Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BONUS PART ( 2 )


Setelah dua hari tidak masuk kerja. Hari ini Rafka kembali memulai aktiftasnya. Setelah berkemas rapi ia lantas menghampiri Annisa yang sedang duduk di balkon seraya membaca sebuah majalah. Rafka datang dengan memeluknya dari samping.


“ Sayang, aku berangkat kerja dulu ya.” Ucap nya lembut.


“ Iya, hati-hati.” Memegang tanga Rafka seraya tersenyum disana.


“ Cium dulu.” Menyodorkan pipinya kearah Annisa.


“ Hmm, iya deh.” Annisa menaikkan kedua alisnya dan kembali tersenyum menghadapinya.


Cup! Cup!


Dua kecupan mendarat disana. Satu di kening dan satu lagi di bibir Rafka.


“ Sudah, sekarang pergilah.” Kata Annisa.


“ Antarkan aku sampai depan ya.” pinta Rafka.


Annisa mengangguk setuju. Lalu kini ia meletakkan majalah nya di atas meja dan bangkit dari duduk nya.


“ Yuk!” ajak Annisa. Kini ia pun mulai melangkahkan kakinya bergerak dari tempat nya.


“ Tunggu dulu!” Rafka menarik tangan nya sehingga membuat langkah Annisa terhenti karena nya.


“ Apa lagi?” Tanya Annisa. Sungguh ia hampir tak sabar dengan suaminya. Namun Annisa tetap memancarkan senyum nya.


Rafka menunduk, membungkukkan badannya. Lalu kini ia terliha mengelus perut rata Annisa dan kemudian mencium nya.


Cup!


“ Anak ayah, baik-baik ya disana. Ayah mau berangkat kerja dulu, do’akan Ayah di mudahkan rezkinya.” Masih mengelus lembut perut rata Annisa.


Aaa… Abang, romantis sekali.


Annisa tersenyum melihatnya. Rona kebahagiaan kian terpancar di wajah nya. Lalu kini ia memegangi bahu Rafka dan menuntunnya untuk berdiri.


“ Abang, makasih ya.” Ucap nya seraya mendekap mesra.


“ Hmm, sama-sama.” Angguk Rafka.


Annisa kemudian melepaskan pelukan nya dan kini memegangi wajah Rafka.


“ Menunduk.” Perintah nya.


“ Untuk apa?” Rafka mengernyitkan dahinya.


“ Turuti saja.” Pinta Annisa.


“ Hmm, baiklah.” Rafka menundukkan wajah nya di hadapan Annisa.


Cup! Cup! Cup! Cup!


Annisa kembali mendaratkan ciumannya di wajah Rafka. Pertaman di kening, kemudian di pipi kana dan juga kiri, hingga yang terakhir ia mencium bibir nya agak lama. Baru setelah di rasa cukup Annisa melepaskan nya.


“ Hmm, jika seperti ini terus bisa-bisa aku tidak jadi pergi ke resto.” Kata nya seraya meraih pinggang Annisa.


“ Hmm, kenapa?” Tanya Annisa.


“ Karena aku menginginkan yang lebih sekarang.” Di angkat nya tubuh Annisa lalu membawanya kearah ranjang.


 Setibanya disana, ia lantas membaringkan nya dan mengambil apa yang di inginkan nya.


 


Rafka kini telah tiba di depan Restoran nya. Rafka melangkah masuk kedalam restoran dengan mengembangkan senyum nya. Petugas yang berjaga di depan pintu masuk kemudian membuka pintunya saat melihat kedatangan Rafka.


Rafka pun masuk dengan pasti seraya mengembangkan senyum nya kepada mereka. Setelah ke pergiannya. Kedua para petugas yang berjaga tampak saling bertatap muka.


“ Tumben, Pak Rafka tersenyum seperti itu.” Katanya salah satu petugas jaga pintu kepada rekan kerjanya.


“ Mungkin dia lagi bahagia.” Jawab rekan yang satunya.


“ Ya, mungkin.” Timpal petugas itu kembali.


Di ruangan kerja Rafka.


Dedi yang melihat kedatangan Rafka kemudian bergegas pergi menemuinya. Jam kerja Rafka serta senyuman Rafka yang ia lontarkan kepada setiap para karyawan membuat Dedi penasaran. Kini di tengah kesibukannya, Dedi


pun memutuskan pergi menghampiri Rafka di ruangan nya.


Ceklek!


Tanpa mengetuk pintu Dedi kemudian masuk kedalam.


 " Assalamu'laikum."


 


" Wa'alaikum salam."


 


Rafka menoleh kearah nya. Namun kini ia terlihat bagitu acuh dengan nya.


“ Hei bro!” sapa Dedi yang kini mulai menduduki kursi yang ada didepan meja kerja Rafka. “ Sepertinya kau lagi bahagia sekarang.” Katanya seraya menelisik ke wajah Rafka. Melihat ekspresi nya disana, namun apa yang terjadi? Dedi ternyata menemukan sesuatu yang berharga di lehernya.


Hmm, pantas saja ia terlihat begitu senang hari ini. Ternyata oh ternyata, kedatangan yang sesiang ini terhambat oleh sesuatu yang menggairahkan.


Dedi bergelut sendiri dengan pikirannya.


“ Apa yang kau pikirkan?” Tanya Rafka menatap dingin.


“ Sepertinya kau baru saja melewatkan pagi yang begitu menggaraihkan tadi.” Mengangkat kedua alisnya seraya melemparkan senyuman.


“ Setiap hari aku selalu melewatkan hal itu sekarang. Kau sendiri kapan?” Tanya Rafka membalas senyuman Dedi seolah sedang mengejek nya sekarang.


“ Hmm, kau ya Rafka, sungguh pintar dalam memojokkan.” Kata Dedi memasang tampang kesal.


“ Kau sendiri yang minta.” Rafka tersenyum puas karena nya.


 Assalamu'alaikum.


Hai semua... apa kabarnya? Semoga Allah memberikan kesehatan untuk kita semua, amin. Ada kabar gembira! Ra ingin menyampaikan jika ( Pengantin yang tak Dirindukan ) sudah rilis season dua nya loh! jangan lupa mampir ya^^ Dan juga jika berkenan mampir juga di cerita Ra yang lainnya.


 


1. Ternyata ini Cinta


2.Ceo Playboh jatuh Cinta


3. Pengantin yang tak Dirindukan ( 2 )


Tinggalkan Like dan juga Vote nya ya. Serta krisan yang membangun untuk seluruh karya Ra. Terimakasih^^