
Cinta, tak kenal waktu, maupun tempat. Cinta datang begitu saja, tanpa seseorang itu menyadarinya. Tak perduli, cantik, ataupun tidak, baik ataupun buruk. Jikalau sudah cinta, yang buruk pun terlihat baik, dan begitu sebaliknya.
Beberapa minggu kemudian.
Maya berkunjung ke rumah sakit untuk menjenguk Ibunya. Kondisi Bu Retno kian parah, begitu kata Dokter yang menanganinya. Dengan di temani Reno, Maya datang kesana, memasuki ruangan yang saat ini di tempati Ibunya. Lalu, setibanya disana. Ia melihat Bu Retno, yang terbaring lemah, dengan beberapa selang yang di pasang di badan nya.
“Ma! Mama!” Maya terisak, air mata tak bisa dia tahan. Tatkala melihat Ibunda tercinta dalam kondisi sakit yang semakin parah. Sudah beberapa hari ini, ia tidak datang kesana karena terkurung didalam sangkar yang berbalut emas.
Melihat Mayaa yang tengah bersedih, tentu saja membuat Reno ikut terpukul karenanya. Bagaimana pun, Ibunya Maya adalah Ibunya juga. Kesakitan, kesedihan Maya juga bisa ia rasakan. Tatkala melihat, air mata yang terus menderu jatuh membasahi wajah nya.
“May, sudahlah. Menangis bukan solusi, lebih baik sekarang kita berdo’a agar Allah memberikan mukjizat nya, menyembuhkan Mama mu.” Merangkul Maya, seraya mengusap lembut rambut nya.
Maya tak menggubris. Petuah yang di berikan Reno seolah sama sekali tak terdengar. Isak tangis kian merajai dirinya.
“Mama harus sembuh. Harus!” tak rela melihat orang yang terkasih menderita seperti itu.
Lalu kini seorang perawat terlihat masuk dan berjalan menuju kearah pasien. Perawat itu terlihat menyuntikkan obat, dan juga memeriksa kondisi Bu Retno. Lalu saat melihat Maya yang terisak disana, perawat itupun berpesan.
“Maaf Mba, saran saya, Mba jangan menangis seperti itu di depan Ibu. Kasihan beliau, meskipun saat ini beliau sedang tidak sadar. Namun, jauh didalam hatinya Ibu pasti bisa merasakan Mba nya nangis seperti ini. Hal itu bisa saja membuat kondisi Ibu semakin kritis, karena tekanan batin melihat Mba nya nangis terus. Lebih baik sekarang Mba nya berdo’a, agar Allah segera memberikan kesembuhan untuk Ibunya.” Nasihat perawat. Setelah itu, perawat
itupun pergi meninggalkan mereka disana.
Maya hanya diam tak menjawab. Sementara Reno yang ada disana, kini berusaha membujuknya untuk tidak menangis lagi. Benar kata perawat itu, saat ini do’a lah yang paling membantu. Bukan tangisan.
“Perawat itu benar May, berdo’a, bukan menangis.” Membungkukkan badan dan berbisik.
Di sekanya air mata Maya, dengan tissue yang ada disana. Menepuk-nepuk bahunya pelan, berusaha membuat Maya merasa nyaman dengan nya.
Beberapa saat kemudian.
“May, sekarang kita keluar yuk. Cari makan, dari tadi kau kan belum makan.” Bujuk Reno, berbicara sehalus mungkin.
“Enggak Ren, aku nggak lapar.” Menggelengkan kepala dengan lesu.
“Kalau kau tidak makan, nanti jika jatuh sakit gimana? Ibumu masih membutuhkanmu buat bertahan hidup loh.”Kembali berusaha membujuk. “Ayuklah.” Mulai meraih tangan Maya, mengajak gadis itu pergi mencari makanan dengan nya.
Dengan lemas, Maya pun akhirnya mengangguk setuju.
Kini mereka pun keluar dari ruangan itu, dan menitipkan Bu Retno kepada dua orang perawat untuk menjaganya. Ya, Reno adalah orang yang sangat terpandang. Kehadiran nya di rumah sakit itu cukup menyita perhatian, para perawat dan juga petinggi lainnya. Sehingga, satu kata saja yang di keluarkan Reno, mereka langsung patuh dan mengerjakan nya.
