Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 11


Dibawa nya koper masuk kedalam kamar. Lalu, ia meletakkan nya di atas sofa, membukanya dan mengambil salah satu baju yang ada disana. Rafka melepas baju yang sebelum nya ia pakai, lalu mengganti nya dengan baju yang di ambil nya dari dalam koper.


Setelah selesai mengganti pakaian. Rafka pun melangkahkan kaki nya menuju kearah ranjang, lalu merebahkan tubuhnya disana.


"Hmm, akhirnya bisa beristirahat dengan tenang.


Gumam nya.


Dipandanginya lagi seluruh isi kamar Annisa.


Betapa Romantisnya.


"Andai Maya tidak berkhianat, dan malam ini adalah malam pernikahan ku bersama Maya. Sungguh aku akan menjadi orang yang sangat bahagia saat ini.


Gumam nya sembari menatap langit-langit kamar.


"Ceklek"


Pintu kamar mandi terbuka.


Dilihat nya Annisa keluar dari sana dengan memakai setelan gamis rumahan yang sebelumnya ia bawa saat memasuki kamar mandi.


Rambut nya yang basah ia biarkan terurai jatuh menjuntai sehingga membuat Rafka tak henti menatap kearah nya.


"Sungguh indah . . Rasanya aku ingin sekali menyentuh rambut nya.


Gumam Rafka.


Annisa berjalan mendekati meja rias, Lalu ia duduk disana sembari mengambil sisir lalu menyisir rambutnya. Sementara itu sedari tadi, mata Rafka tak hentinya menatap ke arah Annisa yang saat ini sedang menyisir rambutnya.


Di perhatikan nya Annisa yang saat ini duduk membelakanginya. Namun saat Annisa berbalik dan menoleh kearahnya, Rafka buru-buru memalingkan muka menatap kearah lain.


"Abang, bolehkah kita shalat berjama'ah?" Ucap Annisa lembut dari tempat duduknya.


"Shalat berjama'ah? Baiklah." Sahut Rafka menuruti keinginan Annisa.


"Alhamdulillah . . Abang tak menolak ajakanku untuk shalat berjama'ah.


Gumam Annisa seraya tersenyum lembut.


Sungguh hatinya senang sekali saat Rafka menuruti keinginan nya.


***


Setelah usai menunaikan shalat. Annisa kemudian menyalim tangan Rafka dan meletakkan nya di kening nya. Di tatap nya wajah istrinya itu, betapa lembut nya.


"Dia berbeda sekali dengan Maya. Andai Maya bisa selembut ini.


Gumam nya.


Setelah itu mereka pun merapikan perangkat shalat masing-masing. Rafka telah selesai, ia meletakkan perangkat shalat miliknya di atas meja kecil yang ada di samping ranjang. Lalu ia pun duduk di atas ranjang sembari menatap kearah Annisa yang masih sibuk merapikan mukena nya.


"Deg . .


Kelihatan nya sedari tadi Abang terus memperhatikan ku, ada apa ya? Apa ada yang salah dengan ku?


Gumam nya sembari terus merapikan mukena nya. Ia menyadari bahwa sedari tadi Rafka terus memperhatikan gerak-gerik nya. Entah ada apa dengan nya. Sehingga itu cukup membuat jantung Annisa berdebar kencang.


"Nisa . ." Ucap Rafka setelah Annisa selesai dengan kesibukan nya.


"Iya . ." Jawab Annisa seraya menoleh kearah Rafka dengan debaran jantung yang cukup keras.


"Kemari dan duduk lah disini." Ujar Rafka sembari menepuk kasur di sebelahnya.


"Disana?" Annisa ragu.


"Ada apa ya? Apa Abang ingin berbicara sesuatu dengan ku.


Gumam Annisa.


"Ya . ." Jawab Rafka.


"Deg . .


Saat sampai disana, ia kemudian duduk disebelah Rafka dengan tenang.


"Nis . . apa kamu masih ingat dengan perbincangan kita sewaktu di teras Masjid?" Tanya Rafka sembari menatap kearah Annisa.


"Apa dia memanggilku kesini hanya untuk membahas itu?


"Masih." Jawab Annisa singkat.


