Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 57


Tak berapa lama kemudian.


Annisa, Dedi, Winda dan juga Rafka menyudahi makan siang mereka.


"Alhamdulillah . ." Ucap Winda setelah selesai menghabiskan makanan nya.


"Gimana Win, apa kamu suka dengan makanan yang ada disini." Ucap Rafka seraya menatap kearah Winda.


"Suka banget kak . . Winda jadi ingin sering-sering deh makan disini." Ujar Winda sembari tersenyum.


"Kalau begitu datang saja. Karena khusus untukmu semua akan Free." Ucap Rafka seraya mengembangkan senyum nya.


"Waah . . kakak ipar baik sekali. Hmm, kak Nisa pasti beruntung sekali mempunyai suami seperti kakak." Seru Winda seraya memegangi tangan Annisa.


"Jika saja Abang bisa mencintaiku. Maka apa yang Winda katakan saat ini ada benarnya.


Gumam Annisa.


Ia hanya tersenyum saat adiknya memegangi tangan nya seraya memuji-muji suaminya.


"Kalau menurut aku sih Win, justru Rafka lah yang lebih beruntung karena bisa menikahi Annisa kakak mu." Timpal Dedi.


"Kak Dedi ada benarnya juga sih. Tapi tetap aja bagi Winda kak Nisa sangat beruntung karena bisa mempunyai suami seperti kak Rafka." Winda tak hentinya memuji Rafka didepan semua nya.


"Dedi benar Win, justru aku lah yang beruntung karena bisa menikahi kakak mu Annisa. Di dunia ini jarang sekali ada gadis yang bisa sesabar dirinya dalam menghadapi segala hal." Tutur Rafka seraya menatap kearah Annisa.


Annisa yang duduk disamping Rafka tersipu malu saat mendengar kalimat yang keluar darinya.


"Apa aku tidak salah dengar. Abang memuji ku di depan semuanya. Haha, jangan terlalu berharap Nisa, mungkin saja ia sengaja memuji mu agar bisa membuat Maya cemburu serta sakit hati.


Gumam Annisa.


Ia memilih diam saat Rafka memuji nya. Tak ingin berharap lebih karena ia tau jika saat ini tak ada tempat untuk nya dihati Rafka.


Disela-sela perbincangan mereka tiba-tiba pelayan restoran datang dengan membawa nampan yang berisi pesanan milik Maya. Pelayan tersebut kemudian menghidangkan diatas meja.


"Silahkan dinikmati Mba." Ucap pelayan sopan.


"Ya, terima kasih." Sahut Maya.


"Sama-sama Mba." Sahut pelayan.


Setelah selesai melakukan tugasnya. Pelayan tersebut kemudian pergi dari sana.


Sementara itu. Maya yang sudah kehilangan nafsu makan nya sama sekali tak menyentuh piring nya. Kini ia hanya duduk sembari memperhatikan sikap Rafka yang terlihat semakin akrab dengan Annisa.


"Kak Dedi, makasih ya atas jamuan makan siang nya. Kalau tidak ada kakak, mungkin Nisa dan Winda tidak akan mendapatkan ruang untuk bisa makan siang disini." Ucap Annisa.


"Kak, kok makasih nya sama kak Dedi saja sih! Sama kak Rafka juga dong." Seru Winda dari samping.


Annisa terdiam saat mendengar ucapan adik nya.


"Apa yang harus ku katakan. Bukankah tadi cuma Kak Dedi yang membantu ku mengatasi semuanya.


Gumam Annisa.


Namun ia mengingat akan sikap Rafka yang begitu ramah terhadap adiknya. Sehingga membuatnya kini merasa harus berterima kasih juga terhadap nya.


"Makasih Bang atas segala kebaikan Abang hari ini." Ucap Annisa lembut.


"Sama-sama." Sahut Rafka.


"Oya Nis, mana ponsel mu?" Tanya Dedi.


"Untuk apa kak?" Annisa menatap bingung.


"Pinjam sebentar." Ujar Dedi seraya mengulurkan tangan nya.


Annisa kemudian mengambil ponselnya di dalam tas berukuran sedang milik nya. Lalu ia pun menyerahkan nya kepada Dedi.


"Ini kak."


"Sudah, nih Nis. Nanti kalau kamu dan Winda mau mampir kesini lagi, jangan lupa hubungi aku ya. Supaya aku bisa menemani kalian disini." Ujar Dedi seraya tersenyum manis.


"Baik kak." Sahut Annisa seraya tersenyum lembut.


