
Siang hari sekitar pukul 13:00
Wib. Rafka yang berniat menemui Maya untuk membuat perhitungan dengan nya
karena telah berani hampir mencelakai Annisa. Harus menunda niat nya karena
Annisa mengajak nya untuk berkunjung kerumah orang tuanya.
Rafka tak bisa menolak. Saat ini
urusan Annisa adalah yang terpenting baginya. Sehingga kini mereka pun meluncur
kekediaman orang tua Annisa.
Mobil berpacu dengan kecepatan
sedang. Melintasi jalanan kota, disana di pinggir jalan Annisa melihat seorang
kakek-kakek penjual buah sedang duduk di pinggir kios nya yang usang. Ia tampak
nya sedang menunggu pembeli disana. Namun, sayang nya tak ada satu pun orang
yang lewat singgah di kios nya.
“ Bang, berhenti! Nisa mau beli
buah dulu disana.” Tunjuk Annisa kearah kios sang Kakek penjual buah.
“ Kamu mau beli buah? Kita beli
di supermarket saja ya. Disana ada banyak ragam buah-buahan segar yang bisa
kamu pilih.” Kata Rafka.
“ Disini saja Bang. Buah-buahan
yang dijual Kakek itu juga tampak segar-segar. Yah meskipun cuma beberapa macam
saja. Lagi pula buah yang ingin Nisa beli juga ada dijual di kios Kakek itu.”
Ucap Annisa.
“ Tapi sekarang kita sudah
melewati kios Kakek itu sayang. Apa harus aku memutar kembali ke kios Kakek
itu?” Tanya Rafka. Karena kini mereka memang telah melewati kiosnya sekitar
tiga ratus meter.
“ Ya, putar balik saja.” Jawab
Annisa.
“ Gimana kalau kita beli disana
saja.” Tunjuk Rafka kearah salah satu kios yang ada didepan nya. Kios itu
tampak bagus dan juga ramai pengunjung.
“ Jangan Bang, kita balik saja ke
kios Kakek tadi ya.” Pinta Annisa.
“ Kamu yakin?” Tanya Rafka lagi.
“ Ya.”
“ Ya sudah, apapun yang kamu
inginkan.”
Rafka kini memutar kembali
mobilnya kearah kios Kakek penjual buah. Ia lalu menatap Annisa yang saat ini
duduk disamping nya tak habis pikir dengan jalan fikiran istrinya sendiri.
Padahal disana ada beberapa kios penjual buah. Namun, Annisa tetap ngotot
menyuruhnya memutar balik mobilnya ke kios Kakek tadi.
Tak butuh waktu lama kini mereka
telah tiba didepan kios si Kakek. Setelah Rafka memarkirkan mobil nya dipinggir
jalan. Dengan tergesa-gesa Annisa turun dari mobil dan berjalan kekios sang
Kakek. Rafka melihat dari dalam mobil betapa senang nya Kakek tersebut saat
melihat kedatangan Annisa. Wajahnya yang awalnya terlihat begitu murung kini
langsung terlihat bahagia saat Annisa masuk kedalam kios usang nya.
Dari dalam mobil Rafka juga
melihat sang Kakek begitu bersemangat membungkus setiap buah-buahan segar yang
dipilih Annisa. Ia terlihat begitu senang karena Annisa membeli begitu banyak
buah dari kios nya. Kini setelah sang Kakek selesai membungkus semua buahnya
dan juga menhitung jumlah yang harus di bayar nya. Annisa lalu terlihat
berjalan kembali menuju kearah mobil.
“ Ada apa sayang?” Tanya Rafka
saat Annisa membuka pintu mobil.
“ Ini Bang, tas Nisa
ketinggalan.” Sahut Annisa sembari mengambil tas nya.
“ Sayang, nih ambil.” Rafka
terlihat menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada Annisa yang
saat ini sudah meraih tas nya.
“ Ini, untuk apa?” Tanya Annisa.
“ Untuk membayar buah yang kamu
beli.” Ujar Rafka.
“ Tapi Bang, Nisa punya uang kok.”
“ Iya tau, tapi aku nggak mau
jika kamu membelanjakan uangmu. Pakailah uangku, lagipula kita akan mengunjungi
mertuaku. Jadi tidak mungkin aku membiarkanmu untuk membayarnya dengan uangmu.”
Ujar Rafka. Ia lalu meraih tangan istrinya dan menyelipkan lembaran uang milik
nya ditangan Annisa. “ Pergi, bayarlah. Kasihan Kakek itu menunggu lama,
bisa-bisa dia mengira jika kamu tidak jadi membeli buah di kios nya.” Tambah
“ Baiklah, terimakasih ya Bang.”