"Jika kamu masih mengingat itu, maka aku tak perlu lagi mengatakan nya. Aku harap kamu bisa mengerti kalau saat ini kita tidak bisa melakukan hubungan selayaknya suami istri." Ujar Rafka berterus terang


"Deg . .


Meskipun aku tau kamu tak mencintaiku. Tapi hatiku sangat sakit saat mendengar kejujuran mu Bang.


Gumam nya sembari menoleh kearah lain.


"Tidak apa-apa Bang, Nisa juga nggak mau melakukannya tanpa rasa Cinta apalagi jika dihati Abang masih ada wanita lain." Jawab Annisa setegar mungkin, yang membuat Rafka merasa lega karena merasa Annisa begitu memahami nya.


"Terimakasih Nisa karena kamu telah berbesar hati untuk memahami ku." Ujar Rafka seraya memegang tangan Annisa.


"Deg . .


Jantung Annisa kembali berdetak kencang saat Rafka memegang tangan nya. Ia tak tau harus berekspresi seperti apa saat ini. Antara bahagia atau sedih. Bahagia karena saat ini suami yang baru saja dinikahinya telah menggenggam tangan nya. Atau ia harus merasa sedih mengingat alasan suaminya menggenggam tangan nya karena merasa berterimakasih kepadanya yang bisa dengan sabar memahami isi hati suaminya.


Entahlah . . .


"Meskipun sekarang Abang tidak memiliki rasa terhadap Nisa. Tapi Nisa tetap yakin jika suatu saat nanti akan ada tempat yang sangat spesial untuk Nisa di hati Abang." Ujar Annisa seraya melepaskan genggaman tangan Rafka.


Rafka tertegun dengan jawaban Nisa,


ia menatap wajah Annisa lekat-lekat, bermaksud ingi mencari kesedihan di wajah nya. Namun sayang Rafka tak bisa menemukan nya.


Annisa terlihat teduh dengan ketegaran nya. Raut wajah nya sama sekali tak menunjukkan kesedihannya. Bahkan sekarang ia melemparkan senyum lembut nya kepada Rafka.


"Dia masih bisa tersenyum selembut ini, bahkan setelah aku menolak untuk memberinya hak di malam pengantin nya.


Gumam Rafka


"Meskipun hatiku saat ini sangat sakit, namun aku tidak akan menunjukkan nya dihadapan mu Bang. Biarlah rasa ini ku pendam sendiri. Mungkin ini memang takdir ku di malam pertama kita aku hanya bisa menjadi sebagai "Pengantin yang tak dirindukan" olehmu.


Batin Annisa.


"Hari semakin larut, sekarang tidurlah." Ucap Rafka sembari memalingkan muka.


"Baik Bang." Ujar Annisa sembari beranjak dari sana, memutar arah mengitari ranjang lalu ia pun membaringkan tubuhnya di samping Rafka.


"Annisa . . ia ternyata gadis yang sangat tegar. Sehingga bisa menerima semuanya tanpa bersedih. Ingin sekali aku meminta maaf kepadamu karena telah menjadikan mu sebagai "Pengantin yang tak kurindukan."


Gumam Rafka yang tidur dengan membelakangi Annisa.


Sedangkan di ujung ranjang Annisa mulai meneteskan air matanya tanpa bersuara, karena ia tak ingin Rafka mengetahui nya.


"Ya Allah . . Kuatkan lah hatiku dalam menghadapi semua ini. Agar aku bisa sabar dan ikhlas dengan cobaan mu. Sungguh ini adalah ujian terberat di dalam hidupku.


Batin Annisa.


Sungguh tak ada yang istimewa malam itu.


Rafka dan Annisa tidur dengan saling membelakangi.


Tak ada canda dan tawa serta senyum bahagia layak nya pasangan baru. Kini yang ada hanyalah kesunyian menyelimuti keduanya setelah lampu kamar dimatikan.


Lilin-lilin kecil juga mulai meredupkan sinarnya. Mereka seolah tak ingin berlama-lama menerangi malam ini karena mereka juga tau, takkan ada kejadian romantis serta suasana bahagia meskipun mereka berusaha untuk tetap menyala.


BERSAMBUNG