Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 91


Sore berganti malam. Setelah menunaikan ibadah shalat magrib di sebuah musholla yang tersedia khusus di Cafe tersebut. Kini mereka melanjutkan makan malam disana. Annisa masih berdua bersama Rafka, sedangkan Maya masih bersama Fikar. Sungguh dari tadi Maya sangat gelisah mengingat-ingat akan kedekatan Annisa dan Rafka.


 


Beberapa menu makanan yang berbahan dasar hewan laut kini tersajikan di meja makan. Kelihatan nya cukup enak jika disantap dengan nasi hangat. Fikar mulai mengambil piring nya dan menambahkan beberapa menu makanan tersebut di pinggiran nasi. Setelah itu tanpa menunda lagi ia langsung menyantap nya.


Sedangkan Maya, jangan kan menyentuh melirik pun tidak. Karena sedari tadi tatapan matamya selalu mengarah kearah pembatas dinding dimana Rafka dan Annisa berada.


" Maya.." Panggil Fikar, namun sayang nya ia tak menjawab. Entah itu karena Maya tak mendengar, atau juga karena fikiran Maya yang terlalu fokus dengan hal lain sehingga membuatnya tak perduli dengan keadaan sekitar.


Ada apa dengan nya? Apa saat ini dia sedang memikirkan Rafka dan Annisa?


Fikar mulai menerka-nerka.


" Ekhm-ekhm,," Mencoba terbatuk-batuk agar mendapat perhatian dari Maya dan sepertinya itu berhasil karena kini Maya mulai menoleh kearah nya.


" Kamu kenapa?" Tanya Maya.


" Ini, tadi nggak sengaja ketelan duri ikan." Ujar Fikar.


" Makanya kalau makan harus hati-hati, jangan main telan aja."


" Iya-iya.." Fikar menggangguk pelan. " Kamu sendiri kenapa nggak dimakan makanan nya?!" Tanya nya sembari menunjuk kearah piring yang memang sudah terisi nasi, namun sayang nya sama sekali belum disentuh oleh Maya.


" Aku nggak lapar Fik," Wajah Maya terlihat muram


" Kamu kenapa? Dari tadi aku perhatiin mata mu melirik kearah dinding itu terus!" Meskipun ia sudah bisa menebak jika saat ini Maya sedang merasa gelisah karena memikirkan Rafka dan Annisa yang ada disana.


" Eng-enggak apa-apa kok, mungkin karena saat ini aku lagi kurang enak badan." Ujarnya.


Fikar lalu kembali melanjutkan menyantap makanan nya. Namun setelah itu ia kembali berbicara dengan Maya.


" Jika sesuatu itu bukan milik kita. Maka ada baiknya kita menjauh, agar sang pemilik sesungguhnya tidak merasa terganggu." Ujar nya sembari terus mengunyah makanan nya.


Maya mengernyitkan dahinya, lalu menatap Fikar dengan tatapan sinis.


" Apa maksudmu? Kamu sedang menyindirku?" Tanya nya, merasa tak senang dengan ucapan Fikar. Karena baginya Rafka itu milik nya, jadi yang seharusnya menjauh adalah Annisa bukanlah dirinya.


Fikar kini telah menyudahi makan nya. Lalu ia mengambil gelas yang berisikan air putih yang ada di samping nya dan meminum nya.


" Aku nggak lagi nyindir kamu loh," Ujarnya.


" Jika memang tidak menyindir, terus kenapa tiba-tiba kamu bisa mengeluarkkan kata-kata yang seperti itu?" Tanya Maya.


" Hanya sebuah kalimat." Jawabnya singkat.


" Heh," Dengus Maya kesal.


Kini ia juga mulai melipat kedua tangan nya di dada sembari memalingkan wajah nya menghadap kearah lain. Sehingga membuat Fikar semakin yakin dengan felling nya yang mengatakan jika saat ini Maya tengah berusaha mengejar Rafka.


" Annisa itu gadis yang baik, cocok sekali dengan Rafka." Ujar nya sehingga membuat Maya semakin naik darah saja. Bisa-bisa nya Fikar memuji Annisa di depan nya. Begitu fikir nya.


" Dia itu terlalu munafik." Sahut Maya.


" Munafik, maksudmu?" Fikar mulai mengerutkan dahinya.


" Ya, munafik. Sok polos dan terlalu berpura-pura!" Seru nya dengan nada tidak senang.


" Kalau menurutku sih tidak, Annisa itu memang polos dan baik orang nya. Bahkan saking baiknya dia jadi terkesan naif sehingga tak bisa membedakan mana kawan dan mana lawan." Ujar Fikar seraya menatap lekat-lekat kearah Maya.


" Apa maksudmu berkata seperti itu?" Maya merasa terpojok dengan ucapan Fikar.


" Tidak apa-apa, aku hanya menerangkan saja. Karena itulah sudut pandangku terhadap Annisa." Ujarnya.


" Heh, semua lelaki matanya telah ditutupi dengan kepura-puraan nya." Ucap Maya sinis.


" Cuma lelaki bodoh yang tidak bisa membedakan mana yang bepura-pura dan mana yang tidak." Balas Fikar.


Mendengar ucapan Fikar yang seolah terus memojokkan nya, membuat Maya merasa semakin jengkel saja. Bagaimana tidak, sejak tadi Fikar terus memuji-muji Annisa didepan nya. Sedangkan dia, setiap kalimat yang ia juruskan untuk memojokkan Annisa malah berbalik kembali kearahnya karena ucapan Fikar.


 


Drrt..drrt..


