
Mendengar kalimat Bulan madu yang di ucapkan oleh Rafka. Membuat jantung Annisa semakin berpacu lebih cepat. Ia sama sekali tak menyangka, jika mertuanya sendiri yang akan menyiapkan itu semua. Apalagi di tambah kalimat ingin segera menimang cucu yang berarti mereka ingin Annisa segera mengandung.
"Aaaa... apakah ini mimpi?
Annisa kemudian mengangkat kepalanya menatap Rafka. Lalu memberanikan diri menanyakan kapan keberangkatan mereka.
"Memang nya kapan jadwal keberangkatan nya?" Lirihnya dengan suara pelan.
"Kamu menanyakan kapan kita akan berangkat?" Rafka terlihat senang saat melihat ada respon dari Annisa.
"Ya," Sahutnya singkat.
"Lusa pagi," Ucap Rafka sembari membentangkan senyum nya.
"Oh, ya sudah." Sahut Annisa.
Kini ia pun mulai bangkit dari duduknya dan berjalan kearah kamar mandi. Sedangkan Rafka semakin melebarkan senyumnya sembari menatap kepergian Annisa.
"Hatiku rasanya bahagia sekali saat mendengar respon dari Annisa. Itu berarti secara tidak langsung ia sudah menyetujui acara bulan madu ini.
Rafka kini senyum-senyum sendiri karena merasa senang dengan respon positif yang di tunjukkan Annisa. Kini ia menghempaskan tubuhnya diatas ranjang sembari membayangkan bagaimana seru nya liburan mereka nanti.
Sesaat kemudian Annisa keluar dari dalam kamar mandi. Dengan setelan piyama nya, kini ia berjalan menuju cermin. Saat melewati ranjang, dilihat nya kearah Rafka yang sudah memejamkan mata. Apakah ia sudah tidur ataupun tidak, entahlah. Kini Annisa terus melangkah menuju kearah cermin. Ia kemudian mengambil sebuah kapas lalu menuangkan sedikit toner untuk menyapu bersih wajah nya. Setelah itu ia pun bergegas menuju kearah ranjang. Ia kemudian merebahkan tubuhnya dan tidur di samping Rafka.
Malam ini Annisa kembali tidur di kamar Rafka. Diranjang yang sama melewati malam bersama. Kini disaat Annisa mulai memejamkan mata, tiba-tiba saja Rafka memeluknya dari belakang.
Deg..
Jantung Annisa kembali berdegup kencang saat mendapat pelukan hangat dari Rafka. Matanya kembali terbuka, disusul senyum manis yang merekah di bibirnya. Ia kemudian menggenggam tangan Rafka dengan lembut. Merasakan kedamaian dalam hatinya. Berharap saat-saat seperti ini terus berlanjut hingga akhir waktu. Dan kini ia pun kembali memejamkan matanya.
Sementara itu.
Rafka yang mendapat genggaman tangan lembut Annisa merasa senang. Jantung nya pun berpacu kian cepat, sehingga kini ia mempererat pelukan nya dan menjatuhkan dagunya diatas kepala Annisa, lalu sesaat kemudian ia sedikit menundukkan kepalanya dan mendaratkan ciuman dirambut Annisa. Kini ia pun ikut memejamkan matanya dan terlelap bersama-sama.
***
Dua hari kemudian.
Pagi ini setelah selesai menunaikan shalat subuh. Seperti biasanya Annisa turun kelantai bawah dan berjalan menuju kedapur. Disana terlihat Bik Yam dan juga anak nya Ranum sedang memulai untuk menyiapkan makanan. Annisa kemudian datang dan menghampiri mereka.
"Selamat pagi Bik, Ranum." Sapa nya lembut. Meskipun ia tuan rumah disana. Namun Annisa tak pernah menyombongkan diri. Ia selalu bersikap rendah hati meskipun itu dengan asisten rumah tangga nya sendiri.
"Pagi juga Non," Sahut Bik Yam dan juga Ranum secara bersamaan.
Kini Annisa ikut berbaur bersama mereka didapur.
"Lagi pada ngapain nih?" Tanya nya yang kini sudah berdiri disamping Bik Yam.
"Mau masak Non," Ujar Bik Yam.
"Biar Nisa aja yang masak ya Bik," Ucap Annisa
"Tapi Non, ini kan tugas Bibik," Bik Yam merasa sungkan.
