Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 6


Siang menyambut sore kala itu. Keheningan tak terpecahkan saat mereka fokus terhadap obyek masing-masing. Rafka fokus menyetir mobil nya. Sedangkan Annisa fokus melihat jalan yang mereka lalui, hingga akhirnya sampai mobil berhenti karena ada lampu merah di depan.


Annisa melihat ada beberapa anak-anak pengamen jalanan yang berjalan menuju ke beberapa kendaraan yang berhenti disana. Ia kemudian menurunkan kaca mobil saat melihat ada satu anak yang berjalan menuju ke arah mobil yang ia tumpangi.


"Dek." Panggil nya lembut.


Bocah itu menoleh, lalu ia berlari kecil mendekat ke arah kaca mobil yang terbuka. Bocah itu kemudian memetik gitar nya, lalu menyanyikan lagu andalan nya. Namun belum selesai ia menghabiskan lagu nya, Annisa langsung memberi nya selembar uang yang bernilai 50ribu.


"Terima kasih kak." Ucap anak pengamen jalanan yang tampak begitu senang saat melihat selembar uang yang berwarna biru itu. jumlah itu sangatlah besar baginya, sehingga ia terlihat tak berhenti tersenyum saat melihat uang lembaran biru yang ada di tangan nya.


Annisa tersenyum memperhatikan Bocah itu. hatinya juga merasa senang saat melihat raut kebahagiaan yang tersirat dari wajah sang bocah saat menerima selembar uang darinya.


"Alhamdulillah jika anak itu senang.


Gumam Annisa dalam hati.


Rafka memperhatikan Annisa dari depan


"Ternyata dia memang gadis yang baik.


Pikir nya dalam hati.


Setelah lampu merah mati dan kini berganti dengan warna hijau. Rafka pun kembali menyetir mobil nya, hingga tak lama kemudian sampailah mereka di depan rumah orang tua Annisa.


Mobil berhenti, Annisa yang melihat kearah luar sudah sampai di depan rumah nya kemudian membuka pintu mobil.


"Nggak mampir?" Tanya nya sebelum melangkah keluar dari dalam mobil


"Nggak, lain kali saja." Jawab Rafka singkat.


Annisa lalu turun tanpa lupa menutup kembali pintu mobil, sedangkan Rafka langsung memutar mobil nya dan berlalu meninggalkan Annisa yang menatapi kepergian nya.


Setelah melihat mobil rafka hilang dari pandangan nya. Annisa lalu berjalan memasuki halaman rumah nya dan kini ia sudah sampai tepat di depan pintu rumah.


"Assalamu'alaikum." Tak lupa Annisa mengucapkan salam saat ingin memasuki rumahnya.


"Wa'alaikum salam." Jawab Ayah yang sedang duduk santai sambil menonton program televisi kesukaan nya.


"Kamu sudah pulang nak, mana Rafka? Apa dia tidak di suruh mampir?" Tanya Ayah sembari melihat ke arah pintu masuk.


"Dia buru-buru yah. Jadi langsung pergi deh." Jawab Annisa sembari duduk di samping Ayah nya.


"Nonton apa yah.?" Tanya nya seraya menyeruput kopi yang ada di depan nya.


"Kopi Ayah itu. yah . . habis deh." Ucap Ayah seraya melihat kedalam gelas nya.


"Hehehe, maaf ya yah. Ntar Nisa buatin lagi deg, tapi sekarang Nisa ganti baju dulu ya." Ucap Annisa seraya tersenyum nakal kepada Ayah nya. Meskipun saat ini ia sedang sedih, namun ia tak mau menujukkan nya di hadapan Ayah nya.


***


Sementara itu.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota sore itu. Jalanan yang sangat ramai membuat Rafka lebih berkonsentrasi dalam menyetir mobil nya.


Namun fikiran nya mulai terganggu, saat tanpa sengaja menoleh ke ujung jalan dan melihat sesosok gadis yang begitu familiar di matanya.


"Maya. ." Lirih nya sembari menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Benar itu Maya, tapi siapa pria yang berada disamping nya." Mata Rafka kini terfokus ke arah pria yang berada di samping kanan Maya.


"Siapa pria itu?" Lirih nya lagi seraya terus memperhatikan gerak-gerik mereka yang semakin lama semakin terlihat mesra.


Di lihat nya pria itu yang kini mulai menggandeng tangan Maya dengan mesra. Rafka berdecak kesal saat melihat kemesraan yang terjalin antara Maya dengan pria asing tersebut.


