Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 109


Siang hari sekitar pukul 13:00


Wib. Rafka yang berniat menemui Maya untuk membuat perhitungan dengan nya


karena telah berani hampir mencelakai Annisa. Harus menunda niat nya karena


Annisa mengajak nya untuk berkunjung kerumah orang tuanya.


Rafka tak bisa menolak. Saat ini


urusan Annisa adalah yang terpenting baginya. Sehingga kini mereka pun meluncur


kekediaman orang tua Annisa.


Mobil berpacu dengan kecepatan


sedang. Melintasi jalanan kota, disana di pinggir jalan Annisa melihat seorang


kakek-kakek penjual buah sedang duduk di pinggir kios nya yang usang. Ia tampak


nya sedang menunggu pembeli disana. Namun, sayang nya tak ada satu pun orang


yang lewat singgah di kios nya.


“ Bang, berhenti! Nisa mau beli


buah dulu disana.” Tunjuk Annisa kearah kios sang Kakek penjual buah.


“ Kamu mau beli buah? Kita beli


di supermarket saja ya. Disana ada banyak ragam buah-buahan segar yang bisa


kamu pilih.” Kata Rafka.


“ Disini saja Bang. Buah-buahan


yang dijual Kakek itu juga tampak segar-segar. Yah meskipun cuma beberapa macam


saja. Lagi pula buah yang ingin Nisa beli juga ada dijual di kios Kakek itu.”


Ucap Annisa.


“ Tapi sekarang kita sudah


melewati kios Kakek itu sayang. Apa harus aku memutar kembali ke kios Kakek


itu?” Tanya Rafka. Karena kini mereka memang telah melewati kiosnya sekitar


tiga ratus meter.


“ Ya, putar balik saja.” Jawab


Annisa.


“ Gimana kalau kita beli disana


saja.” Tunjuk Rafka kearah salah satu kios yang ada didepan nya. Kios itu


tampak bagus dan juga ramai pengunjung.


“ Jangan Bang, kita balik saja ke


kios Kakek tadi ya.” Pinta Annisa.


“ Kamu yakin?” Tanya Rafka lagi.


“ Ya.”


“ Ya sudah, apapun yang kamu


inginkan.”


Rafka kini memutar kembali


mobilnya kearah kios Kakek penjual buah. Ia lalu menatap Annisa yang saat ini


duduk disamping nya tak habis pikir dengan jalan fikiran istrinya sendiri.


Padahal disana ada beberapa kios penjual buah. Namun, Annisa tetap ngotot


menyuruhnya memutar balik mobilnya ke kios Kakek tadi.


Tak butuh waktu lama kini mereka


telah tiba didepan kios si Kakek. Setelah Rafka memarkirkan mobil nya dipinggir


jalan. Dengan tergesa-gesa Annisa turun dari mobil dan berjalan kekios sang


Kakek. Rafka melihat dari dalam mobil betapa senang nya Kakek tersebut saat


melihat kedatangan Annisa. Wajahnya yang awalnya terlihat begitu murung kini


langsung terlihat bahagia saat Annisa masuk kedalam kios usang nya.


Dari dalam mobil Rafka juga


melihat sang Kakek begitu bersemangat membungkus setiap buah-buahan segar yang


dipilih Annisa. Ia terlihat begitu senang karena Annisa membeli begitu banyak


buah dari kios nya. Kini setelah sang Kakek selesai membungkus semua buahnya


dan juga menhitung jumlah yang harus di bayar nya. Annisa lalu terlihat


berjalan kembali menuju kearah mobil.


“ Ada apa sayang?” Tanya Rafka


saat Annisa membuka pintu mobil.


“ Ini Bang, tas Nisa


ketinggalan.” Sahut Annisa sembari mengambil tas nya.


“ Sayang, nih ambil.” Rafka


terlihat menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada Annisa yang


saat ini sudah meraih tas nya.


“ Ini, untuk apa?” Tanya Annisa.


“ Untuk membayar buah yang kamu


beli.” Ujar Rafka.


“ Tapi Bang, Nisa punya uang kok.”


“ Iya tau, tapi aku nggak mau


jika kamu membelanjakan uangmu. Pakailah uangku, lagipula kita akan mengunjungi


mertuaku. Jadi tidak mungkin aku membiarkanmu untuk membayarnya dengan uangmu.”


Ujar Rafka. Ia lalu meraih tangan istrinya dan menyelipkan lembaran uang milik


nya ditangan Annisa. “ Pergi, bayarlah. Kasihan Kakek itu menunggu lama,


bisa-bisa dia mengira jika kamu tidak jadi membeli buah di kios nya.” Tambah


“ Baiklah, terimakasih ya Bang.”


