
Annisa menatap lembut ke arah rafka yang menggandeng tangan nya dengan mesra, ia tersenyum dan merasa senang saat melihat rafka memperlakukan nya dengan lembut.
" alhamdulillah ya allah, akhirnya suami ku bisa bersikap lembut dan penuh perhatian kepadaku. ku mohon padamu ya allah agar engkau segera membukakan pintu hati nya untukku sehingga bisa semakin menguatkan pernikahan kami dan jadikanlah kami pasangan di dunia dan juga akhirat amin.
***
Setelah selesai memeriksa keadaan annisa. sang dokter berjalan menuju meja nya di ikuti rafka dari belakang dan kini ia pun telah duduk di kursi menghadap di depan sang dokter.
" bagaimana keadaan annisa dokter?" tanya rafka cemas
" nona annisa tidak apa - apa, ia hanya mengalami ketakutan yang berlebihan sehingga membuat nya jatuh pingsan." ucap sang dokter menjelaskan.
" apa annisa tidak mengidap penyakit lain dok? saya lihat wajah nya pucat sekali." tanya rafka mengenai wajah pucat annisa.
" tidak, itu hanya karena ketakutan nya yang berlebihan sehingga membuat wajah nya sangat pucat, istirahat yang cukup akan membuat nya kembali tenang dan ini resep obat nya." ucap sang dokter seraya menyerahkan kertas bertuliskan resep obat untuk annisa.
" baik, terima kasih dok " ucap rafka seraya mengambil resep obat nya dan kemudian menyalami sang dokter.
rafka kembali menggandeng tangan annisa dengan lembut karena ia masih cemas akan keadaan istri nya yang masih terlihat lemah.
mereka berjalan melangkah bersama berniat keluar dan meninggalkan rumah sakit tersebut namun seketika langkah mereka mulai berhenti saat seseorang secara tiba - tiba memanggil nama rafka.
" mas rafka.!!" sapa seorang wanita dari belakang.
rafka menoleh ke arah panggilan tersebut dan kemudian ia melihat sosok wanita yang sangat ia kenal.
" maya," ucap rafka menatap tajam ke arah nya.
maya berjalan melangkah dengan agak tergesa - gesa mendekati rafka yang sudah hampir di ujung pintu.
" mas sedang apa disini? mas sakit?" ucap maya seraya menatap dengan tatapan khawatir.
annisa melepaskan pegangan tangan rafka dan ia memilih berjalan perlahan keluar menghindari percakapan mereka yang tak mau ia dengar.
" nisa," ucap rafka saat melihat annisa yang berjalan sendiri keluar meninggalkan nya bersama maya.
" nisa bisa jalan sendiri bang, abang lanjutkan saja pembicaraan nya biar nisa tunggu di parkiran." ucap annisa seraya melangkah kan kaki nya perlahan meninggalkan tempat itu.
maya diam tanpa menoleh saat annisa berbicara. ia merasa sedikit cemburu saat melihat rafka menggandeng mesra tangan annisa.
" nisa tapi kamu..," ucap rafka yang belum menghabiskan kalimat nya dan langsung di potong oleh maya.
" sudahlah mas, biarkan saja dia menunggu di parkiran," ucap maya seraya membalikkan tubuh rafka menghadap ke arah nya.
annisa terus melangkah berjalan perlahan hingga kini akhir nya ia sampai di parkiran mobil. di ujung parkiran ada tempat duduk yang biasa di pakai oleh pengunjung rumah sakit untuk duduk saat sedang menunggu teman yang lain nya. annisa memilih untuk duduk disana seraya menunggu suami nya datang menyusul nya.
" baru saja aku merasakan kebahagiaan saat abang begitu lembut serta memberikan perhatian nya kepadaku. tapi sekarang hatiku kembali sakit saat melihat wanita lain yang menatap abang dengan penuh perhatian dan tampak jelas dari raut wajah nya abang menerima perhatian itu.
