Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 121


Waktu menunjukkan sekitaran pukul 16:45 sore.


Maya yang sedari tadi pingsan perlahan terjaga dan membuka matanya pelan-pelan. Ia melihat suasana begitu asing baginya. Sehingga membuatnya perlahan melirikkan matanya kesana-kemari. Mencari tahu sedang berada dimana dia saat ini.


“ Dimana aku ini? Tempat ini terasaa begitu asing bagiku.” Lirihnya.


Maya berusaha bangkit dari tidurnya. Namun belum lagi sempat tubuhnya bangkit dari sana kini Maya kembali merasa kepalanya begitu berat, sangat pusing.


“ Auww!” Keluh nya sembari memegang kening nya.


Ceklek!


Dari arah kanan tepatnya dari kamar mandi terdengar suara pintu terbuka. Maya seketika menoleh kearah tersebut dengan kepala yang masih terasa begitu berat. Dilihat nya seseorang keluar dari sana dengan memakai sebuah handuk yang ia lilitkan di pinggang nya.


Lelaki itu bertelanjang dada dan berjalan menuju kearahnya dengan memamerkan otot-otot kekar miliknya. Kulitnya yang putih bersih serta sedikit air yang mengalir dari sana membuat lelaki itu terlihat begitu seksi dan gagah.


Maya menganguminya, namun meskipun kepalanya berat saat ini. Fikiran waras masih berjalan di otak nya. Sehingga kini dengan segera ia menatap wajah lelaki itu.


“ Reno.” Ucap nya.


Sontak Maya seketika terkejut karenanya. Perlahan ia kembali mengucek matanya dan berharap jika saat ini ia sedang salah lihat. Namun, apa yang didapatkan nya. Semua itu nyata, pria yang saat ini sedang menuju kearahnya ternyata benar adalah Reno. Lelaki yang di pacarinya sewaktu masih bersama Rafka, dan dialah penyebab kandas nya hubungan Maya dengan Rafka karena Rafka ternyata diam-diam telah memergoki mereka berdua.


“ Maya, kau sudah sadar?” Wajah Reno terlihat begitu cemas.


Namun Maya sama sekali tak menghiraukan itu. Kini yang pertama kali ada di benak nya adalah bagaimana ia bisa berada didalam satu kamar bersama dengan Reno.


“ Mungkinkah..” Dengan segera Maya memeriksa dirinya sendiri.


Dan betapa terkejutnya ia saat mendapati tubuhnya tidak lagi memakai pakaian yang utuh yang di pakainya tadi sewaktu berangkat dari rumah. Kini ia melihat tubuhnya dibaluti dengan sebuah kemeja berlengan panjang yang berukuran besar baginya. Sehingga membuatnya seketika berteriak.


“ Aaaaaaa!” Pekik Maya.


Ditarik nya selimut yang ada disana dan menutupi hampir seluruh badan nya. Sehingga kini yang tampak hanyalah kepalanya yang menonjol keluar.


“ Apa yang sudah kamu lakukan!” Terlihat raut wajah Maya seketika berubah menjadi ketakutan


Didalam hati ia berfikir. Baru saja ia merasa di campakkan oleh Rafka dengan di bentang nya dinding yang menjulang panjang diantara mereka. Kini ia harus menghadapi jika kesuciannya telah direnggut oleh Reno. Itu pemikiran nya saja loh, karena Reno sama sekali tak pernah menyentuhnya. Bahkan kalian tau sendiri kan, jika Bik Nem lah yang membantu Maya mengganti pakaian nya saat itu.


Reno mengerutka dahinya. Merasa bingung dengan kalimat Maya.


Mungkinkah ia merasa jika sesuatu hal telah terjadi diantara kami?


Gumam nya.


Reno seketika menyeringai. Sebuah ide kini muncul di benak nya, ide yang pasti bisa menjerat Maya untuk terus bersamanya.


“ Apa yang kulakukan? Bukankah kamu sendiri bisa menilainya?” Ujar nya sembari terus mendekatkan diri dengan Maya.


Apa! Jadi semua itu memang benar. Aku benar-benar sudah ternoda olehnya.


Raut wajah Maya seketika linglung. Bagaimana bisa ia dengan mudah merenggut kesuciannya. Bahkan lelaki ini sama sekali tidak pantas untuknya. Apa yang dia punya, kekayaan, tidak ada. Ketampanan, ya memang hanya


itulah asetnya. Tapi tempat ini begitu mewah, apa ia menyewa nya. Atau ia melakukan sesuatu yang curang untuk mendapatkan semuanya.