Melihat kedekatan yang terjalin diantara Dedi dan juga Annisa. Membuat hati Rafka menjadi panas. Bagaimana tidak, saat ini di depan matanya, ada seorang lelaki yang begitu berani nya menyimpan nomor nya di ponsel istrinya. Bahkan sang istri dengan merasa tidak bersalah nya menyerahkan nya begitu saja.


"Nisa, berani sekali kamu menyerahkan ponsel mu kepadanya. Dan kamu Dedi, tanpa sungkan menuliskan nomor ponsel mu serta menyimpan nya disana. Bahkan kamu juga berani mengambil nomor ponsel milik Annisa yang aku sendiri pun tak punya itu.


Gumam Rafka.


Ia kemudian berdiri dari duduk nya seraya menatap tajam kearah Dedi dan menunjukkan ketidaksukaan nya melalui tatapan matanya. Meskipun Dedi menyadari itu, namun ia tetap berusaha sesantai mungkin saat ini.


"Oya Ded, bukankah sebentar lagi kita ada pertemuan dengan klien yang akan bekerjasama dengan restoran kita." Ucap Rafka dengan tatapan dingin.


"Ya, kamu benar. Pertemuan nya sepuluh menit lagi." Sahut Dedi yang juga ikut berdiri.


Mendengar hal itu. Annisa kemudian ikut bangkit dari tempat nya disusul juga oleh Winda yang ada disamping nya.


"Ya sudah, kalau gitu kami permisi ya. Terima kasih atas semuanya." Ucap Annisa sembari menatap kearah Dedi dan juga Rafka seraya bergantian.


"Winda juga mau ngucapin makasih buat kak Rafka dan juga kak Dedi." Seru nya dari pojokan.


"Sama-sama" Sahut Dedi dan Rafka secara bersamaan.


"Ciee . . kompak ni ye. ." Goda Winda.


"Hahaha, kamu bisa aja Win. Ya sudah aku sama Rafka pergi dulu ya." Timpal Dedi seraya melangkah dari tempat nya melewati Maya yang masih duduk di kursi nya.


Sedangkan Rafka. Ia masih berdiri di tempat nya seraya menatap kearah Annisa. Diulurkan nya tangan nya kearah Annisa, berharap Annisa menyalaminya serta mencium nya.


Namun sayang nya tak dilihat oleh Annisa.


Justru sekarang mata Annisa fokus menatap kearah Maya yang masih duduk di kursinya.


"May, kami pamit duluan ya. Kamu nggak apa-apa sendirian disini." Ucap Annisa lembut.


"Pergi saja. Aku biasa kok makan sendiri, kamu tak perlu merasa sungkan begitu." Jawab Maya ketus.


"Oh, ya sudah. Kalau begitu aku dan Winda pergi duluan ya." Ujar Annisa seraya ingin melangkahkan kaki keluar dari sana. Namun langkah nya terhalang oleh Rafka yang tak kunjung beranjak dari tempat nya.


"Loh, Abang kok belum pergi. Katanya mau ketemu klien?" Ucap Annisa seraya mengerutkan dahinya saat melihat Rafka yang masih berdiri disamping nya. Sedangkan Dedi sudah hilang entah kemana.


"Oh, iya. Aku akan segera pergi." Sahut Rafka seraya mengatupkan telapak tangan nya.


"Huh, ada apa denganku. Kenapa aku tadi sangat berharap Nisa akan mencium tanganku sebelum aku pergi. Aaaaaarrgh.. kenapa jadi ngarep gini sih.


Gumam Rafka.


Ia kemudian melangkah kedepan dan meninggalkan tempat itu. Disusul Annisa dan juga Winda yang ikut pergi dari sana.


Meninggalkan Maya seorang diri dengan segala kekesalan nya.


Saat melihat semuanya telah pergi meninggalkan nya. Maya kemudian bangkit dari duduk nya dan melampiaskan segala kekesalan nya dengan menampik piring yang berisi makanan diatas meja dengan tangan nya. Sehingga kini makanan tersebut berhamburan mengotori lantai diruangan tersebut.


"Nisa . . lihat saja, aku akan merebut kembali Mas Rafka darimu.


Gumam Maya.


Ia kemudian melangkah pergi dari sana meninggalkan hamburan makanan serta pecahan beling yang ia buat.


Sesampainya diluar, ia kemudian memanggil salah satu pelayan restoran.


"Mas, tadi nggak sengaja Pak Rafka menyenggol salah satu piring yang berisi makanan diruangan VIP nya. Tolong bersihkan ya Mas." Ucap Maya kepada salah satu pelayan restoran.


Ia pun kemudian melangkah keluar dari restoran tersebut menuju kearah jalan raya dan menyetop salah satu taksi. Lalu ia pun masuk kedalam taksi tersebut dan meninggalkan tempat itu.


BERSAMBUNG