
Sore itu sepeninggalnya dari rumah kedua orang tua Annisa. Rafka melajukan mobilnya memasuki jalanan kota. Benar saja seperti yang dikatakan Ayah tadi, jika sudah sore menjelang petang, jalanan di seputaran kota pasti akan macet parah. Sehingga kini Rafka memutuskan untuk menggunakan jalur alternatif lainnya untuk segera tiba dirumahnya.
Diperjalanan menuju kearah rumah nya. Ada sebuah lapangan, yang dipakai untuk didirikan nya sebuah pasar malam disana. Pasar malam musafir yang biasanya mereka suka berpindah-pindah tempat sebulan sekali. Annisa begitu senang, sehingga dengan reflek ia menyuruh Rafka menghentikan laju kendaraannya.
“ Bang, berhenti!” Seru nya, yang membuat Rafka seketika menghentikan mobilnya secara mendadak.
“ Ada apa?” Tanya Rafka seraya mengerutkan kening nya.
“ Bang, kita pergi kesana ya.” Ucap Annisa menunjuk kearah lapangan dimana tempat berdiri nya pasar malam tersebut.
“ Kesana? Mau ngapain?” Tanya Rafka.
“ Ya, mainlah Abang.” Sahut Annisa lembut.
“ Kamu yakin?”
“ Iya, Nisa yakin! Ya, ya.” Rengeknya manja.
“ Tapi inikan sudah pukul 17:15. Sebentar lagi magrib loh.” Ujar Rafka.
“ Iya, Nisa tau. Maka dari itu sekarang kita nggak usah pulang kerumah dulu ya.” Ucap Annisa yang kini mulai memegangi lengan kiri Rafka. Berharap agar lelaki itu setuju menerima ajakan nya.
“ Hmm, baiklah.. terserah kamu. Tapi kita akan kemana dulu ini? Nggak mungkin kan kita parkir disini terus hingga pasar malam nya buka.” Ucap Rafka yang merasa tak begitu nyaman jika harus menunggu disana.
“ Iya, enggak kok. Abang jalan aja lurus kedepan, nanti kalau sudah sampai Nisa akan kasih tau Abang tempatnya.” Kata Annisa seraya menunjuk kearah depan.
“ Hmm, baiklah.”
Rafka kini mulai menghidupkan kembali mesin mobilnya. Ia lalu menjalankan nya dengan pelan, karena takut jika tempat yang di maksud Annisa untuk menunggu pasar malam nya buka akan terlewat. Sehingga itu akan membuatnya lebih bersusah payah untuk memutar kembali laju kendaraan nya kesana.
Beberapa menit berlalu. Karena Rafka menjalankan mobilnya dengan snagat pelan, maka letak tempat yang di maksud Annisa terkesan agak jauh jadinya. Namun, itu tak menjadi masalah. Lebih baik lambat sedikit kan, daripada harus memutar kembali.
“ Masih jauh Nis?” Tanya Rafka sembari memperhatikan beberapa gerai yang ada disana.
“ Udah dekat kok Bang, tuh yang diujung situ. Toko Kue satu-satunya yang ada diujung situ.” Annisa menunjuk kearah ujung jalan.
Setelah melihat memastikan took yang disebut Annisa. Rafka lalu mempercepat sedikit laju kendaraan nya. Sehingga kini tidak sampai tiga menit mereka sudah tiba di Toko yang dimaksud oleh Annisa.
“ Disini kan?” Tanya Rafka.
“ Iya Bang, disini.” Jawab Annisa.
Setelah mendapatkan jawaban yang akurat. Rafka pun kemudian memarkirkan mobilnya diarea parker yang terbilang cukup luas disana. Ya, area parker disana terbilang cukup luas dibandingkan took kue yang berdiri disana. Namun, hal itu cukup wajar. Karena di took kue tersebut begitu banyak pengunjung yang datang sehingga area parkir itu kini dipenuhi dengan mobil dan juga kendaraan bermotor.
Setelah selesai memarkirkan mobilnya. Annisa kini mengajak Rafka turun darisana. Ia tampak tersenyum saat melihat toko itu ramai akan pengunjung. Sehingga membuat Rafka menerka-nerka didalam hatinya.
Mungkinkah ini toko kue nya Annisa?
Gumam Rafka.
Lalu ia pun turun menghampiri Annisa yang saat ini sudah berada diluar mobil.
“ Kita akan mampir kesini?” Rafka kini sudah berdiri disamping Annisa.
“ Iya Bang, yuk kita masuk!” Ajak Annisa.
“ Hmm,” Balas Rafka singkat.
Annisa lalu mengenggam tangan Rafka dengan mesra, dan kini mereka bejalan bersama memasuki toko kue tersebut.
“ Assalamu’alaikum Nona.” Sapa ramah salah satu pelayan toko yang dengan sengaja membukakan pintu untuk mereka berdua. Sehingga membuat Rafka mulai menaruh curiga.
“ Wa’alaikum salam, Ani.” Balas Annisa sembari menyebutkan nama salah satu pegawainya.
Melihat pria tampan yang didepannya membuat Ani menunduk sopan. Apalagi setlah melihat jika saat ini Bos nya mengenggam mesra tangan pria tampan tersebut. Sehingga membuatnya ta berani sembarangan menatap kearah
“ Ani, ini suami saya namanya Rafka.” Annisa memperkenalkan Rafka kepada salah satu pegawainya.
“ Assalamu’alaikum Tuan Rafka.” Ani masih menundukkan pandangan nya tak berani menatap.
