
Setibanya di komplek perumahan. Rafka kini memelankan laju kendaraan nya, agar ia tak melewati rumahnya sendiri. Maklum saja, karena rumah-rumah yang ada disana mempunyai desain yang sama dari luar. Sedangkan di dalam para pembeli dengan bebas mengubah segala interior sesuai dengan keinginannya.
Mobil berhenti, lalu Rafka membuka pintu gerbang nya. Setelah membuka gerbang, kini ia memasukkan mobil nya ke halaman rumah dan memarkirkan nya di depan garasi.
Rafka kembali turun dari mobilnya. Disusul Annisa dari belakang yang juga ikut turun dari sana. Sesampainya di teras rumah Rafka berdiri sembari menatap kearah Annisa.
"Nis, ini rumahku. Aku harap kamu betah tinggal disini." Ucap Rafka lembut.
"Nisa akan betah tinggal dimana saja asalkan dengan Abang." Jawab Annisa seraya menundukkan kepalanya.
"Deg . .
Entah mengapa jantung Rafka berdegup kencang saat mendengar ucapan Annisa.
"Mari masuk." Ajak Rafka tanpa ingin membalas ucapan Annisa yang membuat jantung nya berdegup kencang.
Rafka membuka kuncinya.
Lalu setelah itu ia pun membuka pintu rumah nya. "Ceklek"
"Ayo masuk." Ucap Rafka lagi sembari melangkah masuk kedalam.
"Asslamu'alaikum"
Annisa kemudian ikut masuk kedalam rumah tanpa lupa mengucapkan salam. Ia kemudian berjalan mengikuti Rafka hingga kini sampailah mereka di depan ruang keluarga.
"Bagaimana? Apa kamu suka?" Ucap Rafka sembari menatap seisi rumahnya.
"Nisa suka Bang." Jawab Annisa dengan polosnya.
"Alhamdulillah jika kamu suka." Ucap Rafka sembari tersenyum.
"Oya Nis, disana kamar kamu ya." Rafka menunjuk kearah sebuah kamar yang ada di depan ruang tersebut.
"Kamar Nisa?" Ujar Nisa yang bertanya-tanya saat mendengar Rafka menyebutkan "Kamarmu" karena seharusnya kata yang tepat itu adalah "Kamar kita." begitu pikirnya.
"Ya, kamar mu. Dan kamar ku ada diatas." Ucap Rafka sembari menunjuk keatas, arah kamar yang akan dia tempati.
Annisa mengerutkan dahinya. Ia sedikit bingung dengan apa yang diucapkan Rafka saat menunjuk arah kamar yang berbeda.
"Apa maksud nya? Ia menunjuk kamar ku dan kamar nya yang berbeda. Apa jangan-jangan ia ingin kita pisah ranjang.
Gumam nya.
"Maaf Bang, Nisa ingin bertanya. Apa sebenarnya maksud Abang dengan menunjuk kearah kamar yang berbeda?" Tanya nya dengan tatapan serius.
"Maksudku, kita tidak akan sekamar karena kamar mu ada disini, sedangkan kamar ku ada diatas." Ujar Rafka menjelaskan.
"Maksud Abang kita pisah ranjang?" Ujar Annisa serius.
"Ya, bisa di bilang seperti itu." Jawab Rafka santai.
"Deg . .
Jadi ini maksudmu mengajak ku segera pindah dari rumah orang tuaku. Agar kamu bisa dengan bebas mengatur jarak diantara kita. Ya Allah . . sakit sekali hatiku di perlakukan seperti ini olehnya.
Gumam Annisa.
Hatinya sakit bagai tertusuk duri yang sangat tajam, saat mendengar Rafka yang tak ingin sekamar dengannya. Ia menahan air mata nya agar tak tumpah di hadapan Rafka. Bola matanya mulai berkaca-kaca saat Rafka mengatakan semuanya dengan begitu santai.
Annisa kemudian memalingkan muka menyembunyikan kesedihannya. Ia tak mau Rafka mengetahui kesedihan yang saat ini dialaminya hingga kemudian ia pun mengangguk perlahan seolah mengerti dengan apa yang diinginkan Rafka.
"Baik Bang, jika memang itu sudah keputusan Abang. Nisa akan dengan sukarela menurutinya." Ucap Annisa seraya tersenyum.
Ya, Annisa tersenyum dan bahkan lebih tepat nya, ia memaksakan untuk bisa senyum selembut mungkin agar Rafka tak menyadari kesedihannya.
"Karena kita sudah sampai, kini Nisa ingin segera masuk kedalam dan menyusun semua perlengkapan Nisa." Ujar nya selembut mungkin.
"Baiklah, silahkan masuk kedalam kamar dan selamat beristirahat." Timpal Rafka yang kini mempersilahkan Annisa untuk masuk kedalam kamarnya.
Annisa kemudian berlalu menuju kearah kamar nya. Sedangkan disana Rafka masih berdiri dengan tegak melihat kepergian Annisa.
"Sungguh gadis yang sangat tegar. Meskipun aku sudah membuatnya kecewa, namun ia sama sekali tak menunjukkan kepedihannya di hadapan ku.
Ia kemudian pergi dari sana setelah melihat Annisa masuk kedalam kamarnya. Lalu ia Menaiki anak tangga dan berjalan menuju kearah kamar nya yang berada di lantai dua.
