Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 93


Malam ini akhirnya langit menyemburkan airnya. Dari yang sekedar rintik-rintik, kini mulai begitu deras membasahi bumi. Hampir di sepertiga malam Rafka sang perompak melabuhkan kapal nya. Sebenarnya sudah ada beberapa dermaga yang terlewati namun ia tak kunjung berhenti. Hingga akhirnya setelah perompak merasa lelah, ia pun segera menurunkan jangkarnya didermaga terakhir. Annisa, sang tawanan terlihat lemah tak berdaya. Tubuhnya terasa letih karena mendapatkan begitu banyak siksaan. Ya, siksaan yang membuat sang penyiksa nya justru ambruk disamping nya. Kini mereka pun terlelap bersama.


Sang penguntit. Lagi-lagi tak bisa memejamkan mata karena siksaan batin yang ia rasakan. Itu adalah hukuman untuknya karena sudah berani terlalu ingin tau tentang seseorang. Yah, jika tidak ingin mati ataupun merasakan sakit hati, maka ada baiknya berdiamlah tanpa ingin tau apa yang sedang orang lain lakukan. Begitulah yang saat ini sedang Maya rasakan. Sudah melewati sepertiga malam matanya tak kunjung terpejam.


Bukan sang penguntit nama nya jika ia menyerah begitu saja dengan apa yang ingin ia dapatkan. Dengan segala kelicikan nya kini ia tersenyum setelah mendapatkan cara, langkah apa yang akan ia ambil selanjutnya untuk menghadapi lawannya.


 


Mentari bersinar begitu terang mengganti gelap nya malam. Burung-burung kecil terlihat terbang kesana-kemari sembari mengeluarkan kicauan nya. Sementara itu udara segar mulai masuk ke dalam kamar memenuhi isi ruangan. Rafka kini terlihat sedang berdiri di pembatas balkon menikmati pemandangan. Terlihat Riak-riak tak hentinya mengalun indah menyapu bibir pantai.


 


Beberapa saat kemudian.


Setelah merasa cukup puas menikmati keindahan alam yang ada. Kini Rafka mulai terlihat meregangkan otot-ototnya. Beberapa gerakan terlihat ia lakukan seperti shit up dan juga push up agar keindahan otot-otot nya tetap terjaga. Jika biasa nya Rafka meluangkan waktu untuk melatih diri di gym, maka beberapa hari ini ia hanya melakukan beberapa gerakan itu saja. Yah, itu semua karena tidak adanya peralatan disana.


Setelah merasa cukup dengan gerakan yang ia lakukan. Dan juga keringat yang mulai mengucur deras di dahinya. Membuat Rafka akhirnya menyudahi aktivitas olahraga singkat nya itu. Ia lalu mengambil sehelai handuk kecil yang ia letakkan diatas meja yang ada di ujung balkon. Setelah itu ia pun kembali masuk kedalam kamar nya.


Disana.


Terlihat Annisa masih bermanja ria diatas ranjang. Setelah melakukan kewajiban nya di subuh tadi, ia tak melakukan aktivitas apapun lainnya, melainkan kembali naik keatas ranjang dan menarik kembali selimut nya hingga menutupi seluruh tubuhnya.


Rafka lalu berjalan mendekatinya. Duduk disampingya, menatap nya, lalu tersenyum karena nya. Melihat bagaimana pengantin yang selama ini sama sekali tak dirindukan olehnya telah mengubah status nya menjadi pengantin yang selalu ia dirindukan. Rafka lalu mulai mengusap lembut wajah Annisa membelai rambutnya bahkan mengecup keningnya sehingga membuat Annisa perlahan terjaga.


" Abang . ." Perlahan Annisa membuka mata.


" Kamu tidur lagi?" Tanya nya. " Apa itu karena kamu begitu lelah melayani sang perompak semalaman?" Ucapnya kembali sembari terus mengusap lembut pucuk kepala istrinya.


 


Mendengar kalimat itu, sontak saja membuat Annisa tersenyum malu karena nya. Baru saja ia terjaga dari sambungan tidurnya yang kelelahan akibat ulah Rafka. Kini saat ia baru saja terjaga Rafka sudah kembali mengingat kan bagaimana buasnya percintaan mereka semalam. Annisa lalu kembali menarik selimutnya hingga menutupi wajahnya. Berusaha menyembunyikan rona merah yang terpancar di pipinya. Namun bukan Rafka namanya jika ia tidak berhasil menaklukkan Annisa. Kini dengan sekali tarik selimut yang menutupi tubuh Annisa langsung tanggal dan ia lempar ke lantai.


 


Annisa terlihat menekuk wajah nya agar Rafka tak dapat menjangkau nya.


 


" Kamu kenapa? Malu?" Rafka merunduk menatapi wajah Annisa


" Heh? Eng-enggak.." Annisa terbata-bata.


" Jangan bohong, pipimu berubah jadi tomat kalau kamu bohong." Rafka mencubit kedua pipi Annisa dengan perasaan gemas nya.


