
Didalam kamar ia membaringkan tubuh nya. Dengan menaruh kedua telapak tangan nya dibawah kepala bagian belakang. Kini pikiran dan juga hatinya mulai bergelut satu sama lain. Hati Rafka jujur saat ini sangat menginginkan Annisa. Sedangkan pikiran nya terlalu gengsi untuk mengakui semua nya.
Rafka mulai membolak-balikkan badannya kesana-kemari. Berharap bisa meredakan sedikit akan kegundahan hatinya karena memikirkan Annisa. Namun sepertinya semua itu sia-sia. Kini Rafka pun mulai bangkit dari tidur nya dan langsung meraih ponsel yang tadi nya ia letakkan diatas meja disamping sekotak coklat yang di belinya.
Entah mengapa jika saat ini ia sama sekali tak mampu lagi menahan dirinya untuk segera bertemu dengan Annisa. Sehingga kini ia menuruti kata hatinya untuk segera menelfon Annisa daj menyuruh nya pulang sekarang.
"Tut . . tut . . tut . .
Panggilan tersambung.
Namun lagi-lagi Annisa tak menjawabnya.
Rafka tak patah semangat, ia mencoba kembali untuk menghubungi Annisa. Hingga panggilan yang ketiga akhirnya Annisa pun menjawab nya.
"Assalamu'alaikum." Ucap Annisa di balik ponsel.
Annisa mengerutkan sedikit dahinya saat menjawab panggilan tersebut. Karena ia tak tahu jika itu adalah Rafka. Mungkin juga jika ia tahu itu Rafka maka akan kembali membingungkan untuknya. Karena selama ini mereka kan tidak pernah saling bertukar nomor ponsel. Jadi darimana Rafka tahu.
"Wa'alaikum salam. ." Sahut Rafka seraya mengusap pelan dadanya.
"Alhamdulillah Nis, akhirnya kamu mengangkat juga panggilan dariku." Ucapnya kembali.
Seperti yang aku bilang tadi. Annisa kini semakin mengerutkan dahinya saat mendengar suara Rafka yang kini berada di balik panggilan tersebut. Ya . . meskipun mereka tak pernah berkomunikasi via telepon. Tapi ia paham betul bagaimana nada suara dari suaminya itu.
"Abang . ." Ucap Annisa bingung.
"Ya Nis, ini aku, Rafka suami mu." Sahut Rafka yang begitu senang saat Annisa menjawab panggilan nya.
"Ada apa Abang menelfon Nisa? Apakah ada sesuatu yang penting?" Tanya Annisa yang masih merasa bingung. Karena ini tidak seperti biasanya Rafka bersikap seperti itu kepadanya.
"Kamu sedang berada dimana sekarang?" Tanya Rafka.
"Nisa sedang berada di toko kue sekarang. Yang berpusat di salah satu mall terbesar di kota ini." Jawab Annisa menjelaskan secara rinci posisi nya saat ini.
"Ada perlu apa ya Bang?" Tanya nya lagi.
"Pulang lah sekarang. Karena ada sesuatu yang sangat penting yang ingin aku sampaikan kepadamu. Aku menunggu mu sekarang dirumah." Ucap Rafka.
"Baiklah, jika seperti itu. Nisa akan segera pulang kerumah sekarang! Assalamu'alaikum." Ujar Annisa yang mulai cemas dengan keadaan Rafka. Karena selama ini Rafka tak pernah pulang se awal ini dari restoran nya. Apakah Rafka sakit? Begitu pikirnya dalam hati.
Ia kemudian bergegas untuk segera pulang kerumah. Meninggalkan serta menyerahkan segala pekerjaan nya yang menumpuk kepada Ani salah satu pegawai kepercayaan nya di toko kue tersebut. Meskipun saat ini Ani sendiri sedang kewalahan melayani para pengunjung yang datang untuk membeli kue nya. Namun mau tak mau Annisa harus segera pergi meninggalkan tokonya.
"Ani, maaf ya, kali ini Mba ngerepotin kamu lagi. Soalnya sekarang ini Mbak lagi ada urusan mendadak yang harus segera Mbak tangani. Kamu urus semuanya disini ya, Mba percaya padamu." Ucap Annisa.