"Nggak apa-apa Bik, Nisa seneng masak kok. Gini aja, Bik Yam sama Ranum bantuin Nisa motong sama nyuci bahan-bahan nya ya." Annisa mulai memberikan apa saja yang harus di kerjakan keduanya. Lalu dengan senang hati Bik Yam dan Ranum mengerjakan nya. Kini mereka pun memasak bersama pagi itu.
Hari ini Rafka tidak keluar berolahraga seperti biasanya. Karena pagi ini mereka akan berangkat ke sebuah pulau yang telah direkomendasikan Bundanya. Setelah selesai mengenakan pakaian nya. Ia kemudian turun kebawah dan berjalan menuju kearah meja makan. Terlihat disana sarapan pagi sudah tertata dengan rapi. Hari ini Annisa selesai memasak lebih cepat. Itu semua karena ada Bik Yam dan juga Ranum yang membantunya. Sehingga sekarang semuanya selesai dengan cepat.
"Wah, sepertinya enak nih." Ujar Rafka sembari menarik kursi nya.
Melihat kedatangan Rafka. Membuat Annisa kemudian melangkah menghampiri nya.
"Abang sudah siap. Ya sudah sekarang yuk kita sarapan." Ucap nya lembut.
"Tapi kamu sendiri belum siap-siap." Rafka memperhatikan penampilan Annisa.
"Kita sarapan dulu ya Bang. Selesai sarapan Nisa akan langsung keatas untuk bersiap-siap." Ujar nya seraya tersenyum.
"Ya sudah," Rafka akhirnya menuruti saja apa yang di inginkan Annisa. Sehingga kini mereka sarapan bersama pagi itu.
Setelah selesai menyantap makanan mereka. Annisa kemudian berjalan kearah dapur menghampiri Bik Yam dan juga Ranum disana.
"Bik, tolong bereskan makanan yang diatas meja ya. Nisa ingin segera berkemas-kemas untuk berangkat." Ucap nya lembut.
"Baik Non, silahkan." Bik Yam menyahut lembut.
Annisa kemudian melangkah pergi dari sana. Meninggalkan Bik Yam dan juga anaknya. Kini ia berjalan menuju kearah tangga untuk segera sampai di kamar Rafka.
"Bu, emang nya Non Annisa mau kemana ya?" Tanya Ranum penasaran.
"Katanya sih mau ke liburan ke pulau apalah gitu. Ibu juga nggak tahu pasti, pokok nya Non Annisa sama Den Rafka liburan bersama." Jawab Bik Yam sembari menyelesaikan tugas nya.
"Ooh.. enak ya Bu jika jadi orang kaya. Liburan nya di pulau," Ranum mulai membayangkan pulau apa yang akan didatangi oleh majikan nya.
Ranum pun kemudian bangkit dari duduknya dan mulai membantu Ibunya.
Di dalam kamar. Annisa segera berkemas-kemas. Sedangkan Rafka, sembari menunggu Annisa selesai dengan dandanan nya. Ia mulai memainkan game yang ada di ponselnya.
Kini Annisa telah usai bersiap. Ia lalu berjalan menghampiri Rafka yang tengah asyik duduk santai menyenderkan tubuhnya.
"Bang Nisa udah siap," Kini ia telah duduk disamping Rafka. Rafka kemudian memalingkan wajahnya menoleh kearah Annisa.
"Wah-wah.. Istriku cantik sekali," Puji Rafka seraya membentangkan senyum nya.
"Aaaa.. Abang ini apaan sih! Nisa kan jadi malu," sungutnya sembari memalingkan muka.
"Loh, kok malu. Aku kan suamimu," Ujar Rafka mengitari wajah Annisa agar dapat melihat nya. Namun Annisa memutar tubuh nya berusaha menghalangi pandangan Rafka.
Tentu saja Rafka tak kehilangan akal. Kini ia menarik tubuh Annisa hingga jatuh kedalam pelukan nya. Lalu membaliknya hingga kini wajah mereka saling bertatapan satu sama lain.
"Aaaa... ngapain juga sih tadi aku pake acara ngalangin dia menatap wajah ku. Sekarang aku sendiri kan yang menjadi kikuk jika sudah seperti ini.
