Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 23


" Kamu kenapa Nis?" Dedi menatap heran, melihat air mata yang tiba-tiba saja jatuh dari pelupuk mata Annisa.


" Oh.. enggak apa-apa kak, mata Nisa cuma kelilipan aja." Sanggah nya seraya menyapu air mata yang mengalir di pipi nya.


"Ya sudah kalu gitu, yuk kita jalan lagi." Ucap Annisa.


Mereka pun kembali berjalan meninggalkan supermarket tersebut. Kini mereka sudah ada diluar.


Dedi masih merasa aneh dengan kejadian tadi. Sebenar nya apa yang membuat Annisa sampai mengeluarkan air mata begitu, apa yang di lihat nya tadi hingga ia bersedih.


Begitu pikir Dedi dalam hati. Namun ia tak berani menanyakan nya lagi. Karena jika firasat nya benar, maka ia akan membuat Annisa kembali bersedih dan Dedi tidak mau itu.


"Kamu kesini tadi naik apa?" Tanya Dedi.


"Nisa naik taksi kak." Jawab Annisa tersenyum.


"Kalau gitu kamu pulang nya naik mobil aku aja ya. Karena aku akan mentraktirmu, jadi nggak masalah kan kalau kita bareng." Ucap Dedi lagi.


Annisa terdiam.


Ia tampak menimbang-nimbang penawaran Dedi terhadap nya.


"Cafe nya dekat kok, ada di ujung sana." Dedi menunjuk ke ujung jalan.


Merasa tidak jauh, akhir nya Annisa bersedia masuk dan naik kedalam mobil Dedi dan duduk didalam nya. Seperti biasa ia memilih untuk duduk di kursi belakang mobil.


Dedi yang sudah duduk di kursi kemudi nya menatap Annisa melalui kaca spion depan seraya tersenyum.


Ia kemudian menjalankan mobil nya meninggalkan supermarket tersebut.


***


"Kamu pesan apa Nis?" Tanya Dedi saat pelayan datang dan memberikan buku menu kepada mereka.


" Lemon tea aja Kak pake es." Ucap nya.


"Ternyata minuman kesukaan nya masih tetap sama seperti dulu.


Dedi kemudian memesan satu Lemon Tea dan satu Green tea untuk nya. Tak lupa sedikit camilan juga di pesan nya.


Ia juga menyerahkan kembali buku menu itu kepada pelayan Cafe. Setelah mencatat pesanan mereka pelayan itu pun pergi untuk menyiapkan pesanan nya.


Annisa duduk berhadapan dengan Dedi. Ia tak mengeluarkan sepatah kata pun. Seperti nya Annisa masih sedikit canggung saat ini.


" Ekhm.." Dedi mencoba kembali mencairkan suasana.


"Nis, kamu lagi mikirin apa sih?" Ucap nya sembarang memulai percakapan.


" Ah, enggak kok Kak." Jawab Annisa sedikit terkejut.


Dedi menatap serius kearah nya. Ia mencoba mendalami ekspresi wajah yang di tunjukkan Annisa dan seperti nya, analisa nya menyatakan jika saat ini Annisa memang sedang memikirkan kan sesuatu.


"Terus kok kamu diam aja sih," Ucap Dedi. Sehingga membuat Annisa tersenyum.


"Oya Nis, kamu kenal sama suami mu dimana?" Tanya Dedi. Kali ini ia menanyakan hal lain. Mungkin saja Annisq tertarik untuk membahasnya. Sehingga dapat mengusir kecanggungan diantara mereka.


"Kami di jodoh kan Kak." Jawab Annisa singkat.


"Di jodohkan oleh kedua orang tua kalian maksud mu?" Tanya adedi penuh selidik.


"Iya Kak," Jawab nya lagi singkat.


"Coba aja ya.. di jodohin nya sama aku, pasti aku bahagia sekali sekarang bisa mempunyai istri seperti mu.." Ucap Dedi dengan senyum hangat.


"Kak Dedi bisa aja, masih banyak wanita cantik dan sholeha di luar sana yang mau menjadi pendamping Kakak.." Ujar nya lembut.


Dedi tersenyum menanggapi ucapan Annisa.


"Hmm.. ngomong-ngomong siapa sih pria yang beruntung itu yang telah berhasil menikahi wanita secantik kamu." Ucap Dedi sedikit menggoda. Ia penasaran dengan sosok lelaki yang menikahi Annisa.


"Dia anak nya Ustad Mulana Kak, namanya Rafka." Jawab Annisa.


Deg


"Rafka?


Dedi menatap serius ke arah aannisa. Ia ingin kembali bertanya sekaligus memastikan apakah Rafka yang di maksud adalah sahabat nya.


