
Ketika pagi menjelang. Seperti biasa Annisa sibuk di dapur. Sedangkan Rafka sehabis menunaikan shalat subuh. Seperti biasanya ia melakukan rutinitas olahraga nya dengan berkeliling di komplek. Setelah dirasa cukup, dan juga keringat telah mengucur deras. Kini Rafka berniat untuk segera kembali kerumah nya.
Tak berapa lama kemudian ia pun sampai di depan pagar rumah nya. Lalu dengan segera ia kemudian masuk kedalam rumah nya.
Rafka langsung berjalan menuju kearah dapur. Karena biasa nya jam segini Annisa pasti sudah selesai membuatkan sarapan untuk mereka berdua. Dan benar saja, sekarang Annisa terlihat sibuk menata makanan yang baru saja ia buat tadi.
Lalu dengan segera ia pun datang menghampiri istrinya itu.
"Ehm, selamat pagi Nisa.." Sapa nya lembut.
Tidak seperti biasanya ia begitu.
"Selamat pagi juga Bang.." Sahut Annisa seraya menoleh kearah Rafka.
"Bau masakan mu enak sekali. Aku jadi laper nih!" Ucap Rafka.
Kini ia semakin mendekati Annisa. Bahkan sekarang tangan nya mulai berani memeluk pinggang Annisa dari belakang.
Deg
Jantung Annisa berdebar kencang saat mendapatkan perlakuan yang menurutnya begitu romantis dari Rafka. Kini wajah seketika merona akibat menahan malu nya.
"Nisa cuma masak nasi goreng Bang." Ujarnya sembari terus mengatur piring di atas meja.
"Hmm, kamu tau Nis? Semenjak aku makan nasi goreng buatan mu. Sejak itulah menu nasi goreng menjadi salah satu makanan favoritku." Bisik nya dari belakang.
Annisa tertegun. Tubuhnya kemudian gemetar tak sanggup menahan sikap lembut yang di tunjukkan Rafka.
"Ya tuhan.. kenapa aku jadi gemetar gini sih!
Gumam nya.
Namun ia berusaha tetap santai saat itu. Karena tak ingin terlalu menunjukkan jika saat ini ia begitu gugup di depan Rafka.
"Bang Nisa nggak bisa gerak jika Abang seperti ini." Ucap nya lembut seraya berusaha melepas lingkaran tangan Rafka di pinggang nya.
"Kamu udah siap?" Tanya Rafka.
"Sudah, dan sekarang Nisa mau pergi kesana." Ujar nya sembari menunjuk kearah pantry.
"Hmm, baiklah. Jika begitu kamu kiss aku dulu. Setelah itu baru aku lepasin kamu." Ucap Rafka sembari tersenyum nakal.
"Apa! Dia meminta aku mencium nya! Yang benar saja, sebenarnya dia ini kenapa sih? Kok mendadak lembut gini, aku kan merinding jadinya.
Gumam Annisa.
Sedangkan kini Rafka semakin mempererat lingkaran tangan nya. Sehingga kini jarak mereka semakin dekat.
Deg
"Ya tuhan.. Kenapa aku tidak bisa mengontrol diriku seperti ini sih semenjak kejadian semalam. Setiap kali melihat nya, aku bahkan tak sanggup jika tidak mendekatinya.
Gumam Rafka.
Entah mengapa saat ini ia mulai nyaman jika terus berkontak fisik dengan Annisa. Namun tidak dengan Annisa. Saat ini ia justru merasa risih dengan sikap Rafka yang tiba-tiba saja begitu lembut kepadanya.
"Kamu nggak mau Nis?" Rafka kembali bertanya. Karena sedari tadi Annisa hanya terdiam.
"Bang kepala Nisa pusing!" Ucap Annisa seraya memegang kepala nya dengan ujung jari tangan nya.
Sontak saja Rafka dengan reflek melepas lingkaran tangan nya yang saat ini merangkul pinggang Annisa. Kini tangan nya mulai memegangi bahu Annisa sembari menuntun nya untuk duduk di kursi yang ada disamping nya.
"Kamu kenapa Nis? Kamu sakit?" Tanya Rafka dengan raut wajah cemas.