“ Wa’alaikum salam.” Balas Rafka.
Setelah menjawab salam dan sedikit berbasa-basi dengan salah satu pegawainya. Kini Annisa dan Rafka melangkah masuk kedalam. Disana Rafka melihat jika toko kue itu ramai akan pengunjung. Meskipun diluar judulnya adalah Toko kue, namun setibanya didalam. Tempat itu terkesan seperti Cafe, karena disana terlihat begitu banyak meja yang ditata dengan cukup rapi. Bahkan hampir tak ada satu bangku pun yang kosong kala sore menjelang petang seperti ini.
Tempat itu terkesan menjadi tempat tongkrongan nya para muda-mudi sehabis pulang kuliah ataupun pulang kerja. Mereka terlihat begitu santai menikmati kue dan beberapa menu minuman Coffe yang dijual disana. Sungguh, hal itu membuat Rafka begitu takjub.
Apakah ini benar-benar toko kue milik istrinya? Bagaimana caranya ia mengembangkan bisnisnya? Bukankah setahu Rafka, Annisa itu adalah gadis rumahan yang tak pernah kemana-mana? Sungguh, ternyata apa yang dibacanya kemarin disebuah majalah tentang kesuksesan Annisa dalam membangun toko kuenya ternyata benar adanya.
“ Bang, yuk kita kesana.” Ucapan Annisa membuat lamunan Rafka akan bagaimana istrinya bisa memperoleh bisnis yang terbilang cukup sukses ini buyar sudah. Ia kemudian tersadar lalu kembali menoleh kearah Annisa.
“ Hah, iya.” Katanya separuh tidak mengerti.
“ Yuk Bang kita kesana. Karena disana kita akan bisa sejenak beristirahat sembari menunggu waktunya magrib tiba.” Ucap Annisa. Lalu kini ia mulai kembali menggandeng tangan Rafka agar mengikuti nya ke tempat yang ia
maksud.
.
Setibanya diruang kerja Annisa.
Rafka melihat, tempat itu begitu bersih, bahkan sebutir debu pun tak tampak dimatanya. Itu semua karena Fatimah, selaku sanga penguruss kepercayaan nya Annisa selalu membersihkan ruangan tersebut. Sehingga membuatnya tetap rapid an bersih meskipun Annisa jarang sekali berkunjung kesana.
“ Duduk Bang!” Seru Annisa, yang mempersilahkan Rafka duduk di sebuah sofa berukuran big size yang berada tepat dimeja kerjanya Annisa.
Annisa sengaja menaruh sofa yang berukuran besar diruang kerjanya. Jadi, saat ia merasa lelah, maka ia akan dengan mudahnya untuk beristirahat disana.
“ Sayang, ini punyamu?”
Rafka terlihat masih memperhatikan ke setiap sudut ruangan.
“ Iya Bang.” Sahut Annisa lembut.
“ Kamu, kenapa tidak pernah cerita jika kamu mempunyai usaha seperti ini?” Tanya Rafka lagi. Namun, kali ini pandangan nya telah fokus menatap Annisa yang saat ini sudah duduk disamping nya.
“ Abang kan nggak pernah Tanya.” Jawab Annisa polos.
Benar juga sih apa yang dikatakan Annisa. Bukankah selama ini aku tidak pernah mau tau tentang apa yang dilakukannya diluar rumah. Bahkan aku mengetahui jika dia mempunyai ini semua dari majalah yang ku baca.
Gumam Rafka.
“ Ya, baiklah. Ini semua salahku, karena aku yang kurang perhatian kepadamu. Jadi sekarang bisakah kamu menceritakan kepadaku sejak kapan kamu merintis usahamu ini?” Tanya Rafka.
Annisa kemudian tersenyum saat mendengar ucapan Rafka. Lalu, ia menjelaskan satu persatu awal mula ia merintis usahanya ini hingga berkembang pesat seperti ini.
Setelah mendengar cerita Annisa tentang bagaimana ia bisa mendapatkan ini semua. Sungguh kini membuat Rafka begitu takjub terhadap istrinya itu. Bagaimana tidak, ternyata itu adalah usahanya yang ia rintis dari nol tanpa bantuan orang tua. Namun ia bisa mengembangkan usahanya hingga seperti saat ini karena ia selalu mempercayai para pekerjanya.
“ Aku benar-benar salut kepadamu.” Puji Rafka.
“ Jangan berkata seperti itu Bang, Nisa malu.” Annisa menundukkan pandangan nya. “ Sungguh, jika dibandingkan dengan Abang, Nisa masih belum ada apa-apanya.” Annisa berusaha merendah diri dihadapan Rafka.
“ Jelas, kamu masih harus beajar denganku. Karena aku adalah ahlinya.” Ucap Rafka membanggakan diri. Sungguh, sejujurnya ia hanya ingin menggoda istrinya dan melihat bagaimana tanggapan Annisa saat mendengar
jawabang darinya.
“ Abang benar, Nisa masih harus banyak belajar dari Abang tentang bagaimana hal caranya mengembangkan usaha ini agar lebih maju kedepan nya.” Ujar Annisa yang malah merasa jika perkataan suaminya benar adanya.
Jawaban itu sungguh membuat Rafka semakin terkesan terhadap istrinya. Meskipun ia sudah terbilang cukup sukses. Namun, Annisa tak pernah berbicara menyombongkan dirinya sediktpun dihadapan Rafka.
BERSAMBUNG