Seketika jantung Annisa kembali berbar kencang saat Rafka mendekap nya dengan erat. Di tambah lagi saat ini Rafka semakin mendekatkan wajah nya seolah ingin mencium nya. Namu saat jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa senti saja. Tiba-tiba ponsel Rafka berdering menandakan adanya panggilan masuk. Sehingga kini ia melepaskan dekapan nya dari tubuh Annisa.
Diraih nya dengan segera ponsel yang tadi ia letakkan sembarang diatas kasur nya. Lalu ia pun menjawab nya.
"Assalamu'alaikum," Rafka memberikan salam.
"Wa'alaikum salam. Raf, kamu dimana? Apa masih di kamar? Jika ia segeralah turun, karena aku sedang menunggu mu di bawah." Ucap seseorang yang tak lain adalah Dedi sahabat nya
"Ya, sekarang aku akan segera turun kebawah," Sahut Rafka.
Rafka sengaja menyuruh Dedi datang kerumah nya untuk mengantar kepergian mereka ke bandara. Itu semua di karenakan Rafka tidak memiliki sopir pribadi, sehingga kini ia harus menyusahkan Dedi sahabat nya.
"Nis, Dedi udah sampai. Sekarang dia udah ada di bawah nungguin kita, yuk turun," Ucap Rafka seraya berdiri dan berjalan kearah koper yang ingin di bawanya.
"Abang nyuruh kak Dedi untuk mengantar kita?" Tanya Annisa.
"Ya, karena aku tidak memiliki sopir pribadi. Jadi ya mau tidak mau aku harus merepotkan Dedi hari ini." Ujar nya sembari menenteng koper yang ada di kedua tangan nya. Lalu
kini merekapun keluar bersama-sama dari dalam kamar.
Sesampainya di lantai bawah. Terlihat Dedi yang sedang duduk diatas sofa sembari menikmati teh disana. Tadi Bik Yam yang menyambut kedatangan Dedi, sehingga ia lalu membuatkan teh untuk tamu nya itu.
Rafka lalu berjalan menuju kearah Dedi.
"Udah siap ngeteh nya?" Tanya nya yang kini sudah berdiri disamping sofa tempat Dedi duduk.
"Udah, nih baru aja siap," Sahut Dedi.
"Hmm, kalau gitu kamu bawain barang-barang yang ada ditangan Annisa. Kasihan dia terlihat kelelahan dengan itu semua." Ucap Rafka seraya menunjuk kearah Annisa yang juga sedang menenteng sebuah tas berukuran sedang.
"Ya ya ya,"
Dedi kemudian berjalan menuju kearah Annisa untuk mengambil tasnya.
"Hai Nisa selamat pagi.." Sapa Dedi hangat.
"Pagi juga kak," balas Annisa sembari tersenyum ramah.
"Cie-cie, akhirnya kalian pergi berbulan madu juga niye.." Goda Dedi sembari mengedarkan pandangan kearah keduanya.
"Kak Dedi! Apaan sih!" Wajah Annisa seketika memerah saat mendengar godaan yang keluar dari mulut Dedi.
"Kamu kenapa Nis? Malu?" Dedi menatap wajah Annisa yang mulai memerah.
"Enggak kok, siapa bilang." Annisa memalingkan wajahnya tak berani menatap kearah Dedi.
"Wajahmu merah seketika Nis, haha." Goda nya kembali sembari tertawa kecil.
"Itu mungkin cuma perasaan kak Dedi saja. Nisa mana ada seperti itu," Sanggah Annisa.
Kini ia berjalan lebih cepat menuju kearah depan setelah tas yang dibawanya ia serahkan kepada Dedi dan meninggalkan Dedi dan Rafka disana.
"Haha, pengantinmu Raf polos sekali," Serunya sembari tertawa riang.
"Udah.. sudah selesai tertawanya. Sekarang bantuin aku bawain barang-barang ini semua." Rafka menyerahkan semua barang-barang yang di bawanya kepada Dedi.
"Loh, kok jadi aku yang bawa semuanya Raf?" Protes Dedi, karena kini semua barang sudah ditumpuk kepadanya.
"Itu hukuman untukmu karena sudah berani menggoda pengantin ku." Ucap Rafka sembari meninggalkan Dedi bersama barang-barang nya.
"Ya tuhan.. kenapa nasib jomblo selalu gini ya. Ngeness.." Lirih Dedi seraya menggaruk kepalanya.
BERSAMBUNG