
Keesokan harinya, setelah pemakaman telah usai. Reno kembali ke kediamannya. Pria itu, kini kembali ke kamarnya, yang sempat di huni oleh Maya. Ya, kepergian Maya smembuat Reno begitu terpukul saat ini.
Reno berjalan sambil mengerlingkan pandangannya mengitari seluruh kamar. Berdiri didepan sebuah lemari milik Maya, dan membukanya. Disana ia melihat pakaia-pakaian yang biasa di kenakan Maya, merasa aroma tubuh itu
masih tertinggal disana.
Sesaat kemudian, Reno kembali menutup lemarinya. Lalu berjalan menuju kearah balkon. Namun saat melewati meja rias, tanpa sengaj Reno melihat sepucuk surat yang bertengger di sana. Reno mengerutkan dahinya, lalu kini mengarahkan langkahnya menuju ke arah meja rias itu.
Penasaran dengan isinya, Reno pun lalu membuka suratnya. Sebuah permintaan maaf yang tertuju untuk dirinya, Annisa dan Rafka. Reno terduduk di sebuah kursi yang ada di sana, pria itu menggenggam suratnya sembari menitikkan air mata.
“Jadi ini maksudmu tentang apa yang kau katakan kemarin malam. Kau menyuruhku mencari wanita lain karena memang kau sudah tak ingin lagi hidup bersamaku?” lirih Reno. “Maya, meskipun kau menyakitiku berulang kali, hatiku tetap akan memaafkanmu. Bahkan aku telah berjanji kepada diriku sendiri akan segera melepasmu disaat kau sudah tak lagi terluka.” Air mata kian jatuh membasahi wajahnya.
Hari itu juga Reno memutuskan untuk mengunjugi kediaman Rafka dan Annisa. Berniat menyampaikan isi surat itu dan mewakilkan permintaan maaf Maya kepada mereka. Hingga kini tak lama kemudian, Reno sudah berada didepan rumahnya.
Ranum segera berlari kearah pintu masuk begitu mendengar suara bel berbunyi. Setibanya di sana, Ranum pun dengan cepat membuka pintunya.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumssalam.”
“Rafka dan Annisa, ada?” tanya Reno.
“Tuan dan Nona ada, mari silahkan masuk.” dengan segala hormat Ranum mempersilahkan Reno masuk kedalam, dan duduk di ruang depan. Setelah itu, gadis itu pun segera pergi dari sana. Memanggil Annisa dan Rafka yang saat ini tengah bermain di halaman belakang.
Beberapa saat kemudian.
“Reno.” Lirih Annisa.
Sementara itu Rafka hanya diam sembari menatap tajam kearah Reno. Merekapun kini duduk di sofa yang sama tepat didepan Reno.
“Maaf menganggu, kedatanganku kesini hanya untuk menyampaikan ini.”
Tanpa berbasa-basi lagi Reno menyerahkan surat yang ada di tangannya. Annisa mengambilnya, lalu kini membuka dan membacanya. Setelah membaca isi surat dan juga berita yang di sampaikan Reno saat itu, Annisa
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Ucap Annisa yang disusul Rafka kemudian.
Keduanya kini saling memandang satu sama lain dengan raut wajah syok, bahkan seolah tak percaya.
“Annisa, Rafka. Kedatanganku kemari sesungguhnya ingin mewakili Maya untuk meminta maaf kepada kalian.” Reno mengatakan tujuannya.
“Reno, aku sudah memaafkan Maya. Meskipun selama ini dia selalu berusah berbuat curang terhadapku. Namun hatiku tak pernah menyimpan dendam untuknya.” Annisa mengatakan kebenarannya.
“Terimakasih Nisa, kau memang wanita yang baik.” Balas Reno.
Annisa sedikit menarik garis senyumnya. Lalu kini wanita itu menoleh kearah Rafka.
“Abang juga sudah memaafkan Maya kan?”
“Ya, tentu saja. Kamu saja sudah memaafkannya, bagaimana bisa aku tidak.” tukas Rafka.
“Terimakasih Raf.”
Hari itu. Setelah menyampaikan isi surat yang di tinggalkan Maya untuk Annisa, serta telah mendapatkan maaf dari mereka. Reno lalu pamit pulang, keluar dari kediaman Rafka dan segera pergi dari sana.
THE END.