kearah Annisa yang saat ini masih terduduk di atas sofa. Linangan air matanya membuat hati Rafka terenyuh serasa ingin menyeka nya serta menenangkan nya.


Namun sikap egois nya mengalah kan semua nya. Hingga kini tanpa berbasa-basi lagi ia pun pergi meninggalkan Annisa disana dengan kesedihan nya.


"Meskipun hatiku sakit melihat mu seperti ini. Tapi ini semua kamu sendiri yang minta


Gumam Rafka seraya melangkah pergi meninggalkan Annisa.