Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 81


Maya sedang berjalan-jalan di pinggir pantai. Hari ini ia baru saja tiba di pulau XX tersebut. Lalu tanpa membuang-buang waktu ia langsung mencari keberadaan Rafka dan Annisa dari satu penginapan ke penginapan yang lainnya. Namun tak kunjung juga ia menemukan nya. Sore itu Maya sudah lelah dan hampir putus asa karena tak juga menemui dimana Rafka dan Annisa berada. Padahal sudah jelas ia mendengar dari Pak Sofyan jika Rafka dan Annisa sedang berlibur disana. Ya, setelah pulang dari kediaman Rafka. Sore harinya ia kembali lagi menanyakan Rafka kepada Pak Sofyan dengan lebih akurat. Kebetulan Pak Sofyan yang telah mengingat dimana letak pulau yang akan Rafka kunjungi. Maka dengan polos ia memberitahukan nya kepada Maya.


" Mas Rafka," Ucap seseorang sehingga menghentikan Rafka yang ingin mendaratkan ciuman nya kepada Annisa. Ia lalu menoleh kearah suara tersebut dan melihat sosok yang sangat tak asing baginya.


" Maya," Lirih nya.


Saat ini Maya berdiri tepat diantara keduanya. Ia terlihat mengerutkan dahinya dan juga mengepalkan tangan nya. Namun sesaat kemudian raut wajah nya berubah seketika berganti dengan keceriaan yang ia tunjukkan.


" Hai Mas, hai Nisa." Sapa nya sembari melambaikan tangan nya kearah keduanya. Tak lupa juga senyum ceria ia tunjukkan saat ini. Seolah-olah ia sama sekali tak keberatan dengan kedekatan Rafka dan Annisa.


"Hai May," Balas Annisa. Ia juga tersenyum kearah Maya.


"Kebetulan sekali bisa bertemu kalian disini," Ujar Maya seraya membalas senyum Annisa.


"Sedang apa kau disini." Ketus Rafka. Ia lalu memalingkan wajah nya kearah Annisa yang masih disamping nya. "Sayang, nanti kita sambung lagi ya di Vila." Bisik nya lembut.


"Bisa-bisanya kamu Mas bersikap seperti ini didepan ku.


"Aku sedang liburan di pulau ini. Kebetulan sekali ya bisa bertemu dengan kalian," Ucap Maya. "Oh ya, kalian berdua kenapa bisa ada disini juga?" Tanya nya kembali.


"Kami sedang berbulan madu disini," Rafka menatap dingin kearah Maya.


"Bulan madu, heh, lihat saja jika kalian bisa!


" Kelihatan nya kedatangan ku kurang tepat ya." Maya kembali memasang senyum palsu.


"Ya, kamu benar. Maka dari itu pergilah sekarang juga." Ketus Rafka.


Mendengar jawaban Rafka membuat Maya tak punya pilihan. Mau tak mau kini ia harus pergi dari sana, meninggalkan orang yang dicintai nya bersama wanita lain. Namun ketika ia mulai melangkahkan kakinya.


"Tuan Rafka, Nona Annisa, mari makan." Ucap Fikar. Kini ia tiba dengan membawa dua porsi Mie Instan yang dimasak oleh sang pemilik warung. Mie Instan dengan campuran udang dan cumi membuat siapa pun yang melihat nya tak akan tahan jika tidak menyantap nya.


"Hey, kamu Fikar kan!" Maya tak jadi melangkahkan kakinya ketika melihat sosok yang di kenal nya.


Fikar mengerutkan dahinya saat menatap kearah Maya. Ia berusaha mengingat-ingat tentang sosok gadis yang saat ini ada dihadapan nya.


"Fikar, aku Maya." Ucap Maya.


Ia berusaha mengingatkan Fikar saat ini tentang dirinya.


"Maya, " Fikar berusaha terus mengingat.


"Ya, Maya. Adik kelasmu saat duduk di bangku SMA yang ada dikota S." Maya kembali berusaha mengembalikan ingatan Fikar saat masa SMA dulu.


"Maya! Kamu benaran Maya?"


Ekspresi Fikar seolah tak yakin. Itu semua karena penampilan Maya yang saat ini sangat berbeda. Jika dulunya Maya selalu berpenampilan terbuka dan menarik. Namun saat ini Maya berdiri disana dengan balutan gamis dan juga hijab yang menutupi kepalanya. Sebenarnya ia juga tidak mau berpenampilan seperti itu, namun karena ingin menghormati adat istiadat masyarakat yang ada di pulau itu. Mau tidak mau ia harus memakainya.