Annisa tersenyum seraya mengambil
uang nya. Ia kemudian berjalan kembali menuju kios itu dan membayarkan jumlah
dari harga buah yang telah di belinya.
“ Berapa tadi total semuanya Kek?”
Tanya Annisa.
“ Jumlahnya tiga ratus dua puluh
tiga ribu Nak.” Ucap Kakek.
“ Ini uang nya.” Annisa
menyerahkan sebagian uang yang diterima nya dari Rafka. Jumlah yang dia
serahkan kepada Kakek adalah empat ratus ribu rupiah.
Kakek pemilik kios kemudian
menerima uang yang diberikan oleh Annisa. Ia kemudian menghitung jumlah nya,
namun sesaat kemudian wajahnya terlihat bingung karena didalam kaleng uang
miliknya taka ada sepeserpun disana. Lalu ia menyuruh Annisa untuk menunggunya
di kios. Sedangkan Kakek kini berjalan ke beberapa took sekitar untuk
menukarkan uang nya.
Setelah menunggu beberapa menit.
Kini Kakek penjual buah telah kembali ke kiosnya. Namun, wajahnya terlihat
murung. Entah apa yang di pikirkan nya, lalu setelah tiba didalam kiosnya.
Kakek tersebut kemudian tersenyum seraya menyerahkan kembali uang seratus ribu
milik Annisa seraya berkata.
“ Ini Nak kembalian nya.
Jumlahnya cukup tiga ratus ribu saja.” Ucap Kakek.
“ Loh, kok gitu. Bukankah tadi
Kakek bilang harganya tiga ratus dua puluh tiga ribu.?” Tanya Annisa.
“ Iya Nak, tapi Kakek tidak punya
kembalian. Jadi ambil saja, Kakek ikhlas.” Jawab Kakek sembari tersenyum kearah
Annisa.
Annisa membalas senyuman Kakek,
lalu ia kembali menyodorkan uang seratus ribuan miliknya kepada Kakek dengan
lembut.
“ Kakek, ini uang Kakek. Saya
membeli beberapa buah disini, jika Kakek tidak mempunyai kembalian. Ambil saja,
saya ikhlas.” Tatap nya lembut.
“ Tidak apa-apa Nak, Kakek juga
ikhlas.” Ujar Kakek
“ Saya tau Kakek ikhlas, dan saya
menerima itu. Tapi sekarang sebagai gantinya saya menyerahkan uang ini ke Kakek
dan saya juga ikhlas Kek.”
Annisa lalu meraih tangan Kakek.
Ia kemudian menyelipkan lebaran uang miliknya ke Kakek tersebut dengan sangat
lembut, dan setelah itu ia mengambil kantong belanjaan nya disana.
“ Terima kasih ya Kek, Assalamu’alaikum.”
Ujar nya seraya berlalu dari sana. Kini ia berjalan kembali menuju kearah mobil
yang terparkir tak begitu jauh dari kios Kakek, Lalu setibanya disana ia
langsung masuk kedalam mobil dan menutup kembali pintunya.
“ Sudah selesai?” Tanya Rafka
begitu melihat Annisa yang kini telah kembali kesana.
“ Sudah Bang.” Balas Annisa.
Ia lalu terlihat meletakkan
beberapa kentong buah belanjaan nya itu di jok belakang. Melihat itu, Rafka pun
menolong nya untuk meletakkan nya dengan baik disana.
“ Kamu beli buah nya banyak
sekali?” Tanya Rafka.
“ Iya Bang, sesekali.” Ujar
Annisa sembari duduk kembali dengan rapi. Lalu ia mulai memasang kembali sabuk
pengaman nya. “ Yuk Bang, jalan.” Ajak Annisa.
“ Okey.”
Rafka lalu melajukan kembali
mobilnya meninggalkan kios itu. Sementara itu di kios usang yang ada disana.
Sang Kakek tampak begitu bersyukur karena buahnya di borong banyak oleh Annisa,
dan juga gadis itu membayar lebih untuk buah yang di belinya itu. Meskipun
jumlahnya yang tak terlalu banyak, namun itu cukup berarti bagi sang Kakek.
Karena sedari tadi tidak ada satu orang pun yang dating membeli buahnya. Hingga
akhirnya Annisa dating dan membeli beberapa buah disana. Sehingga dengan uang
itu akhirnya Kakek bisa kembali kerumah dan membawakan obat untuk istrinya.
Bersambung.