
“ Maya!”
Terdengar seorang lelaki memanggil nama Maya sehingga membuat gadis itu yang saat ini tengah berbaring diatas ranjang nya menoleh kearah nya.
“ Fery!”
Seketika Maya bangkit dari ranjang dan berhambur pergi kearah Fery.
“ Fer, tolong aku! Keluarkan aku dari sini!” Pinta Maya
dengan wajah memohon.
Terlihat sekali saat ini gadis itu begitu stress berada disana, dan ingin segera bisa keluar dari sangkar yang berbentuk istana itu.
“ Tenanglah May, sekarang mari kita duduk dulu disana.”
Ajak Fery sembari menuntun tubuh Adik sepupunya itu. Maya menurut, ia kini mengikuti kemana Fery membawanya.
Setibanya disana disebuah sofa yang berukuran besar yang ada dialam kamar tersebut. Kini Fery dan Maya pun mulai duduk dengan saling bertatapana muka.
“ Bagaimana keadaan mu? Apa kau baik-baik saja?”
“ Aku baik-baik saja, tapi mentalku tidak.” Kata Maya.
“ Maksudmu?” Fery mengerutkan dahinya.
“ Aku..”
Haruskah aku menceritakan padanya jika kesucianku telah direnggut oleh lelaki berengsek itu. Bahkan kini dia mengurungku disini.
Gumam Maya.
“ Kau kenapa? Katakanlah, apa Reno menyakitimu?”
Fery terlihat begitu penasaran dengan kalimat Maya yang tak dilanjutkan. Sedangkan Maya, ia juga mulai mengerutkan daahinya tatkala mendengar Fery yang menyebutkan nama Reno barusan.
Tunggu-tunggu, bagaimana Fery bisa menyebut nama Reno. Bukankah setahuku selama ini mereka sama sekali tidak kenal satu sama lain. Terus sekarang, bagaimana juga ia bisa sampai kemari?
Maya dirundung rasa penasaran.
“ Kau, bagaimana bisa berada disini?” Tanya Maya penuh selidik. “ Apa kau dan Reno saling kenal?”
Fery memalingkan muka.
“ Ya, dan sekarang aku akan menikahkan kau dengan nya.” Sahut Fery dengan nada dingin.
Apa! Apa Fery sudah tidak waras!
Gerutu Maya.
“ Apa yang kau bilang? Apa kau sadar dengan kalimat mu itu!” Pekik Maya merasa tak senang dengan kalimat yang baru saja di lontarkan Fery kepadanya.
“ Ya, aku serius!” Sahut Fery.
Kini Fery juga mulai beralih lagi menatap wajah Maya dan mengatakan.
“ Bukankah kalian berdua sudah pernah tidur bersama, jadi mau tidak mau aku harus menikahkan kau dan dia. Itu semua demi kebaikan mu.” Kata Fery sembari menggengam erat kedua bahu Maya.
Deg.
Jantung Maya seketika berdegup kencang.
Bagaimana ia tahu akan hal itu semua? Apakah Reno yang menceritakan nya. Dasar pria berengsek!
Umpat nya.
“ Kenapa tidak! Ini aib May, bagaimana jika sampai kau hamil? Bukankah itu akan menjadi hal yang sangat memalukan hamil tanpa adanya seorang suami disamping mu.” Tegas Fery. “ Dan juga, jika Ibumu sampai tahu
dengan kejadian ini semua. Bisa celaka dia!” Tambah Fery.
“ Jangan beri tahu Ibuku, bisakan? Kita jaga rahasia ini.” Suara Maya terdengar melemah.
“ Aku bisa, tapi Reno tidak. Dia berkata akan membeberkan hal itu semua jika aku tak menikahkanmu dengan nya.” Ucap Fery.
Maya terdiam, bulir-bulir air mata perlahan jatuh mengalir di wajahnya. Air matanya tumpah tak sanggup menahan beban masalah yang menimpa dirinya. Setelah ia merasa di campakkan oleh Rafka. Kini ia harus menikahi pria
yang sama sekali tak dicintainya, bahkan pria itu juga telah merenggut kehormatan nya.
Fery tak tega melihatnya. Diraihnya bahu Maya lalu di peluk olehnya. Berusa menenangkan sepupu yang sudah dianggap sebagai Adik kandung nya sendiri itu.
Maafkan aku May, karena telah berbohong kepadamu. Aku harus melakukan ini semua agar bisa membatasi ruang gerak mu. Serta ide-ide gilamu yang terus ingin kembali lagi bersama Rafka.
Gumam Fery.
***
Sore harinya sekitar pukul 15:13 Wib.
Rafka dan Annisa kini mengunjungi salah satu rumah sakit terbesar di kotanya. Hal itu bertujuan untuk mengecek kembali bagaimana kondisi rahim Annisa saat ini. Memenuhi hasrat Annisa yang ingin mendengar sendiri dari sang Dokter perihal rahim nya.
“ Bagaimana Dok hasilnya?” Tanya Rafka.
Saat ini Rafka dan Annisa duduk secara berdampingan didalam ruangan Dokter rumah sakit itu.
Oya, Dokter itu bernama Siska.
“ Hasilnya tidak ada masalah. Rahim Nona Annisa baik-baik saja.” Kata Dokter Siska sembari menyerahkan secarik kertas hasil pemeriksaan nya.
Rafka mengambil kertas itu dan menyerahkannya kepada Annisa. Agar dibaca sendiri oleh istrinya.
“ Alhamdulillah.” Ucap Annisa.
“ Kamu dengar sendiri kan, tidak ada masalah apapun di rahim mu.” Kata Rafka.
“ Iya Bang, sekarang Nisa sudah bisa tenang.” Ujar Annisa.
“ Rahim Nona Annisa sangat subur. Insya Allah jika kalian terus berusaha maka kalian akan segera mendapatkan hasil yang positif.” Kata Dokter Siska sembari tersenyum.
“ Iya Dok, setelah haid istri saya selesai. Saya sebagai suaminya pasti akan berusaha lebih keras lagi.” Balas Rafka membuat Annisa yang berada disamping nya dengan reflek mencubit kecil pinggang nya.
“ Issh.”
Rafka mengerutkan kening nya menahan sakit karena cubita Annisa. Namun ia berusaha tetap tersenyum didepan Dokter Siska.
“ Terimakasih banyak ya Dok, kami pamit dulu.” Ucap Annisa.
Annisa lalu menarik tangan Rafka untuk segera berdiri dari duduk nya. Lalu dengan langkah yang beriringan mereka kini pergi meninggalkan ruangan Dokter Siska.
Jarang sekali melihat anak muda jaman sekarang yang seperti ini. Jika pasangan muda lainnya kebanyakan ingin menunda kehamilan mereka. Tapi mereka malah ingin segera memiliki bayi, sungguh salut sama pasangan muda
seperti ini.
Gumam Dokter Siska.
BERSAMBUNG