Sementara itu didalam kamar Annisa.
Ia tertunduk dengan lemas saat mengingat kembali ucapan Rafka yang menginginkan pisah ranjang dengannya.
Air mata yang sedari tadi ditahannya, akhirnya tumpah ruah membasahi wajah nya. Ia terus menangis mengeluarkan air matanya berharap bisa menghilangkan sedikit kepedihan yang ada didalam hatinya.
"Aku tak menyangka kamu akan melakukan ini kepadaku Bang. Menjadikanku sebagai pengantin yang tak dirindukan. Ku fikir dengan mengikutimu untuk tinggal bersamamu adalah awal yang baik untuk hubungan kita, namun apa yang kudapat. Kamu malah semakin menjaga jarak dengan ku disini." Ucap nya dengan suara pelan.
Annisa kemudian duduk dengan merangkul kedua kakinya. Lalu ia menyadarkan kepalanya diatas lututnya dengan deraian air mata.
Air mata nya tak berhenti mengalir. Menangisi nasib yang sama sekali tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Nasib yang kurasa semua wanita tak menginginkannya, termasuk dia, Annisa.
"Sabar Nisa, ini cobaan untukmu. Percayalah Allah tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuanmu." Ujar nya pelan, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Ia kemudian menarik nafas nya dalam-dalam, lalu mengeluarkan nya secara perlahan, agar fikirannya bisa rileks dan berhenti bersedih.
Dan sepertinya itu cukup berhasil. Karena kini air mata nya mulai berhenti mengalir membasahi pipinya. Kini, ia berusaha senyum selebar mungkin agar hati dan fikirannya tak kembali bersedih.
"Aku tidak boleh lemah dan larut dalam kepedihan ini. Karena aku harus tetap berusaha mendapatkan cinta suamiku. Aku percaya pernikahan kami ini adalah rencana Allah dalam mempersatukan kami.
Gumam nya.
Ia kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kearah lemari untuk menyusun pakaiaan nya. Hingga tak lama kemudian ia pun selesai menata semua perlengkapan di dalam kamarnya.
Setelah semuanya tertata dengan rapi. Kini Annisa berjalan keluar kamar. Ia menyusuri setiap ruang untuk mencari sebuah dapur dan tak lama kemudian ia pun menemukannya.
Annisa mulai memperhatikan sekeliling nya. Lalu, ia melihat ada sebuah kulkas yang berukuran besar disana. Annisa melangkahkan kaki nya menuju kulkas tersebut dan kemudian membukanya.
"Kosong." Ucap nya saat mendapati kulkas yang ia buka ternyata kosong melompong.
Ya, kulkas itu kosong. Karena selama ini tak ada penghuni yang tinggal disana. Meskipun setiap harinya ada beberapa orang yang keluar masuk kedalam rumah. Namun itu hanyalah seseorang yang di utus untuk membersihkan setiap ruangan yang ada, serta tukang kebung yang selalu merawat tanaman di belakang rumah. Supaya rumah itu terlihat rapi dan bersih meskipun tak berpenghuni.
"Mau masak apa nih? Nggak ada satu pun bahan makanan yang bisa dimasak disini.
Gumam nya sembari melangkah pergi dari sana. Ia pun kemudian berinisiatif untuk mengunjungi Rafka di kamarnya.
Setibanya disana. Annisa melihat Rafka yang sedang keluar dari kamarnya dan kini sedang menutup pintu kamar
"Bang." Sapa Annisa yang kini sudah berdiri di samping Rafka.
"Nisa, ngapain kamu disini?" Ucap Rafka yang kini menatap kearah Annisa.
"Gini Bang, tadi Nisa kedapur niatnya sih mau masak. Tapi disana tak ada bahan makanan apapun, jadi Nisa sengaja kemari untuk ngasih tau Abang jika Nisa nggal masak apa-apa untuk makan malam kita." Ujar Annisa menjelaskan.
"Oh, itu. Disini memang nggak ada bahan makanan karena para penjaga yang merawat rumah selalu membawa makanan mereka dari luar. Makanya didapur ataupun didalam kulkas tidak ada apa-apa yang bisa dimasak." Jawab Rafka santai.
"Oh, gitu."Annisa mulai mengerti.
"Supermarket dekat nggak dari sini?" Tanya Annisa.
"Supermarket? Untuk apa?" Ucap Rafka yang membalas kembali pertanyaan Annisa.
"Nisa ingin berbelanjan kebutuhan dapur agar Nisa bisa memasak sesuatu untuk makan malam kita." Ujar Annisa.
"Oh, gitu. Nih aku keluar juga mau ngajakin kamu makan malam diluar." Ucap Rafka.
"Makan malam diluar?" Annisa membelalakkan matanya seolah tak percaya atas apa yang baru saja didengarnya.
"Ya, makan malam diluar." Ucap Rafka sembari mengerutkan dahinya saat melihat ekspresi Annisa yang begitu terkejut dan seolah tak percaya saat mendengar ucapan nya.
"Gadis ini, lucu sekali. Di ajak makan malam ekspresi wajah nya malah terkejut gitu.
Gumam Rafka sembari menggelengkan kepalanya.
Sedangkan Annisa kini mulai melupakan kesedihannya saat mendengar Rafka mengajaknya untuk makan malam diluar.
BERSAMBUNG