Lalu, Rafka melihat mereka masuk kedalam sebuah Cafe yang ada disana, dan itu membuat Rafka semakin penasaran untuk ikut masuk kedalam.


Ia lalu memutar arah menuju ke arah Cafe tersebut, dan memarkirkan mobil nya di sana.


Setelah selesai memarkan mobil nya. Rafka lantas segera turun dari sana dan berjalan dengan sedikit terburu-buru untuk bisa segera masuk kedalam Cafe tersebut.


Dilihat nya sekeliling ruangan, hingga akhirnya matanya tertuju kesalah satu meja yang ada di ujung sana. Rafka kemudian berjalan mendekat, lalu memilih salah satu meja kosong yang tak jauh dari tempat yang sekarang diduduki Maya bersama teman pria nya. Ia memilih mengawasi dari sana.


Tak lama berselang pelayan Cafe datang dengan membawakan pesanan kepada Maya dan teman pria nya. Pelayan mulai menghidangkan makanan serta minuman yang ia bawa di atas meja, dan setelah selesai pelayan itu pun pergi dan kembali meninggalkan mereka berdua disana.


Rafka terus memperhatikan mereka berdua setelah sebelumnya ia memesan segelas minuman di Cafe itu. Dilihat nya Maya yang kini mulai menyuapi Pria itu sembari tersenyum lembut kepadanya.


Rafka mulai mengepalkan tangan saat menyaksikan adegan romatis di depan nya. Sejujur nya dia ingin sekali menonjok pria tersebut karena sudah berani menggoda kekasih nya. Namun keinginan nya ia tahan saat melihat Maya yang begitu aktif melakukan tindakan mesra terhadap pria tersebut. Ia melihat Maya berulang kali menyuapi pria itu makanan nya begitu pula pria tersebut yang berulang kali memasukkan makanan milik nya kedalam mulut Maya kekasihnya.


"Sial.!! berani-berani nya Maya berbuat begini di belakangku.


Gumam Rafka sembari mengeluarkan ponsel nya dari dalam saku celananya.


Ringtone berbunyi.


Maya kemudian mengambil ponsel nya, ia kemudian berdiri dari duduk nya dan berjalan menjauh dari sana saat menerima panggilan di ponsel nya.


"Assalamu'alaikum, sayang kamu dimana?" Ucap Rafka di balik ponsel seraya menatap Maya yang kini berdiri agak jauh dari posisi sebelum nya.


"Wa'alaikum salam. Mas aku lagi dirumah tante nih, lagi ada acara keluarga disini." Ujar Maya bohong.


"Udah dulu ya Mas, Tante manggil tuh." Ucap nya lagi seraya mematikan ponsel nya.


"Berani sekali kau membohongiku." Wajah Rafka memerah menahan amarah nya.


Sedangkan Maya, setelah menutup panggilan dari Rafka. Ia lalu kembali duduk di kursi nya dan melanjutkan lagi kemesraan yang sempat tertunda sebelum nya.


Rafka bangkit dari duduk nya, minuman yang telah di pesan tak tersentuh sedikitpun oleh nya. ia lalu mengeluarkan selembar uang yang bernilai seratus ribu dan menyelipkan nya di bawah gelas minuman nya. Kemudian ia pun berlalu pergi meninggalkan Cafe tersebut dengan perasaan kesal.


"*Si*al.!! Aku tidak menyangka kau akan melakukan ini padaku Maya. Aku fikir kau cinta dan setia kepadaku, tapi nyata nya kau mengkhianatiku sekarang. Aku benar benar tertipu dengan wajah polos mu..


Gumam rafka.


Ia mulai menghetakkan tangan nya di atas kemudi nya, saat mengingat kejadian yang terjadi di dalam Cafe tadi, dan kini ia melajukan mobil nya meninggalkan Cafe tersebut.


Di dalam mobil. Rafka kembali mengambil ponsel nya, lalu ia pun menghubungi seseorang.


"Assalamu'alaikum. Kamu dimana?" Ucap Rafka langsung ke inti pembicaraan nya.


"Wa'alaikum salam, Aku lagi di rumah. Ada apa?" Ucap seseorang melalui sambungan seluler.


"Aku kerumah mu sekarang." Ucap Rafka tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh pria yang sudah ia anggap sebagai sahabat nya.


BERSAMBUNG