Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 137


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Membuat Annisa yang saat ini tengah fokus memeriksa omset penjualan menoleh kearah sana.


“ Masuk!” Serunya.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu kembali terdengar.


“ Masuk saja, pintunya nggak di kunci!” Seru Annisa lagi.


Tok! Tok! Tok!


Lagi-lagi suara itu terdengar, yang membuat Annisa akhirnya bangkit dari kursi nya dan melangkah menuju kearah sana.


Siapa sih ini, tidakkah ia mendengar jika aku menyuruhnya masuk.


Gumam nya.


Lalu setibanya didepan pintu dengan segera Annisa meraih handle pintu dan membukanya.


“ Assalamu’alaikum sayang….” Dengan senyum sumringah nya Rafka memberinya salam.


“ Abang!” Seru Annisa.


“ Loh, kok salamnya nggak dijawab sih?” Dengan cepat Rafka mengubah ekspresi wajahnya.


“ Eh, oh ya, Wa’alaikum salam.” Sahut Annisa.


 


Diraihnya tangan Rafka lalu di salim nya. Sementara Rafka


kini mulai mengembalikan senyumnya.


 


 


 


“ Abang kok bisa ada disini?” Tanya nya kemudian.


“ Aku sengaja datang untuk mengajakmu makan siang bersama.” Ujar Rafka.


“ Oh gitu.” Balas Annisa singkat.


“ Ehm, ngomong-ngomong tidakkah kamu mengizinkan aku masuk kedalam ruanganmu?” Tanya Rafka sembari mengintip kedalam.


“ Eh, oh iya!” Annisa mulai menepi ke pinggir pintu. Memberikan jalan kepada Rafka untuk masuk kedalam. “ Silahkan masuk Bang.” Ujarnya kemudian.


 


Rafka kemudian masuk kedalam ruangan Annisa sembari membawa masuk bungkusan yang dibawanya.


 


“ Itu Abang bawa apa?” Mata Annisa kini tertuju kearah bungkusan yang dibawa Rafka.


 


Ada dua bungkusan dan keduanya terlihat besar.


 


“ Oh, ini.” Tunjuk Rafka. “ Ini tuh makanan yang aku bawa dari resto, aku bawa banyak loh.” Katanya kemudian.


 


Diletakkan nya barang bawaan nya itu diatas sebuah meja yang berada didepan sofa. Lalu setelah itu Rafka pun ikut duduk disana, di sofa yang ada diruangan itu. Sementara itu Annisa kini mulai melihat isi bungkusan yang dibawa Rafka.


 


“ Wah… banyak sekali.” Ucap Annisa setelah melihat kedua isi bungkusan itu. “ Kenapa Abang membawakan begitu banyak makanan kesini? Siapa yang akan menghabiskan nya?” Tanya nya kemudian.


“ Ini untuk kita, dan ini semua untuk para karyawan mu.” Kata Rafka sembari menunjuk kearah sebuah bungkusan sedang yang berada diantara bungkusan yang lainnya.


“ Hah, benarkah?” Annisa terlihat tak percaya dengan itu.


 


Reflek tangan Annisa kini mulai meraba dahi Rafka.


 


“ Abang sehat kah?” Tanya nya sembari memperhatikan mimik wajah Rafka dengan serius.


 


Membuat Rafka tersenyum, lalu kini dengan lembut di pindahkan nya tangan Annisa dengan lembut.


 


“ Aku sehat sayang.” Ujar Rafka. “ Kenapa kamu bertanya seperti itu kepadaku? Seolah terkejut dengan sikapku sekarang ini, apa jangan-jangan kamu mengira jika aku terlalu pelit untuk berbagi?” Tanya Rafka yang kini mulai memasang wajah yang cemberut.


 


Annisa seketika terpaku.


 


Ya Tuhan, apa yang di katakan nya barusan sangatlah benar. Bagaimana bisa aku mengira jika suami ku sendiri sulit untuk berbagi. Bukankah dialah yang lebih memahami ini daripada aku? Ampuni dosaku ya Allah karena sudah meragukan keimanan suamiku sendiri.


Gumam nya.


 


“ Ehm-ehm!” Seru Rafka. “ Kamu kenapa diam?” Tanya nya kemudian.


 


Seketika Annisa tersadar.


 


“ Eh, iya!” Annisa melemparkan senyumnya.


“ Iya apa?” Tanya Rafka.


“ I-iya a-aku akan membagikan makanan ini segera!” Seru Annisa gugup.


 


Lalu ia pun segera bangkit dari duduknya sembari meraih bungkusan makanan yang dibawa oleh suaminya.


 


“ Kamu tidak perlu kesana.” Kata Rafka yang membuat Annisa menoleh kearahnya, serta meletakkan kembali bungkusan nya.


“ Loh, terus jika Nisa nggak kesana. Siapa dong yang akan membagikannya?” Tanya nya sembari mengerutkan dahinya.


 


Sementara itu Rafka kini mulai meraih tangan Annisa untuk kembali duduk dengan nya, dan Annisa menuruti itu.


 


“ Kamu kan bisa panggil salah satu karyawan kamu untuk datang kesini, membawa makanan ini lalu membagikannya kepada para karyawan lainnya.” Ujar Rafka. “ Lagipula aku nggak akan rela di tinggal sendirian disini olehmu. Karena aku amat sangat merindukan mu.” Ujar nya kemudian.


 


Lagi-lagi Annisa dibuat tersipu malu olehnya. Bisa-bisa nya disaat seperti ini Rafka masih bisa menggoda dirinya. Mengingat saat ini kan masih dalam suasana kerja.


Sementara itu, kini Rafka mulai medekati Annisa dan juga mulai mendekaatkan wajahnya kearah Annisa berniat untuk mencium nya. Namun, saat bibir itu hampir menyentuh bibir Annisa tiba-tiba saja Annisa berdiri dari duduk nya.


 


“ Ni-nisa a-akan segera menelpon ke-keluar. A-agar mereka datang kesini untuk membagikan ini.” Ujar nya yang diliputi kegugupan.


 


Tanpa menunggu jawaban dari Rafka, Annisa kini melangkah menuju kearah meja kerja nya. Diraih nya telepon yang ada disana, lalu kini ia tampak menghubungi karyawan yang ada diluar.


Sementara itu Rafka kini tampak senyam-senyum sendiri melihat Annisa yang berhasil dibuat salah tingkah olehnya.


BERSAMBUNG