
Saat ini usia baby Ken sudah memasuki lima belas bulan. Perkembangan baby Ken sangat bagus sekali. Dia juga sangat aktif bergerak dan memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Mommy sudah memindahkan semua pekerjaannya di Indonesia. Sedangkan daddy masih belum bisa memindahkan pusat bisnisnya ke Indonesia karena sesuatu dan lain hal. Namun, dia lebih banyak melimpahkan pekerjaannya kepada sang asisten. Daddy tidak mau lama-lama berjauhan dengan sang cucu.
Hampir setiap hari mommy selalu membawa baby Ken ke butiknya. Hal itu dilakukan karena mommy tidak ingin cucunya tidak mendapat pengawasan secara langsung dari orang tua ataupun kakek dan neneknya. Mengingat saat ini Retta sudah mulai masuk kuliah. Ya, setelah beristirahat selama hampir dua tahun, Retta memutuskan kembali melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah. Vanno dan orang tuanya juga sangat mendukung keinginan Retta tersebut.
Seperti hari ini, Retta mendapat jadwal kuliah pagi. Sementara Vanno mendapat jadwal kuliah siang. Mengingat saat ini Vanno tengah berada di semester lima, sedangkan Retta masih semester awal. Meskipun Vanno dan Retta kuliah di kampus yang sama, namun mereka jarang sekali terlihat jalan bersama. Bukan karena tidak mau, tetapi katena jadwal kuliah mereka yang tidak pernah sama. Bahkan, tidak banyak yang tahu jika Vanno dan Retta sudah menikah dan mempunyai seorang putra.
Seusai kuliah, Retta segera merapikan buku dan memasukkannya ke dalam tas. Nanda, sahabat Retta sejak masih berseragam biru putih dulu mendekatinya. Kebetulan Nanda juga harus menunda untuk kuliah selama dua tahun karena keterbatasan ekonomi.
"Langsung pulang Ta?" Tanya Nanda ketika sudah sampai di depan meja Retta.
Retta menoleh menatap wajah Nanda sambil tersenyum. "Iya nih, tapi perutku benar-benar lapar," jawab Retta sambil memegangi perutnya. "Mau makan siang dulu?" Lanjutnya.
Nanda yang memang juga sudah merasakan lapar segera tersenyum sambil mengangguk. Tak lama kemudian, mereka berdua sudah terlihat duduk di kantin kampus bagian barat. Dari kejauhan terlihat Abel melambaikan tangan sambil berlari kecil
Begitu sampai di dekat Retta, Abel langsung mengeluarkan sebotol air mineral dari dalam tasnya dan segera menenggaknya. Saat ini Abel sudah semester lima.
"Ta, hari ini lo mau jemput Ken di tempat mertua lo kan?" Tanya Abel setelah menutup botol air minumnya.
Retta mengangguk menjawab pertanyaan Abel. "Iya, habis gini aku ke sana. Ada apa Bel?" Tanya Retta.
"Aku mau buat kebaya. Bulan depan tante Yasmin nikahan" jawab Abel.
"Tanye Yasmin yang tinggal di Malaysia itu?" Tanya Retta memastikan.
"Iya, tapi acara nikahannya di sini, di rumah oma," jawab Abel.
"Oke. Nanti lo bisa barengan sama gue ke tempat mommy," jawab Retta.
Beberapa saat kemudian, Retta dan kedua temannya segera memakan makan siang yang sudah mereka pesan. Ketika sedang manyantap makan siang mereka, terdengar suara beberapa mahasiswi tengah berbicara di belakang mereka.
"Biasanya juga sendirian," kata seorang perempuan berbaju biru.
"Iya, tapi susah banget dideketin. Sampai mau nyerah rasanya," jawab seseorang di sebelahnya.
"Usaha lebih keras lagi dong Ren, Vanno kan memang gitu sama cewek. Siapa tahu jika lo terus deketin, hatinya bisa luluh," kata perempuan berbaju biru.
Seketika Retta, Abel dan Nanda saling pandang.
"Vanno?" Tanya mereka bersamaan.
Abel melihat ke arah Retta. "Apa Vanno suami lo yang mereka bicarakan Ta?" Tanya Abel sambil berbisik.
Retta mengendikkan bahunya. Dia sama sekali tidak peduli dengan perempuan-perempuan itu. Retta yakin jika suaminya bisa menjaga diri dan hatinya.
