Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 49


Annisa kemudian pergi bersiap - siap setelah mendengar ajakan Rafka untuk ikut pergi bersama nya. ia kemudian masuk kedalam kamar nya mengganti pakaian yang di kenakan nya dengan setelan gamis berwarna peace serta di padu padankan dengan balutan hijab berwarna abu - abu. Riasan make up ia pakai namun hanya sekena nya saja, karena tanpa polesan make up pun wajah Annisa sudah terlihat cantik dan anggun.


Setelah selesai memakai pakaian nya serta hijab yang sudah terpasang rapi di kepala nya.


kini Annisa mulai melangkahkan kaki nya untuk keluar dari dalam kamar. ia pun kemudian berjalan menuju ke arah depan karena disana Rafka, Maya dan juga Feri sedang menunggu nya.


Tap tap tap


Langkah Annisa perlahan menuju ke teras rumah hingga tak berapa lama kemudian ia pun sampai disana dan di lihat nya Rafka yang sedang berdiri di samping mobil nya menunggu kehadiran nya.


Rafka berdiri sembari menyenderkan tubuh nya ke pintu mobil milik nya.


Di tatap nya wajah sang istri betapa teduh hati nya saat melihat nya. entah mengapa belakangan ini perasaan Rafka menjadi tak karuan setiap kali jika ia bersitatap dengan istri nya itu.


" D**eg..


kenapa ia terlihat begitu cantik ya belakangan ini.


Gumam Rafka sembari melemparkan senyum hangat nya saat melihat Annisa yang kini sudah berdiri di depan pintu.


"Sudah siap?" Ucap rafka sembari menatap ke arah Annisa.


"Sudah bang." Jawab Annisa lembut.


"Ya sudah ayo naik." Ucap Rafka.


"Feri mana?" tanya Annisa sembari melirik kesana dan kemari mencari keberadaan Feri.


"Oh.. dia sudah pergi duluan. tadi katanya ada urusan yang harus ia selesaikan terlebih dahulu. ia akan menemui kita di rumah sakit nanti." Ucap Rafka menjelaskan.


"Oya, Maya akan ikut dengan kita karena Feri tidak sempat mengantarkan nya di sebabkan urusan nya itu." Ucap Rafka.


"Oh, ya sudah." Timpal Annisa.


Annisa pun kemudian mengunci pintu rumah nya dan setelah itu ia pun bergegas berjalan menuju ke arah mobil dan berniat masuk kedalam.


Dari luar kaca mobil di lihat nya Maya yang kini sedang duduk di jok mobil depan sembari menatap sinis ke arah nya. entah apa maksud dari tatapan itu Annisa pun tidak mengerti. Ia memilih langsung masuk kedalam mobil dengan duduk di kursi belakang tanpa ingin ambil pusing dengan tatapan sinis yang di lontarkan Maya terhadap nya.


"Kenapa dia menatap ku seperti itu? apa dia tidak senang melihat ku ikut bersama mereka. inikan bukan keinginanku melainkan Abang sendiri yang mengajak ku untuk ikut bersamanya.


Gumam Annisa sembari duduk di kursi nya.


Setelah melihat Annisa yang sudah masuk kedalam mobil nya. kini Rafka pun ikut masuk kedalam mobil dan mulai menghidupkan mesin nya. Tak lupa ia memakai sabuk pengaman dan setelah itu ia pun mulai menjalankan mobil nya.


Mobil kemudian melaju dengan kecepatan sedang. meninggalkan komplek perumahan mewah yang mereka huni saat ini. Komplek perumahan sudah tertinggal jauh di belakang sedangkan jalanan kota kini mulai tampak di depan.


Di dalam perjalanan yang tak terlalu jauh ini suasana hening tercipta karena para penghuni mobil tidak ada yang berbicara. Maya mulai melirik ke arah Rafka. Di lihat nya pria yang di cintai nya tengah mengemudi dengan seriusnya.


"Mas." Ucap Maya memecah keheningan yang tercipta di dalam mobil.


"Hmm." Jawab Rafka singkat.


"Aku mencintaimu." Ucap Maya dengan sengaja karena ingin membuat Annisa yang sedang duduk di belakang merasa tak nyaman disana.


"Duduklah dengan baik karena aku tak ingin membahas apapun tentang kita saat ini." Jawab Rafka ketus. ia tak ingin membahas apapun sekarang tentang hubungan nya dengan Maya. Apalagi disana saat ini ada Annisa yang tentu saja akan dengan jelas mendengarkan apapun yang akan mereka bicarakan nanti nya.


Entah mengapa Rafka saat ini ingin sekali menjaga perasaan Annisa agar tak kembali terluka oleh nya.


Raut wajah Maya sontak berubah menjadi masam saat mendengar penolakan pembahasan tentang hubungan mereka dari Rafka. ia mulai mengepalkan tangan nya sembari mendengus kesal di dalam hati.


" Dasar gadis kampung! semua ini karena mu. coba saja kau tadi menolak ajakan Rafka untuk ikut kerumah sakit. pasti sekarang aku bisa membuat Rafka lebih lembut terhadapku. tidak seperti sekarang, ia bahkan ketus kepadaku di hadapan mu.


Gumam Maya.


Maya tak berani lagi melanjutkan kata - kata nya. Ia mulai enggan saat rafka bicara ketus kepada nya seperti tadi. Maya juga tak mau jika ia semakin melanjutkan kalimat nya maka Rafka mungkin akan lebih ketus menjawab nya.


Suasana hening kembali tercipta. Mobil pun berjalan menyusuri ibukota. Tak terasa kini mereka sudah sampai di rumah sakit Kasih Bunda. Dimana orang tua dari Maya di rawat di sana. Rafka memarkirkan mobil nya di area khusus parkir mobil. Setelah selesai memarkirkan mobil nya, kini ia pun bergegas turun dari sana.


Maya juga ikut turun. di susul Annisa dari belakang yang juga sudah turun dan tak lupa menutup kembali pintu mobil nya. Maya kemudian melangkah kedepan menuju ke arah Rafka yang kini sedang berdiri menunggu mereka.


Dari arah belakang di raih nya tangan Rafka yang sedang memasukkan nya kedalam saku celana menyimpan kunci mobil nya.


"Mas, aku jalan denganmu ya." Ucap Maya yang kini mulai menggandeng tangan Rafka.


"Jalan lah sendiri." Sahut Rafka ketus


"Tapi aku ingin barengan sama kamu Mas." Jawab Maya menimpali perkataan Rafka.


"Nisa juga jalan bareng kita. Tapi lihat lah apakah dia ingin bergandengan dengan ku, Tidak kan?" Ucap Rafka sembari melepaskan tangan nya yang kini di pegang oleh Maya di depan Annisa.


Kenapa Abang bersikap dingin seperti itu kepada Maya? Apa iya ingin menjaga perasaan ku agar tak tersakiti lagi oleh nya.


Gumam Annisa sembari mengerutkan dahi nya saat menyaksikan pemandangan yang kini ada di hadapan nya.


Bersambung