" Auww!!" Pekiknya, " Sakit tau!" Serunya kemudian. Kini Annisa memegangi kedua pipinya, mengelusnya untuk meredakan rasa sakitnya.


" Hehe, maaf.." Rafka kini meraih tangan Annisa dan menjauhkan nya dari pipinya. Sedangkan tangan nya ia gantikan untuk mengelus kedua pipi mulus Annisa.


 


Sementara itu.


Didalam kamar Maya. Ia terlihat tengah mengemasi pakaian nya, memasuki nya kedalam kopernya. Hari ini Maya berencana kembali ke kota S di karenakan ia mendapat kabar jika kondisi Mama nya semakin menurun. Tadi pukul 06:00 WIB, Fery menelpon nya secara langsung dan menyuruhnya untuk segera pulang. Meskipun ia sedikit keberatan karena belum bisa mendapatkan kembali hati Rafka. Namun ia harus tetap mengutamakan kondisi Mama nya terlebih dahulu sekarang. Maka dari itu ia memutuskan untuk kembali ke kota S hari itu.


 


Pagi itu setelah Maya selesai mengemasi kopernya. Ia lalu keluar dari kamar nya. Dilihat nya kearah kamar Rafka, tak ada tanda apapun jika seseoarang akan keluar. Maya lalu memalingkan muka dan berjalan menuruni anak tangga. Setibanya disana, Maya langsung berjalan menuju kearah ruang makan. Tak terlihat siapun disana, pelayan Vila juga tidak ada. Sementara makanan sudah berjejer rapi dimeja makan. Maya lalu berjalan menghampiri meja dan mengeluarkan sesuatu dari saku celana nya. Sebuah botol berukuran kecil dengan tutup yang berwarna putih.


Disinya semua gelas-gelas yang ada disana, dan ia susun ditempat masing-masing. Di kursi yang biasa Annisa gunakan untuk duduk, tepatnya disamping Rafka. Maya kemudian membuka tutup botol itu dan menuangkan isinya kedalam gelas yang berisi air milik Annisa. Cairan itu berwarna bening seperti air, tidak berbau dan juga tidak berasa. Sedikit ia tuangkan kedalam minuman itu, namun lebih banyak akan lebih bagus bukan? Pikirnya.


Terdengar langkah seseorang datang dari arah depan. Maya dengan segera menutup botl obat milik nya dan bergegas memasukkan nya kedalam saku celananya. Namun sayang nya botol itu jatuh ke lantai. Terlihat seseorang itu telah tiba disana yaitu Fikar. Melihat botol yang jatuh tepat dikakinya. Membuat Maya menggesernya menggunakan sendal yang melekat di kakinya kearah bawah meja.


 


" Hai May," Sapa Fikar.


Pagi itu Fikar melihat wajah Maya terlihat gugup. Sehingga membuatnya penasaran dan langsung bertanya.


" Kamu kenapa?"


" Aku?"


" Ya, kenapa wajah mu terlihat ggup sperti itu?" Fikar semakin penasaran.


" A..aku ti..tidak kenapa-napa!"


Maya semakin gusar. Ia berpikir apakah Fikar melihat perbuatan nya tadi? Ah, entahlah. Jika itu memang benar, maka habislah dia pagi itu.


" Aku kira kamu sedang sakit."


Fikar kini berjalan dan duduk di kursinya. Sedangkan Maya merasakan jika saat ini tangan nya mulai gemetar tak karuan.


" A..aku, ya, aku sedikit merasa kurang sehat hari ini!" Jawabnya kemudian.


" Oh, pantas saja. Sudah minum obat belum?" Tanya Fikar


" Ah, sudah.. Aku sudah meminum obat ku! Kebetulan aku selalu membawa obat kemanapun aku pergi. Jadi kalau merasa kurang sehat aku akan segera meminumnya." Maya berusaha meyankinkan.


" Syukurlah kalau begitu."


 


Seharusnya ia tidak tau kan jika aku baru saja menaruh obat didalam gelas yang berisikan air milik Annisa.


Maya sedikit khawatir, namun rasa kekhawatiran nya perlahan menghilang saat melihat Fikar yang mulai menyantap makanan nya tanpa banyak bertanya lagi padanya.


 


Setelah percakapan diantara Maya dan Fikar berlalu. Terlihat dari arah depan dua sejoli yang tengah di mabuk asmara memasuki ruang makan. Seperti biasanya, kedua insan itu selalu bergandengan tangan dengan mesra. Tak perduli meskipun disekitar banyak pasang mata yang menatap kearah mereka.


" Selamat pagi Tuan dan Nosa Rafka."


Fikar memberi salam dengan hormat. Tak lupa juga seulas senyuman ia kembangkan saat memberikan salamnya.


" Selamat pagi juga Fikar, May."


Ucap Annisa, sementara itu Rafka hanya tersenyum kearah keduanya.


 


BERSAMBUNG


Jangan lupa Vote dan Like nya ya kakak-kakak. Agar Ra semakin bersemangat dalam mengupdate episode selanjutnya. Terima kasih.