Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 66


Malam ini suasana begitu dingin. Hujan turun rintik-rintik membasahi bumi. Rafka menatap wajah Annisa dengan begitu lembut. Di perhatikan nya wajah istrinya betapa teduh nya dia. Bibirnya kemudian tersenyum sendiri seraya memegangi tangan Annisa.


Lalu ia beranjak dari ranjang nya. Dan berjalan menuju kearah balkon kamarnya. Disana ada sebuah meja kaca kecil, beserta dua buah kursi minimalis yang terletak di ujung balkon.


Sejenak ia berdiri di tepi dinding pembatas balkon. Lalu ia berjalan menuju meja kecil yang ada disana. Kini ia telah duduk santai disana sembari memandang kearah langit membayangkan bagaimana gugup nya tadi wajah Annisa saat ia mulai menyentuh nya.


"Haha, tidak kusangka ternyata kamu sepolos ini Nisa, berbeda sekali dengan Maya.


Gumam nya.


Kini senyuman itu kembali merekah dari sudut bibir nya. Entah mengapa saat ini setiap kali membayangkan wajah Annisa ia tak hentinya tersenyum bahkan sesekali tertawa.


Namun saat Rafka mulai meletakkan tangan nya diatas meja kecil yang ada disamping nya. Tanpa sengaja ia menyenggol sebuah buku hingga jatuh ke lantai.


Brakk!


Suara tersebut membuat lamunan Rafka saat ini seketika buyar. Dilihatnya diatas lantai sebuah buku telah jatuh disana. Ia kemudian membungkukkan tubuhnya mengambil buku tersebut. Lalu saat ia membalikkan sampulnya, tiba-tiba saja Rafka mengerutkan dahinya saat mengetahui jika itu bukan buku melainkan majalah yang di belinya beberapa hari lalu.


Sebenarnya bukan majalah nya yang menjadi alasan kenapa raut wajah Rafka tiba-tiba saja berubah. Melainkan saat ini ia melihat sosok wanita yang sangat ia kenal di sampul depan majalah tersebut. Disana gadis itu duduk di sebuah kursi dengan memegang sepiring kue di tangan nya. Senyum nya begitu lembut dan juga pancaran yang tersirat dari kedua bola matanya sangat lah indah.


"Bukankah ini Nisa!


Gumam nya.


Kini ia pun mulai mendekatkan majalah tersebut kedepan wajah nya. Di perhatikan nya dengan seksama gambar gadis yang ada disana. Sungguh sangatlah mirip dengan Annisa istrinya. Saking tidak percaya nya Rafka jika yang di foto tersebut adalah Annisa. Kini ia pun mulai beranjak dari balkon melangkah masuk kedalam. Di perhatikan nya wajah Annisa yang tengah tertidur pulas. Lalu ia bandingkan dengan yang ada di majalah dan betapa terkejutnya Rafka seolah masih tak percaya.


"Hah, bagaimana mungkin. Ternyata gadis yang ada disampul majalah ini memang benar Nisa istriku.


Gumam nya.


Rafka kini semakin penasaran dengan majalah tersebut. Lalu dilihat nya ada sebuah tulisan yang berukuran sedang disana yang bertuliskan "Bos cantik pemilik beberapa toko kue ter Hits tahun ini."


Tanpa menunggu lama, ia pun kemudian segera membuka lembaran demi lembaran kertas majalah dan membacanya. Kini posisinya sudah berada di atas ranjang dengan posisi duduk tepat di sebelah Annisa. Lalu ia pun membaca artikel yang tertulis disana yang menyebutkan jika Annisa lah pemilik dari beberapa toko kue tersebut.


"Apa! Nisa punya toko kue, bahkan cabang nya sudah ada di beberapa penjuru kota ini!


Gumam nya.


Ia kembali menatap kearah Annisa seakan masih tidak percaya jika gadis nya itu adalah seorang pengusaha toko kue. Karena selama ini dia sama sekali tidak pernah menunjukkan kesibukan nya sebagai seorang usahawan.


"Sungguh sulit di percaya! Ternyata selama ini istriku punya usaha diluar sana yang bahkan aku sendiri tidak tau. Ya tuhan.. Suami macam apa aku ini!


Gumam nya.


Rafka menyesali perbuatan nya yang selama ini selalu abai akan persoalan tentang Annisa. Kini ia mencium kening Annisa seraya berbisik.