“ Kau! Dasar pria berengsek!” Ditimpuk nya Reno dengan sebuah bantal guling yang ada disamping nya.


“ Aku yang berengsek?” Reno mendekatkan wajahnya dengan wajah Maya. “ Aku memang berengsek, tapi itu hanya khusus kulakukan untukmu.” Katanya kemudian.


“ Dasar pria tak tahu malu!” Maki Maya.


“ Siapa? Aku tak tahu malu? Hmm, lebih tak tahu malu mana aku dan dirimu.” Reno mendaratkan pelan jari telunjuknya kearah dada Maya.


“ Cih! Apa maksudmu?” Maya menampik jemari Reno, lalu memalingkan wajahnya.


“ Bukankah tindakanmu tak kalah memalukan nya dariku.” Seringai Reno.


“ Apa maksudmu, apa yang telah kulakukan, kenapa kau bisa mengatakan hal seperti itu kepadaku.” Maya semakin gugup. Keringat dingin terasa keluar dari dahinya mana kala Reno yang saat ini semakin dekat dengannya.


“ Bukankah kamu telah berusaha menyakiti Annisa agar dia tidak bisa memeiliki anak dari Rafka. Bahkan kamu dengan tak tahu malunya terus memohon kepada Rafka untuk bisa kembali kepadamu. Dan kamu merengek kepadanya untuk menjadikanmu yang kedua.” Jelas Reno. “ Bagaimana menurutmu? Apakah itu tindakan yang sama sekali tidak memalukan.” Tambah nya lagi.


Kini jarak diantara mereka hanya tinggal beberapa centi saja.


“ Diam!” Jerit Maya. Ia bahkan mendorong dengan keras tubuh Reno hingga terpental ke lantai. “ Apa hak mu berbicara seperti itu! Apakah kau orang tuaku! Kakak lelakiku! Adikku! Saudaraku! Atau kekasihku!” Pekik nya. “ Kau hanyalah simpanan ku! Yang telah ku campakkan karena aku telah bosan denganmu! Jadi kau sama sekali tidak ada hak untuk mencampuri urusanku!”


Maya menjerit dengan sekuat tenaga. Hingga saat ini suaranya begitu menggelegar memenuhi ruangan kamar tersebut. Untunglah didalam ruangan itu kedap akan suara. Sehingga para pelayan yang ada diluar tak dapat mendengar pertengkaran yang sedang terjadi saat ini.


Reno kemudian bangkit dari lantai. Lalu ia kembali duduk diatas ranjang yang sama dengan Maya sembari menopang kepalanya dengan tangan nya. Kini ia terlihat menatap santai kearah Maya seolah tidak terjadi apa-apa.


“ Apa kau sudah selesai?” Tanya nya seraya tersenyum.


“ Kau! Pergi dari sini!” Usir Maya seraya menunjuk kearah pintu keluar.


“ Hahahahaha!” Gelak Reno. “ Kau mengusirku? Di kamarku sendiri? Puffft!” Reno terpingkal-pingkal.


Sementara Maya tampak kebingungan dengan sikap nya.


Kenapa dia tertawa seperti itu? Jangan bilang jika ini memang benar kamarnya.


Batin Maya.


“ Baiklah, karena kau akan menjadi salah satu pemilik kamar ini juga. Maka aku akan segera pergi dari sini.” Ucap nya seraya berlalu.


Namun, sesaat kemudian ia kembali menghentikan langkahnya dan membalikkan badan nya. Berjalan menuju kearah sebuah lemari besar yang menyatu dengan dinding kamar.


Apa yang akan dilakukan nya?


Maya terus memperhatikan gerak-gerik Reno. Yang kini tampak sedang mengambil satu steel pakaian yang akan di kenakan nya. Setelah itu ia kembali berjalan melewati Maya sembari kembali menoleh.


“ Minum obat yang ada di meja samping mu. Untuk bisa kabur dari sini kau harus memiliki stamina yang cukup bukan.” Ucapnya seraya benar-benar berlalu pergi meninggalkan Maya sendirian disana.


Jujur saja sebenarnya Reno tak bermaksud berbuat seperti ini kepada Maya. Namun, karena sikap Maya yang begitu keras kepala dan juga terlalu angkuh. Membuatnya mau tak mau harus melakukan semua sandiwara ini. Berharap agar kali ini ia bisa bersama dengan Maya selamanya. Karena memang Reno sungguh sangat mencintai Maya. Meskipun ia tahu jika cara nya ini salah.


BERSAMBUNG