
Rembulan malam bersinar begitu terang. Dihiasi sang bintang yang bertabur kilau gemerlapan. Annisa dan Rafka kini mulai beranjak dari toko menuju ke pasar malam. Di sepanjang perjalanan Annisa melihat begitu banyak pasangan keluarga ataupun muda-mudi yang sengaja datang dan menghabiskan waktu disana.
Kini setelah Rafka memarkirkan mobilnya diarea parkir yang tersedia khusus disana. Annisa dan Rafka pun turun dan berjalan seraya bergandengan tangan. Mereka kemudian berjalan memasuki pasar malam tersebut. Rafka melihat ada banyak sekali barang-barang yang dijual disana. Semuanya serba obral. Begitupula dengan permainan, aneka permainan juga tersedia disana. Dari rumah berhantu, tong setan, game lempar gelang, bianglala dan berbagai jenis permainan lainnya yang tersedia disana.
Annisa tampak begitu senang saat berada disana. Ia tampak antusias sekali ingin menikmati berbagai wahana yang ada. Dan yang paling utama yang ingin dicobanya adalah masuk kerumah hantu. Karena memang Annisa sangat menyukai tantangan yang menyeramkan.
“ Bang, kita masuk kesana ya.” Ajak nya sembari menunjuk kearah rumah hantu yang ada di pojonkan sebelah kanan.
“ Kesana? Kamu yakin?” Tanya Rafka.
“ Iya, Nisa yakin Bang.” Jawab Annisa.
“ Baiklah.”
Rafka kini menuruti apa kemauan istrinya tersebut. Ia lalu berjalan mengikuti Annisa untuk membeli dua lembar tiket agar bisa masuk kedalam. Setelah mendapatkan tiketnya, kini mereka pun mengantri disana. Mereka
berdiri dengan jarak yang saling berdekatan, yaitu Annisa didepan dan Rfka dibelakang. Terlihat sekali wajah Annisa yang begitu ria serta antusias untuk bisa masuk kedalam. Melihat itu, membuat Rafka tersenyum sendiri.
Nisa-Nisa, hanya dengan permainan sesederhana ini saja sudah membuatmu bahagia.
Rafka tak hentinya tersenyum menatap kearahnya. Membuat para muda-mudi yang melihat nya menjadi terpesona karena ketampanan nya.
Kini tibalah waktu dimana jadwal mereka untuk masuk kedalam. Seperti biasa Rafka selalu mengenggam tangan Annisa dengan sangat erat kala mereka bersama. Apalagi saat mereka mulai melangkah masuk kedalam. Rafka semakin mempererat genggaman nya, tak ingin jika Annisa merasa ketakutan nantinya.
Setibanya disana. Mereka menyusuri jalan yang layaknya sebuah lorong gelap yang hanya dihiasi lampu kecil yang temaram. Awalnya tak ada apapun disana, namun semakin jauh mereka melangkah. Beberapa gangguan mulai muncul menemani perjalanan mereka.
Dari pocong, tuyul, kuntilanak, bahkan hantu yang diciptakan mempunyai wajah yang begitu rusak juga ada disana, menakuti perjalanan mereka. Annisa tampak begitu tenang, ia bahkan terlihat cekikan saat melihat bagaimana
ekspresi para hantu-hantu itu saat mencoba menggodanya. Membuat Rafka tak habis fikir dengannya. Bukankah biasanya para wanita akan begitu takut jika dihadapkan akan hal yang seperti ini? Bersembunyi di belakang pria dan merengek manja agar dilindungi? Namun, itu semuanya tampaknya tak begitu berarti bagi Annisa. Annisa tampak begitu tenang bahkan terkesan begitu santai terlihat begitu senang dengan itu semua. Hingga akhirnya mereka pun berjalan menuju kearah pintu keluar.
Setibanya diluar.
“ Sayang, kamu kok nggak takut sih tadi didalam?” Tanya Rafka sembari memandang kearah Annisa.
“ Takut? Kenapa mesti takut?” Annisa kembali melontarkan pertanyaan yang sama.
“ Ya, bukankah biasanya para wanita akan ketakutan, bahka menjerit histeris jika sedang berada didalam sana? Kamu lihat sendiri kan tadi, para gadis itu terlihat menempel pada pacarnya saat mereka beradaa didalam. Mereka juga bahkan menjerit ketakutan tadi. Tapi kamu..”
“ Bang, bukankah itu hanya sebuah permainan. Hantu-hantu disana juga semuanya palsu. Jadi kenapa mesti takut?” Ucap Annisa santai.
“ Nisa itu suka sekali melihat ekspresi mereka saat berusaha menggoda para pengunjung. Lucu-lucu gimana gitu.” Ucap Annisa seraya memasang wajah yang terlihat begitu gemas saat membayangkan sebuah objek.
“ Kamu itu ya, emang beda dari yang lain.” Ucap Rafka.
“ Bang, kita coba permainan yang ada disana yuk. Naik bianglala kayaknya seru!” Ajak Annisa.
Rafka tak bisa menolak. Ia lalu menuruti setiap ajakan Annisa.
***
Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa kini mereka telah menikmati seluruh permainan yang ada disana. Kini, tiba saatnya mereka untuk pulang kerumah. Annisa kini tampak menenteng beberapa barang yang ia
dapatkan dari game lempar gelang yang Rafka mainkan.
“ Apa sekarang kamu senang?” Rafka mulai merapatkan tubuhnya kearah Annisa.
“ Iya, Nisa senang sekali. Karena mala mini Abang mau mengikuti semua permainan yang Nisa mau.” Ucap nya seraya tersenyum.
“ Hmm, kalau begitu, bukankah sekarang aku harus menerima hadiah darimu.” Ucap Rafka seraya tersenyum licik.
“ Hadiah? Hadiah apa?”
“ Sini, mendekatkatlah.”
“ Hah, mendekat? Baiklah..”
Annisa mulai mendekatkan dirinya kearah Rafka, dan kini saat Annisa telah mendekat. Rafka dengan sigap menahan bahunya dan mendaratkan sebuah kecupan di bibir Annisa.
Cup.
Annisa tertegun. Ia tak menyangka jika hadiah yang diminta oleh Rafka adalah itu. Wajah Annisa kini mulai bersemu saat Rafka dengan lembut memainkan bibirnya disana. Ditambah lagi, saat ini mereka masih berada diarea parkir pasar malam.
Kini, setelah merasa cukup. Rafka tersenyum puas, lalu mulai menghidupkan mobilnya meninggalkan area pasar malam tersebut.
Diperjalanan. Annisa tak hentinya tersenyum seraya memegangi bibirnya. Hatinya merasa cukup bahagia, mendapatkan begitu banyak perhatian dan juga sikap lembut dari suaminya. Rafka kini terlihat memperhatikan setiap gerak-gerik yang dilakukan Annisa. Bibirnya kemudian juga ikut tersenyum, saat melihat Annisa yang tak henti tersenyum seraya memegangi bibirnya.
BERSAMBUNG