"Maaf May, aku hampir saja tidak mengenalimu. Mungkin karena penampilan mu saat ini yang menggunakan hijab." Ucap Fikar. Ia lalu tersenyum kearah Maya.


Sedangkan Annisa dan Rafka menatap bingung kearah mereka. Lalu ditengah percakapan itu, Ainun dan Rani tiba disana dengan membawakan tiga porsi Mie Instan dan juga beberapa gelas Es Teh ditangan nya yang ditaruh diatas nampan.


"Ainun, sini biar Abang yang bantu." Ucap Rafka. Tak lupa senyum manis juga ia lemparkan kearah Ainun si gadis desa.


"Rani, Nisa bantu ya." Hati Annisa juga tergerak untuk membantu Rani yang sudah dengan susah payahnya membawakan itu semua untuk mereka.


"Makasih ya Kak," Ucap Rani.


Sedangkan Ainun hanya tersenyum malu kepada Fikar.


"Ainun, kenalkan ini Maya teman SMA Kakak dulu sewaktu bersekolah di kota S." Ujar nya memperkenalkan Maya kepada Ainun. Sepertinya Fikar sangat menjaga perasaan gadis tersebut. Sehingga membuat Annisa menaruh gelagat curiga terhadapnya.


"Hai Ainun, aku Maya. Dulu itu Fikar sangat mengidolakan ku, tapi jika sekarang nggak tau deh." Ucap Maya.


Ia memperkenalkan dirinya kepada Ainun sembari melirik kearah Fikar dan melemparkan senyum nya. Namun sepertinya Fikar merasa risih terhadap pernyataan Maya barusan. Yang mengatakan nya pernah mengidolakan Maya. Meskipun itu benar, namun tampak nya ia khawatir jika Ainun tersinggung dengan itu.


"Hai Mba, saya Ainun."


Gadis itu mengatupkan kedua tangan nya seraya tersenyum kearah Maya.


"Hai Mba Maya. Perkenalkan saya Rani teman nya Ainun yang saat ini tengah di gila-i oleh kak Fikar yang berusaha mendapatkan hatinya." Ucap Rani. Ia tampak kurang senang saat melihat Maya yang memperkenalkan dirinya seperti itu. Sehingga membuatnya mengeluarkan kalimat yang baru saja diucapkan nya.


"Rani, jangan gitu." Bisik Ainun seraya menyenggol bahunya. Sepertinya ia tampak risih saat Rani mengucapkan kalimat itu. Sedangkan Fikar, wajahnya tampak memerah diantara semuanya.


Annisa tersenyum kearah Fikar. Ia seperti tau apa yang sedang terjadi saat ini. Sehingga kini Annisa mencari ide agar Fikar bisa terbebas dari semua ini.


"Oya, yuk makan. Kalo sudah dingin Mie nya kan bisa nggak enak lagi." Ucap nya seraya mengambil porsinya dan juga Rafka.


"Maya, kamu juga makan ya. Nih buat kamu," Annisa menyerahkan porsinya kepada Maya.


"Loh Nis, Kenapa kamu ngasih porsi mu ke Maya. Biarkan saja dia memesan sendiri jika dia mau." Rafka tampak protes.


"Nggak apa-apa Bang. Kan Nisa bisa makan sepiring berdua dengan Abang. Atau jangan-jangan Abang tidak ingin berbagi dengan Nisa ya?" Ucap Annisa seraya melipat kedua tangan nya didada.


"Sudahlah Nis, ambil saja punyamu. Aku bisa memesan yang lain jika aku mau." Maya berusaha menyerahkan kembali porsi Annisa.


"Jangan menolak. Makan saja punyamu, karena Nisa akan makan sepiring berdua bersama ku." Ketus Rafka. Sehingga membuat Maya tak bisa berkata apa-apa. Sedangkan Fikar bersama yang lainnya. Kini sedang menikmati makanan mereka di bawah rindang nya pohon diujung sana.


"Sial! Situasi macam apa ini. Maksud hati ingin mengacaukan semuanya. Namun sekarang malah aku yang harus melihat adegan romantis mereka secara langsung.


Maya kini mengerutkan dahinya saat melihat Rafka menyuapi Annisa di hadapan nya tanpa rasa canggung.


BERSAMBUNG