Annisa tersenyum seraya mengambil


uang nya. Ia kemudian berjalan kembali menuju kios itu dan membayarkan jumlah


dari harga buah yang telah di belinya.


“ Berapa tadi total semuanya Kek?”


Tanya Annisa.


“ Jumlahnya tiga ratus dua puluh


tiga ribu Nak.” Ucap Kakek.


“ Ini uang nya.” Annisa


menyerahkan sebagian uang yang diterima nya dari Rafka. Jumlah yang dia


serahkan kepada Kakek adalah empat ratus ribu rupiah.


Kakek pemilik kios kemudian


menerima uang yang diberikan oleh Annisa. Ia kemudian menghitung jumlah nya,


namun sesaat kemudian wajahnya terlihat bingung karena didalam kaleng uang


miliknya taka ada sepeserpun disana. Lalu ia menyuruh Annisa untuk menunggunya


di kios. Sedangkan Kakek kini berjalan ke beberapa took sekitar untuk


menukarkan uang nya.


Setelah menunggu beberapa menit.


Kini Kakek penjual buah telah kembali ke kiosnya. Namun, wajahnya terlihat


murung. Entah apa yang di pikirkan nya, lalu setelah tiba didalam kiosnya.


Kakek tersebut kemudian tersenyum seraya menyerahkan kembali uang seratus ribu


milik Annisa seraya berkata.


“ Ini Nak kembalian nya.


Jumlahnya cukup tiga ratus ribu saja.” Ucap Kakek.


“ Loh, kok gitu. Bukankah tadi


Kakek bilang harganya tiga ratus dua puluh tiga ribu.?” Tanya Annisa.


“ Iya Nak, tapi Kakek tidak punya


kembalian. Jadi ambil saja, Kakek ikhlas.” Jawab Kakek sembari tersenyum kearah


Annisa.


Annisa membalas senyuman Kakek,


lalu ia kembali menyodorkan uang seratus ribuan miliknya kepada Kakek dengan


lembut.


“ Kakek, ini uang Kakek. Saya


membeli beberapa buah disini, jika Kakek tidak mempunyai kembalian. Ambil saja,


saya ikhlas.” Tatap nya lembut.


“ Tidak apa-apa Nak, Kakek juga


ikhlas.” Ujar Kakek


“ Saya tau Kakek ikhlas, dan saya


menerima itu. Tapi sekarang sebagai gantinya saya menyerahkan uang ini ke Kakek


dan saya juga ikhlas Kek.”


Annisa lalu meraih tangan Kakek.


Ia kemudian menyelipkan lebaran uang miliknya ke Kakek tersebut dengan sangat


lembut, dan setelah itu ia mengambil kantong belanjaan nya disana.


“ Terima kasih ya Kek, Assalamu’alaikum.”


Ujar nya seraya berlalu dari sana. Kini ia berjalan kembali menuju kearah mobil


yang terparkir tak begitu jauh dari kios Kakek, Lalu setibanya disana ia


langsung masuk kedalam mobil dan menutup kembali pintunya.


“ Sudah selesai?” Tanya Rafka


begitu melihat Annisa yang kini telah kembali kesana.


“ Sudah Bang.” Balas Annisa.


Ia lalu terlihat meletakkan


beberapa kentong buah belanjaan nya itu di jok belakang. Melihat itu, Rafka pun


menolong nya untuk meletakkan nya dengan baik disana.


“ Kamu beli buah nya banyak


sekali?” Tanya Rafka.


“ Iya Bang, sesekali.” Ujar


Annisa sembari duduk kembali dengan rapi. Lalu ia mulai memasang kembali sabuk


pengaman nya. “ Yuk Bang, jalan.” Ajak Annisa.


“ Okey.”


Rafka lalu melajukan kembali


mobilnya meninggalkan kios itu. Sementara itu di kios usang yang ada disana.


Sang Kakek tampak begitu bersyukur karena buahnya di borong banyak oleh Annisa,


dan juga gadis itu membayar lebih untuk buah yang di belinya itu. Meskipun


jumlahnya yang tak terlalu banyak, namun itu cukup berarti bagi sang Kakek.


Karena sedari tadi tidak ada satu orang pun yang dating membeli buahnya. Hingga


akhirnya Annisa dating dan membeli beberapa buah disana. Sehingga dengan uang


itu akhirnya Kakek bisa kembali kerumah dan membawakan obat untuk istrinya.


Bersambung.