
Sore ini mereka berjalan kaki menyusuri desa yang ada di pulau XX. Terlihat kambing-kambing di sekitaran jalan sedang bermain bersama gerombolan nya. Sapi-sapi juga seperti itu, bersama teman-teman nya mereka memakan rumput di lapangan hijau. Suasana yang masih begitu alami disana.
Pemukiman warga disini juga masih memakai bahan baku kayu. Ada juga yang sudah memakai batu-bata untuk membangun rumah nya. Namun itu hanya beberapa saja. Karena masih banyak dari mereka menempati rumah khas pulau itu.
Disebuah rumah yang berpondasikan kayu untuk menopang berdiri tegak nya rumah khas pulau itu. Terlihat para ibu-ibu sedang menumbuk beras untuk di jadikan tepung. Alasan nya sederhana, katanya tepung beras yang di tumbuk langsung akan menghasilkan rasa kue yang khas nantinya. Berbeda dengan hasil gilingan mesin. Begitulah penjelasan Fikar.
"Fikar, disini segalanya masih terlihat tradisional ya." Ucap Annisa. Karena disana ia juga melihat beberapa ibu-ibu juga memasak diluar rumah dengan menggunakan bahan bakar ranting kayu.
"Benar sekali Nona. Disini masyarakat nya masih menggunakan alat tradisional untuk melakukan aktivitas. Ada juga yang menggunakan alat modern, namun itu hanya sebagian saja." Jelas Fikar.
Ditengah pembicaraan mereka. Lalu lewatlah seorang Bapak dan Ibu paruh baya di hadapan mereka. Terlihat kedua orang tua itu tersenyum ramah kearah mereka sembari mengangguk sopan. Mereka membawa dedaunan diatas sepeda nya. Entah untuk apa dedaunan itu, kalau menurut penjelasan Fikar itu untuk memberi makan kambing mereka yang dikurung di belakang rumah.
"Loh, bukankah kambin-kambing itu mencari makan sendiri tadi di jalanan?" Tanya Annisa.
"Kamu kenapa bodoh begini sih! Jelas saja tidak seberapa kenyang jika dibandingkan dengan pemberian sang pemelihara," Timpal Rafka.
"Itu benar Nona, jika makan nya cukup maka kambing nya akan terlihat sehat dan gemuk." Tambah Fikar.
"Benar juga sih,"
"Apakah anda letih Nona?" Tanya Fikar
" Oh, tidak." Annisa tersenyum
" Baguslah, kalau begitu kita lanjut saja. Karena saya akan mengajak anda dan Tuan Rafka bersantai di pinggir sana." Tunjuk Fikar kearah pantai.
Disana ada sebuah warung sederhana yang menyediakan makanan dan minuman panas maupun dingin. Mereka lalu pergi kearah sana untuk bersantai sejenak.
Setibanya disana mereka disambut hangat oleh dua orang gadis cantik dan ayu. Satu diantara nya tampak malu-malu saat menatap kearah Fikar.
"Hmm, sepertinya ada sesuatu nih.
Annisa bergumam.
Lalu ia menatap kearah Fikar dan ternyata Fikar juga menunjukkan ekspresi yang sama. Dengan sedikit malu-malu ia menatap kearah gadis itu sembari melemparkan senyum nya.
" Assalamu'alaikum, " Sapa Fikar.
" Wa'alaikum salam " Jawab keduanya bersamaan.
" Tuan Rafka dan juga Nona Annisa, perkenalkan ini kedua teman saya. Rani dan Ainun." Ucap Fikar.
Kedua nya mengatupkan kedua tangan nya menyapa Annisa dan Rafka dari tempat nya seraya tersenyum ramah.
" Hai Ainun, Hai Rani." Sapa Annisa. Sedangkan Rafka hanya tersenyum sembari menatap keduanya. Lalu ia memalingkan wajah dan menggenggam tangan Annisa.
Entah mengapa lagi-lagi Rafka ingin sekali menunjukkan kemesraan nya dengan Annisa di muka umum. Sehingga membuat Ainun dan Rani tersenyum malu-malu saat melihatnya.
Annisa menyadari itu. Ia lalu berusaha melepas genggaman tangan Rafka. Namun sayang nya Rafka tak ingin melepaskan nya, malah kini ia semakin mempererat genggaman nya sehingga membuat kesan Annisa menempel disamping nya.
" Oya, Ainun, Rani, Tuan Rafka dan Nona Annisa ini pasangan pengantin baru yang tengah berbulan madu kesini. Jadi maklum saja ya," Ujar Fikar menjelaskan. Ia pun juga senyum-senyum sendiri saat melihat Rafka yang begitu ingin Annisa menempel padanya.
" Iya kak, kita maklum kok." Ucap Ainun seraya mengangguk tersenyum.
Sedangkan Annisa merasa risih dengan sikap Rafka saat ini.
"Ada apa sih dengan Abang. Kenapa bersikap seperti ini didepan semuanya. Kenapa ia terlihat begitu senang menunjukkan kemesraan ini didepan umum
" Mari kita pergi kesana," Ajak Fikar.
" Ya," Ucap Rafka dan Annisa bersamaan. Kini mereka pun berjalan kearah pantai. Sedangkan Ainun dan Rani beralih masuk kedalam warung sederhana yang ada diujung sana.