Ketika tengah asik dengan pikirannya, suara dering ponsel membuyarkan pikiran Retta. Segera diraihnya ponsel yang berada di dalam tasnya. Begitu mengetahui siapa peneleponnya, Retta segera menggeser ikon berwarna hijau tersebut.
"Iya Mas," kata Retta begitu sambungan telepon sudah terhubung.
"Kamu dimana Ta, aku sudah selesai ini. Kita jemput Ken bersama-sama"
"Oke, ini masih di kantin. Aku akan segera ke gerbang depan" jawab Retta.
Retta memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas begitu panggilan telepon sudah terputus. Dia segera beralih menatap Abel.
"Bel, mas Vanno sudah selesai kuliahnya. Dia ngajak jemput Ken sekarang. Lo jadi ikut?" Tanya Retta.
Retta mengangguk sambil menoleh ke arah Nanda. "Nan, lo ada shift kerja atau pulang bareng gue?" Tanya Retta.
"Gue ada shift jam satu Ta, gue langsung kerja saja," jawab Nanda.
Retta dan Abel mengangguk bersamaan. Setelah membayar makan siang, mereka segera berpisah. Nanda pergi ke tempatnya bekerja, Abel menuju parkiran mobilnya, sementara Retta menuju gerbang depan untuk mencari keberadaan Vanno. Begitu melihat mobil Vanno, Retta langsung masuk.
"Bagaimana kuliahnya hari ini?" Tanya Vanno setelah Retta menyalaminya.
"Baik, tapi kesel," jawab Retta sambil memanyunkan bibirnya.
Vanno menoleh sekilas sambil mengernyitkan dahinya. "Kesel kenapa?" Tanya Vanno.
"Itu, tadi ada cewek-cewek ganjen ngomongin mas Vanno waktu di kantin. Sebel tau Mas?" Jawab Retta sambil merengut kesal.
Vanno tergelak mendengar perkataan Retta. Rupanya Retta cemburu, batin Vanno.
"Biarin saja. Orang cuma ngomongin ini, belum tentu juga aku nanggepin mereka kan," jawab Vanno berusaha menenangkan Retta.
Retta mendengus kesal sambil menoleh ke arah Vanno. "Awas saja kalau mas Vanno macam-macam. Mas Vanno tidur di luar, biar aku tidur dengan Ken," kata Retta.
Seketika Vanno membulatkan mata dan mulutnya. Bagaimana bisa dia tidur di luar, setiap malam saja dia akan bisa tidur nyenyak setelah berolahraga dengan Retta. Apa jadinya dirinya jika harus tidur di luar.
"Sayang, jangan aneh-aneh deh. Aku beneran tidak ada apa-apa dengan cewek-cewek ganjen tadi. Orang aku saja tidak tahu siapa yang kamu maksud," kata Vanno dengan wajah memelas.
Retta mengerucutkan bibirnya sambil menatap Vanno dengan tatapan tajamnya. Sementara Vanno hanya tersenyum sambil mengedipkan matanya pada Retta.
"Kenapa itu bibir dimanyun-manyunkan. Mau adu mulut?" Tanya Vanno diiringi dengan tawa ledekan.
"Mas Vanno ih," kata Retta sambil mencubit paha Vanno.
"Adduuhhhh duuh duuhh sayang, ini kenapa dicubit sih. Sakit lho." Kata Vanno sambil mengusap pahanya yang terkena cubitan. "Kalau mau cubit geser dikit napa, agak dalam sini" lanjut Vanno sambil menunjuk bagian yang dimaksudnya.
Retta menoleh sambil menatap Vanno tajam. "Otak kamu ya Mas, omes banget sih. Sudah punya anak juga, otak gesreknya dikurangi dong," kata Retta.
"Halaahh, dikurangi apanya. Orang setiap malam bahkan ada yang minta diomesin mulu," kata Vanno sambil tergelak dengan kerasnya.
"Siapa?, Nggak ada ya," jawab Retta sambil menoleh ke arah jendela.
"Halah ngeles, siapa juga yang setiap malam selalu bilang aaahh aahhh maaashhh ouuhh aahhhh ini kok enak yaaahhh aaahhh," kata Vanno sambil tertawa keras.
Retta yang sudah merasa malu segera melepas seatbeltya. Dia menunggu Vanno memarkirkan mobilnya dan segera keluar dari mobil. Melihat Retta yang tengah malu, Vanno semakin tertawa dengan keras.
.
.
.
.
.