"Nisa, maafkan aku sekali lagi karena selama ini selalu mengabaikan mu. Aku berjanji mulai sekarang akan berusaha untuk memperhatikan mu." Lirih Rafka.


Kini ia pun membaringkan tubuh nya. Lalu merangkul Annisa dalam pelukan nya sehingga kini mereka terlelap bersama.


***


Semakin malam udara dingin semakin menusuk tulang. Rafka menarik selimutnya serta semakin mempererat dekapan nya. Hingga saat subuh menjelang ia pun terjaga dengan sendirinya.


Hooaam!


Dilihat nya disamping kanan nya. Annisa masih terlelap disana. Ia kemudian tersenyum dengan sendiri nya, saat memandangi wajah Annisa yang kini membuka mulutnya.


"Haha, dia mangap! Lucu sekali! Ternyata gadis sepertinya bisa mangap juga saat tidur. Hahaha


Ia merasa gemas melihat Annisa yang seperti itu. Hingga kini ia tak ingin melewatkan momen itu. Diraih nya ponsel yang ia letakkan diatas meja kecil disamping kirinya. Lalu tanpa menunggu lama Rafka pun langsung memotret wajah Annisa yang saat ini masih membuka mulut dalam tidurnya.


Adzan subuh berkumandang. Rafka yang masih tergelak kemudian tersadar dan kini mulai membangunkan Annisa.


"Nis, bangun." Ucap nya lembut.


Annisa menggeliat tanpa merespon panggilan darinya. Kini ia membalikkan tubuh nya kesamping dengan posisi membelakangi Rafka.


"Nisa.. Bangun, sudah waktunya shalat subuh. Kamu nggak mau kan melewatkan shalat subuh ini." Ucap Rafka lagi seraya menepuk pelan bahu Annisa.


Didalam tidurnya. Sayup-sayup ia mendengar seseorang memanggil nama nya.


"Sepertinya ada yang sedang memanggil ku. Tapi siapa ya?


Batin nya.


Ia pun kemudian berusaha membuka mata nya secara perlahan saat ini. Dilihat nya suasana kamar tak seperti biasa. Seperti ada yang aneh, tapi apa itu. Batin nya.


"Kamu sudah bangun Nisa,?" Tanya Rafka seraya menatap nya dari balik punggung nya.


Deg


Jantung Annisa berdebar kencang.


Ia bahkan tertegun saat mendengar suara Rafka. Apa lagi saat wajah Rafka muncul dibalik punggung nya. Yang berarti saat ini ia sangat lah dekat dengan nya.


"Nis, kok bengong. Bangunlah segera karena kita akan shalat subuh berjama'ah." Ucap Rafka.


"Ya tuhan.. pantas saja suasana kamar ini terlihat berbeda. Aku ingat sekarang, jika tadi malam aku tidur di kamar Abang! Bahkan kami... Aaaa...


Gumam nya.


Setelah sadar atas apa yang di lalui nya semalam. Annisa kemudian menarik selimut nya hingga menutupi wajah nya. Betapa malu nya dia sekarang jika mengingat kembali kejadian tadi malam.


"Loh Nis, kok selimut nya ditarik lagi sih? Bukan nya dibuka ya. Terus kita ke kamar mandi dan segera mengambil wudhu untuk shalat berjama'ah bersama." Ujar Rafka yang tepat di samping telinga Annisa.


"Ya tuhan.. tadi malam itu ternyata bukan mimpi. Abang sekarang benar-benar bersikap lembut kepadaku. emmm...


Gumam Annisa.


Tak sabar melihat Annisa yang tak kunjung bangun. Rafka kemudian bangkit dari ranjang dan berdiri di depan Annisa. Ia kemudian menarik selimut nya lalu meraih tubuh Annisa dan menggendong nya.


Deg


Jantung Annisa kembali berdebar kencang saat menyadari jika kini Rafka menggendong dirinya.


"Bang, Nisa bisa jalan sendiri. Nggak perlu di gendong seperti ini." Ucapnya seraya mendongak kan kepalanya menatap kearah Rafka.


"Habisnya kamu nggak bangun-bangun sih. Jadinya ya aku gendong saja." Timpal Rafka sembari melangkah menuju kearah kamar mandi.


"Tapi Bang.."


"Udah nggak usah pake tapi-tapian. Sekarang kamu nurut aja ya." Ucap Rafka sembari tersenyum.


Wajah Annisa seketika merona. Kini ia membenamkan muka nya didalam pelukan Rafka. Lalu mereka akhirnya masuk bersama kedalam kamar mandi.