"Enggak Bang, Nisa cuma sedikit pusing saja." Ucap Annisa yang kini masih memegangi kepalanya.
"Maafin Nisa ya Bang. Kali ini Nisa terpaksa bohong sama Abang. karena jujur saja, Nisa nggak berani melakukan apa yang Abang minta.
Gumam nya.
Kini ia mulai berpura-pura memijat kepalanya. Yang menandakan jika saat ini ia benar-benar pusing.
"Nis, jika kamu masih merasa pusing. Lebih baik sekarang kamu istirahat dikamar aja dulu ya." Ucap Rafka lembut.
"Nggak usah Bang, Nisa mau disini saja menemani Abang sarapan." Sahut Annisa lembut.
"Tapi Nis, aku nggak mau kamu kenapa-napa. Aku masih bisa makan sendiri kok." Ujar Rafka.
"Nggak apa-apa Bang. Biar Nisa disini saja" Sahut Annisa.
Kini ia mulai berdiri kembali dari duduk nya. Karena saat ini ia ingin mengambil susu yang sudah di buatnya tadi.
"Loh Nis, kamu mau kemana?"
"Mau kesana ngambil itu." Ucap Annisa seraya menunjuk kearah susu yang telah di buatnya.
"Duduklah, biar aku saja yang mengambil nya." Ujar Rafka sembari berjalan menuju kearah pantry.
Sedangkan kini Annisa tersenyum sembari menatap kearah Rafka.
***
"Abang nggak ke restoran?" Tanya Annisa.
Karena saat ini Rafka terlihat sedang berleha-leha diatas ranjang.
"Enggak Nis, hari ini aku mau temani kamu saja dirumah." Sahut Rafka sembari menonton televisi.
"Tapi Nisa nggak kenapa-napa Bang. Ini juga udah baikan nggak pusing lagi." Ujar nya
Niat hati ingin sedikit menjauh darinya. Eh sekarang malah kebalik, Rafka seolah tak ingin sejenak pun meninggalkan nya.
"Tapi aku khawatir jika kamu kenapa-napa." Ucap Rafka seraya merapat duduk kearah Annisa.
"Aaaaa... ngapain dekat-dekat lagi sih!
Gumam Annisa.
Ia kemudian bangkit dari ranjang dan berniat melangkah keluar. Namun langkah nya terhenti karena kini Rafka menarik tangan nya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Rafka sembari mendongakkan kepala nya menatap kearah Annisa.
"Nisa mau keluar bersih-bersih rumah." Ujar nya.
"Ngapain, biarin aja. Sini duduk lagi." Timpal Rafka seraya menepuk-nepuk ranjang nya dimana Annisa duduk tadi.
"Kalau Nisa duduk lagi dan ngebiarin semua nya. Ntar siapa yang mau bersihin?" Ucap Annisa.
Karena kini yang ada dalam fikiran nya cuma ingin pergi dari sana. Jadi ia mencari seribu alasan agar dapat meluangkan waktu nya sendiri seperti biasa nya.
"Kamu nggak usah khawatir. Tadi aku sudah menghubungi orang yang biasa membersihkan rumah ini sebelum nya. Sebentar lagi juga datang. Oya mulai hari ini mereka juga akan tinggal disini bersama kita." Ucap Rafka.
Ia sengaja menyuruh Bik yam dan juga anak nya susi untuk tinggal disini. Itu semua ia lakukan karena Rafka tak ingin melihat Annisa kelelahan mengurusi rumah mereka yang lumayan besar sendiri. Apa lagi saat Rafka tau jika Annisa juga mempunyai usaha di bidang bakery yang cabang nya sudah menyebar di beberapa penjuru kota. Pasti sangat merepotkan sekali jika harus mengurus semuanya sendirian kan.
"Loh, untuk apa? Nisa masih sanggup kok ngerjain semuanya sendirian." Ujar nya.
Rafka yang masih memegangi tangan Annisa kemudian menarik nya untuk kembali duduk disamping nya.
"Udah jangan banyak protes. Kamu nurut aja ya, karena ini semua demi kebaikan mu." Ujar Rafka sembari merangkul tubuh Annisa agar lebih dekat dengan nya.