"Iya Mba, nggak apa-apa. Pergilah, Insya Allah Ani akan mengurus semua nya disini dengan baik." Ucap Ani lembut.
Wanita manis bertubuh gempal itu bernama lengkap Riani, atau biasa disapa Ani. Sudah bekerja di toko kue selama hampir tiga tahun. Ani pegawai yang sangat rajin, ia juga sangat gesit dalam melakukan berbagai hal dan ia pun salah satu pegawai Annisa yang sangat jujur. Maka dari itu Annisa sangat percaya kepada Ani untuk mengelola salah satu cabang toko kue nya itu.
"Terima kasih ya Ani." Ucap Annisa seraya tersenyum lembut.
"Sama-sama Mbak." Jawab Ani seraya membalas senyum dari bos nya itu.
"Taksi!!" Serunya, seraya melambaikan tangan nya kearah taksi tersebut.
Taksi itupun kemudian berhenti tepat dihadapan Annisa, dan tanpa ingin berlama-lama ia pun segera naik kesana.
"Pak, ke komplek perumahan XX yang ada di pusat kota ya." Ucap Annisa kepada sopir taksi tersebut.
"Baik Mbak," Sahut sang Sopir.
Taksi pun kemudian melaju kearah yang dituju Annisa dengan kecepatan sedang.
***
Sementara itu dirumah.
Rafka tak hentinya tersenyum menatap kearah coklat yang di belinya tadi. Hatinya sungguh gembira mana kala mendengar Annisa akan segera pulang kerumah. Layak nya seseorang yang sedang kasmaran.
Rafka pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya dan tak lama kemudian ia kembali keluar dengan memakai handuk yang ia lilitkan di pinggang nya.
Rafka kemudian berjalan kearah lemari, mengambil setelan pakaian santai disana. Lalu ia pun mengenakan nya dan setelah itu ia melangkah mendekat kearah cermin.
Di tatap nya wajah nya. Apakah saat ini ada yang kurang disana. Tidak ada, karena Rafka tipe pria yang sangat percaya diri dengan penampilan nya. Ia pun kini segera bergegas turun kebawah dan menunggu Annisa diruang keluarga.
Sementara itu. Taksi yang di tumpangi Annisa akhirnya sampai di kediaman Rafka. Tanpa menunggu lama, ia pun segera keluar dari sana setelah sebelumnya membayar ongkos taksinya terlebih dahulu.
Melihat kedatangan Nyonya nya. Pak Sofyan yang sedang duduk bersantai segera bangkit untuk membuka pintu gerbang nya.
"Terima kasih Pak." Ucap Annisa kepada Pak Sofyan.
Tanpa menunggu jawaban dari Pak Sofyan. Annisa pun segera masuk kedalam rumah nya. Setelah sebelumnya ia melihat ada mobil Rafka yang terparkir didepan garasi nya.
"Ada apa ya dengan Abang? Apakah di baik-baik saja, ataukah saat ini ia sedang sakit maka dari itu hari ini ia pulang lebih awal.
Gumam Annisa.
Ia pun kemudian bergegas berjalan menuju kearah tangga. Namun saat melewati ruang keluarga, dilihat nya disana Rafka sedang duduk bersantai sambil menonton acara tolkshow di televisi.
"Abang!!" Ucap nya begitu melihat Rafka disana.
Ia kemudian berjalan kearah Rafka dengan cepat. Sedangkan kini Rafka pun dengan reflek mulai bangkit dari duduk nya dan menatap kearah Annisa.
Setibanya Annisa di depan Rafka. Tiba-tiba saja tubuh Rafka lagi-lagi secara reflek memeluk Annisa yang saat ini berdiri tepat di hadapan nya.
"Deg . . .
Jantung keduanya berdetak dengan sangat cepat. Rafka dapat merasakan debaran jantung Annisa saat ini. Begitupun dengan Annisa yang saat ini juga mulai merasakan debaran jantung Rafka. Karena saat ini tidak ada jarak sama sekali diantara mereka.
BERSAMBUNG