Deru ombak terlihat menghantam bibir pantai sore itu. Semilir angin laut yang berhembus lembut membuat suasana disana menjadi sejuk meskipun saat itu matahari masih terlihat terang dipusat nya.
Fikar kini terlihat berdiri saat mendapatkan notifikasi pesan di ponsel nya.
" Tuan dan Nona, saya tinggal ke warung sana sebentar ya," Ucapnya.
" Silahkan," Sahut Rafka. Sedangkan Annisa mengangguk setuju.
Fikar lalu berjalan kearah warung dan meninggalkan Annisa dan Rafka disana menikmati indahnya panorama pantai sore itu.
" Nisa, apa kamu tau. Jika saat ini aku sangat senang bisa berada ditempat ini bersamamu." Ucap Rafka seraya menatap Annisa.
" Itu dulu, sekarang aku justru tak ingin jika harus jauh darimu." Sahut nya.
"Kenapa ini terdengar begitu menyenangkan ya untukku.
Annisa tersenyum.
" Benarkah?" Tanya Annisa
"Ya,"
Rafka kini merapatkan tubuhnya dengan Annisa. Ia lalu merangkul bahu Annisa agar lebih rapat bersama nya.
" Bang, jangan seperti ini. Nisa malu jika dilihat Fikar, Ainun dan juga Rani." Annisa berusaha melepaskan.
" Kenapa mesti malu, kita kan pasangan suami istri. Jikapun menempel seperti ini bukan nya sudah sepantasnya, karena kita sudah sah secara agama dan juga hukum negara. " Rafka terdengar protes. Ia tak mau jika hanya karena alasan yang menurut nya konyol itu membuatnya tak bisa berdekatan dengan Annisa saat ini. Bukankah juga tujuan mereka kesana adalah untuk saling mendekatkan diri satu sama lain agar lebih terlihat mesra. Jika Annisa menolak karena alasan malu. Terus kapan mereka bisa tampil dengan begitu mesra didepan khalayak umum seperti kolega dan juga keluarga.
Rafka tak mau itu. Kini sepulang nya dari sana ia ingin menunjukkan hasil nyata kepada Bundanya jika kini ia dan Annisa semakin dekat dan romantis.
" Nisa, aku tau jika saat ini hatimu juga begitu senang saat berdekatan denganku. Tapi kenapa kamu masih saja menunjukkan sikap malu-malu mu itu dihadapan ku.
Rafka tersenyum sembari mendekap tubuh Annisa kedalam pelukan nya.
"A-abang ngapain sih!" Seru Annisa. Wajahnya memerah seketika saat Rafka tiba-tiba saja memeluk dirinya disana.
" Meluk kamu,"
Rafka semakin mempererat pelukan nya.
" Bang.. ini kita sekarang masih di pantai," Suara Annisa terdengar protes.
"Lantas kenapa memang nya?" Rafka berlagak polos. Padahal didalam hatinya ia tau jika saat ini Annisa merasa malu karena masih dimuka umum. Meskipun disana hanya ada mereka berdua, namun diujung sana ada sebuah warung dan bisa saja penghuni didalam nya menyaksikan adegan mereka dari kejauhan.
" Nisa, ma-malu." Suaranya terdengar rendah.
" Kamu istriku, jadi wajar saja jika aku memeluk mu. Kenapa mesti malu, disini juga tidak ada siapa-siapa." Ucap Rafka.
" Disini memang tidak ada siapa-siapa. Tapi disana, di warung sana bisa saja orang-orang sedang memperhatikan kita disini kan."
" Biarkan saja, anggap saja tontonan gratis. Bereskan," Sahut Rafka santai.
" Bang Nisa mohon! Nanti di Vila kita lanjutkan lagi acara pelukan mesra nya ya," Pinta nya.
Rafka kemudian melonggarkan dekapan nya. Lalu kini ia mulai meraih dagu Annisa dan menatap nya lekat-lekat.
" Baiklah, aku setuju. Tapi dengan satu syarat." Ujar nya.
" Abang masih bermain syarat dengan Nisa,"
"Ya, jika kamu tidak mau. Maka aku akan memelukmu sepanjang sore disini." Rafka tersenyum licik.
"Hahaha, Nis, penuhi saja syaratku. Maka aku akan melepaskan mu
"Baiklah, tapi Abang jangan minta yang aneh-aneh ya." Ucap Annisa. Ia ragu dengan ucapan nya sendiri, karena merasa khawatir jika Rafka akan meminta sesuatu yang menurutnya gila saat ini.
"Aku mau kamu menciumku." Ucap Rafka. Kini ia semakin menarik garis senyum di bibirnya.
"Tuh kan! Seharusnya aku tidak usah menyetujui syarat yang diajukan nya saat ini!
Annisa mengerutkan dahinya. Lalu ia memalingkan muka dari Rafka.
"Nisa nggak mau!" Tolak nya.
"Ya sudah, kalau kamu masih malu untul mencium ku. Maka biar aku saja yang mencium mu," Ujar nya.
Kini ia kembali meraih dagu Annisa dan mendekat kan wajah nya. Namun saat bibirnya hampir menyentuh bibir Annisa, tiba-tiba saja seseorang hadir disana.
"Mas Rafka,"
BERSAMBUNG