***
" mas, kamu ngapain disini? kamu sakit?" tanya maya dengan tatapan cemas.
" aku nggak sakit," ucap rafka
" terus ngapain kamu disini? siapa yang sakit?" tanya maya seraya mengerutkan dahi nya.
" aku ngantarin nisa kesini, tadi dia pingsan di rumah." ucap rafka menjelaskan
" kamu sendiri ngapain disini? siapa yang sakit?" tanya rafka yang juga penasaran kenapa maya bisa ada di sana.
" mama kamu masuk rumah sakit? kok kamu nggak ngabari aku sih?" ucap rafka yang merasa kecewa dengan sikap maya yang tak memberitahukan nya tentang keadaan mama nya.
" maaf mas, aku nggak mau ngerepotin kamu maka nya aku nggak ngasih tau kamu," ucap maya seraya memasang wajah menyesal.
" may, mama kamu itu udah aku anggap seperti mama ku sendiri jadi kamu nggak boleh jika tidak memberitahukan ku tentang kesehatan tante." ucap rafka yang seolah tak terima dengan sikap maya yang memberitahukan nya tentang kesehatan mama nya.
" kamu masih peduli dengan mama ku mas?" ucap maya seraya memasang wajah terharu.
" ya, kamu tau may, apapun kesalahan mu kepadaku aku hanya marah dan kecewa kepadamu namun tidak kepada tante, tante tidak ada hubungan nya dengan permasalahan kita," ucap rafka menegaskan
" tapi mas, "
" tidak ada tapi - tapian sekarang bawa aku ke ruang rawat tante," ucap rafka seraya menarik tangan maya.
maya pun berjalan dengan tangan yang di tarik oleh rafka dan kemudian menunjukkan jalan di mana mama nya di rawat.
kini mereka sudah sampai di depan pintu kamar inap mama nya maya.
" ini kamar nya mas," ucap maya seraya membuka pintu kamar secara perlahan.
" kreek "
pintu kamar terbuka. rafka kemudian masuk kedalam melangkahkan kaki secara perlahan agar tidak mengganggu kenyamanan mama nya maya yang sedang beristirahat. mama maya yang bernama Retno itupun membuka mata dan kemudian menoleh ke arah rafka dan maya yang kini sedang berjalan mendekati nya.
" nak rafka," ucap tante Retno dengan suara lemah
rafka kemudian mempercepat langkah nya mendekati ranjang tante Retno yang sedang terbaring lemah.
" iya tante," jawab rafka lembut
" kamu datang jenguk tante nak?" Ucap Tante Retno lemah
" iya tante, maafkan rafka ya tante karena baru sekarang bisa jenguk tante, maya yang nggak kasih kabar ke rafka sehingga rafka tidak tau kalau tante sakit dan dirawat inap di rumah sakit ini." ucap rafka menjelaskan
" tidak apa - apa nak," ucap tante Retno seraya sedikit tersenyum
" oya, bagaimana sekarang perasaan tante apa sudah mendingan dari sebelum nya?" tanya rafka seraya mengusap lembut tangan tante Retno yang sedang terpasang selang infus rumah sakit.
" alhamdulillah nak, tante sudah merasa agak baikan," ucap tante Retni
" hmm, alhamdulillah kalau begitu," ucap rafka seraya tersenyum lembut
" kring kring "
suara ponsel rafka berdering.
rafka meraba ponsel nya yang berada di saku celana nya dan kemudian mengambil nya. ia menatap ke layar ponsel nya melihat siapa yang sedang menelfon nya.
" bunda "
" astagfirullah, aku lupa ngasih tau bunda kalau pagi ini aku dan annisa sedang keluar. bunda sekarang pasti lagi panik mencari kami.
rafka pun kemudian segera mengangkat ponsel nya saat melihat panggilan dari sang bunda.
Bersambung