Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 110


“ Assalamu’alaikum Bu!” Annisa memberi salam seraya masuk kedalam rumah orang tuanya. Lalu dengan sangat


bersemangat ia menyusuri rumah tersebut hingga kearah belakang. Karena ia tak menemui Ibunya disana. “ Ibu!” Serunya saat mendapati sang Ibu yang tengah menyeduh teh hangat disana.


“ Nisa!” Ibu terlihat begitu terkejut saat melihat kedatangan putri pertamanya itu. “ Kapan kamu pulang Nak? Bukankah seharusnya bulan madumu usai seminggu lagi?” Tanya Ibu seraya menghampiri putrinya.


“ Ibu, Nisa kangen.” Annisa memeluk tubuh gempal milik Ibunya.


“ Iya, sama Nak. Ibu juga kangen sekali sama kamu.” Balas Ibu yang kini mengusap lembut kepala Annisa.


“ Bagaimana bulan madu mu? Apakah berjalan dengan lancar? “ Tanya Ibu.


“ Alhamdulillah Bu, semuanya lancar. Bahkan sekarang hubungan Nisa dan Bang Rafka semakin dekat.” Ujar


Annisa.


“ Alhamdulillah Nak, Ibu jadi ikut senang mendengar nya.” Ucap Ibu. “ Oya, mana mantu Ibu? Katanya kalian


semakin dekat. Berarti dia juga dating kemari bersamamu kan?”


“ Iya Bu, Abang sedang duduk di teras.”


“ Loh, kok disuruh duduk diluar sih? Kenapa nggak diajak masuk kedalam?” Tanya Ibu seraya mengerutkan dahinya.


“ Tadi Nisa udah ajak. Tapi Abang katanya mau duduk diteras dulu, adem katanya.” Ucap Annisa. “ Oya Bu, Ayah


mana? Kok nggak kelihatan?” Tanya Annisa seraya melirik ke sekitar.


“ Ayah mu ada didalam kamar nya. Beberapa hari ini Ayahmu kurang sehat Nak, nih Ibu lagi buatin teh buat Ayah.”


Ibu melirik kearah kearah gelas teh yang sedang di buatnya.


“ Ayah sakit? Sakit apa? Kenapa tidak ada yang memberitahu Nisa? Winda juga, padahal kemarin kita menghabiskan waktu hampir seharian bersama!” Seru Annisa.


“ Oya, benarkah? Hmm, gadis itu bahkan tidak mengatakan apapun kepada Ibu.” Ibu menggelengkan kepalanya


mengingat akan sikap Winda yang terkesan begitu cuek dalam menyikapi hal apapun. “ Ya sudah, sekarang kamu kembali lah kedepan, Ibu akan membawakan teh untuk Ayahmu dulu dan memberitahukan jika kalian ada disini sekarang.” Ucap Ibu.


“ Biar Nisa saja Bu!” Seru Annisa. Ia lalu mengambil gelas teh yang ada di tangan Ibunya. “ Ibu temani Abang saja ya.” Ujar nya seraya berlalu pergi menuju kekamar ayahnya.


“ Hmm, baiklah.” Ibu menhela nafas panjang. Setelah itu ia pun berlalu pergi meninggalkan dapur dan menuju kearah depan untuk menemui menantu nya disana.


Di teras.


Rafka duduk dengan santai sembari menikmati sejuk nya angina sepoi-sepoi yang berhembus siang itu. Di halaman rumah Annisa yang sederhana. Disana ia melihat begitu banyak tanaman bunga yang indah dengan


warna-warni yang berbeda. Terlihat sekali jika bunga-bunga itu dirawat dengan telaten oleh sang pemiik rumah.


Disana, tepat nya disebelah kiri halaman. Ada dua buah pohon berdiri kokoh menghiasi halaman rumah. Ada pohon mangga dan juga pohon jambu. Mereka tumbuh secara berdampingan disana, sehingga membuat teras rumah Ibunya Annisa menjadi sejuk ketika matahari sedang menanjak keatas.


Gumam Rafka seraya tersenyum.


Sehingga tak menyadari akan kehadiran sang mertuaa yang kini sudah berada disamping nya.


“ Ehm,”


Rafka tersentak dalam duduknya. Ia lalu menoleh keearah samping dimana asal suara itu datang.


“ Ibu.” Ketika dia mendapati bahwa suara itu datang nya dari sang mertua. Rafka yang tadinya duduk dengan  menyandarkan kepalanya disandaran kursi serta menopang nya dengan kedua tangan nya. Kini segera bangkit dari duduk nya dan segera menyalim tangan sang mertua. “ Ibu sudah lama berdiri disini.” Ucap Rafka kemudian.


“ Enggak kok, Ibu baru saja datang dan ternyata Ibu melihat menantu Ibu cukup nyaman duduk disini.” Ucap Ibu seraya tersenyum.


“ Ah, iya Bu. Disini adem, meskipun cuaca disana begitu terik.” Sahut Rafka.


“ Iya.” Balas Ibu. “ Oya Nak, yuk kita masuk kedalam. Masak menantu Ibu sekalinya datang malah duduk diluar terus.” Ibu tersenyum saat mengucapkan kalimat nya.


“ Iya Bu, Rafka masuk ya.” Ujar Rafka. Ia pun kemudian melangkah masuk kedalam rumah berbarengan dengan sang mertua.


***


Tanpa terasa hari kian sore. Annisa dan Rafka pun akhirnya pamit pulang kepada Ayah dan juga Ibu.


“ Hati-hati dijalan ya Nak., uhuk-uhuk!” Ucap Ayah seraya terbatuk-batuk.


“ Iya Ayah, Ayah jangan lupa minum obat ya dan juga istirahat yang cukup jangan begadang terus.” Tukas Annisa.


“ Iya Nak, uhuk-uhuk!” Batuk Ayah tak kunjung henti.


“ Bu, jagain Ayah ya. Jangan lupa kasih Ayah minum obat yang teratur agar sakit Ayah lekas sembuh.” Kata Annisa kepada Ibu.


“ Iya Nak, itu pasti. Cuma kadang Ayahmu memang suka malas minum obat.” Balas Ibu.


“ Ayah..” Annisa melirik kearah sang Ayah yang saat ini berdiri dihadapan nya.


“ Iya Nak, Ayah akan rajin minum obat. Kan Ayah ingin cepat sehat agar bisa melihat kamu hamil dan juga menimang cucu Ayah nantinya.” Ucap Ayah sembari tersenyum kearah putrinya.


Annisa merasa lega.


“ Yasudah, sekarang kalian pulanglah. Ini sudah sore, takutnya sebentar lagi jalanan macet. Nak Rafka, jaga putri Ayah baik-baik ya.” Ayah kini mengalohkan pandangan nya kearah Rafka.


“ Pasti Ayah, Rafka pasti akan menjaga putri kesanyangan Ibu dan Ayah dengan sangat baik.” Kata Rafka.


Ayah dan Ibu kemudian tampak tersenyum saat mendengar jawaban menantunya itu. Lalu kini Annisa dan Rafka pun pamit dan pergi meninggalkan kediaman orang tua Annisa.


BERSAMBUNG