Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 123


Rembulan bersinar terang menerangi malam. Meskipun malam ini tak ditemani bintang, cahaya nya tetap dapat menyinari alam. Disana dirumah masing-masing semua anak manusia sudah terlelap dan terbuai kedalam mimpi indahnya masing-masing. Hanya sang rembulan lah yang begitu setia menemani malam.


Hingga kini tanpa terasa subuh pun menjelang. Seperti biasa rutinitas dirumah itu di pagi hari, sebelum berangkat kerja. Rafka selalu menyempatkan diri untuk berolahraga. Baik itu diruangan Gym nya ataupun berlari di sekitaran komplek.


Kini setelah olahraga dan juga selesai menyantap sarapan. Rafka kembali menuju kearah kamar mandi untuk membasuh tubuhnya membersihkan sisa-sisa keringat yang masih menempel disana. Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Rafka kemudian bergegas untuk segera mengenakan pakaian nya. Setelan jas yang sudah di siapkan oleh Annisa kini di pakainya dengan segera.


Lalu setelah itu, ia pun berjalan menuju sebuah kaca besar yang menempel didinding kamar. Rafka menyisir rambutnya, merapikan kan nya agar terlihat rapi. Lalu setelah itu ia pun kembali merapikan pakaian nya sembari


terus berdiri di depan cermin.


Setelah merasa cukup. Ia pun kemudian membalikkan badan nya berniat melangkah menuju arah pintu keluar. Namun langkah nya seketika tertahan, saat ia melihat Annisa istrinya saat ini sudah berdiri di hadapan nya dengan


raut wajah sedih.


“ Sayang, kamu kenapa?” Rafka membungkukkan badan nya menatap istrinya seraya memegangi bahunya.


“ Bang, Nisa minta maaf ya.” Wajah Annisa terlihat muram.


“ Minta maaf? Memang nya kamu ada buat salah apa kepadaku?” Tanya Rafka.


“ Hari ini Nisa haid, Nisa minta maaf karena Nisa belum bisa mengabulkan keinginan Abang untuk segera hamil.” Ucap nya sedih.


Rafka menghela nafas panjang.


“ Sayang-sayang, aku kira ada apa. Ternyata hanya itu.” Rafka menggelengkan kepalanya.


Sedangkan Annisa menganggukkan kepalanya.


“ Sayang, kita kan baru mencobanya bulan ini. Jadi kamu nggak perlu khawatir.” Kata Rafka.


“ Tapi Bang, Nisa takut jika ini semua pengaruh dari obat yang di berikan Maya.” Kata Annisa.


“ Kamu nggak perlu takut, Dokter bilang kandungan kamu subur kok. Mungkin saat ini belum rezeki kita. Jadi jangan khawatir ya.”  Rafka mencoba menenangkan Annisa.


Tapi ucapan nya barusan itu memang benar adanya. Karena seingatnya kata Dokter Siera kandungan Annisa tidak mengalami gangguan apapun karena mereka mengetahuinya lebih awal. Memang kemungkinan besar obat itu


berpengaruh saat ini maka. Tapi untuk selanjutnya kata Dokter Siera setelah haid nya selesai. Semua pengaruh obat yag ada didalam tubuh nya akan segera hilang bersama haidnya.


“ Apa Abang yakin? Perlukah kita memeriksakan nya kembali?”


“ Kalau menurut ku sih tidak perlu, tapi kalau kamu ragu. Kita bisa memeriksanya kembali hari ini juga.” Ujar Rafka.


Ia tak ingin membuat Annisa terlalu banyak berpikir dan juga sedih. Maka dari itu ia akan menemani Annisa untuk kembali memeriksakan kesehatan rahim nya.


“ Baiklah.” Annisa mengangguk setuju. “ Tapi..” Annisa tak melanjutkan kalimat nya. Malah kini ia menundukkan pandangan nya tak berani menatap Rafka.


“ Tapi apa?” Rafka mengangkat pelan dagu Annisa sehingga kini mau tak mau Annisa kembali menatap Rafka.


“ Jika Nisa bilang Abang janji jangan marah ya.”


“ Hmm.” Angguk Rafka.


“ Bi-bisakah Nisa meminta tolong untuk dibelikan pe-pembalut.” Kata nya ragu.


Rafka terkejut, wajahnya memerah. Bisa-bisanya Annisa menyuruhnya untuk membelikan nya pembalut. Urusan seperti itu mana dia tau.


