Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 114


“ Jalan Pak! Kita pergi kerestoran R yang ada di pusat kota ya.” Perintah Maya kepada sang sopir taksi.


Pak sopir pun mengangguk mengerti. Ia lalu mulai menghidupkan mesinnya dan melajukan kendaraan nya dengan kecepatan sedang meninggalkan kediaman Maya.


Mas Rafka ingin bertemu denganku. Aku sudah tau itu, setelah kepulangan ku dari pulau itu. Mas Rafka pasti sangat akan merindukanku, sehingga membuatnya juga segera pulang dari sana dan ingin segera mungkin bertemu denganku.


Maya kembali mengulas senyumnya tatkala ia memikirkan tentang Rafka. Rasanya sekarang ia sudah tak sabar lagi ingin sesegera mungkin bertemu dengan Rafka sang pujaan hati.


Taksi kini mulai melaju memasuki area kota. Karena kebetulan hari ini adalah hari minggu. Jadi jalanan hari ini begitu padat akan pengendara. Belum lagi mereka sampai ditempat yang dituju. Namun, kini mereka sudah terjebak kemacetan yang begitu parah. Karena diujung jalan sana ada sebuah mobil yang sedang mogok.


Maya menunggu hampir setengah jam lamanya. Kini ia kembali melirik kearah jam yang melingkar indah ditangan nya. Yang menunjukkan waktu sudah pukul 10:50 Wib. Yang berarti sepuluh menit lagi akan pukul sebelas siang.


Maya mulai risau. Didalam pesan Rafka memintanya untuk segera ada disana pada pukul 10:30 Wib. Namun sekarang, sudah hampir pukul sebelas siang Maya masih berada didalam taksi. Yang saat ini tengah terjebak didalam kemacetan yang begitu parah.


Maya akhirnya sudah tidak bisa lagi menahan kesabaran nya. Ia kemudian membayar jasa taksi yang ditumpanginya dan memilih turun darisana. Namun, jarak antara tempat nya sekarang berdiri dan restoran Rafka masih cukup jauh. Sehingga kini Maya mulai memutar otak bagaimana caranya agar dia bisa segera tiba disana.


Tak jauh dari tempatnya berdiri, Maya melihat ada seorang Gojek di seberang jalan yang tampak berhenti sehabis menurunkan pelanggan. Maya kemudian berhambur pergi kesana. Dengan langkah yang agak tergesa-gesa Maya melangkah pergi menuju kearah Gojek yang sedang berhenti.


“ Gojek!” Teriaknya.


Bapak Gojek yang tadinya ingin segera melajukan sepeda motornya meninggalkan tempat itu pun kini mengurungkan niatnya. Ia lalu menoleh kearah Maya yang tadi terdengar memanggilnya. Melihat Gojek yang dipanggilnya terlihat merespon panggilannya. Maya kemudian melambaikan tangan nya, seolah memberi isyarat agar sang Gojek menunggunya.


Melihat Maya yang saat ini sedang tertatih-tatih berjalan menuju kearahnya. Membuat Gojek tersebut tak tega karenya. Kini Gojek pun memutar laju kendaraan nya, ia berjalan pelan di tepi jalan menuju kearah Maya agar tak menganggu pengguna jalan lainnya. Karena saat ini sang Gojek mulai melawan arus untuk menghampiri si pelanggan.


“ Mba manggil saya?” Tanya Gojek kepada Maya.


“ Ya, tolong antarkan saya ke restoran R yang berada di pusat kota.” Ucap Maya dengan nafas tersengal-sengal. Ia pun lantas segera naik dan duduk di jok belakang sang Gojek. “ Tolong cepat ya Pak, karena saya sedang terburu-buru.” Ujar Maya kemudian.


“ Baik Non, saya akan mencari jalan pintas.”


Maya terlihat begitu senang. Karena kini ia sudah hampir tiba di restoran nya Rafka.


Namun, baru saja kesenangan itu mampir didalam hatinya. Kini tiba-tiba saja Gojek yang ditumpanginya goyang dan terpaksa berhenti ditengah jalan.


“ Loh, kenapa berhenti Pak?” Tanya Maya seraya mengerutkan  dahinya.


“ Maaf Non, kayaknya ban nya bocor.” Sahut si Bapak sang pengendara Gojek.


Bapak Gojek kemudian tampak melirik kerah sana-sini berharap ada tukang tambal di daerah sana. Namun, sepertinya harapan nya sia-sia. Karena disepanjang ujung jalan kanan dan kiri, ia tak melihat satupun tukang tambal ban ada disana. Bapak Gojek pun kini terlihat murung, ia murung bukan karena tak bisa mengantarkan Maya hingga sampai di tempat tujuannya. Namun, ia murung karena kini ia berarti harus mendorong sepeda motor nya hingga tiba di tukang tambal ban yang tak tau entah ada dimana.


“ Non, maaf ya. Kayaknya saya hanya bisa mengantarkan Nona sampai sini aja deh. Karena saya juga harus mendorong motor saya yang tak tau hingga berapa lama. Karena Non lihat sendiri kan disini tidak ada satupun lapak tukang tambal ban.” Ucap sang Gojek.” Sekali lagi maaf ya Non.” Tambahnya lagi.


“ Yaudah deh Pak, saya jalan kaki saja. Jaraknya juga udah nggak jauh kok dari sini.” Ucap Maya. “ Oya, saya harus bayar berapa untuk Bapak?” Tanya nya kemudian.


“ Seikhlas hati Non saja.” Sahut Gojek.


Maya kemudian mengeluarkan uang kertas yang berwarna biru miliknya. Lalu ia menyerahkan nya kepada Gojek tersebut.


“ Ini buat Bapak. Ambil saja kembaliannya.” Ujar nya.


Maya kemudian segera pergi dari sana meninggalkan Bapak Gojek yang saat ini harus mendorong motornya. Dengan langkah yang sangat tergesa-gesa ia berjalan menuju kearah restoran yang kini sudah tak seberapa jauh lagi dari tempatnya.


BERSAMBUNG.


Hi guys.. untuk beberapa waktu ini Ra belum bisa up lebih dulu ya. Karena didunia nyata ada beberapa urusan yang harus Ra kerjakan. Jadi Ra mutusin untuk up perharinya satu BAB dulu ya. Terimakasih buat kalian semua yang sudah setia dengan cerita Rafka dan Annisa yang Ra sajikan. Semoga para Readers semua diberikan kesehatan dan kemudahan didalam segela urusannya, Amin.


Happy reading^_^.