
rafka melangkah kan kaki nya keluar dari rumah sakit tersebut. ia berjalan perlahan menuju ke tempat parkiran seraya melirik kesana dan kemari mencari keberadaan annisa yang kata nya menunggu nya di parkiran. saat rafka sedang mencari keberadaan annisa tiba - tiba mata nya terfokus kan kepada dua orang yang sedang mengobrol di ujung parkiran. ia pun memantapkan langkah nya untuk segera pergi kesana.
" annisa, dengan siapa dia sedang berbicara? apa ini alasan nya ia ingin menunggu ku disini karena dia ingin bertemu dengan pria ini.
gumam rafka
ia semakin mempercepat langkah nya dengan berjalan agak tergesa - gesa menyusul annisa yang sedang berbicara dengan feri.
" annisa.!! " ucap rafka yang kini sudah berada tak jauh dari mereka.
feri menoleh saat rafka memanggil gadis yang sedang berdiri di hadapan nya.
" rafka.!! " ucap nya seraya sedikit mengerutkan dahi nya.
" feri " rafka tak kalah terkejut nya saat melihat pria yang saat ini sedang berbicara dengan istri nya itu ternyata adalah feri setiawan sepupu dari maya kekasih nya.
" sedang apa kamu disini?" tanya rafka seraya menatap heran kearah feri.
" kamu sendiri sedang apa disini?" feri juga tak kalah heran nya saat melihat rafka yang hadir disana dan juga ia seperti nya mengenal sekali gadis yang sekarang sedang berdiri di hadapan nya.
" feri, dia suamiku." ucap annisa menjelaskan siapa sebenar nya rafka.
" suami?" feri mengerutkan dahi nya. kini ia menatap rafka dengan tatapan tidak senang.
" ya," ucap annisa memperjelas
feri mengepalkan tangan nya. wajah nya terlihat memerah menahan emosi nya karena tak terima bahwa rafka telah menikahi gadis yang sekarang sedang berdiri di hadapan nya. feri bersikap begitu bukan tanpa alasan. ia tak terima kalau rafka mempermainkan perasaan sepupu nya maya. karena setau diri nya saat ini rafka sedang menjalin hubungan dengan adik sepupu nya yaitu maya.
feri kini mulai berjalan melangkah ke arah rafka seraya menatap tajam sosok yang kini berdiri di hadapan nya.
" apa aku tidak salah dengar tuan rafka," ucap nya seraya menatap tajam ke arah rafka.
" hebat sekali kamu ya, aku fikir kau adalah pria yang baik ternyata kau sama brengsek nya dengan ku." ucap feri menatap sinis ke arah rafka.
ya feri tidak salah dalam berkata. ia menyadari kalau diri nya seorang pria brengsek karena memang ia adalah seorang playboy yang gemar sekali ber gonta - ganti pasangan. namun ia tak menyangka jika pria yang sedang berdiri di hadapan nya yang terlihat sangat alim ternyata sekarang tak kalah brengsek nya dari diri nya.
" feri, kamu salah faham denganku." ucap rafka yang hendak membela diri nya.
" cih, salah faham kau bilang,"
ucap feri memalingkan muka seraya tersenyum sinis.
" ini bukan salah faham, ini kenyataan yang tak bisa kau pungkiri," ucap nya yang kini menaikkan intonasi suara nya.
" feri, dia benar" timpal annisa
" apa kamu annisa? dia benar? nisa kamu sudah di permain kan oleh nya," ucap feri dengan nada lembut seraya menoleh ke arah annisa
" sebenar nya kami menikah bukan karena cinta melainkan perjodohan, aku dan abang tidak bisa menolak nya karena tidak ingin mengecewakan kedua orang tua kami," ucap annisa menjelaskan.
" feri, awal nya aku memang menolak menikahi nisa, karena aku sangat mencintai maya dan aku hanya ingin menikah dengan nya. kamu tau sendiri kan, kami bahkan sudah mempersiapkan sebuah rumah untuk kami huni nanti nya jika kami sudah menikah. tapi fikiran ku seketika berubah saat aku melihat maya berkhianat di hadapan ku. aku kecewa sakit hati terhadap nya karena ia telah mengotori hubungan yang selama dua tahun ini kita bina dan kamu tau kenapa aku menikahi annisa? aku menikahi nya semata - mata hanya untuk membalas sakit hatiku agar maya tau betapa sakit nya saat melihat orang yang kita cintai kini telah bersama orang lain." ujar rafka menjelaskan sejelas - jelas nya tanpa menyadari bahwa ada hati yang telah tersakiti dengan penjelasan yang ia katakan tadi.
nyut.. aku tak menyangka mas engkau begitu tega terhadap ku, kenapa kamu harus mengatakan itu saat aku masih ada disini, kenapa kamu tidak mengatakan nya nanti saat aku tidak disini. aku tau kamu tidak mencintaiku tapi bukan berarti kamu bebas mengatakan hal semenyakit kan seperti ini di hadapan ku.
gumam annisa yang kemudian menitikkan air mata saat mendengar apa yang baru saja di katakan oleh suami nya.
feri terdiam sejenak saat mendengar penjelasan yang di ucap kan oleh rafka kepada nya. namun ia sama sekali tak ingin percaya dengan begitu mudah atas apa yang di ucap kan rafka barusan.
" kamu fikir aku akan percaya begitu saja dengan apa yang kamu katakan? hah, mimpi," ucap feri sinis.
" kalau kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan barusan, sekarang juga kamu pergi masuk kedalam rumah sakit, hampiri maya dan tanyakan langsung kepada nya. benarkah ucapan ku tadi atau tidak." ucap rafka seraya berpaling dan berjalan menghampiri annisa yang kini sudah terduduk di kursi parkiran.