“ Sayang, kamu tidak salah menyuruhnya padaku? Bukankah dirumah ini masih ada wanita yang lebih mengerti tentang hal seperti itu. Misalnya Bik Yam.” Kata Rafka lembut.


“ Tadi Nisa udah pergi nyari Bik Yam dan Susi. Tapi kata Pak Sofyan mereka baru saja pergi sekitar lima menit yang lalu untuk membeli beberapa kebutuhan dapur.” Ujar Annisa.


Rafka kembali menghela nafas panjang. Dengan gerakan reflex ia menggaruk kepalanya.


“ Abang keberatan?” Tanya Annisa.


“ Hah, tidak-tidak. Mana mungkin aku keberatan!” Kata Rafka.


“ Sekarang juga aku akan membelikannya untukmu ya.” Ujar nya seraya berlalu pergi meninggalkan Annisa disana.


Membuat Annisa terpelongo menatap kepergian suaminya.


Aku kan belum bilang pembalut seperti apa yang biasa ku pakai. Tapi Abang malah main kabur aja, apa jangan-jangan sewaktu dengan Maya dulu Abang sudah terbiasa membelikannya? Hmm, yasudah la, itukan Cuma masa


lalu. Untuk apa juga aku memikirkannya.


Annisa kemudian beranjak pergi dari tempat nya. Ia kemudian mulai melakukan kembali aktivitas nya membereskan kamar mereka.


Rafka kini melajukan mobilnya kearah salah satu mini market terdekat yang ada tak jauh dari komplek nya. Namun setibanya disana, Rafka merasa bingung dengan apa yang harus di belinya nanti. Hingga kini terpikirlah sebuah ide untuk menelpon seseorang yang mungkin bisa membantunya.


Rafka meraih ponselnya yang ada di saku celananya. Lalu ia menggeseknya, membuka kuncinya dan memilih nomor kontak seseorang yang sekat dengan nya untuk meminta saran.


Tut tut tut!


Suara panggilan tersambung. Lalu tak lama kemudian sang pemilik mengangkat menjawab panggilannya.


“ Assalamu’alaikum” Sapa sang pemilik nomor dengan nada yang ceria.


“ Wa’alaikum salam.” Balas Rafka. “ Ded, aku mau minta tolong nih.” Katanya kemudian.


Ternyata itu adalah nomor ponselnya Dedi sahabat nya.


“ Tolong apa? Katakan saja, siapa tau aku bisa bantu.” Kata Dedi.


“ Biasa nya wanita itu memakai pembalut yang seperti apa ya? Aku nggak ngerti nih! Bisa nggak kamu belikan untukku.” Kata Rafka mengutarakan permintaan nya.


“ Apa kamu bilang? Puffft!” Dedi terdengar tertawa diujung telepon. “ Apa aku nggak salah dengar? Kamu minta tolong kepadaku untuk membelikanmu pembalut? Hahaha!” Gelak tawa kembali terdengar disana.


Rafka mengerutkan dahinya merasa kesal mendengar suara tawa dari sahabat nya.


“ Ded, ketawa lagi ku potong gajimu  ya.” Ancam Rafka. “ Sekarang kamu harus membantuku.” Kata Rafka.


Dedi menghentikan tawanya.


“ Sorry bro, kali ini aku tidak bisa membantumu. Karena soal itu kamulah yang lebih berpengalaman daripada aku.” Ujar Dedi. “ Ini bukan masalah gaji, jika kamu ingin memotong gajiku sampai habis tak tersisa juga nggak apa-apa. Karena aku masih punya pendapatan lainnya dari hasil restoran, hahahah!” Gelak nya.


“ Bilang aja kamu nggak mau bantu.” Ketus Rafka. “ Sekarang kamu boleh tertawa, tapi lihat saja nanti. Jika kamu sudah mempunyai istri dan istrimu menyuruhmu untuk membelikannya pembalut. Ingat, jangan cari aku. Karena


aku tidak akan sudi membantumu.” Ucap Rafka.


Ia lalu mematikan ponselnya kemudian bergegas turun dari mobilnya dan berjalan menuju kearah pintu masuk mini market tersebut.


Sedangkan Dedi menggelengkan kepalanya seraya tertawa sendiri karena telah berhasil membuat sahabat nya jengkel.


BERSAMBUNG.