"Apa Rafka suami mu lulusan kairi


mesir?" Tanya Dedi memastikan.


"Iya kak, tapi kok Kak Dedi bisa tau?" Annisa mengerutkan dahi nya, bagaimana Dedi bisa tau pikir nya.


Dedi lalu merogoh ponsel nya di saku celana. Ia kemudian mengeluarkan nya ponselnya dan memainkan nya, seperti mencari sesuatu di sana.


"Apakah pria ini yang menikah dengan mu?" Tanya Dedi seraya menunjukkan gambar ponsel yang sedari tadi di cari nya. Ia menunjukkan gambar tersebut karena ingin memastikan apakah itu benar kalau sahabat nya yang sudah menikahi gadis yang berada di depan nya saat ini.


Annisa melihat dengan jelas dan kemudian mengangguk pelan.


"Benar kak, tapi bagaimana gambar nya bisa ada di ponsel Kakak?" Tanya annisa heran. Ia juga penasaran, apa sebenar nya hubungan pria yang sekarang ada di hadapan nya dengan suami nya tersebut.


"Dia sahabat ku." Ucap Dedi sedikit kesal.


Dedi kesal karena ternyata pria yang menikahi Annisa adalah Rafka sahabat nya yang sama sekali tak mencintai nya. Bahkan mungkin sekarang ia juga telah kembali lagi bersama kekasih nya itu. Dedi menghela nafas nya mengatur emosi nya agar tak tampak di hadapan Annisa.


"Apa kamu bahagia Nis?" Tanya Dedi.


"Insya Allah Kak, Nisa bahagia." Menjawab seraya menunduk.


"Meskipun aku tidak bahagia. Tidak mungkin aku menceritakan nya padamu Kak.


"Nis, kamu yakin dia mencintaimu?" Tanya Dedi yang membuat Annisa tertegun. Bagaimana bisa pria di hadapan nya ini bisa melontarkan pertanyaan seperti itu kepada nya.


"Suami nisa pasti mencintai Nisa Kak. Nisa percaya itu. Meskipun kami di jodoh kan dan menikah tanpa rasa cinta, Nisa percaya suatu saat nanti suami Nisa akan mencintai Nisa sepenuh hati nya." Ucap Annisa berusaha meyakinkan Dedi.


"Meskipun saat ini terlihat mustahil. Tapi Nisa yakin jika Nisa pasti bisa mendapatkan cinta dari suami Nisa.


"Apa kamu yakin?" Dedi mencoba memastikan karena sesungguhnya nya Dedi tau kalau sahabat nya itu sudah mempunyai kekasih di luar sana.


"Insya allah Kak.." Jawab Annisa lembut.


"Kasihan sekali kamu Nis, padahal jelas-jelas Rafka sama sekali tidak mencintaimu. Tapi kamu masih saja menutupinya dariku.


Saat mereka hanyut dalam fikiran masing-masing. Tiba-tiba saja pelayan Cafe datang membawakan


pesanan yang mereka inginkan. Pelayan itu langsung menyajikan nya di atas meja dan kemudian berlalu pergi setelah pekerjaan nya selesai.


Dedi pun mengambil inisiatif untuk mengalihkan pembicaraan yang mungkin tadi menurut nya membuat Annisa sedikit sedih.


"Eh.. pesanan kita udah nyampe nih! Yuk di minum, kata nya haus.." Ucap Dedi menawarkan minuman nya.


"Iya kak.." Jawab Annisa. Ia pun mulai meraih gelas yang ada di depan nya dan kemudian meminum-minuman nya.


"Hmm, seger Kak.." Ucap Annisa setelah meneguk minuman nya.


"Kamu haus banget ya," Tatap Dedi lembut.


"Lumayan Kak, hehehe.." Sahut Annisa.


"Hmm, mau pesan minuman lagi? biar aku panggil kan pelayan nya." Tawar Dedi.


"Jangan Kak, udah cukup kok.." Ucap nya, ia tak mau kalau Dedi sampai memanggil pelayan lagi hanya untuk memesan minuman nya untuk yang kedua kali nya. Ia akan sangat malu karena itu.


" Kenapa, kamu malu? Ya sudah, kalau gitu minum saja punya ku." Dedi menyodorkan gelas nya kearah Annisa.


Annisa tersipu malu, wajah nya kembali merona saat Dedi menyodorkan gelas nya ke arah nya.


"Nggak usah Kak, Nisa udah cukup kok," menunduk malu.


Dedi pun tersenyum menatapi Annisa dengan wajah yang merona sambil sedikit menunduk menahan malu nya.


BEESAMBUNG