Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 42


Annisa berjalan dari arah dapur dengan membawakan nampan kecil yang berisi kan secangkir teh dan juga sedikit camilan di tangan nya. ia melangkah menyusuri ruangan dan akhir nya sampai di ruang tv.


dedi terlihat sibuk dengan ponsel nya. ia tampak sedang berbicara dengan seseorang namun seperti nya obrolan mereka kurang menyenangkan. annisa dapat melihat itu daru raut wajah dedi yang tampak dingin tidak seperti ketika ia sedang berbicara dengan nya.


di ruang itu ada sebuah meja kecil di depan sofa. annisa menghentikan langkah nya dan lantas ia pun menyajikan teh dan camilan yang di bawa oleh nya.


" silahkan di minum teh nya kak," ucap annisa sembari memegang nampan kosong di tangan nya karena teh dan camilan yang ia bawa sudah ia sajikan di atas meja.


wajah dedi seketika berubah saat melihat annisa yang berdiri di depan nya. wajah nya yang awal nya dingin kini berubah menjadi ceria ketika annisa hadir disana.


" mesti nya kamu nggak usah repot begini, kan aku bisa ambil sendiri di dapur," ucap dedi dengan ramah.


" nisa nggak repot kok kak, kan cuma secangkir teh dan sedikit camilan, ya nggak ngerepotin lah." ujar annisa sembari tersenyum


manis sekali


gumam dedi saat melihat senyum manis annisa.


" yah, karena kamu udah capek - capek nge buatin nya untuk aku, maka aku harus menghargai usaha mu kan." ujar dedi dengan sedikit canda. ia kemudian meneguk teh yang di bawakan annisa untuk nya sembari mengambil camilan yang ada di atas meja.


ia kemudian meletakkan ponsel nya di atas meja tanpa mematikan nya terlebih dahulu.


di balik telfon.


" kenapa nisa bisa begitu perhatian dan juga sangat akrab dengan nya. ya, aku tau nisa memang lah wanita yang baik, namun seharusnya dia harus menjaga sikap nya dengan pria lain saat di belakang ku.


gumam rafka saat mendengar pembicaraan mereka di balik ponsel. ia kemudian melemparkan ponsel nya di atas raniang milik nya itu. lalu bergegas berjalan ke arah pintu seraya tak lupa menutup nya kembali dan melangkah dengan cepat menuju ke tempat dimana dedi dan annisa sedang berbicara.


begitu sampai di anak tangga. rafka segera menuruni nya dengan sedikit berlari kecil menyusuri tangga itu dan akhir nya sampailah ia di ruang keluarga dimana dedi yang sedang duduk santai sambil menikmati teh buatan nisa disana.


" enak ya minum teh gratis." ucap rafka ketus seraya berjalan menuju ke arah dedi dan kemudian ikut duduk di atas sofa yang ada disana.


" ya enak lah, apalagi buatan nisa, haha" jawab dedi di susul sedikit gelak tawa.


rafka mengerutkan dahi nya. ia tampak tak senang saat mendengar pujian yang di lontarkan sahabat nya itu terhadap istri nya.


" ada apa dengan mu? kelihatan nya kamu tidak senang saat mendengar pujian ku kepada nisa." ucap dedi yang seolah tahu apa yang sedang ada dalam fikiran rafka saat ini.


" ya, kamu terlihat sangat menyedihkan karena kecemburuan mu kepada annisa." ucap dedi sembari tersenyum seolah sedang mengejek sahabat nya itu.


" dasar sok tau..!!" jawab rafka ketus.


" hahaha, kau marah berarti benar apa yang aku katakan tadi." ujar dedi sembari menertawakan rafka yang kini menatap kesal ke arah nya.


***


dari kejauhan annisa berjalan menuju ke kamar nya yang berada tepat di depan ruan keluarga itu. tanpa sengaja rafka melihat annisa yang kini berjalan menuju ke kamar nya. annisa tau jika saat ini rafka suami nya sedang menatap ke arah nya. namun ia memilih acuh tanpa memperdulikan tatapan itu, namun saat ia hendak membuka pintu kamar nya tiba - tiba seseorang menyapa nya.


" hai nis, udah siap masak nya?" ucap dedi yang sedang duduk bersantai di atas sofa sembari menoleh ke arah nisa.


" oh kak dedi, nisa udah siap masak kak." ucap nisa seraya menoleh ke arah dedi tanpa mau menatap wajah suami nya yang berada tepat di samping dedi.


" wah, masakan mu pasti enak seperti kemarin. aku boleh kan nyicip sekalian numpang makan, hehe." ucap dedi dengan sedikit canda khas nya. namun candaan nya itu malah membuat sahabat yang berada di samping nya sekarang merasa panas mendengarkan ocehan nya.


annisa tersenyum mendengar ucapan dedi.


" boleh saja kak, asalkan nanti bantuin nisa cuci piring ya." jawab annisa sembari membalas candaan yang di lontarkan dedi kepada nya.


" asiaap, kalau cuma piring aja sih kecil sekalian sama rak - rak nya juga nggak masalah asalkan di temani oleh mu disana." ucap dedi yang membuat rafka semakin panas dan kini malah menatap sinis ke arah annisa.


annisa tersenyum seraya menggeleng - geleng kan kepala nya. ia merasa terhibur dengan candaan yang di lontarkan dedi kepada nya. bagaimana tidak, selama inikan di rumah ia dan rafka hanya berkomunikasi di meja makan saja dengan nya. selebihnya mereka menghabiskan waktu mereka masing - masing. meskipun annisa menunjukkan rasa keperdulian nya kepada suami nya bahkan ia mencoba bisa akrab dengan nya. namun rafka seolah tak peduli bahkan seakan tak memberi celah untuk nya agar bisa dekat dengan nya.


" nis, sini donk gabung," ajak dedi


" nggak ah kak, nisa mau membersihkan diri dulu. kan bentar lagi udah waktu nya magrib." ucap nya sembari tersenyum


" wah, kamu belum mandi aja cantik nya subhanallah, apalagi jika sudah mandi." goda dedi.


annisa tersenyum dan kembali menggelengkan kepala nya saat mendengar celetukan dedi yang tak ada habis nya. ia pun kemudian memilih masuk kedalam kamar nya dan meninggalkan dua orang yang ada sedang duduk di ruangan itu.


bersambung