Kini Reno dan Maya sedang berjalan menuju kearah luar, menyusuri koridor rumah sakit. Lalu saat mereka melewati ruang dokter kandungan, tak sengaja mereka bertemu dengan Annisa dan Rafka yang baru saja keluar dari sana.
“Rafka.”
Maya tertegun begitu melihat Rafka. Kalimat terakhir yang di ucap. Masih terngiang jelas di telinga nya. Maya kini terlihat merunduk, bersembunyi di belakang punggung Reno, takut jika Rafka kembali murka kepadanya.
“Maya.” Annisa menyapa.
Reno pun berhenti sejenak, berdiri di hadapan mereka.
“Nggak kenapa-napa.” Menggeleng pelan. “Yuk, kita segera pergi dari sini.” Ajaknya, seraya menarik paksa tangan Reno.
“Hmm,” Reno mengiyakan.
Kini mereka pun segera pergi dari sana.
Tadi, Maya sempat melihat bagaimana Rafka mengusap lembut perut Annisa yang masih rata. Terlebih lagi, raut kebahagiaan bergitu terpancar di wajah mereka. Bahagia sekali.
Mungkinkah Annisa hamil? Bagaimana mungkin, bukankah pengaruh obat itu sangat kuat. Tapi melihat ekspresi yang terpancar dari raut wajah mereka. Jelas sekali terlihat jika mereka baru saja memeriksakan kandungan Annisa. Aaaaahh! Kenapa tuhan begitu tidak adil untuk ku!
Rutuk Maya kesal.
Setelah sedikit menjauh, Maya lantas kembali memalingkan wajah nya, menatap kearah Rafka dan Annisa yang masih berdiri disana. Mereka tersenyum bahagia, dan lagi Rafka kembali mengusap lembut perut rata Annisa. Sehingga hal itu membuat Maya yakin jika saat ini Annisa tengah mengandung anaknya Rafka.
Perasaan tidak senang, iri, dengki kian berkecamuk dalam dirinya.
Seharusnya aku yang berada disana, aku! Aku! Bukan dia!
Hati Maya menjerit.
Meski langkah yang saat ini ia tapaki bersama Reno, namun tak dapat di pungkiri jika hatinya masih mengharapkan Rafka.
Mereka tiba di parkiran, Reno kemudian membuka pintu mobilnya untuk Maya. Berusaha melayani sang pujaan hati dengan cara apapun yang ia bisa. Berharap, Maya perlahan bisa menerima dirinya. Menerima cinta nya, dan
melupakan masa lalu nya.
“May, ayo masuk.” Reno mempersilahkan Maya masuk kedalam mobilnya. Namun, saat ini ia mendapati jika gadis nya itu sedang termenung, sehingga sama sekali tak mendengar suaranya. “Maya, ayo masuk.” Ajak Reno lagi seraya menepuk bahu sebelah kiri Maya.
“Eh, i-iya.”
Seketika Maya tersentak saat sedang melamunan kan Rafka. Membayangkan jika saja posisi Annisa saat ini adalah dirinya, sungguh sangat bahagianya dia sekarang. Namun, lamunan hanya lah lamunan. Saat ini yang sedang berada di depan nya adalah Reno, pria yang sama sekali tak dicintainya, sekaligus pria yang telah ia campakkan.
“Kau sedang memikirkan apa?” Tanya Reno, kening juga terlihat mengkerut sekarang, menatap serius kearah Maya.
“Hah, aku?” Maya masih bingung.
“Ya,” mengangkat sebelah alis nya. “Apa saat ini kau sedang memikirkan Rafka?” terka Reno seolah tau apa yang sedang di pikirkan gadisnya itu.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, membuat Maya seketika ikut mengerutkan dahinya.
“Apapun yang sedang ku pikirkan sekarang bukanlah urusanmu.” Ketus Maya dengan wajah masam.
“Ingat May, jangan pernah berani memikirkan lelaki lain saat kau berada di sampingku. Kalau tidak, kau akan tau akibat nya.” ancam Reno.
Maya tak menggubris, matanya memicing menatap kearah Reno. Tak senang dengan ancaman yang baru saja di lontarkan Reno sekarang. Tak perduli, Reno pun kini menginjak pedal gas nya, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan are rumah sakit, menuju kearah restoran yang akan mereka tuju.