
Rafka dan juga Annisa memilih untuk pulang. Sedangkan Feri memilih tinggal disana menemani Maya yang kini merawat ibu nya sendiri. Jujur Feri merasa sangat sedih karena kedua orang tua nya seolah tak perduli dengan kondisi Bu Retno sekarang, padahal Pak Agus ayah nya Feri adalah adik kandung Bu Retno.
Feri kemudian memilih duduk di kursi yang ada disana hingga tak lama berselang Maya pun keluar menghampiri nya.
"Fer, Mana Mas Rafka?" Ucap Maya begitu sampai di sana.
"Dia tadi pamit pulang sama Nisa, kata nya mau ke restoran tapi ngantar Nisa dulu ke rumah nya." Jawab Feri sembari menatap Maya.
"May, bisakah kau tidak mengganggu hubungan mereka." Ucap Feri yang membuat tatapan Maya berubah kesal terhadap nya.
"Apa urusanmu." Jawab Maya ketus.
"Jelas ini urusanku karena kau adalah adikku." Ujar Feri yang mulai terpancing emosi nya saat mendengar jawaban ketus dari Maya.
"Aku hanya memperjuangkan "Hak" ku." Ujar Maya pelan namun tegas.
"Hak? Sekarang Annisa lah yang lebih berhak terhadap Rafka sedangkan kau hanyalah mantan yang berusaha mengejar cinta nya." Ucap Feri yang membuat Maya semakin kesal.
"Aku tidak peduli, dia yang merebut Rafka dariku maka dari itu aku akan memperjuangkan kembali cintaku." Ujar nya sembari memalingkan muka.
"Annisa tidak seperti itu, Kau tau mereka menikah karena perjodohan. Dan lagi pula kenapa Rafka meninggalkan mu bukankah itu salah mu sendiri yang mengkhianati diri nya. jadi jangan pernah salahkan orang lain." Ujar Feri seraya menatap sinis ke arah Maya.
"Terserah kamu mau bilang apa. Yang pasti sekarang aku mau Mas Rafka kembali kepadaku." Timpal Maya yang kemudian berlalu kembali masuk kedalam ruang rawat inap Mama nya.
Feri memilih tetap duduk di luar, Ia tak mau jika harus kembali berdebat dengan Maya jika ia masuk kedalam.
***
Sementara itu.
Di dalam mobil Rafka membukakan pintu mobil nya untuk Annisa. Namun kini pintu mobil yang di buka nya adalah yang di depan sehingga membuat Annisa menatap heran ke arah suami nya.
Ke**napa Abang membukakan pintu mobil untukku dan kali ini ia membuka nya di jok depan, apa dia mau aku duduk di depan dengan nya.
Gumam Annisa sembari menatap aneh ke arah Rafka.
"Aku ingin kamu duduk di depan denganku." Ucap Rafka saat melihat tatapan bingung Annisa kepada nya.
Annisa mengangguk kan kepala nya lalu masuk kedalam mobil dan duduk di kursi depan bersama Rafka suami nya. Di dalam hati Annisa kembali bertanya - tanya ada angin apa Abang sampai mengajak nya untuk duduk di depan bersama nya.
Setelah menutup pintu mobil tempat Annisa duduk. Kini Rafka berjalan menuju ke kursi kemudinya lalu ia membuka nya dan melangkah masuk kedalam tanpa lupa menutup nya kembali.
Di tatap nya wajah Annisa yang kini duduk di samping nya dan setelah itu ia pun menghidupkan mobil nya meninggalkan tempat itu.
"Deg . .
Jantung Annisa berdegup kencang saat ini.
Mobil terus melaju. Namun kata tak ada yang terucap dari mulut mereka berdua, Hingga suatu ketika Rafka memberanikan diri untuk membuka percakapan dan bertanya kepada Annisa.
"Ehm, Nisa." Ucap Rafka memecah keheningan saat itu.
Apa? Abang bicara kepadaku? tumben.
Pikir Nisa dalam hati.
"Ya." Jawab Annisa singkat.
"Kenapa tadi kamu melarangku untuk mengatakan yang sebenar nya kepada Tante Retno." Ujar Rafka mengutarakan pertanyaan nya.
"Kenapa? Bukankah seharusnya Abang senang?" Ujar Annisa ketus dan mulai membalikkan pertanyaan nya kepada Rafka.
"Apa maksud mu?" Rafka mengerutkan kening nya seolah tak mengerti dengan apa yang di ucapkan Nisa.
"Abang seharusnya senang kan, dengan Nisa nggak ngasih tau tentang hubungan kita, maka abang bisa dengan lebih mudah menikahi Maya." Ujar nya tanpa menatap ke arah Rafka.
"Kamu bilang apa!! Aku tidak mungkin menikahi Maya, kamu tau dan kamu juga sudah dengar kan, aku dan Maya sudah tidak mungkin lagi bersama." Ucap Rafka seraya memarkirkan mobil nya di pinggir jalan.
"Nisa nggak tau bang, yang tau tentang hubungan abang saat ini hanyalah kalian berdua. Kalau memang abang sudah tidak mungkin lagi bersama dengan Maya, seharusnya abang bisa menjaga jarak dengan nya." Ujar Nisa tegas.
Ia tak tau lagi mau berkata apa, seharian ini kepala nya sudah cukup pusing memikirkan tentang hubungan suami nya yang tampak semakin dekat dengan Maya.
"Baik jika itu mau mu, maka aku akan menjaga jarak dengan Maya." Jawab Rafka yang tampak serius dengan perkataan nya.
Annisa diam saat mendengar kalimat terakhir dari Rafka.
Suasana yang awal nya hening kini berubah tegang. Entah mengapa kali ini Annisa tidak bisa bersikap lembut kepada suami nya. Mungkin itu semua karena selama ini ia memendam semua nya di dalam hati sehingga membuat nya benar - benar pusing dan tak bisa mengontrol emosi nya.
Waktu berlalu.
Kini mereka sudah sampai di halaman depan rumah.
Annisa turun dari sana, sementara itu Rafka memutar balik mobil nya berniat pergi ke restoran. Tak ada salam hari itu ataupun senyum lembut dari Annisa seperti biasa nya. Kali ini ia benar - benar tak menghiraukan suami nya.
Rafka kemudian melajukan mobil nya menuju kearah restoran nya. Di sepanjang perjalanan ia tak henti memikirkan tentang kejadian hari ini, dan entah mengapa ia ingin sekali bisa dekat dengan Annisa.
"Ada apa denga ku, kenapa aku begitu kecewa kepada Nisa saat ia tak mengakui tentang hubungan kami di hadapan Tante Retno. Bahkan aku berjanji kepadanya untuk menjaga jarak dari Maya. Kenapa sekarang aku terlihat begitu menginginkan nya.
Gumam Rafka sembari menyetir mobil nya dengan kecepatan sedang dan sesekali ia menggaruk - garukan kepala nya seolah masih tidak percaya terhadap diri nya sendiri.
BERSAMBUNG