Untuk apa dia menelponku! Bukankah sudah kubilang padanya untuk tidak lagi menggangguku!


Maya memilih mengabaikan nya. Lalu ia kembali memasukkan ponselnya kedalam tas kecil miliknya.


" Loh, kok nggak diangkat May?" Tanya Fikar.


" Nggak penting!" Ucap maya dengan raut wajah tak senang.


Namun sesaat kemudian ponselnya kembali mengeluarkan alunan lagu dari salah satu penyanyi wanita ternama di negara ini dan lagi-lagi Maya mengabaikan nya. Hingga akhirnya pada panggilan yang kelima..


" Angkat lah May, mungkin ada sesuatu yang penting. Kalau tidak untuk apa seseorang itu menelponmu hingga berkali-kali." Fikar mulai merasa jika saat ini Maya sedang menghindari sesuatu. Jika tidak maka sedari tadi ia sudah menjawab panggilan nya kan, bukan malah mengabaikan nya seperti ini.


Kini setelah panggilan yang kesekian kalinya akhirnya Maya berdiri dari duduknya dan berjalan sedikit menjauh dari Fikar dengan berdiri diujung jendela kaca yang menghadap langsung kelaut.


" Hallo, ada apa?" Suara Maya terdengar dingin saat menjawab panggilan tersebut.


" Hallo Maya, apa kabar." Suara Reno terdengar lembut dari sana.


" Aku baik." Ketus Maya.


" Alhamdulillah jika kau baik-baik saja." Reno berusaha tetap lembut, " Oya, aku dengar dari Salsa katanya kau sedang berlibur ke sebuah pulau ya?" Tanya Reno.


" Bukan urusanmu!" Ketusnya.


" Ya, aku tau." Ujar Reno. " Jujur aku menelfonmu karena aku sangat khawatir padamu. Karena ku dengar dari Salsa kau sendirian pergi berlibur kesana. Tapi mendengar jika saat ini kau baik-baik saja, hatiku merasa lega." Reno masih berbicara dengan sangat lembut meskipun Maya berkali-kali membalasnya dengan ketus.


" Sudah kan! Aku masih banyak urusan!"


Tut tu tut..


Maya mengakhiri panggilannya. Lalu setelah itu ia kembali kearah meja kemudian kembali duduk disana.


 


Reno adalah lelaki yang dijadikan Maya sebagai pelarian saat masih bersama Rafka. Ia lalu memutuskan hubungan mereka secara sepihak ketika Maya tahu jika Rafka telah menikahi Annisa karena ia tahu tentang perselingkuhan nya dengan Reno. Jujur Reno sama sekali tidak mengetahui status nya saat itu yang dijadikan Maya sebagai alat untuk pelarian nya saja. Ia hanya tau jika saat itu mereka memadu kasih karena Maya mencintainya dan ia juga mencintai Maya.


Meskipun telah diputuskan secara sepihak oleh Maya, namun Reno berharap agar Maya mau kembali menjalin kasih bersamanya. Karena Reno sangatlah mencintai Maya. Belakangan Reno tau statusnya saat itu serta alasan Maya memutuskan hubungan mereka dari Salsa sahabatnya Maya. Namun bukan nya membenci, hati Reno malah mema'afkan serta menerima semuanya dan berharap Maya bisa kembali lagi bersamanya.


***


Sementara itu diruang VIP tempat Annisa dan Rafka.


Rafka sudah selesai menyantap makan malam nya dengan Annisa. Sehingga kini mereka bersiap untuk segera pergi dari sana. Ditambah lagi saat ini jarum jam sudah menunjukkan pukul 20:00 WIB.


Kini, mereka sudah berada diluar Cafe namun Fikar dan juga Maya sama sekali tak terlihat disana. Rafka kemudian mengeluarkan ponselnya lalu menelfon Fikar. Tak butuh waktu lama Fikar pun menjawabnya.


" Kamu dimana Fikar?" Tanya Rafka langsung tanpa ingin berbasa-basi.


" Saya masih ada diruangan sebelah Tuan, dimana anda dan Nona tadi berkencan." Ujarnya. " Apa anda dan Nona sudah keluar?" Tanya nya kemudian.


" Kami sudah berada diluar sekarang."


" Oh, yasudah. Kalau begitu saya dan Maya akan segera kesana sekarang." Fikar lalu menutup panggilan nya.


" May, yuk keluar. Rafka dan Annisa sudah menunggu kita diluar sekarang." Ujarnya.


Ia lalu bangkit dari kursinya. Kemudian bergegas berjalan keluar karena tak ingin Annisa dan Rafka menunggunya terlalu lama.


Sedangkan Maya, tampak begitu malas melangkahkan kakinya. Itu semua karena Maya gagal mengacaukan kebersamaan Rafka dan Annisa. Karena hari ini ia harus duduk diruangan yang terpisah bersama Fikar. Sungguh hari ini ia merasa sangat sial.


Sebelum benar-benar keluar dari sana, Fikar membayarkan terlebih dahulu makanan serta minuman yang mereka pesan. Dan juga harga setiap tempat yang ia sewa untuk menghabiskan waktu sore mereka disana. Setelah itu ia pun bergegas keluar meninggalkan tempat tersebut.


 


Setibanya diluar. Pandangan mata Maya langsung tertuju kearah Rafka. Ia melihat genggaman tangan Rafka tak kunjung lepas dari Annisa, sehingga membuat matanya terasa sakit karena harus menyaksikan kedua insan yang tak ia harapkan bersatu itu semakin dekat dihadapan nya.


Cih!


Seketika Maya memalingkan muka.


Bersambung